Ivon's Reviews > The Chronicles of Narnia

The Chronicles of Narnia by C.S. Lewis
Rate this book
Clear rating

by
3505628
's review
Apr 17, 11

really liked it
bookshelves: 3rd-pov, action, fantasy, it-s-inspiring, it-s-heart-warming, humor, horror, fiction, religion, psychologic, traveling, suspense
Read in April, 2011

** spoiler alert ** Sebelumnya, izinkan aku untuk mengucapkan terima kasih kepada O- ehm, Bang Marchel, karena telah mempercayai buku Narnia miliknya dipinjamkan kepadaku. Tanpanya *lebay intended* mungkin baru bertahun-tahun kemudian baru aku akan mendapat kesempatan membaca buku ini, dan mungkin saat itu, sudut pandangan sudah banyak berubah, dan isi resensi yang kutulis akan jauh berbeda dengan resensi berikut ini. Jadi, sekali lagi, terima kasih, dan inilah resensi untuk buku fantasi anak-anak legendaris yang dulu telah kujanjikan akan kutulis.

Buku ini memang menakjubkan. Selama di Goodreads, aku telah membaca resensi-resensi dari berbagai macam orang, dan tampaknya reaksi-reaksi mereka tidak jauh dari daftar berikut ini:

- mereka yang memujanya dan memujinya,

- mereka yang protes pada sistem deus ex machina di sepanjang ceritanya,

- mereka yang mengkritiknya sebagai kisah fantasi yang rasis,

- mereka yang matanya berkaca-kaca dan terharu setelah sadar kalau Aslan itu ternyata Bukan Singa Biasa (mayoritas 'mereka' ini kebanyakan penganut Kristen juga, tampaknya),

- dan mereka yang tergabung dalam satu kelompok minoritas yang merasa terampok dan kecewa berat setelah membeli buku ini, dengan rata-rata isi omelan berupa:

"Ceritanya kekanak-kanakan banget! Masa di cerita ini ada singa bisa berdiri dengan dua kaki! Terus tokoh-tokohnya pula, dipanggilnya Bu Berang-Berang, Pak Berang-Berang... Gaya penceritaannya juga, kayak lagi ngomong ama anak kecil! Ah, pokoknya Narnia ini kekanak-kanakan banget deh! Rugi aku udah beli ini buku!"


Isi omelan itu kudapat dari temanku (yang sama-sama suka baca buku fantasi), yang baru membeli satu bundel Narnia, tepat setelah menonton film “Narnia: Lion, Witch, Wardrobe”. Saat itu kami masih SMA. Aku sendiri belum banyak membaca buku, dan baru punya pengalaman pertama (kata-katanya menjurus ya? hehehe...) dengan novel setebal kamus KBBI saat aku di kelas satunya. Rutukan temanku itu membuatku berpikir kalau Narnia, versi bukunya, memang terlalu kekanak-kanakan. Kuanggap Narnia itu setingkat (kurang lebih) dengan dongeng-dongeng jadul ala Si Kerudung Merah atau Anak Bebek Buruk Rupa (bagi para penggemar buku ini, silahkan; aku sudah siap menerima lemparan Pepsi anda). Sejak itu aku tidak pernah melirik ataupun ingin membaca Narnia lagi.

Enam tahun berlalu sejak saat itu. Aku yang saat itu telah berubah, menjadi aku yang sekarang. Aku yang sudah lulus SMA sejak empat tahun lalu, yang telah mencicipi beberapa 'kenyataan' di dunia kerja, yang telah melihat dan mempraktekkan penerapan sarkasme dan sinisme di dunia nyata dan maya. Pada tahap perubahan dewasa-mudaku inilah, aku kembali melirik buku ini.

Lihat rating keseluruhan bukunya di goodreads: 4,25 bintang. Itu berarti minimal 70% para pembacanya rela memberi Lima Bintang dan kata "Amazing!" (bukan "Berhasil!" walaupun serima) pada buku ini. Dan sebagian besar pembacanya adalah orang dewasa, yang kurasa takkan mau lagi melirik pada dongeng-dongeng klasik nan ‘klise’ macam Si Kerudung Merah dan Anak Bebek Buruk Rupa.

Tak salah lagi. Walau penuh cerca dan puji, buku ini memang berisi sesuatu yang fenomenal. Dan setelah perkenalan singkat dengan Bang Marchel di thread Fiksi Fantasi Dalam Negeri, kami bersepakat untuk saling menukar buku. Aku membantu Bang Marchel untuk menuntaskan Harry Potter dan menghilangkan rasa penasarannya pada cerita Battlefield Earth, sementara dirinya membantuku untuk kembali percaya kepada buku fantasi ini *lebay intented #2*.

Beberapa minggu berlalu sejak saat itu. Kini aku telah selesai membaca seluruh bukunya, dan ini saatnya aku memberi pandangan orang pertama pada buku Kisah Narnia, yang kalau disatukan dan ukuran buku serta font-nya sama dengan buku Harry Potter, mungkin bakalan setebal 1.100 halaman, kurang atau lebih.


Buku satu: The Magician's Nephew

Lho, kok bukannya Si Singa, Nenek Sihir, dan Sang Lemari Baju? (contoh terjemahan yang amat salah dan pantas kena rajaman.) Sebenarnya, buku ini bukanlah buku pertama dari seri Narnia. Buku ini baru ditulis setelah buku ke ---, ketika banyak orang yang penasaran asal mula negeri Narnia. Sang pengarang tampaknya memutuskan, kalau Narnia harus punya kisah penciptaannya sendiri. Selain itu, juga untuk menjelaskan asal usul si Penyihir Putih, yang ternyata berasal dari salah satu dunia di antara kolam-kolam di Hutan Di Antara Dunia-Dunia, yang adalah...ah, sudahlah, baca saja sendiri nanti XD.

Beberapa orang menganggap seri ini agak membosankan, tapi aku sendiri amat suka dengan kisah ini. Bayangkan, sebuah nyanyian agung, yang mampu melahirkan bintang-bintang, matahari, pohon, rerumputan, para binatang, makhluk-makhluk lainnya (faun, satyr, dryad, centaurus, dwarf), dan semua lainnya, kecuali manusia. It just...whaow, yes?

5 bintang, untuk pengalaman awalku di Narnia yang ternyata jauh melebihi ekspetasiku semula.

(Putra-Putri Adam & Hawa di Narnia: Digory, Polly, Paman Andrew, Henry si kusir kereta kuda dan istrinya, Helen)



Buku Dua: The Lion, the Witch, And the Wardrobe

Inilah dia, buku Narnia yang pertama jadi film.

Perbedaan paling kendara antara film dan bukunya adalah adegan pertempuran dengan Penyihir Putih. Di film menghabiskan waktu tiga puluh menit (dan penuh adegan menakjubkan pula), sementara di buku, perang besar itu selesai dalam dua kali membalik halaman. Wutdidusay? Sorry, it’s true, I’m afraid I’m not kidding you.

4 bintang, karena ending yang amat terburu-buru.

(Putra-Putri Adam & Hawa di Narnia: Peter, Susan, Edmund, Lucy)



Buku Tiga: The Horse And His Boy

Ini buku pertama yang mendapat label rasis (dan membuat seorang kenalanku di goodreads berhenti membaca seri sisanya).

Entah kenapa, aku tak begitu menikmati kisah di buku ini, walau deskripsinya masih luwarrr biasssa. Mungkin karena penggambaran dua suku manusia yang jumlahnya hampir seimbang, tapi amat kontras bak merah darah dan putih sutera. Bangsa Narnia digambarkan nyaris 100% sebagai orang2 yang...em, baik hati, bijaksana, ramah, ceria, dkk, dkk, dkk, sementara Bangsa Calormen digambarkan muram, cemberut, pemarah, dan (nah ini dia) berkulit gelap. Seingatku, hanya sekali sang pencerita (bukan sang pengarang) memuji satu hal dari Calormen, yaitu kepiawaian mereka bercerita. Tebak, bangsa manakah di ‘dunia nyata’ yang mendekati gambaran tersebut? Ini kata kuncinya: Dongeng 1001 Malam.

Karena aku tak mampu terus membacanya, aku lompat ke Prince Caspian, dan baru kembali setelah selesai berpetualang di Voyage of Dawn Treader.

3 bintang, karena nuansa ceritanya cenderung ‘jatuh’ di antara seri Narnia lainnya.
(Putra-Putri Adam & Hawa di Narnia: Peter, Susan, Edmund, Lucy))



Buku Empat: Prince Caspian

Empat ratus tahun berlalu, dan Narnia Lama telah hancur diserang Negeri Caspian. Hampir seluruh penghuninya tewas, dan hingga keberadaan Hewan yang Bisa Berbicara, Satyr, Faun, Dwarf, Centaur, dan lainnya kini diperlakukan sebagai kisah tabu. Menceritakannya dapat berakibat pada hukuman cambuk dan pengasingan seumur hidup. Tapi hal itu tidak menghentikan Pangeran Caspian untuk mempelajari seluruh cerita tabu tersebut (walau berakibat pada pengasingan pengasuhnya sendiri). Hal itu tidak sia-sia, karena sang Pangeran ternyata ditakdirkan untuk memimpin Bangsa Narnia Lama untuk menjatuhkan kekuasaan pamannya di Tanah Narnia Lama.

3 bintang, entah kenapa kisah yang ini membuatku rada bosan.

(Putra-Putri Adam & Hawa di Narnia: Peter, Susan, Edmund, Lucy)



Buku Lima: The Voyage of Dawn Treader.

Mengingatkan pada Odysseus's Voyage, tapi tidak kalah serunya.

Muncul tokoh Putra Adam baru; saudara sepupu Jill dan Edmund yang amat menyebalkan (walau penceritanya berkata sifatnya begitu akibat dari sistem pendidikan sekolahnya), Eustace. Ketika mereka tengah mendebatkan Narnia di rumah Eustace, tiba-tiba saja isi lukisan kapal layar yang terpajang di dinding kamar tamu bergerak. Angin menghembuskan ketiga tokoh manusia kita ini masuk ke lukisan, menceburkan mereka ke dalam laut, dan berkat berkah Surai Singa (ayolah, ini kisah Narnia’kan? :D), pelaut dalam kapal sempat melihat dan segera menyelamatkan mereka. Entah kebetulan atau tidak, ternyata nahkoda kapal tersebut adalah Pangeran Caspian , yang tengah mencari mencari menteri-menteri yang dikirim pamannya pada masa-masanya berkuasa ke Laut Timur dan tidak pernah kembali lagi.

Menawarkan perjalanan penuh keajaiban menuju Ujung Timur Dunia, di mana tiap petualangan di dalamnya sangat merangsang imajinasi.

5 bintang. D@mn, this one is very good!

(Putra-Putri Adam & Hawa di Narnia: Edmund, Lucy, dan Eustace)



Buku Enam: The Silver Chair

Perjalanan mencari anak dari Pangeran- eh, Raja Caspian yang menghilang sejak ibunya mati terpatuk ular berbisa. Temui kembali: Eustace dengan rekan seperjalanannya Jill, sesama korban bullying di sekolah mereka.

Ada apa saja di buku ini? Hmm, ada penyihir wanita misterius (kayaknya jahat, tapi kok cantik amat yah?), kota bawah tanah dan penghuninya Bangsa Gnome, bangsa raksasa (kurasa tinggi mereka ada sekitar sampai gedung tujuh lantai) yang tampaknya masih suka makan manusia, makhluk-makhluk yang akan terbangun di akhir dunia, dan sekilas pandangan tentang surga di Negeri Aslan.

Ha, kurasa buku ini akan masuk daftar berikutnya untuk seri film Narnia deh :D.

4 bintang. It's quite good actually, but Jill's actions were getting on my nerve.

(Putra-Putri Adam & Hawa di Narnia: Eustace dan Jill)



Buku Tujuh: The Last Battle

Pertempuran terakhir, dan setelah itu datanglah kedamaian abadi di mana semua tokoh-tokoh jahat terkalahkan selama-lamanya dan tokoh utama kita hidup bahagia untuk selama-lamanya.

Tapi dugaan itu tidak tepat. Judul itu tidak main-main, dan secara harafiah menyatakan pertempuran terakhir di buku ini. Di bab-bab terakhir akan terlihat proses kemusnahan Narnia, dan setelah itu Narnia yang selama ini kita jelajahi akan tamat, lenyap, musnah tanpa sisa.

Ini buku Narnia yang paling miris, gelap, dan kejam dari seluruh seri yang ada. Di sini ada semua tanda-tanda akhir zaman: pengkhianatan, penghujatan, penipuan, keraguan, keputusasaan, tragedi, yang pada akhirnya berujung pada satu kejadian puncak: kiamat.

Ternyata penceritanya (bukan pengarangnya, sekali lagi; walau aku sendiri mulai meragukannya) tidak begitu rasis. Dia memasukkan seorang Calormen ke negeri Aslan, walau sepanjang yang terlihat hanya ada satu orang saja diantara ribuan penduduk Calormen lainnya :p.

Dan, oh ayolah, kalau penggambarannya seperti itu, kesannya semua anak cewek yang tertarik pada lipstik, bahan nilon, dan kosmetik tidak akan diterima di “surga”. Susan tidak masuk Narnia Sesungguhnya, karena ia menyangkal ‘kenyataan’, bukan karena ia memilih memakai lipstik daripada masuk biara dan menjadi suster.
4 bintang.

(Putra-Putri Adam & Hawa di Narnia: Eustace dan Jill)

(dan di "Narnia sesungguhnya": Digory, Polly, Henry sang raja pertama dan ratunya, Helen, Peter, Edmund, Lucy, Eustace, dan Jill)



Jadi totalnya...: 5+4+3+3+5+4+4 = 28 / 7 = 4 bintang

Tapi, kalau bisa, aku ingin kalian mengabaikan seluruh komentar-komentar dan bintang-bintang itu. Kisah-kisah Narnia adalah salah satu kisah fantasi paling imajinatif yang pernah kubaca. Ada berbagai hal menarik yang bisa kita temukan di dalamnya, seperti hewan-hewan berbicara yang kedudukannya setara dengan manusia, ; semua unsur yang seorang pencerita perlukan untuk menulis sebuah kisah yang bagus. Kalimat-kalimatnya mengalir, lucu, polos, dan apa adanya; selayaknya sebuah dongeng yang memang ditujukan untuk memberi cerita dan menghibur orang. C.S. Lewis menceritakannya dengan amat ahli, ditemani ilustrasi-ilustrasi mendetil dari Pauline Baynes.

Pick this up, if you haven’t done it before ;).
1 like · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Chronicles of Narnia.
Sign In »

Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)

dateDown arrow    newest »

Marchel BRAVO.....

eh bukan untuk cerita narnia-nya.

Tapi selamat, akhirnya review ini jadi ^^. Omong-omong kapan yee buku na kita tukerkan lagi? kopdar akbar aja ya? kan seperti kata salah satu provider seluler.."HEMAT"


Ivon waiii, thx2 ^^ bner sih, bikin review-nya entah knapa perlu perjuangan lebih XD
(dan ak sempat kawatir sih bakalan ada yang ngomel2 karena repiunya rada2 gimanaaa gitu, wkwkwk)

ahahahak~ y dah, tunggu kopdar juga it's okay koq XD ktny ada mau kumpul2 di mana pas acara penerbitan buku Ther Melian kn? :)

(semoga enggak keberatan manggul2 buku2nya...)


back to top