Harun Harahap's Reviews > Stones Into Schools: Promoting Peace With Books, Not Bombs, in Afghanistan and Pakistan

Stones Into Schools by Greg Mortenson
Rate this book
Clear rating

by
2109023
's review
Jan 26, 2011

it was amazing
bookshelves: memoir-biografi, middle-east-moslem, non-fiksi, punya, terjemahan
Read in January, 2011

”On the first cup you are a stranger.
The second cup you become a friend,
and the third cup you become family.”


Saya mengenal kalimat itu dari sebuah buku memoir berjudul Three Cups Of Tea oleh Greg Mortenson. Sebuah buku berisi perjuangan gigih seorang pendaki gunung(Greg Mortenson) untuk mendirikan sekolah di Asia Tengah. Wilayah dimana perang sering berkecamuk, tertinggal bahkan terasingkan. Buku yang membuat banyak orang tersadarkan bahwa untuk mengakhiri terorisme, tidaklah diperlukan peluru melainkan sebuah sekolah.

Buku yang mengagumkan tersebut dilanjutkan dengan buku kedua berjudul “Stones into Schools”. Buku yang menandakan bahwa perjuangan Greg Mortenson dan teman-teman belum berakhir. Bahkan usahanya mendirikan sekolah tersebut makin meluas ke daerah Afghanistan, wilayah yang luluh lantak akibat perang antara Taliban dan pasukan Afghanistan serta Amerka Serikat.

Banyak sekali hal menakjubkan yang saya temui dari buku ini. Pertama adalah tim CAI (Central Asia Institute) yang terdiri dari berbagai suku, agama dan ras. Pada umumnya, kaum yang berbeda aliran agama biasanya sering berselisih tapi tidak dengan anggota CAI. Mereka berjuang bersama atas nama pendidikan dan kemajuan bangsa.

Lalu, saya melihat bahwa penduduk Afghanistan sudah mulai letih dengan peperangan. Mereka menginginkan pendidikan untuk anak mereka termasuk anak perempuan. Walaupun ada beberapa pihak yang menentang tapi sebagian besar pemimpin suku/wilayah tersebut menyetujui pembangunan sekolah di wilayah mereka.
Selain pemimpin suku yang bersemangat akan pembangunan sekolah-sekolah tersebut, para wanita pun merasakannya. Mereka yang biasanya terkungkung mulai bersekolah dan aktif bergiat. Kesempatan yang terbuka ini tak mereka sia-siakan untuk mengejar ketertinggalan mereka dari wanita di belahan dunia lain. Pemimpin CAI di Wakhan, Wakil, berkomentar ”Kalau perempuan yang memimpin, cepat sekali situasi menjadi lepas kendali”. Komentar ini bermakna positif yanga rtinya kemajuan mereka dalam bidang pendidikan sangat cepat.

Terakhir saya melihat mulai ada perhatian dari militer Amerika atas kegiatan CAI. Mereka mulai menyadari bahwa untuk menghentikan ketakutan atas terorisme dibutuhkan pendidikan yang tidak konservatif. Greg Mortenson kerap memberikan presentasi kepada militer Amerika tentang sekolah yang ia dirikan. Dan pihak militerpun bersedia membantu mewujudkan tersebut. Pasti sangat indah jika perdamaian berlaku di seluruh dunia ini.

Perjuangan Greg Mortenson, tim CAI, pemimpin serta warga Afganistan dan sekitar dalam membangun sekolah menyemangati saya untuk berbuat baik terhadap sesama. Walau mungkin tak sebesar apa yang mereka lakukan, tapi niat yang ikhlas dan usaha tak kenal lelah akan mencapai sebuah kesuksesan yang tak terduga. Yuk mari kita berbuat baik dengan sesama insan.

”Aku tidak tahu apa takdir kalian, tetapi satu hal kutahu: orang yang akan benar-benar berbahagia di antara kalian adalah orang-orang yang telah berusaha dan menemukan cara untuk melayani.(Albert Schweitzer)”
flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Stones Into Schools.
Sign In »

No comments have been added yet.