Uci 's Reviews > 9 dari Nadira

9 dari Nadira by Leila S. Chudori
Rate this book
Clear rating

by
619633
's review
Apr 17, 11

bookshelves: hibah-hadiah
Read from April 08 to 15, 2011

Saat buku ini terbit dan menuai keramaian di Goodreads, sebenarnya saya sudah tergoda untuk ikut membaca. Tapi entah mengapa saya tidak pernah memutuskan untuk membeli atau meminjamnya. Mungkin karena saya terpengaruh komentar teman-teman yang bilang buku ini sangat suram, mungkin karena cara bertutur Leila S. Chudori dalam beberapa resensinya di Tempo kurang kena di hati.

Lalu 'tugas' dari Ijul mengharuskan saya membaca buku ini dan...ternyata saya menyukainya. Saya suka cara bertutur Leila di buku ini. Tidak klise, tidak mendayu-dayu. Hanya sesekali saya dibuat meringis saat penulis mulai 'memamerkan' pengetahuannya tentang sastra / buku / film / musik bermutu, yang diulang beberapa kali dalam cerita berbeda.

Apakah saya menyukai Nadira? Perasaan saya terbagi dua terhadapnya. She could have all the love in this world, yet she chose the hard ways to live her life. Dia terus-terusan menghancurkan hati, sambil pada saat yang sama menghancurkan hatinya sendiri. Perempuan sangat pintar ini mengabaikan kesempatan untuk hidup normal, dan memilih menyusuri labirin yang terkadang terang namun lebih sering suram. Nadira pun mengakuinya sendiri, saat dia berkata "Hidup saya penuh drama."

Orang-orang di sekitarnya pun begitu terpuruk dalam masalah masing-masing yang menghalangi mereka untuk bahagia. Kadang-kadang saya pingin jitak Utara Bayu misalnya, yang punya penampilan dan kedudukan di atas rata-rata, tapi mati kutu dalam urusan 'sesederhana' mengungkapkan perasaan.

Dialog imajiner saya dengan Tara

"Jitak sendiri kepalamu", sahut Tara, "sejak kapan mengungkapkan perasaan jadi urusan sederhana?"

"Apa ruginya? Paling-paling cuma ditolak kan? Terus beres deh. Lo bisa ngelanjutin hidup lo!"


Maka, tokoh yang saya anggap paling bisa 'dipegang' dalam buku ini adalah Arya, kakangnya Nadira. Dia bagai batu yang berdiri kukuh di tengah sungai beraliran deras tak keruan. Tanpa Arya, semesta dalam buku ini hanya akan berisi manusia-manusia sakit jiwa yang kebingungan menata hidupnya (sok tahu banget sih gw).

Bagaimanapun, saya amat menikmati 9 dari Nadira. Kisah-kisah dalam buku ini begitu mudah membuat saya tenggelam di dalamnya, sampai-sampai saya lupa sedang berada di mana. Bahkan dua cerpen terakhir saya habiskan di dalam mobil yang terguncang-guncang sepanjang jalan tol Kanci-Pejagan, tol milik Bakrieland yang panjangnya cuma 30 kilometer dan penuh gelombang tapi dihargai 21.500 rupiah sekali lewat. Saat lembar terakhir ditutup, saya pun tersungkur karena pusing...

9 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read 9 dari Nadira.
sign in »

Comments (showing 1-8 of 8) (8 new)

dateDown_arrow    newest »

e.c.h.a Paragraf terkahir curcol hahahaha


lita Jitak sendiri kepalamu..hahaha....aku suka kalimat itu :D


Uci e.c.h.a wrote: "Paragraf terkahir curcol hahahaha"

Yoiii tapi beneran pusing baca di mobil yang jedag jedug :D


Uci lita wrote: "Jitak sendiri kepalamu..hahaha....aku suka kalimat itu :D"

Ayo coba dipraktekkan hehehe


Sweetdhee Wah, ripiu nya mantap!
*nyoba jitak kepala sendiri*


Uci Nah lho ini kenapa jadi pada jitak-jitakan :D


e.c.h.a Bicara itu mudah..melaksanakan itu sulit *makin curcol*


Sweetdhee betooool.. *mendukung curcol*


back to top