Althesia's Reviews > The Fifth Mountain

The Fifth Mountain by Paulo Coelho
Rate this book
Clear rating

by
4760917
's review
Jun 08, 2011

really liked it
bookshelves: inspirational
Read from June 05 to 06, 2011


Kisah dalam buku ini diangkat dari sepenggal episode di Alkitab, namun kisah ini tetap bertema universal dan berbicara tentang seorang manusia. Sifat-sifat manusia seperti keraguan, ketakutan, dan cinta melekat dalam kisah ini. Paulo Coelho mengangkat tema yang memperlihatkan hubungan manusia dengan Tuhan, namun ia berbicara dengan cara yang bijak dan mengungkapkan pelajaran-pelajaran yang berharga.

Sekitar abad ke-9 SM, pada saat kerajaan Samaria dipimpin oleh Raja Ahab dan istrinya Izebel, penyembahan dewa-dewa baal semakin meluas. Kehadiran Tuhan mulai digantikan dengan patung-patung dan kuil-kuil baal. Di kerajaan itu, hiduplah Elia, seorang nabi pilihan Tuhan yang taat. Karena ketaatannya, jiwa Elia pun terancam. Di tengah ketakutannya, ia mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang memerintahkannya untuk mengungsi ke Sarfat (orang-orang Sarfat menyebut kota itu sebagai Kota Akbar ; demikian juga selanjutnya saya akan menyebutnya kota Akbar). Di kota akbar, Elia menumpang di rumah seorang janda miskin yang tinggal bersama anaknya. Melarikan diri dari tempat tinggalnya yang mulai percaya kepada baal, Elia menjumpai masyarakat kota Akbar yang sepenuhnya juga percaya kepada baal. Mereka percaya bahwa di atas gunung kelima, para dewa bersemayam dan mengamati mereka. Elia mencoba mengikuti kehendak Tuhan untuk tinggal di kota itu dan berbaur dengan masyarakatnya. Selang beberapa waktu, Elia mulai mendapat perhatian dari masyarakat. Ia mulai dianggap sebagai orang yang bijaksana, bahkan Gubernur setempat mulai memberikan perhatian terhadap orang asing ini. Elia menetap sementara di kota Akbar, sambil menunggu perintah Tuhan untuk membawanya kembali ke Samaria dan menyelamatkan bangsanya dari penyembahan berhala di bawah kekuasaan Raja Ahab.

Suatu hari, dalam penantiannya itu, Elia mendapati Kota Akbar terancam peperangan dan kehancuran. Elia bertanya kepada Tuhan : Apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan kota yang indah itu dari kehancuran. Dalam pergumulannya, Tuhan menjawab Elia. Elia bisa melakukan mujizat untuk menghentikan peperangan itu, namun mujizat itu hanya bisa dilakukan satu kali. Elia harus memilih melakukan mujizat itu untuk menyelamatkan Kota Akbar atau melakukannya nanti ketika menyelamatkan bangsanya. Saat inilah Elia dipukul hebat dengan pilihan-pilihan sulit yang mulai berdatangan, ia harus benar-benar bijak dan belajar membangun kembali. Apakah pilihan yang diambil oleh Elia? Apakah ia memilih? Ataukah ia hanya berdiam diri?

"…manusia harus memilih. Disitulah letak kekuatannya; kesanggupan untuk memilih" [hal 182]

Buku ini sangat mengajar. Bukan mengajar secara agama tertentu, tetapi mengajar secara universal tentang arti sebuah perjuangan, iman dan harapan. Elia tidak selalu dipuji sebagai orang bijak, ada saatnya ia dikecam oleh banyak orang. Demikian Elia belajar tentang banyak hal yang tidak bisa dihindari dalam hidup.

"Hal-hal yang tak terhindarkan selalu saja terjadi. Kau butuh disiplin dan kesabaran untuk mengatasinya. Dan harapan. Kalau harapan sudah tak ada lagi, buat apa membuang-buang tenaga untuk melawan hal yang mustahil" [hal 237]

Jika anda membaca kisah ini, anda akan melihat proses Elia belajar untuk menantang takdir dan memperjuangkan hidupnya. Ia tidak hanya menyerah pada apa yang menimpanya, tetapi ia bangkit dan menantang Tuhan, ia terus berjalan maju meski pada awalnya langkahnya akan terseret-seret sampai akhirnya ia bisa berlari. Dan apakah Tuhan marah atas sikapnya? Hmm…Tuhan tersenyum puas…Kenapa? Anda akan memahaminya ketika membaca buku ini.

Setelah The Alchemist, The Fifth Mountain adalah buku kedua Paulo Coelho yang saya baca. Ketika melihat latarbelakang kehidupan sang penulis, saya mengerti kenapa beliau selalu mengusung tema perjuangan akan mimpi, harapan, dan kerja keras. Paulo Coelho pernah tiga kali dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh orang tuanya karena keinginannya menjadi seorang penulis. Orang tuanya tidak ingin ia menjadi sastrawan. Namun, Paulo Coelho tetap memperjuangkan mimpinya, ia bahkan bergabung dalam teater dan menjadi jurnalis. Kehidupan jurnalistik di Brazil pada masa itu dianggap sebagai kehidupan yang tidak bermoral, sehingga orang tuanya takut hal itu akan membawa pengaruh buruk untuknya. Kecemasan orang tuanya menghempaskannya jauh dari mimpinya. Namun, ia bangkit kembali dan akhirnya menorehkan karya-karya luar biasa yang akhirnya bisa sampai di tangan pembaca.

Sayangnya Paulo Coelho tidak menuntaskan kisah Elia dalam buku ini. Sepenggal kisah Elia dalam buku ini memiliki titik pusat di kota Akbar. Saya justru berharap, Paulo Coelho melanjutkannya sampai ketika Elia kembali ke Samaria, walaupun hal itu merupakan sebuah perjalanan baru. Ketika kita sebagai manusia menuntaskan suatu tahap dalam hidup, kita akan melaju pada tahap hidup berikutnya dimana perjuangan akan kembali dituntut. Melalui sebuah quote yang paling saya sukai dalam buku ini, saya diingatkan untuk memperhatikan setiap tahap itu. Quote tersebut berbunyi demikian :

"Kita harus selalu tahu kapan suatu tahap dalam hidup kita telah berakhir. Kalau kita bersikeras mempertahankannya, padahal kita sudah tidak membutuhkannya, kita akan kehilangan sukacita dan makna hidup kita selebihnya. Dan ada risiko kita akan diguncang-guncang hebat oleh Tuhan" [hal 309]
1 like · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Fifth Mountain.
Sign In »

Reading Progress

06/05/2011 page 30
9.0%
06/06/2011 page 200
63.0% "manusia harus memilih..disitulah letak kekuatannya;kesanggupan untuk memilih"
show 3 hidden updates…

No comments have been added yet.