Fredrik's Reviews > The Pilgrimage

The Pilgrimage by Paulo Coelho

by
3741808
's review
May 08, 11

Read from April 18 to May 05, 2011 — I own a copy

"The Pilgrimage" adalah kisah perjalanan yang melatari penulisan "The Alchemist". Buku ini adalah autobiografi Paulo Coelho yang mengisahkan kembali ziarah yang dilakukannya ke Santiago de Compostela, Spanyol, pada tahun 1986.
Meski seharusnya autobiografi, tapi buku ini berkesan surealis karena ada aura dan nuansa magis khas si penyihir kata di dalam paragraf-paragrafnya.
Dan walaupun seolah berbalut konteks Kristiani, ziarah yang dikisahkan di dalam buku ini sebenarnya hanya merupakan latar belakang karena makna-makna yang ingin disampaikan kepada pembaca tidak ada sangkut pautnya dengan kepercayaan apa pun.

Coelho, sang penulis, dikisahkan melakukan satu dari tiga rute ziarah suci dalam tradisi awal Gereja Katolik, yakni ziarah ke makam Santo Yakobus (Saint James/San Tiago) di semenanjung Iberia.
Coelho diharuskan menemukan pedang yang merupakan warisan dari Guru spiritualnya (di Brazil) pada suatu tempat persembunyian di sepanjang jalan rute ziarah itu (lebih dari 500 mil).
Dalam perjalanannya, Coelho ditemani oleh seorang pendamping bernama Petrus yang mengajarkan banyak latihan spiritual (cara-caranya dijabarkan kurang-lebihnya di dalam buku) yang tujuan utamanya sebenarnya lebih kepada mengenal atau menemukan kembali jati diri kita.
Sepanjang perjalanan, Coelho belajar banyak hal, termasuk melawan iblis yang bersemayam dalam diri dan memahami kepatuhan.
Periode-periode pembelajaran ini berujung pada kepasrahan yang akhirnya justru membawanya pada suatu wawasan yang mencerahkan di akhir penjalanan.

"Mengecap kebahagiaan bukanlah dosa." (hal 254)


Coelho diceritakan sebagai jiwa yang tersesat, melakukan banyak hal yang semu dan berbalut materiil di dunia, namun pada akhirnya justru apa-apa yang dilakukannya tidak semakin mendekatkan dirinya pada hasrat terpendamnya, sesuatu yang paling ingin dilakukannya, kebahagiaannya.
Menjadi penulis.

Hidup ini ibarat pedang. Suatu alat untuk melakukan banyak hal.
Namun alat ini butuh tujuan supaya kehadirannya bermakna. Dan "The Pilgrimage" mengajak kita untuk menemukan tujuan kita masing-masing.

Meskipun, jujur, banyak hal terkait metafora dalam buku ini yang tidak sepenuhnya saya pahami (kecuali dibaca ulang), buku ini tetaplah menarik karena mengisahkan sebuah perjalanan pembelajaran. Perjalanan yang berakhir pada sebuah ajakan universal, yakni ajakan untuk berubah, ajakan untuk berkembang, dan melakukan apa-apa yang kita cintai, apa-apa yang pada hakikatnya dapat membawa kita kepada kebahagiaan tapi belum kita kejar, belum kita perbuat.

"Tempat teraman untuk kapal adalah dermaga, tapi bukan itu alasan kapal dibuat." (hal 31)


Ada suatu daratan nun jauh di sana yang menunggu kita.

Memang akan ada hamparan samudera nan luas.
Akan ada badai dahsyat di tengah lautan.
Akan ada gelombang besar dan bebatuan karang.
Akan ada terik panas dan kesendirian panjang.
Namun sebenarnya kita siap menghadapi semuanya.
Karena kita ditempa dengan api. Kita dikuatkan dengan besi.
Kita dibekali dengan kayu-kayu kokoh dan kanvas-kanvas tangguh.

Maka janganlah bersemayam terlalu lama pada dermaga.

Mari kita berlayar dan temukan cahaya.


;)

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Pilgrimage.
sign in »

Reading Progress

04/19/2011 page 39
15.0% "Langsung dapat quote bagus: "Kau tak perlu mendaki gunung untuk tahu tingginya." - halaman 31"

No comments have been added yet.