Pandasurya's Reviews > Vita Brevis: Sebuah Gugatan dari Cinta

Vita Brevis by Jostein Gaarder
Rate this book
Clear rating

by
411374
's review
Mar 30, 2011

it was amazing
bookshelves: favorit, non-fiksi, punya

Aurel Yang Malang

Praktisnya memang bisa dibilang buku ini bukanlah karya Jostein Gaarder, tapi dia hanya menerjemahkan surat panjang yang ia temukan pada sebuah pameran buku di Buenos Aires, Argentina pada 1995. Surat yang konon dibuat pada abad ke-5 ini berisi tanggapan seorang perempuan bernama Floria kepada kekasihnya yaitu Aurel (Santo Agustinus, salah seorang Bapak Gereja yang berpengaruh hingga kini) atas buku Pengakuan (Confessiones) yang ditulis Santo Agustinus.

Dan inilah cuplikan surat Floria yang menggambarkan pemikirannya yang kritis-brilian-dahsyat itu:

Kau menjauhkan aku karena kau terlalu mencintaiku, katamu. Wajar, tentu saja, untuk bertahan di sisi pasangan yang dicintai. Tetapi kau melakukan kebalikannya, karena kau sudah mulai menganggap remeh perasaan cinta antara laki-laki dan perempuan. Kau berpikir bahwa aku membelenggumu kepada dunia panca indra, tanpa menyisakan kedamaian dan kesunyian yang dapat membuatmu berkonsentrasi pada keselamatan jiwamu...Tuhan menginginkan di atas segalanya, agar manusia hidup dengan menahan nafsu, tulismu. Aku tidak percaya pada Tuhan yang demikian (h. 16-17)

Bukankah benar-benar tidak setia menelantarkan seseorang yang dicintai demi keselamatan jiwa sendiri? Bukankah akan lebih mudah bagi seorang perempuan untuk menanggung kenyataan bahwa seorang laki-laki meninggalkannya karena ia ingin menikah—atau dalam hal ini, bila ia menginginkan perempuan lain? TetapI tidak ada perempuan lain dalam hidupmu. Kau hanya lebih mencintai jiwamu sendiri daripada diriku. Jiwamu sendiri, Aurel, itulah yang ingin kau selamatkan, jiwa yang pernah kau temukan di dalam diriku. (h. 18)

Aku harus menemukan apa yang dikatakan ajaran-ajaran filsafat tentang hal-hal yang memisahkan pasangan yang saling mencinta. Kalau kau telah tertarik pada perempuan lain, aku mungkin saja ingin bertemu dengannya. Tetapi sainganku bukanlah perempuan yang dapat kulihat dengan mata telanjang, ia adalah sebuah prinsip filsafat. Maka, agar aku dapat mengerti dirimu dengan lebih baik, paling tidak aku harus berada pada jalan yang sama dengan yang telah kau tempuh. Aku harus membaca ajaran-ajaran filsafat…Sainganku bukan hanya sainganku sendiri. Ia adalah saingan semua perempuan, ia adalah malaikat maut bagi cinta itu sendiri. Kau menyebutnya sebagai Pengendalian Diri. (h. 21-22)

Jika orang-orang bodoh ingin menghindar dari perbuatan yang salah, mereka biasanya malah melakukan hal yang sebaliknya (Horace, h. 23)

Ada satu hal khusus yang aku sukai dalam nasihat Cicero: ia memacuku untuk tidak mencari arah filosofis tertentu, melainkan untuk mencintai dan mencari serta memenangkan kebenaran itu sendiri…Dan kebenaran, Aurel, adalah hal yang telah mendorongku membaca tentang filsuf dan pujangga-pujangga terkenal. Sejak kita berpisah, aku telah mencurahkan seluruh hidupku untuk kebenaran—sama seperti kau dulu pergi untuk mencurahkan dirimu berkonsentrasi pada Pengendalian Diri. Aku masih mengasihimu, walapun harus kukatakan bahwa saat ini aku masih lebih mengasihi kebenaran (h. 23)

Kau merujuk pada kata-kata Paulus bahwa “baik bagi seorang laki-laki untuk tidak menyentuh seorang perempuan”. Dan Aurel sayang, mengapa kau hanya menuliskan ayat ini? Tidakkah kau belajar di sekolah retorika tentang bahayanya memisahkan sebuah kalimat dari konteksnya? (h. 39)

Aku ingat saat kita duduk di bawah sebuah pohon Ara. Sambil mengerdip pada matahari, aku memandangmu. Aku pasti melakukannya dengan cara yang begitu memikat, karena kau menahan tatapanku sambil memandang turun ke tanah dengan ragu sekali atau dua kali sebelum kau menatapku kembali. Rasanya nyaris seperti kita pernah hidup bersama. Aku langsung menyadari bahwa aku dapat mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwa. ..Kemudian kita berbicara tentang kehidupan dan cinta secara umum. Aku sepertinya ingat betapa kau sangat terkejut melihatku dengan begitu santai membela tindakan Dido yang memperjuangkan cinta. Seakan-akan kau bertanya padaku dengan tatapanmu, apakah seorang perempuan dapat benar-benar mencintai seorang laki-laki sehingga ia akan mengorbankan nyawanya sendiri bila ia dikhianati. (h. 45- 46)

Kau tidak menyembunyikan betapa dalam dan kuatnya kau membenci Venus. Dia, Aurel, adalah jembatan permata yang menghubungkan jiwa kita yang kesepian dan penuh ketakutan. Tetapi bukan itu saja. Kini kau juga membenci segala kesenangan seksual. Dan lebih lagi, kau tak henti menghina panca indra itu sendiri. Sungguh, kau telah berubah menjadi seorang kasim!

Saat ini kau memandang rendah segala indra serta semua buah dan minuman anggur yang mereka tawarkan pada jiwa kita. Tetapi bukan itu saja. Kau mulai membual kepada Tuhan tentang betapa kini kau sadar telahmemandang rendah seluruh ciptaan-Nya. Kau melakukan ini, katamu, karena kau melihat “cahaya” dengan mata hatimu.

Kulihat kau telahkehilangan arah hidupmu di tengah-tengah para teolog. Pekerjaan yang sangat menyedihkan! Bagaimana mungkin yang kecil memimpin yang besar? Bagaimana mungkin sebuah ciptaan mendefinisikan penciptanya? Juga, bagaimana mungkin sebuah ciptaan dapat menentukan bahwa dirinya akan berhenti berfungsi sebagai sebuah ciptaan?

Kita adalah manusia hasil ciptaan, Aurel. Dan kita diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan. Kita tidak boleh berusaha untuk hidup sebagai sesuatu kecuali sebagai diri kita sendiri. Bukankah dengan demikian kita mengejek Tuhan? Kita adalah manusia, Aurel. Pertama-tama kita harus hidup, kemudian—ya—kemudian kita bisa berfilsafat.


Apakah aku tidak lebih dari tubuh seorang perempuan bagimu? Kau tahu bahwa hal itu tidak benar. Dan bagaimana pula kau dapat membedakan tubuh dengan jiwa? Bukankah dengan demikian kau berusaha mengacaukan proses penciptaan yang telah dilakukan Tuhan? Oh ya, tentu saja, macanku yang tak beriman. Ketika kau mencengkeramku dengan belaianmu yang tajam, kau juga mencabik jiwaku. (h. 51-53)

Masihkah kau dapat mengingat bagaimana kau bercinta denganku dan seolah-olah mengeratkan tiap kuncup sebelum ia terbuka? Betapa kau menikmati diriku di dalam dirimu! Bagaimana kau membiarkan dirimu diracuni oleh wewangianku! Bagaimana kau menyantap sari-sariku! Dan kemudian kau pergi dan menjualku, demi keselamatan jiwamu. Betapa tidak setia, Aurel, kau seharusnya merasa bersalah! Tidak, aku tidak percaya pada Tuhan yang menuntut korban manusia. Aku tidak percaya pada Tuhan yang menyia-nyiakan hidup seorang perempuan demi menyelamatkan nyawa seorang laki-laki. (h. 59)

Hidup sangatlah singkat, dan kita tak pernah benar-benar yakin akan adanya keabadian bagi jiwa kita yang rapuh. Mungkin kehidupan inilah kehidupan kita satu-satunya. Kau tidak akan mau mempercayai itu, Aurel. Kau akan mengobrak-abrik otakmu hingga kau menemukan keabadian bagi jiwamu sepertinya lebih penting bagimu untuk menyelamatkan jiwamu dari hukuman abadi, ketimbang untuk menyelamatkan hubungan kita. (h. 68)

Bagaimana bila ternyata tidak ada surga di atas sana, Aurel? Bayangkan bahwa hanya untuk hidup inilah kita diciptakan! (h.80)
Hidup ini singkat, terlalu singkat. Namun mungkin hanya kini dan di sinilah kita hidup. ..Kita tidak hidup selamanya, Aurel. Tapi itu tidak berarti bahwa kita harus membuat hari-hari yang telah diberikan kepada kita menjadi hampa. (h. 102)

Hidup begitu singkat, kita tidak punya waktu untuk menghakimi dan mengutuk cinta. Pertama-tama kita harus hidup, Aurel, kemudian baru kita bisa berfilsafat. (h. 121)

Keluarlah, Aurel! Keluar dan berbaringlah di bawah pohon ara. Gunakanlah indra-indramu—gunakan untuk terakhir kalinya. Demi aku, Aurel, dan untuk segala yang pernah kita miliki bersama. Bernapaslah, dengarkanlah nyanyian-nyanyian burung, pandanglah kubah di langit dan hiruplah segala wewangian untukmu sendiri. Inilah dunia, Aurel, dan ia hadir di sini saat ini. Di sini, dan sekarang. Kau pernah terjebak ke dalam labirin para teolog dan para penganut Plato. Kini tidak lagi. Sekarang kau telah kembali ke dunia, ke tempat tinggal manusia. (h. 146)

Dan pada akhirnya memang kita tidak sekadar bicara tentang tanah, air dan udara, tapi kita juga berbincang tentang manusia, bumi manusia dengan segala persoalannya.

Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cincong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk puisi—seperti kenyatan tentang cinta dan mati?
(Goenawan Mohamad, Caping 2,h. 72)


***

ripiu singkatnya kurang lebih begini:

buku ini hampir semua kalimatnya pingin saya kutip karna dahsyat kata2nya, menohok, menelanjangi, membongkar, menggeledah sejumlah aspek penting keimanan, filsafat, teologi, tuhan, sufi, cinta, indrawi, jasmani, rohani, dst..haha..:D mangstaabb lah
rangkaian kata2nya memukau sampai akhir:)

buat sebagian orang mungkin tema2 itu termasuk berat, tapi buku ini memaparkannya dalam bentuk surat yang cukup mudah dicerna orang awam.
percayalah..haha:D

***
keren sekaleh buku ini
komentar dan kutipan segera menyusul
kalo inget;p

***

baru ampe setengah buku dlm sekali baca..udah terasa ini buku keren banged isinya, terjemahannya juga okeh, enak bacanya..
10 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Vita Brevis.
Sign In »

Reading Progress

11/23/2016 marked as: read

Comments (showing 1-20 of 20) (20 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by Wulan (new)

Wulan pinjem.....


Pandasurya waha gw jg dapet minjem, ul. pengen punya juga nih. nyari dulu deh..hehe


message 3: by Nanny (last edited Apr 06, 2011 12:48AM) (new) - rated it 3 stars

Nanny SA vita brevis est, Floria!


Pandasurya wah cuma 3 bintang aja, ceu? yakiinn?:p


Nanny SA 3 1/2 bintang sih tepatnya, tp lupa dulu kenapa dibulatin ke bawah :)
sok atuh bikin ripiu, 'kesan dan pesannya' gimana hehe


Pandasurya oo gitu.
walah, ini buku teh hampir semua kalimatnya pingin saya kutip karna dahsyat kata2nya, menohok, menelanjangi, membongkar, menggeledah sejumlah aspek penting keimanan, filsafat, teologi, tuhan, cinta, indrawi, jasmani, rohani, dst..haha..:D mangstaabb lah


Nanny SA waaaah....
vita brevis est, Panda


message 8: by Pandasurya (last edited Apr 06, 2011 02:05AM) (new) - rated it 5 stars

Pandasurya haha..:D

"Life is so short
forgetting is so long"

(after Neruda)

hidup itu ringkas, kawan..
dan kita lahir terlalu pagi
untuk mati terlambat..



Nanny SA dahsyat Panda


Pandasurya terima kasih ucapan 'dahsyat'nya, ceu Nanny
emang buku ini dahsyat sekaleh isinya..
jd sayah sangat tidak berkeberatan samasekali mengutip sebagian isinya
pengen punya euy..


message 11: by Rhea (new) - added it

Rhea mau dong Pan bukunya dikirim ke Surabaya. *kedip-kedip*


Pandasurya lha pegimana itu komennya?
ini buku kan sayah jg gak punya, justu pengen punya. keliatan di shelfnya kan? :p


message 13: by Rhea (new) - added it

Rhea lah, kok udah bikin repiu?


Pandasurya karna udah dibaca hasil minjem doonk :p


message 15: by an (new)

an bisa baca gaarder yang ini pan? :D
-bharap dilempar buku lagi-


Pandasurya justru bisa, rhe, sangat menikmati malah, karna yg Vita Brevis ini memang bukan karya Gaarder, tapi dia yg nerjemahin :D
jd untuk yg satu ini harapanmu rasanya hanya tinggal harapan..:p *eaaa#doronggerobaksampah#


Bunga Mawar waaah, dia kasih bintang lima. Kali ini kita berbeda pendapat ttg siapa yang lebih malang dalam kisah cinta di buku ini, kak panda... :)

(mikir2 bukuku ada di mana, ya?)


Pandasurya waha, bu ketuaa..ya begitulah tapsiran sayah atas buku ini. justru dari surat2 Floria ini menurut sayah memang Aurel lah yg gak bisa mencintai dengan sederhana krn dia jd ribed/terpengaruh oleh ide2, teologi, filsafat dst..:D
ayooh kalo nemu bukunya buat saya ajah..haha:p


message 19: by Fairlita (new) - added it

Fairlita jadi nyesel kenapa waktu itu nggak beli ini... :-<


Nadia Fadhillah mas panda jatuh cinta sama floria nih,


back to top