Helvry Sinaga's Reviews > Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka

Sumatera Tempo Doeloe by Anthony Reid
Rate this book
Clear rating

by
1943878
's review
Mar 22, 2011

it was amazing
bookshelves: sumatra
Read from February 28 to March 13, 2011 — I own a copy

Judul: Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka
Judul Asli: Witnesses to Sumatra: A Travellers' Anthology
Penyusun: Anthony Reid
Penyunting: Dewi Anggraeni
ISBN13: 9789793731940
xxiv+ 424 hlm
Penerbit: Komunitas Bambu, 2010

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari orang-orang yang pernah tinggal di Sumatra. Berbagai laporan, kesan serta kenangan ditulis sebagai warisan yang berharga bagi kita. Ditulis oleh 39 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Penulis terbanyak berasal dari Inggris, yaitu 11 orang. Posisi kedua terbanyak yang berasal dari Portugis dan Belanda masing-masing 5 orang. Posisi ketiga berasal dari Amerika dan Italia, masing-masing 3 orang. Dan dari dalam negeri sendiri, tulisan Tan Malaka serta Muhammad Radjab turut memperkaya kupasan tentang Deli pada awal abad 20. Profesi para penulis ini bermacam-macam. Yang paling banyak adalah sebagai pedagang. Profesi lainnya adalah sebagai wartawan, arkeolog, misionaris, masinis kapal, seniman, pegawai VOC, pegawai EIC, wakil gubernur, pembuat layar kapal, pelancong, ahli bedah, sejarawan, utusan Raja,petualang, penulis, dan sebagainya.

Periode penulisan catatan ini juga berbeda-beda. Tulisan paling awal adalah Sulayman, seorang pedagang Arab yang menceritakan tentang Kerajaan Sriwijaya pada Tahun 851. Periode Abad 13-14 ditulis oleh Marco Polo dan Ibn. Batutta. Abad ke 15 ditulis oleh 5 orang. Abad 17 ditulis 10 orang. Abad 18 oleh 3 orang, abad 19 oleh 10 orang, serta periode abad 20 ditulis oleh 8 orang.

Anthony Reid menyusun tulisan-tulisan tersebut dalam 7 bagian. Bagian Pertama dimulai dengan pendaratan pertama di Asia Tenggara dan diakhiri Bagian Tujuh yaitu Sumatera sebagai Tanah Jajahan dan Keruntuhannya. Jika kita memilah-milah Sumatra dengan provinsi yang ada sekarang, maka provinsi Nanggroe Aceh Darusallam-lah yang paling banyak diceritakan, yaitu 17 tulisan. Selanjutnya Provinsi Sumatra Utara, 11 tulisan, Provinsi Sumatra Barat, 4 tulisan, Provinsi Sumatra Selatan 3 tulisan, Provinsi Bengkulu dan Riau masing-masing 2 tulisan.

Bagaimana orang menyebut Sumatra mula-mula?
Pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib). Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatra sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai (Barus).

Pertanyaan utama ialah, apa yang menarik bagi para orang zaman dulu datang ke Sumatra? Jawabannya: Karena emas. Selain itu, selama abad 16 dan 17, Sumatra menjadi penghasil lada terbesar di pasar internasional. Tidak diketahui bagaimana lada bisa menjadi komoditi utama, namun diduga pedagang dari India yang membawa lada ke Sumatra untuk ditanam sebab sebelumnya sudah berhasil ditanam di Malabar. Selanjutnya Sumatra menjadi koloni yang menguntungkan bagi Belanda karena hasil tanahnya yang diolah dalam perkebunan karet, kelapa sawit, teh, coklat, dan tembakau menjadi komoditas dagang yang paling populer.

Catatan Perjalanan
Dalam buku ini, Orang Eropa yang pertama kali mengunjungi Sumatra adalah Marco Polo. Karena tulisannyalah, akhirnya menyebabkan banyak orang Eropa mendatangi Pulau yang tersohor karena emas dan keindahan alamnya ini. Diperkirakan ia mengunjungi Sumatra pada Tahun 1290an. Selanjutnya diikuti oleh Cornelis de Houtman dari Belanda pada tahun 1596 di Malaka. Pada awalnya orang-orang dari Eropa datang ke Sumatra tujuannya adalah berdagang. Namun tidak hanya perdagangan yang dibawa oleh orang-orang itu, namun juga agama dan budaya. Baik Portugis, Belanda, maupun Inggris tidak ada yang berani menguasai kerajaan-kerajaan (Islam) yang ada di Sumatera. Inggris membuat pangkalan dagang di Bencoleen (Bengkulu) sejak 1700, dan Belanda membuat pangkalan dagang di Padang (sejak 1660an), sedangkan Inggris mendapat keistimewaan berdagang dengan Aceh. Pelayaran berbulan-bulan di laut, masuk dan keluar pelabuhan, kesan pada alam dan orang di daerah baru, membuat salah seorang dari rombongan untuk membuat tulisan perjalanan.

Jalur perdagangan untuk mencapai Sumatra terdiri dari tiga jalur, lewat Selat Malaka, Selat Sunda, atau melewati Semenanjung Malaya. Jalur Selat Malaka menjadi favorit sebab lautnya tidak seganas barat sumatra, komoditas yang diperdagangkan lebih bervariasi seperti lada, kapur barus, kain sutra, emas.

Emas yang disebut-sebut di Sumatra diincar oleh pendatang yang datang ke Minangkabau. Tempat yang diduga banyak mengandung emas ada di daerah Tanah Datar. Thomas Dias, utusan VOC, merasa perlu menjalin hubungan dengan raja di Pagaruyung agar memperoleh akses dagang dengan penambang emas di sana. William Damper (Inggris) mencatat bahwa di Aceh karena tambang emas dan seringnya orang asing datang, orang Aceh jadi hidup kaya dan berlimpah (h.133). Dampier mengatakan bahwa emas di Aceh dari gunung yang letaknya jauh dari Aceh,letaknya lebih dekat ke pantai barat daripada Selat Malaka (h.134).

Kejayaan Sriwijaya yang pernah gemilang juga memikat Sir Thomas Stanford Rafless mengunjungi Minangkabau untuk mencari sisa-sisa peradaban kuno tersebut. Kunjungannya ke kerajaan Pagaruyung untuk mendapat sekutu dari raja-raja disana, ia tuliskan dalam laporannya ke Inggris pada 1818.

Penelitian mencari reruntuhan kerajaan tersebut digeluti oleh Friedrich Schnitger, arkeolog asal Belanda yang menyusuri sungai Barumun di Padang Lawas. Ia menemukan candi yang dinamakan Candi Sangkilon, yang menyimpulkan bahwa pengaruh Hindu dan Budha terdapat wilayah Batak bagian selatan. Schnitger melanjutkan penelitian dua orang geolog sebelumnya yaitu Junghuhn (1847), Von Rosenberg (1878), dan P.V. van Stein Callenfels yang mengunjungi area ini pada 1920.

Populernya tanaman perkebunan karet dan tembakau di awal abad 20, menyebabkan Belanda mendirikan perkebunan di tanah Deli. Manajemen perkebunan yang mendatangkan kuli kontrak dari Jawa dan kehidupan para administrateur perkebunan ditulis oleh suami istri Laslo Szekeley dan Madelon Szekely Lulofs serta Tan Malaka.

Prasangka
Francois Bernier (1620-1688) pernah menyarankan di majalah ilmiah Journal des Scavants agar manusia dikategorikan menurut warna kulit, postur dan bentuk muka.Bangsa Eropa merasa bahwa peradaban mereka lebih tinggi dan ras kulit putih lebih unggul dari ras kulit berwarna. Dan sepertinya pengaruh Belanda di nusantara membawa dampak sosial yang tidak sedikit.Pembedaan kelas masyarakat karena status sosial menjadi warisan hingga sekarang ini. Orang Sumatra dalam tulisan orang yang berkunjung ke sini digambarkan dalam stereotipe negatif. Umumnya mereka menggambarkan bahwa orang sumatra adalah bangsa kanibal.

Marco Polo mencatat bahwa penduduk Sumatra adalah penyembah berhala dan pemakan orang. Jika ada yang sakit, maka mereka akan memanggil penyihir (h.10) dan jika yang sakit itu mati, mereka akan menyantap tubuh yang mati hingga ke sumsum dan tulang-tulang orang itu (h.11). Emilio Modigliani, seorang ilmuwan penjelajah asal Italia, menyelidiki Tanah Toba dan mempelajari bagaimana air danau Toba dapat keluar. Ia mendapat kesulitan karena daerah yang berdekatan sedang terjadi perang. Ia bertemu dengan Guru Somalaing, Modigliani tidak dibunuh karena ia dianggap utusan Raja Rum (Roma, Italia) yang dipercaya orang Batak sebagai bangsa yang mengusir Belanda. Modigliani mencatat bahwa pada umumnya, Orang Batak sangat curiga dengan pendatang asing dan tidak segan-segan membunuhnya, namun jika orang Batak sudah mengenal Anda dan persaudaraan sudah terjalin, maka ia rela membela anda dengan nyawanya. (h.252)

Memang ada anggapan di benak orang Eropa bahwa orang batak terkenal kanibal, namun pengalaman Burton mencatat bahwa yang dialaminya justru sebaliknya. Orang Batak di lembah Silindung sangat cinta damai. sampai pada suatu kesimpulan,Richard Burton misionaris yang bertugas di Tanah Toba mencatat bahwa perilaku orang batak yang cinta damai kemungkinan adalah wujud ketakutan dan pengaruh takhyul jahat yang mengekang.(h.221). Selain itu Burton berkesimpulan mengapa Orang Batak tidak penakut, karena dalam konsep berpikir Orang Batak tidak ada pahala dan hukuman di masa depan, mereka membayangkan akan semakin kuat jika roh berpisah dari raga (h.228).

Dampier juga mencatat perilaku orang Cina di Aceh. Jika aktivitas dagang sedang susah, maka aktivitas judi yang meningkat. Orang Cina suka dan pandai berjudi, diibaratkan Hidup tanpa judi sama dengan hidup tanpa makan (h.137).

Inferior
Sekalipun bangsa Eropa beranggapan bahwa ras mereka adalah ras yang unggul dibanding ras lain, namun untuk alasan tertentu mereka harus mengikuti aturan dimana mereka berpijak. Beberapa Penulis kisah perjalanan ini menuliskan betapa wibawa raja di Sumatra diterima dengan takut dan hormat oleh para pedagang yang hendak berniaga di sana. Ini menunjukkan bahwa budaya timur tidak inferior pada budaya barat yang (katanya) maju.

Francois Martin (Prancis) mencatat pada Tahun 1602 di Aceh, setelah memberikan barang pecah belah dan hadiah pada raja, raja menghadiahkan pakaian khas daerah Aceh kepada Jenderal kapal Monsieur de la Berdelieredan meminta supaya dikenakan di hadapan raja (h.73). Senada dengan hal itu, Thomas Bowrey (Inggris) mencatat pada tahun 1678, pada masa pemerintahan ratu Aceh, mereka menghadap sang ratu. Setelah memberi hadiah pada Ratu, Ratu juga menghadiahkan pakaian dan sorban kepada komandan kapal Inggris. Para pejabat istana akan membantu komandan kapal mengenakan pakaian hadiah tersebut karena ia harus mengenakannya saat itu juga (h.126). Thomas Forrest (Inggris) mencatat ketika ia menghadap raja Aceh, ia duduk dalam keadaan telanjang kaki lalu bersila dengan menekuk kaki dalam-dalam. menurut saya pose duduk seperti ini melelahkan (h.273). Walter Murray Gibson, petualang dari Amerika mencatat ketika ia menerima jamuan dari raja Palembang, ia mencicipi hidangan sarang burung walet. Bayangkan, wadah untuk meletakkan dan menetaskan telur, dan tempat bagi anak-anak burung membuang kotoran beberapa hari sebelumnya, kini disajikan kepada perut saya yang beradab sebagai wujud kemewahan dari perjamuan ala Timur! (h.296).

Nasib Buruh Kebun Deli
Dua penulis Indonesia ini awalnya tidak masuk dalam daftar para penulis buku ini. Namun, Anthony Reid mengusulkan kepada Oxford University Press supaya memasukkan tulisan Tan Malaka dan Muhammad Radjab ke dalam buku ini. Kedua penulis ini sama-sama menyoroti perlakuan yang tidak fair para pelaku bisnis perkebunan kepada para kuli kontrak. Apa yang dituliskan (walaupun fiksi) oleh suami istri Lulofs, tidak jauh berbeda dengan tulisan Tan Malaka dan Radjab. Tan Malaka sempat menjadi asisten inspektur sekolah khusus buruh Indonesia di perkebunan Senembah Company, sedangkan Rajab menulis laporan perjalanannya untuk tempat kerjanya, Kantor Berita Antara.

Tema yang diangkat kedua penulis ini mengenai perkebunan Deli adalah kemiskinan kaum buruh. Rajab mencatat bahwa kemiskinan disebabkan bukan karena produksi perkebunan yang kurang, tapi keserakahan para pemilik kebun pribumi yang tidak kenal belas kasihan memeras tenaga buruh untuk kekayaan pribadi (h.374). Sementara Tan Malaka menyoroti gaji buruh pribumi yang rendah. Gaji yang rendah menyebabkan si buruh berutang, dan utang menyebabkan si buruh berjudi, dan akibat kalah judi, si buruh harus mengikat kontrak lagi. Malaka menambahkan 90% dari buruh tersebut tak punya harapan untuk naik pangkat (h.334).

Kritis
Satu hal telah terbukti dengan membaca kisah tulisan ini bahwa ungkapan yang dikatakan Bung Karno bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad adalah tidak benar. Kolonialisme baru terjadi pada abad 18. Selain itu, dulu belum ada konsep negara kesatuan Indonesia, Yang terjadi sesungguhnya adalah Belanda dibuat pusing dengan perlawanan rakyat (Sumatra) yang dahsyat, sebut saja Perang Aceh (1873-1904) dan Perang Padri (1821-1837).

[image error]
Pohon geulumpang atau kelumpang (Sterculia foetida, LINN), yang tumbuh di halaman Mesjid Raya, oleh pihak Belanda dinamakan Kohlerboom (pohon Kohler) karena tak jauh dari situ Jenderal Kohler tewas pada tanggal 14 April 1873.


Kehadiran terjemahan buku ini cukup menambah perbendaharaan buku-buku sejarah yang sudah ada, Walau disusun untuk para pembaca Eropa, buku ini tidak kalah menarik, sebab kita membaca dari tulisan orang pertama yang menyaksikan dan yang berkunjung langsung ke Sumatra, walaupun akan ada perbedaan konteks karena jarak penulisan yang cukup jauh dengan zaman sekarang dan mungkin terjadi perbedaan makna karena telah melalui proses penerjemahan dari bahasa asli ke bahasa inggris baru ke bahasa indonesia. Masih banyak misteri yang belum terungkap pada Sumatra. Tugas kita selaku pembaca (generasi) sekarang adalah mengkritisi dan mempersempit jarak, Mengkritisinya dengan cara membaca sumber-sumber lain, mendiskusikan, serta merekonstruksi Sumatra menjadi suatu pemahaman yang utuh. Sebab Sumatra juga adalah kekayaan Indonesia.

@hws22032011


16 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Sumatera Tempo Doeloe.
Sign In »

Reading Progress

02/28/2011 page 1
0.0%
03/15/2011 page 448
100.0% "sengaja baca yg terakhir dari Tan Malaka dan M. Radjab" 13 comments
show 2 hidden updates…

Comments (showing 1-28 of 28) (28 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by an (new)

an puanjanggggggggggggggggggggggggg......

-jelas belum baca ripiu na-


Helvry Sinaga yah mampunya cuma segitu rhe.
ntar kalau panjang dikirain nulis ulang buku na
-ikutan pake "na"-


message 3: by Speakercoret (new)

Speakercoret dan lamaaaaaaaaaaaaa..............
itulah ripiu epiiiiiiiiiiii :p


Helvry Sinaga Speakercoret wrote: "dan lamaaaaaaaaaaaaa..............
itulah ripiu epiiiiiiiiiiii :p"


bilangin epi na pake nyengir yak?
wakakakak


message 5: by Speakercoret (new)

Speakercoret Helvry wrote: "Speakercoret wrote: "dan lamaaaaaaaaaaaaa..............
itulah ripiu epiiiiiiiiiiii :p"

bilangin epi na pake nyengir yak?
wakakakak"


hihihi korban iklan jadul :p


message 6: by nat (new) - added it

nat ripiunya udah kayak buku aja :D
*nggak usah beli bukunya ah, baca ripiunya aja* :P


message 7: by nat (new) - added it

nat tambahan buat Helvry: banyak tanda komanya ya ? (pengganti titik ?)..ehehe..belum sempat diedit ya ? :)


Helvry Sinaga nat wrote: "ripiunya udah kayak buku aja :D
*nggak usah beli bukunya ah, baca ripiunya aja* :P"


wah ditanggung lebih seru baca bukunya langsung deh Nat :)


Helvry Sinaga Amang wrote: "top! dan gue suka banget kalimat terakhir dari review ini... yang mengajak pembaca untuk kritis dalam merekonstruksi sejarah sumatera."

wahaha..tengkyu mas Amang. Betul mas...nggak sayang karena nggak kenal kata pepatah. Kalau nggak kenal, gimana mau kritis. Jadi kudu nyari bacaan laen niih. Wkwkwk...


message 10: by Darnia (new)

Darnia sukaaaaaaaaaaa review-nya
*mandeg di paragraf ketiga...jadi pengen baca sendiri bukunya * T_T


message 11: by htanzil (new) - added it

htanzil aku masih curently reading, buku ini memang menarik, ada banyak kisah2 menarik dan ajaib dalam buku ini.


message 12: by nat (new) - added it

nat *ngarep dipinjemin Helvry via Om Jimmy..duh lama ya ?*


winda Kereeeen review-annya...*acungin dua jempol*


Helvry Sinaga @darnia: makasih..hayuuuuk dibaca bareng..masih sampe April.

@natty: maklumlah salah ketik, nggak pakai editor soalnya, ahaha.


Helvry Sinaga @Om Tan: masih banyak antrian laen ya Om? Wkwkwk

@natty: Hehehe..tergantung Om Jim lah.

@Winda: Tengkyu...udah sampai hlm berapa?


message 16: by Sweetdhee (new)

Sweetdhee Bang epi, wujud ketakutan nya yg kutipan hal 221 terketik dua kali
#sok2an jd proofreader
Hi3


Helvry Sinaga @Mas Amang: ehh...ndak tau e mas. Kenapa yaak...sumatra disebut Svarnabumi di sini.

http://en.wikipedia.org/wiki/Padang_R...


Helvry Sinaga @didit: doooh..sorry kalau kesalahan pengetikan neng..secara minus mata udah tinggi..Btw salah ketiknya yang mananya yaak??
*ngucek-ngucek mata*


message 19: by Miss Kodok (new)

Miss Kodok Keren euy.... *ngasih 4 jempols*


message 20: by Sweetdhee (new)

Sweetdhee Ya ampun itu kan udah aku kasih tau.. 'wujud ketakutan' terketik dua kali pas kutipan hal 221.. Mau dipentung lagi ya, bang?
*nyiapin penggorengan*


message 21: by Speakercoret (new)

Speakercoret jyaah proofreadernya galak bener :p


message 22: by Sweetdhee (new)

Sweetdhee *ngeluarin tanduk*


Helvry Sinaga Miss Froggie wrote: "Keren euy.... *ngasih 4 jempols*"

waaaah,,,makasih Kak Ana. mau ikutan baca?


Helvry Sinaga Speakercoret wrote: "jyaah proofreadernya galak bener :p"
iyaaah..galak banget...atuut..hihihi


Helvry Sinaga hahhaa...tapi herannya, kok bisa jadi nama bandara di Bangkok sih mas?


Helvry Sinaga Waduuuh....temuan baru nih mas. Hahahaha


winda Helvry wrote: " @Winda: Tengkyu...udah sampai hlm berapa?"

emmm..halaman berapa yaaa...*pura-pura lupa* :D


message 28: by Maeda (new) - added it

Maeda Yoppy i like it


back to top