lita's Reviews > 9 Summers 10 Autumns

9 Summers 10 Autumns by Iwan Setyawan
Rate this book
Clear rating

by
1160827
's review
Mar 30, 2011

it was ok
bookshelves: novel-indonesia
Read from April 11 to 13, 2011

“Aku” lahir dan besar di Batu, Malang, Jawa Timur. Ayahnya seorang supir angkot, dan ibunya tinggal di rumah yang harus bersiasat mencukupi kebutuhan hidup, termasuk sekolah, untuk kelima anaknya. Keluarga ini bisa dibilang bersahaja, karena meski hidup sangat pas-pasan, mereka amat sadar pendidikan. Faktor satu ini amat mereka sadari sebagai satu-satunya jalan keluar dari himpitan ekonomi yang kian sulit.

“Aku” anak ketiga dari lima bersaudara. Masa kecil yang sulit nyatanya tidak merintangi jalannya menuju sukses. Kelak “Aku” berhasil kuliah di salah satu institut papan atas di Indonesia, lulus dengan nilai tinggi, dan menempati jabatan tinggi di sebuah perusahaan survey ternama di dunia di sebuah kota bergengsi di dunia: New York.

Gaya Iwan Setiawan dalam menuturkan masa kecilnya yang sulit dan kesuksesannya di masa dewasa mengingatkan saya pada gaya penulisan Jostein Gaarder. Penulis ini menggunakan tokoh “bayangan” dalam setiap buku yang dia tulis. Tokoh “bayangan” ini diciptakan untuk menciptakan dialog dua arah untuk setiap gagasan atau pemikiran penulis, melalui hubungan emosional yang terbangun kuat di antara keduanya. Dalam bayangan saya, entah sengaja atau tidak, gaya bercerita inilah yang dipilih Iwan Setiawan untuk menyampaikan pemikirannya.

Menilik gaya bahasa yang digunakan Iwan Setiawan membuat saya bertanya-tanya apa tujuan buku ini ditulis dan seperti apa target pembacanya. Penggunaan bahasa Inggris yang cukup dominan, dan penyebutan tempat seperti SoHo, downward facing dog (salah satu gerakan dalam yoga), Blue Ribbon, atau penyebutan merek secara langsung, bukan menyebutkan bendanya (seperti menyebut iphone ketimbang telpon genggam) hanya bisa dipahami dengan mudah oleh pembaca dari kalangan menengah ke atas. Padahal, bila menilik cerita yang digambarkan Iwan Setiawan, seharusnya buku ini menjadi sumber inspiratif yang bisa dicontoh untuk bergelut melawan kesulitan hidup. Pilihan bahasa yang sederhana dan membumi, menurut saya, akan lebih bisa menyampaikan pesan yang hendak disampaikan penulis.

Perjalanan panjang selama lebih dari 30 tahun – begitu perkiraan saya tentang umur penulis – tentu saja memerlukan siasat jitu untuk dituangkan ke dalam cerita yang efektif, dengan tujuan mengurangi jumlah halaman buku agar tidak terlalu tebal. Penggunaan penulisan surat dan penceritaan kepada orang ketiga sering digunakan para penulis untuk menyiasatinya. Dalam hal ini, Iwan Setiawan berhasil. Satu hal yang mengganjal untuk saya adalah penggambaran Iwan Setiawan mengenai kawasan Blok M.

Saat penulis menggambarkan Seibu, sebuah department store, sebentar lagi akan dibuka, saya langsung merujuk ke tahun 1994. Karena di tahun itulah Seibu di gedung yang saat ini menjadi Pasaraya Grande dibuka. Keganjalan yang langsung terbaca oleh saya adalah saat Iwan Setiawan menyebutkan pemandangan anak muda yang nongkrong di café-café di Blok M Plaza, pikiran saya langsung membantahnya. Pada masa itu – saya masih sekolah di SMA yang terletak persis di samping plaza itu – café belumlah menjamur. Tren yang ada saat itu masih seputar restoran fast food, yang memang banyak terdapat di plaza bekas bioskop mewah itu.

Sekali lagi, ini adalah kisah inspiratif tentang keberhasilan seseorang yang di masa kecilnya dihimpit kesulitan ekonomi. Saya menganggap Iwan Setiawan mencoba mencari cara lain dalam memaparkan cerita yang sudah banyak digarap dan diterbitkan, seperti Tetralogi Laskar Pelangi dan Trilogi Negeri Lima Menara. Menurut saya itu sah-sah saja, karena memberikan warna lain dari penulisan dari sekian banyak cerita yang hampir mirip ini. Sayangnya, saya menganggap pemaparan Iwan Setiawan masih serba tanggung, dan terkesan terlalu hati-hati. Makna perjuangan hidup dan pergelutan seorang manusia mencapai mimpinya jadi terkesan seadanya. Tak ada kesan mendalam dari makna yang diceritakan, dan sepertinya akan mudah dilupakan orang. (lits)
27 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read 9 Summers 10 Autumns.
Sign In »

Reading Progress

04/12/2011 page 60
25.0% "Datar banget!" 1 comment

Comments (showing 1-12 of 12) (12 new)

dateDown arrow    newest »

Rifai  Sumaila Setuju banget,...hehehe,..besok kita diskusikan ya mba',...aku kasih 2 bintang untuk buku ini,...:D


lita Hahaha...baru separuh jalan kali :P


message 3: by Roos (new)

Roos NIce review Ta, aku suka...:)


lita Thanks, Roos. Aku agak ngeri sebetulnya, isinya kritikan semua :P


message 5: by Roos (new)

Roos Aku sudah ngeri malahan...hihihi. Tapi mau mencoba membuat reviewnya juga...semoga semua berbesar hati yah...:)


lita Hayuh dibuat, aku tunggu...semangat! :)


message 7: by Roos (new)

Roos Hihihi...bacanya sambil membunuh bosan, Ta...:(


lita hahaha...coba dinikmati aja, Roos :)


message 9: by Roos (new)

Roos seminggu lagi genap sebulan...entah apa yang terjadi padaku nanti...*mulai lebay*...hahaha.


message 10: by Annisa (new)

Annisa Wew, cuma dua ya? Kemarin ke toko buku, iseng pengen cari bacaan, hampir aja beli ini. Berarti kekurangannya karena kurang bisa dipahami dari segi bahasa, jadi kurang 'engaging'? Engaging maksudnya bisa membuat pembaca merasa terlibat.


Amanatia Junda itu juga yg saya rasakan :)


message 12: by Nasirullah (new) - added it

Nasirullah Sitam jadi memacu semangat


back to top