Aline's Reviews > Little Men

Little Men by Louisa May Alcott
Rate this book
Clear rating

by
3267391
's review
Feb 15, 11

bookshelves: louisa-may-alcott, classic, translated, all-time-favorite, buntelan-contest-giveaway-swap
Read from February 07 to 14, 2011 — I own a copy

Juni 1995, saya berkenalan dengan Meg, Jo, Beth & Amy March yang diciptakan oleh Louisa May Alcott dalam Little Women, kisah empat gadis bersaudara dengan kehidupan sederhana di masa perang yang segera menjadi salah satu buku favorit saya. Kisah mereka kemudian dilanjutkan dalam Good Wives, mengisahkan kehidupan gadis-gadis March setelah menikah. Setelah menanti sekitar 15 tahun, akhirnya saya kembali bertemu dengan tokoh-tokoh kesayangan saya, secara khusus Jo, yang telah menikah dengan Prof. Fritz Bhaer dan memiliki dua anak laki-laki. Dalam Little Men, Jo yang mewarisi Plumfield mengubah rumah warisan bibinya itu menjadi sebuah sekolah asrama khusus untuk anak laki-laki.

Sekarang, mari kita berkenalan dengan anak-anak Plumfield. Yang pertama adalah Franz, keponakan tertua Prof. Bhaer yang berusia enam belas tahun. Emil, adik laki-laki Franz yang bercita-cita menjadi pelaut. Ada pula Demi, keponakan Jo yang pintar dan senang sekali membaca serta adik kembarnya Daisy, si lembut yang senang menjahit dan memasak. Rob, putra tertua Jo dan Prof. Bhaer yang tak bisa diam serta adik bayinya Teddy yang menggemaskan. Dick dengan punggung bungkuk namun jiwanya yang lurus, serta Dolly yang awalnya gagap. Ada Jack yang cerdas dan agak lihai, Ned, si “slebor”, dan George yang terlalu suka makan hingga dijuluki “Stuffy”. Kemudian ada Billy yang berusia tiga belas namun terlihat seperti anak enam tahun, dan akhirnya Tommy si pembuat onar tapi baik hati.

Kisah diawali dengan kedatangan Nat, seorang anak jalanan yang pandai memainkan biola. Nat dikirim oleh Tuan Laurence atau yang lebih dikenal sebagai Paman Laurie oleh anak-anak Plumfield. Awalnya, Nat yang terbiasa hidup sebagai pemusik jalanan cukup sulit beradaptasi di sekolah itu namun berkat kesabaran dan kegigihan Jo serta suaminya, Nat segera menjadi anak yang dapat diandalkan bahkan ia membawa pula temannya sesama anak jalanan, Dan. Proses adaptasi Dan di Plumfield bahkan lebih sulit daripada Nat tapi kasih sayang, kesabaran dan sikap pantang menyerah pasangan Bhaer akhirnya berhasil memenangkan anak ini. Bukan hanya tergerak menolong anak laki-laki, Jo juga membawa Nan, seorang anak perempuan tomboy yang menjadi teman Daisy.

Plumfield mungkin adalah sekolah impian setiap anak di dunia. Di sekolah ini, anak-anak bukan hanya diajarkan untuk bertumbuh secara intelektual namun juga menjadi seseorang yang bermoral, percaya kepada Tuhan dan diri sendiri. Anak-anak bukan hanya belajar di kelas, namun juga dari kehidupan sehari-hari. Mereka memiliki kebun untuk ditanami, binatang peliharaan, dan museum tempat menyimpan barang-barang yang dianggap sebagai harta karun mereka. Bahkan mereka juga boleh “perang bantal” sekali seminggu selama 15 menit! Benar-benar sekolah yang luar biasa, kan?

Banyak keisengan dan hal-hal menarik terjadi di Plumfield. Hal-hal yang dijamin membuat pembaca tersenyum bahkan tertawa. Ada-ada saja memang tingkah lucu dan lugu anak-anak yang sering kali membuat pusing Bapak & Ibu Bhaer, bahkan tak jarang menimbulkan masalah. Tapi, tidak ada masalah yang tak dapat diselesaikan dengan cinta, kesabaran dan kegigihan.

Namun, Louisa May Alcott mengingatkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang senyum dan tawa, tapi juga air mata. Saat ayah Demi, John Brooke, meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya adalah bagian yang membuat saya berurai air mata. Mungkin karena telah mengenal tokoh John dari buku sebelumnya, saya turut merasakan kesedihan keluarga ini. Turut berduka untuk seorang lelaki yang jujur, suami penuh kasih dan ayah penyayang yang harus dipisahkan dari istri & anak-anaknya dengan begitu cepat. Sepertinya sangat kejam, tapi itulah hidup, dan budi baik seseorang akan terus dikenang bahkan saat ia tidak lagi ada di dunia. Mengutip kata-kata Emil, “Paman Fritz memang paling bijaksana, dan Paman Laurie paling menyenangkan, tapi Paman John-lah yang terbaik, dan aku ingin jadi seperti dia daripada jadi pria lain yang pernah kutemui.” Tokoh John Brooke memang tak banyak diceritakan dalam Little Men, tapi bagi yang mengenalnya dalam Little Women & Good Wives pasti akan setuju dengan ucapan Emil tadi.

Little Men adalah kisah klasik yang indah. Banyak pelajaran tentang kehidupan yang saya peroleh, lewat ucapan-ucapan bocah-bocah Plumfield, ungkapan-ungkapan bijaksana Jo dan Prof. Bhaer, bahkan sekelumit kehidupan John Brooke. Ada banyak cinta, kasih sayang, kesabaran, kegigihan, dan sikap pantang menyerah yang dilukiskan dengan sederhana namun indah sehingga tidak terkesan menggurui. Bacalah, dan nikmati pelajaran kehidupan yang disampaikannya.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Little Men.
sign in »

Reading Progress

02/07/2011 page 36
8.0% "A heartwarming tale :)"

No comments have been added yet.