Harun Harahap's Reviews > 86

86 by Okky Madasari
Rate this book
Clear rating

by
2109023
's review
Mar 17, 11

bookshelves: fiksi, indonesian, punya
Read from March 16 to 18, 2011

KORUPSI

Capek nggak setiap mendengar kata tersebut? Bosen nggak? Kalo belum, bagus. Berarti anda masih peduli dengan bangsa ini. Walau korupsi sepertinya telah membudaya, tapi gue yakin masih bisa dihapuskan dari Indonesia. Gampang? Beuhhhh, ya nggaklah. Tapi walau sulit, kalau berusaha pasti bisa.

Dalam novel terbarunya, Mbak Okky mengambil tema korupsi tersebut. Khususnya di lingkungan hukum Indonesia. Beliau menuturkan bagaimana lembaga hukum di Indonesia tidak bisa memberikan keadilan bagi tiap warganya. Siapa yang punya uang, dia akan terpihak. Nggak punya uang, ke penjara ajahh!!

Gue nggak tau apa ada orang yang sejak awal sudah berniat korupsi saat masuk ke dalam dunia pekerjaan. Mungkin ada, mungkin juga tidak. Tapi dengan adanya kesempatan yang terbuka untuk melakukannya, orang yang tak punya niatan pun mungkin akan tergoda. Arus yang kuat akan menyeret seseorang yang baik ke jalan yang tidak baik. Banyak tekanan baik dari atasan, keluarga maupun pribadi juga kerap menguatkan niat mereka untuk korupsi.

Seperti halnya di dalam novel 86 ini, tokoh utamanya yang berperilaku baik akhirnya ikut-ikutan tidak baik. Sebab pertamanya adalah saat melihat rekan kerja yang hampir seluruhnya melakukan praktek korupsi. Tahu sama tahu, begitu katanya. Jadi saat korupsi, semua mengamini dan tak ada yang mengingatkan bahwa itu merupakan perbuatan yang salah.

Kemudian, perintah atasan juga membuatnya tak bisa menolak untuk korupsi. Butuh idealisme yang kuat untuk tetap teguh berjalan lurus. Apalah daya pegawai rendahan yang hidupnya pas-pasan. Dikucilkan di lingkungan pekerjaan bisa berakibat buruk pada hidup mereka. Jadi daripada tersingkirkan, mereka berpikiran lebih baik mengikuti arus yang ada.

Seperti yang telah gue bilang, bahwa adanya tekanan dari keluarga atau urusan pribadi bisa menimbulkan niatan korupsi. Hidup yang kian sulit dengan kebutuhan pokok yang harganya naik setiap hari dibuat sebagai alasan pembenaran korupsi. Padahal, kita semua tau bahwa uang tak akan pernah cukup. Saat digaji sejuta tidak cukup, digaji sepuluh juta pun tak cukup pula.

Kala kita berbohong tentang sesuatu akan muncul kebohongan yang lain. Begitu juga dengan kejahatan lainnya, akan memunculkan kejahatan lainnya. Saat terjerumus ke lubang kenistaan, akan sulit untuk keluar. Tapi dengan niat dan usaha yang baik akan mengeluarkan kita dari sana.

Saya akui memang kenaikan gaji tidaklah menyelsaikan masalah korupsi dengan benar. Karena walau setiap kali gaji disesuaikan dengan kebutuhan pokok sehari-hari, tetap saja tak akan cukup. Yang perlu kita ubah dari tatanan birokasi ini adalah sistemnya. Perlu dibuat sistem yang akan meniadakan kesempatan mereka untuk melakukan praktek korupsi. Butuh banyak mata yang mengawasi tindak tanduk mereka. Lingkaran setan korupsi ini harus diputus, pangkas orang-orang yang sudak tak bisa lagi diajak ke jalan yang lurus.

Semoga Negeri kita ini bisa bersih dari korupsi. Amin!
7 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read 86.
Sign In »

Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by sastrapertala (new)

sastrapertala Power tends to corrupt, and absolute power corupts absolutely, kata Lord Acton :)

Amin untuk kalimat terakhirnya!


Aditya Hadi semoga yang baca novel ini jadi berpikir 86x untuk korupsi :D


back to top