gonk bukan pahlawan berwajah tampan's Reviews > Keadaan Jakarta Tempo Doeloe: Sebuah Kenangan 1882-1959

Keadaan Jakarta Tempo Doeloe by Tio Tek Hong
Rate this book
Clear rating

by
190797
Kumpulan catatan dari Om Tio Tek Hong si 'setan air' yang hobi berenang dari Pasar Baru sampai Gunung Sahari ini membawa kita setidaknya mengenal keadaan Batavia versi penghuninya dan bukan versi pelancong. Lebih jujur dan apa adanya tentu saja.

Beberapa hal dipotret oleh Tio Tek Hong, tentang bagaimana politik diskriminasi dari pemerintah kolonial yang mengharuskan warga etnis Tionghoa harus tinggal di kampung-kampung Cina (wijkenstelsel) dan mengharuskan menggunakan 'pas' semacam paspor jika bepergian ke luar daerah (passenstelsel).Ini menyulitkan karena warga selain Eropa diwajibkan membawa pas jalan jika bepergian dari satu tempat ke tempat lain. Etnis Tionghoa sendiri diklasifikasikan sebagai bangsa asing (Vreemde Oosterlingen).
Yang menggelitik Tio Tek Hong, oleh karena politik diskriminasi itu, beberapa warga Tionghoa terpelajar minta persamaan hak dengan warga Belanda, setelah mendapat persamaan,kelakuan mereka bahkan 'lebih Belanda' dari pada orang Belanda sendiri. Dan ketika zaman pendudukan Jepang, mereka kembali menjadi “Tionghoa” karena takut diganyang Jepang.

Soal Thaucang, atau rambut kuncir kuda misalnya. Tradisi thaucang, menurut Tie Tio Tek Hong, dimulai tatkala orang Manchu menduduki Tiongkok pada 1644. Kaisar Manchu mewajibkan orang Tiongkok memakai thaucang, mengenakan pakaian yang ujung lengannya berupa kaki kuda sehingga saat berlutut orang-orang ini bagaikan kuda. Jadi thaucang awalnya adalah sebuah penghinaan tapi kemudian menjadi tradisi yang bertahan selama tiga abad. Di Batavia, tulis Tio Tek Hong, potong thaucang terjadi pada 1911.

Ada kejadian-kejadian lucu sekaligus tragis yang diceritakan Engkong TTH ini, seperti cerita beliau ketika bersama adiknya naik trem yang karena saking penuhnya (dari dulu sama aja ya moda transportasi di Jakarta selalu sumpek dan penuh) ada seorang anak yang mencoba meringankan beban lokomotif dengan melepas dua gerbong paling belakang. Beruntung beliau dan adiknya berada di gerbong yang masih nyambung dengan lokomotif, akhirnya trem berjalan lebih cepat. Bagaimana nasib 2 gerbong yang dilepas tadi? Menurut beliau gerbong tersebut tertabrak trem yang berjalan menurut jadwal berikutnya dan beberapa orang dikabarkan tewas.

Menurut pengakuan Tio Tek Hong dalam buku ini, Ia dan saudaranya adalah yang memelopori untuk menutup toko tiap hari minggu dan hari besar.

Di bagian akhir buku ini ada resep menarik dari Tio Tek Hong untuk dapat berumur panjang dan bukan cuma berumur panjang tapi juga tetap segar bugar. Anda bisa mengikuti pola makan sekaligus mempraktekan gerakan senam/peregangan sederhana ala Tio Tek Hong (silahkan dibaca sendiri hehe). Pada akhirnya kita musti setuju pepatah kuno Tionghoa yang dituturkan ulang oleh Tio Tek Hong: "yang berbahagia ialah mereka yang tertawa paling akhir"

tabik,

-tan tjuk gonk-
9 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Keadaan Jakarta Tempo Doeloe.
sign in »

Comments (showing 1-15 of 15) (15 new)

dateDown_arrow    newest »

message 1: by [deleted user] (new)

ini ripiu ciamik kali
kamsia, om tan tjuk :D


gonk bukan pahlawan berwajah tampan syama-syama cuk eh cak Ronny :D


message 3: by miaaa (new)

miaaa -tan tjuk gonk-
bwahahahahahaha

tabik ker, apik!


message 4: by lita (new) - added it

lita Huahahaha...ga bisa dipanggil Meneer lagi nih ;))


gonk bukan pahlawan berwajah tampan aih oma Lita bisa ajah ;))




message 6: by owl (new)

owl Jadi thaucang awalnya adalah sebuah penghinaan tapi kemudian menjadi tradisi yang bertahan selama tiga abad.

mengapa demikian?


message 7: by [deleted user] (new)

ya memang begitu. suatu label penghinaan lama kelamaan bisa dipakai kelompok itu sbg identitas yang membanggakan (sbg peneguhan diri dan lambang perlawanan bersama).


message 8: by owl (new)

owl Ronny wrote: "ya memang begitu. suatu label penghinaan lama kelamaan bisa dipakai kelompok itu sbg identitas yang membanggakan (sbg peneguhan diri dan lambang perlawanan bersama)."

iyah. kenapa bisa begitu. apa mungkin itu salah satu cara menghargai sejarah atau memang sulit untuk keluar dari kondisi itu.

lambang perlawanan bersama tapi dilestarikan sampai 3 abad

*masih belum paham


message 9: by [deleted user] (last edited Jan 24, 2012 09:51PM) (new)

lho ya jadi identitas. misalnya sebutan "kulit hitam" atau "kulit merah". awalnya menghina tapi akhirnya jadi identitas bersama, bahkan jadi kebanggaan


gonk bukan pahlawan berwajah tampan @owl : tuh sudah dijawab ama ketua klub pria perkasa pecinta air api :)


message 11: by owl (new)

owl Ronny wrote: "lho ya jadi identitas kok. misalnya sebutan "kulit hitam" atau "kulit merah". awalnya menghina tapi akhirnya jadi identitas bersama, bahkan jadi kebanggaan"

eum, tapi mas kalo "kulit hitam" atau "kulit merah" itu kan sesuatu yang ada, maksudnya tidak dikondisikan oleh manusia. kalau thaucang itu, merujuk diatas, ada sejak kaisar Manchu menduduki tiongkok..


message 12: by aldo zirsov (new)

aldo zirsov kasus thaucang ini mungkin mirip dengan fenomena jas di eropa, yang dulunya melambangkan status perlawanan terhadap gaya berpakaian orang eropa bangsawan dan kelas borjuis dengan dandanan menggunakan baju jubah besar (dan model kurungan ayam buat wanita) serta penggunaan wig. penggunaan jas yang awalnya adalah simbol perlawanan kaum bawah, malah dikemudian hari menjadi pakaian resmi/formal yang digunakan di dunia sekarang ini.


message 13: by [deleted user] (new)

Oke, gini deh. Salib itu kan lambang penindasan Romawi thd pengikut Kristen perdana. Yesus dan sebagian rasul serta banyak pengikutnya kemudian mati disalib oleh tentara Roma. Itu kan penghinaan, tapi itu justru mempersatukan dan memberi mereka identitas, lantas dipeluk sbg lambang identitas, lambang kebanggaan, bahkan jauh lebih dari 3 abad lamanya


message 14: by owl (new)

owl eumm, siap..saya mengerti sekarang.
eh..tapi..
*mikir lagi..


message 15: by Sandy (last edited Jan 25, 2012 05:39PM) (new)

Sandy Tjan Kalau setahu saya thaucang dan baju manchu itu sendiri bukan sesuatu yang hina karena itu merupakan atribut tradisional bangsa Manchu, tapi dalam konteks penjajahan Manchu atas orang Han dianggap sebagai penghinaan karena mereka dipaksa mengikuti cara berdandan tuan2 penjajah. Beda dengan di Indonesia di jaman Belanda, dimana pakai jas merupakan simbol kemodernan (dan identifikasi dengan masyarakat kelas 1). Kalau tidak salah, orang Cina pertama yang dapat izin dari pemerintah Hindia Belanda untuk potong thaucang dan pakai pakaian barat di Indonesia adalah Oei Tiong Ham, sebelumnya semua orang "Timur Asing Tionghoa" harus pakai kostum Manchu.


back to top