Ivon's Reviews > Fantasy Fiesta 2010: Antologi Cerita Fantasi Terbaik 2010

Fantasy Fiesta 2010 by R.D. Villam
Rate this book
Clear rating

by
3505628
's review
Dec 28, 10

(Review from the author)
bookshelves: indonesian, horror, humor, fantasy, sci-fi, suspense, 1st-pov, 3rd-pov, 2nd-pov, action, it-s-fidgeting, it-s-inspiring, it-s-heart-warming
Read in December, 2010 — I own a copy

** spoiler alert ** Review buku ini, seperti yang sudah kurencanakan sebelum-sebelumnya, akan membahas satu-persatu dari cerpen2 yang ada. Kuusahakan tanpa spoiler, hanya kesan dan beberapa pendapat pribadi yg 'sak-penak'e-dewe', jadi siapkanlah kaleng Pepsi di tangan anda, kalau-kalau ane ada menyinggung sesuatu yang pantas kena hajar, huahahahah~.

(sesuai daftar isi):
1. Bocah Serigala dan Isyarat-Isyarat Api, karya Jaladara:
Satu hal yang unik dari cerpen ini adalah sistem penamaannya, seperti Cakar-Serigala-Memecah-Bulan dan Cakar-Gagak-Membelah-Gunung. Sekilas baca, aku langsung terbayang jurus-jurus sakti dari komik-komik besutan Tony Wong, seperti: Senjata Pedang, Membunuh Tanpa Ampun (jurus Tang Shi Wu dari komik Four Warriors). Eits, maaf, aku telah melantur.
Yah, dunia di cerpen ini bahkan tidak mengenal sesuatu yang namanya jurus. Mereka adalah suku yang hidup di hutan-hutan pedalaman tengah gunung, dengan peralatan sederhana yang terbuat dari kayu, batu, dan kulit untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Kepercayaan manusia di kala itu bergantung kuat dari tanda-tanda alam. Ini adalah zaman di mana petir yang menyambar disebut sebagai kegusaran dewa, sumber makanan yang berkurang dianggap sebagai amarah dewa, dan pengorbanan manusia adalah sebuah praktek nyata.
Tapi bahkan di zaman yang keras tersebut, manusia telah tahu tentang hubungan persahabatan, serta kepercayaan pada sesama manusia itu sendiri. Bagaimana keputusan yang salah, dapat dibetulkan dan menghindari korban bila seseorang bersedia mengakui kesalahannya dan menerima kenyataan yang sesungguhnya.
Lewat setting yang detail dan penyisipan sebuah dongeng asal mula daratan, Jaladara berhasil menyelesaikan kisah ini menjadi sebuah cerita yang dapat dikenang. Terima kasih, Jaladara :).

2. Hujan, karya *ehem* Ivon Natasa:
Yea, cerpen-ku sendiri. Apakah aku akan berkomentar di sini?
Hmm, mungkin tidak. Anda-anda sekalianlah yang berhak memberi komentar ke cerita ini, hak saya hanyalah menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kalian (kalau ada), dan berusaha mengasah kemampuan menulis agar ke depannya, saya bisa membuat karya yang lebih baik dari cerpen ini.
Tapi...kalau boleh komentar, aku sedikit menyesal telah mengganti POV orang kedua menjadi orang pertama...just a personal though, don't need to take it so seriously, hueheheh~ *kena hantam Pepsi pertama* adow~

3. Candu Aksara, karya Dewi Putri Kirana:
One of my personal favorite, and I'm glad I could ever had a chance to read this short-story *sanghat levayyyy*.
Heheh, tapi aku serius kalau mengatakan cerita pendek ini benar-benar brilian, sangat hebat, sampai-sampai aku nyaris tak bisa menemukan adanya flaw dari cerita ini (memang ada satu flaw, tapi kurasa tak begitu penting untuk diperdebatkan). Hebat sekali Mbak Dewi, dan semoga cerita Artefaktor-nya bisa segera diterbitkan XD.
(dan kuberharap sekali, orangnya jangan sampai jadi besar kepala setelah kukomentari seperti ini ^^;).

4. Boxinite, karya R. Mailindra:
Aku tidak pernah benar-benar tertarik pada olahraga sepakbola, tenis, maupun bulu tangkis. Aku hanya tertarik untuk menonton, kalau keluargaku berteriak-teriak seru di depan teve, sementara aku melongo sendirian di depan komputer, di mana fesbuk/twitter/yahoo/deviantart/goodreads tengah sepi dari pengunjung.
Tapi lewat gaya bercerita yang straight to the point, tanpa kusangka-sangka, aku bisa menikmati cerita Boxinite, yang latar belakangnya adalah salah satu cabang olahraga yang paling tak pernah kulirik seumur hidup: tinju.
Inilah bukti melalui gaya penulisan yang baik, suatu bidang yang tak digemari seseorangpun dapat menarik perhatiannya dan membuatnya mengikuti cerita tersebut sampai selesai tamat, good job, Bang Mailindra :D.

5. Aku Hidup Seribu Tahun, karya L.M.R. Pradana (aka Kuro Myswalk):
Adalah cerpen dari "seorang pelajar sastra yang justru tidak tertarik pada sastra, tapi lebih tertarik pada mata pembelajaran kebudayaan", yang mengisahkan plot cerita yang menarik: setelah hidup sekian lama, apakah semua kenangan-kenangan yang telah lama terkubur oleh waktu, masih dapat ditemukan untuk dikenang kembali?
Menyajikan aksi, romantika, filosofi ingatan, humor, tragedi, dan setting high-fantasy, cerita yang aslinya berjudul "I Wake For Thousand Years" ini, kalau kuingat-ingat lagi, adalah salah satu entri lomba Fantasy Fiesta yang pertama kali kubaca di kastilfantasi.wordpress.com, dan jujur saja, membaca cerita ini, harapan untuk menangku jadi sedikit redup. Good job, bro Kuro :).

6. Api, karya Klaudiani:
Pernah mendengar (atau membaca) Zauri: Legenda Sang Amigladus? Novel fantasi yang -sayangnya- sampul bukunya gelap padahal ceritanya penuh petualangan? Sang pengarangnya ialah penulis cerpen "Api" ini, dan genre cerita yang disajikannya cukup berbeda dari Zauri. Cerita "Api" cukup gelap, dan membuatku teringat pada film "Firestarter". Film itu mengisahkan seorang anak kecil berkemampuan pyrokinetic, dan ketika suatu 'evil organization' menculik dirinya dan 'tanpa sengaja' membunuh ayahnya, ia mengamuk dan membakar habis seluruh pangkalan organisasi itu.
Bermula dari penemuan sebuah mayat yang hangus terbakar, sang tokoh utama cerpen ini beserta rekan timnya (yang semuanya memiliki berbagai jenis kekuatan seperti telekinetik, chronokinetik, dan (walau tak disebut di ceritanya) psikometrik) berusaha mencari tahu penyebab mayat itu terbakar. Kamera pengawas hanya menunjukkan tubuh korban yang mendadak terbakar sendiri. Rekan-rekannya kebingungan, dan sementara mereka menginterogasi seorang tersangka, Zeta curiga, peristiwa itu tidak sesederhana yang mereka duga. Dengan kekuatan psikometriknya, ia melihat sesosok makhluk dari sisa-sisa kebakaran: sebuah wajah bermata bulat besar dengan dua pasang taring mencuat dari atas-bawah bibir.
Hmm, aku takut memberikan terlalu banyak spoiler, jadi kuakhiri di sini saja. Thx, Mbak Dian, telah berbagi cerita ini ^^.

7.Apollyon, karya Fachrul R.U.N.:
Adalah cerpen yang memiliki judul paling populer, karena mengakibatkan banyak orang kena typo, apalagi waktu kuis Fantasy Fiesta beberapa hari yang lalu. Take that, copaster rabbit! >D
Aku sangat suka karya-karya Stephen King, kurasa itu mempengaruhi penilaianku atas cerpen Apollyon, yang tampaknya banyak mengambil inspirasi dari Cthulhu Mythos (dan mungkin sedikit Silent Hill). Kengerian yang disuguhkannya benar-benar istimewa. Aku bisa melihat dan merasakan segala sesuatu dari sudut pandang sang tokoh utama, mulai dari saat ia mendapat tugas untuk menyelidiki lenyapnya satu-persatu penduduk kota secara misterius, pencarian nekat ke tengah hutan, penemuan sebuah kota dengan penduduknya yang 'aneh', dan kenyataan sesungguhnya Kota Apollyon.
Singkat kata, ini salah satu cerita horor terbagus yang pernah kubaca.
PS: Jujur saja, aku lebih suka gaya bercerita di versi sebelum revisi yang ini, beruntunglah kalian yang pernah membacanya, hehehe.

8. Kota Para Penjarah, karya Luz Balthasaar:
Komentarku para versi sebelumnya adalah: "Cuma satukata: KEREN!"
Komentarku pada versi ini adalah: "Yah, mungkin tidak sekeren sebelumnya, tapi sekarang aku bisa melihat adanya suatu 'jiwa' yang disuntikkan dalam cerita ini. All ini all, it's cool, in some other point of view. Good revision, cause we could see the simbolism more clearly in this version."
And once more, terima kasih Luz, karena telah memajang ilustrasiku di blogmu, dan beberapa bantuanmu lainnya ^^.

9. Sang Pelukis, karya Fredrik Nael:
Penulisnya -in my opinion- adalah salah satu penduduk ‘terheboh’ di tred fiksi fantasi Indonesia, tapi karyanya yang satu ini...ternyata cukup dalam dan perlu renungan sesaat untuk dapat dipahami sepenuhnya.
Berkisah di dunia pararel yang cukup orisinil, pembaca disuguhkan adegan todong-menodong antara sang tokoh utama dan Komandan.
Dari pembicaraan yang bergulir, lama kelamaan para pembaca mengetahui beberapa hal: sang tokoh utama mendapat penglihatan bahwa dunia akan segera musnah, bila ia tidak bertindak. Satu-satunya harapan adalah memanjatkan permohonan kepada Sang Pelukis, yakni seseorang yang memiliki kemampuan untuk menorehkan kenyataan universal dari lukisan yang digambarnya.
Sementara Komandan berpikiran lain. Baginya, kemampuan Sang Pelukis berbahaya bagi ‘keteraturan’ yang diajarkan oleh Orde. Keduanya sejalan, sama-sama memberikan kebaikan untuk dunia, tapi yang satu adalah teratur, sementara satunya tak terduga. Maka Komandan berniat membunuh Sang Pelukis, agar ‘keteraturan’ Orde adalah satu-satunya kebaikan yang dunia jalani.
Di penglihatan tokoh utama, dunia musnah setelah pasukan Orde melontarkan tembakan ke studio Sang Pelukis. Jadi apakah yang sebenarnya terjadi? Apakah memanjatkan harapan pada Sang Pelukis adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan dunia?
Read it then, a story of two different beliefs, but ironically, they’re meant good for world. Good job, bro Fred :).

10. Anak Lelaki dan Si Pengubah Wujud, karya Magdalena M. Amanda:
Pernah baca Chronicles of Ancient Darkness (atau mungkin kalian tahunya, petualangan Torak dan si anak serigala)? Seru, menegangkan, dan detail dunianya mantab bukan?
Setting cerita ini mirip dengan novel tersebut, mulai dari pohon-pohonnya, kepercayaan dan adat-istiadat para penduduk hutan pedalaman, serta setting dunianya.
Ah, aku sangat suka setting di tengah hutan dan pegunungan yang masih 'alami', di mana kabut-kabut bisa terlihat mengambang di puncak-puncak bukit dan dasar lembah, atau suara-suara gemerisik dedaunan, desir sungai atau mata air, dan nyanyian burung-burung hutan bersahut-sahutan dengan hewan-hewan berkaki empat dari balik semak-semak dan pohon-pohon rimbun...
Yeah, setting boleh mirip, tapi Chronicles of Ancient Darkness tidak punya seorangpun Pengubah Wujud dalam ceritanya. Pengubah wujud dalam artian aslinya. Untuk lebih jelasnya (tapi awas spoiler), lihat di sini. Deskripsi bagus Juu, let’s keep on writing XD.

11. Kerinduan Buku, karya Elbintang:
Kurasa, beberapa rekan pembaca juga ada yang mengalami masalah yang sama denganku ketika membaca cerita ini untuk pertama kalinya, yaitu: ini cerita tentang apa sih?
Jadi aku membaca, dan membacanya lagi. Di bacaan ketiga, aku baru sadar kalau penulis cerita ini menyukai cerita-cerita yang lumayan abstrak (bacalah entri Elbintang di Fantasy Fiesta 2010 yang berjudul Temmora, dan kurasa kalian akan mengerti maksudku apa).
Emm, tak banyak yang bisa kuceritakan, kecuali bahwa ide cerita ini cukup menarik, dengan penyajian cerita yang tidak biasa. Banyak yang bisa didapat dari cerita ini, asalkan rekan pembaca mampu menangkap keteraturan dari keabstrakan cerita ini. Congrats for making us...er, think hard, Elbintang ^^.

12. Dewa Laut Istana Camar, karya 145 (real name unknown):
Mengisahkan perjalanan seorang Quiscart (dengan kedok seorang fotografer lepas) bernama Malis dan partnernya Coo, berkeliling dunia mencari penyihir yang melakukan perjanjian dengan jin, dan kemudian memusnahkan mereka. Malis yang kini berumur 23 tahun, sampai di sebuah kota tepi laut dan mendengar ada suatu sosok dewa yang menjadi legenda di kota tersebut. Curiga sosok itu sebenarnya adalah seorang penyihir penganut aliran hitam, Malis bersama Coo segera mencaritahu info lebih banyak lagi, untuk mencari altar penyembahan sang penyihir, dan memusnahkan roh jin tersebut dan mengirimnya kembali ke dunia asalnya.
Aku lumayan menikmati cerita ini, memiliki unsur petualangan, humor, dan aksi fantasi yang seimbang. Kurasa, ini cerita terlucu kedua dalam buku kumcer ini. Sayangnya, pengarang asli cerita ini tak pernah ketahuan sebenarnya siapa...Walau aku punya beberapa dugaan, setelah membaca isi cerita ini untuk kedua kalinya...hehehe.

13. Moka Si Mobil Jelaga, karya Yuniar K.:
Ah, cerita yang lembut dan nostalgis.
Beberapa rekan pembaca kemungkinan besar pernah membaca majalah Bobo, dan kalau tebakanku tak meleset, saat pertama membuka majalah itu, pasti tujuan yang paling dinanti-nantikan adalah bagian yang paling menarik dari majalah tersebut: Dongeng Bobo.
Ya, di antara cerpen-cerpen 'kelas berat', ternyata ada satu cerpen yang indah, yang tak perlu pusing memikirkan pesan moral yang 'tersembunyi' dan lain-lain sebagainya. Terkadang, tak perlu kita menampilkan plot di mana moral manusia ketika dunia akan kiamat, kehidupan makhluk-makhluk ajaib yang keberadaannya diluar nalar ilmu fisika dan biologi, dan dunia pararel dimana air adalah udara dan udara adalah api.
Simplicity, plus a beautiful story would do the trick, good job Mbak Yuniar :).

14. Drama Terhebat yang Pernah Ada, karya Tyas Palar:
Judulnya terkesan agak norak? Jangan tertipu. Membaca cerita ini, aku terpingkal-pingkal sampai nyaris dilempar keluar kamar oleh sepupuku yang lagi serius menekuni pe-ernya di balik punggungku.
Mungkin ini satu-satunya cerita paling lucu di buku ini. Tapi walaupun seisi buku ini adalah cerpen-cerpen fantasi penuh cerita komedi dan lain-lain sebagainya, cerita ini akan tetap ada di deretan teratas khusus komedi terbaik dan terlucu. Thanks for making this story for us to enjoy, Mbak Tyas! XD

15. Rhytma, karya Bonmedo Tambunan:
Sang pengarang terkenal sebagai penulis serial Xar & Vichattan, dan pencipta tokoh “Tante Pecut” (beberapa orang mungkin akan terpingkal membaca ini, an internal joke, FYI, XD).
Dunia di cerpen Rhytma, ternyata memiliki ide yang sangat menarik. Bayangkan bila nyanyian dan melodi yang dipadukan dengan gerakan bisa menggerakkan unsur-unsur alam, seperti api, badai, dan angin puyuh.
Ada yang menarik lagi, yaitu gaya berceritanya. Aku sudah membaca Xar & Vichattan (walau belum menulis review-nya, maafkan daku T.T), dan sempat mengira cerpen ini memiliki gaya cerita yang mirip.
Tapi aku salah besar. Di cerpen Rhytma, Bang Boni ternyata menggunakan prosa-prosa yang kaya dan kata-kata yang puitis. Aku sempat terkejut membacanya, dan bertanya pada diri sendiri: Ini beneran Bang Boni yang menulisnya? (*dikeplak* Ya iyalah, siapa lagi?) Yah, mungkin ini masalah selera saja, tapi aku suka cerita yang menggunakan prosa-prosa puitis, dan kata-kata penuh metafora yang hidup.
Hebat bang, karena telah berhasil menulis cerpen dengan gaya yang berbeda jauh, dan ternyata hasilnya amat rapi untuk bisa dinikmati sepenuhnya ^^.

16. Labirin, karya Aphrodite (yang bukan salah satu personil Drama Terhebat yang Pernah Ada):
Ini cerita dengan ide yang menarik.
Mula-mula adalah adegan pertempuran khas dunia-dunia fantasi: peperangan, perebutan kekuasaan, sihir dan pedang bersatu dan beradu. Pada halaman berikutnya, tokoh utama kita menang! Woohoo! Tapi...ada apa ini? Terdengar teriakan-teriakan dari arah luar kastil. Begitu tokoh utama kita melihat...ternyata dunia tempatnya berada mulai lenyap sedikit demi sedikit. Apa ini sihir hitam dari pihak musuh? Akhir sang tokoh utama nekat melakukan sihir terlarang yang menghabiskan setengah sisa hidupnya, dan segera mencari penyebab kemusnahan masal tersebut. Ia menemukan sebuah petak bersinar yang misterius. Sang tokoh utama segera menghampiri petak tersebut...
Tapi apa yang ditemukannya, ternyata kenyataan yang jauh lebih mengejutkan dibandingkan dengan dunianya yang tengah di ambang kemusnahan total.
Sebuah karya dari Aphrodite, terima kasih telah menulis dan membagikan ide cerita ini pada kami semua :).

17. Nama Terlarang di Angkasa, karya Calvin M. Sidjaja:
Sekali baca, aku langsung tahu: penulisnya berpengetahuan luas soal mitologi yang menjadi plot cerita cerpen ini. Seperlima (atau kurang) dari isi cerpen ini membahas tentang mitologi Babilonia, terutama salah satu dewa mereka yang bernama Anzu. Sesuai plot cerita ini, dimana suatu penyakit misterius yang diberi sebut sebagai “Sindrom Anzu”, mulai membuat sebagian orang menjadi gila dan menceracau tak karuan: Namaku hilang! Tolong kembalikan namaku! Tanpa namaku, aku tak bisa mengenali diriku sendiri!
Cerita ini punya potensi untuk menjadi cerita horor yang membuat merinding dan bikin mimpi buruk jadi kenyataan di malam hari. Namun tampaknya yang ingin sang penulis suguhkan bukanlah kengerian itu, melainkan ajakan untuk berpikir tentang pentingnya sebuah rahasia, yang bila terbocorkan mungkin akan membawa maut bagi mereka yang tidak berhati-hati.
Still, LAPKAS (Lempari dAku Pepsi Kalau dAku Salah)) XD.
And I got a link of a prequel for this short-story, please enjoy:
Prekuel Sindrom Anzu

18. Speak of the Devil: Perangkap, karya F.A. Purawan:
Salah satu buah karya pengarang novel Garuda 5, ini adalah cerpen kedua yang kubaca di entri lomba Fantasy Fiesta, dan yang kedua membuat harapan untuk menangku kian menciut seperti sayuran kering.
Yak, cerpen ini menceritakan tentang perburuan iblis dari sudut pandang iblis yang dikejar-kejar itu sendiri. Deskripsi yang bagus, membantu pembaca membayangkan keadaan dunia dan suasana kejar-kejaran dan pertempuran di cerpen ini.
(kecuali satu yang masih kuragukan sampai saat ini: model bulu-bulu major Baalrukh itu...sama dengan model rambut dreadlocks ala Predator dari film Alien vs Predator enggak ya? LAPKAS, and thank you for sharing your knowledge to us all this time ^^.

19. Hari Terakhir, karya Erwin Adriansyah:
Seperti judulnya, cerpen ini mengisahkan tentang sebuah pertempuran habis-habisan dari sebuah perang akbar yang melibatkan separo dunia, seorang 'dewa', naga-naga dan para penunggangnya, burung-burung api, serta kepercayaan dari dua bentuk kekuasaan terbesar di dunia tersebut.
Deskripsi yang bagus membantu pembaca untuk membayangkan besarnya perang akbar tersebut. Tapi ending-nya ternyata menyimpan kejutan yang lain.
-SPOILER-Tak semua yang kita kira benar, bisa kita pertahankan walau nyawa kita melayang karenanya.

20. Matahari Sylvania, karya R.D. Villam:
Ahai, akhirnya sampai juga ke cerpen terakhir dari antologi ini.
Sang pengarang adalah salah satu dedengkot di tred fiksi fantasi Indonesia, yang pasti rekan-rekan pembaca mengenalnya sebagai sang pengarang novel Akkadia.
Untuk yang pernah membaca review versiku untuk Akkadia, mungkin masih ingat apa saja masalahku ketika membacanya. Gaya bercerita yang terkesan 'kaku' dan format novel yang teramat rapat, menyulitkan konsentrasi untuk meneruskan dan menyelesaikan novel tersebut.
Sempat teringat oleh hal tersebut, aku membaca dengan ekspetasi yang sama...
Selagi lagi, aku salah besar.
Gaya berceritanya sangat menarik dan asyik untuk dinikmati. Kalau Akkadia ditulis dengan gaya bercerita seperti ini (dan mungkin dengan beberapa perubahan), aku pasti akan memberi empat bintang untuk buku tersebut. Ide cerita yang sip, gaya bercerita, plus format buku yang enak untuk dinikmati, pasti adalah pedang dan perisai terbaik bagi sebuah cerita fiksi fantasi.
Hebat bang, dan aku akan menantikan novel yang telah Bang Ketua tulis untuk diterbitkan lagi :).

And...that's it folks. Terima kasih telah bersedia membaca ulasan buku kumcer Fantasy Fiesta dari sudut pandangku sampai selesai. Mungkin kalian ada menemukan beberapa hal yang tidak sesuai, seperti "Hey, bulu major itu gak sama dengan rambut dreadlock ala Predator!", atau "Baca Kerinduan Buku aja musti tiga kali baru mudeng? Nenek saya aja bisa ngerti inti cerpen ini sekali baca!"; tapi ketidaksamaan penafsiran adalah kekurangan, dan kelebihan dari sebuah cerita fantasi.
Maka jangan heran, kalau misalnya pada cerpenku aku selalu teringat ayahku sendiri saat membacanya, tapi bagi orang lain, mungkin fantasi tentang afterlife itulah yang akan terpancang di ingatan mereka.

Sekian, dan terima kasih untuk seluruh rekan-rekan penulis di Fantasy Fiesta, dan juga mereka yang bersedia meluangkan sebagian rejekinya untuk membeli buku ini :). Really, that's means a lot to me, or should I say, to all of us. Thank you, very much.
11 likes · Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Fantasy Fiesta 2010.
Sign In »

Comments (showing 1-8 of 8) (8 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by Dina (new)

Dina Begum Engga suka cerpen, tapi jadi tetarik beli buku ini sehabis membaca reviewnya.


message 2: by Ivon (last edited Dec 27, 2010 10:00PM) (new) - added it

Ivon Wah, halo, Mbak Dina :D makasih wis sudi mampir ke review buku ini ^^.

Hahah, dulu ak juga tidak hobi baca cerpen, tapi akhir2 ni stelah ak tinjau ulang, kadang2 sebuah kilasan kisah bisa jadi lebih bermakna dan berbobot, daripada novel yang tebal tapi sampai akhir masih enggak jelas intinya apa, hahahah~ ^^

Jujur saja, ak sendiri enggak bakalan nyesel kalau bisa memajang buku ini di rak novel-novel fantasi di rumahku ^^, dan makasih banyak, kalau Mbak akhirnya jadi membelinya :D.

FYI: Review ini menghabiskan seluruh jatah +26.000 karakter yang diberikan oleh goodreads, XD


Feby pepsi pertamanya itu pasti dariku. hahaha..
menurutku tepat mengganti pov nya. :)


Fredrik von, setelah baca ulang, menurut gw juga bagusan diganti kok POV-nya

jujur, dulu pas baca versi awal, gw cape banget... ngos-ngosan bacanya karna pake POV-2, xD
meski tetep ngerti sih

tapi ya, memang gak bisa dipungkiri (hus! bahasa!) kalau salah satu istimewanya "Hujan" waktu itu memang karena POV-2 nya...
(mudah2an gw gak kena giliran dilempar, >_<)

BUT,
sekarang tetap istimewa, karena ceritanya jadi lebih mudah dipahami dan terasa lebih ngalir
:)


Dewi Kirana *ngukur kepala, jangan2 tambah gede*

Ivon, tengkyu banget ya review-nya! Hehehe, banyak pendapatmu yang mirip ama pendapatku waktu baca semua cerpen di kumcer Fantasy Fiesta 2010 ini.

Aku termasuk orang yang setuju kalo cerpenmu yang udah diganti pov nya lebih bagus daripada yang pertama. Dan menurutku, keistimewaan cerpenmu itu karena 'warm and fuzzy familiar feeling' nya. Cerita berlatar WW II seperti punyamu ini berpotensi (banget) untuk terasa dark and depressing, tapi kenyataannya kamu berhasil menyampaikan suasana yang lain banget.

And, Jeremy itu salah satu karakter favorit aku di Fantasy Fiesta 2010 ^_^ Sayang aku ga bisa melihara, tar dia ga kebagian kue coklat lagi (karena aku makan semua :P )

Amiiinn, mudah-mudahan tahun ini bisa jadi tahun baik buat aku (dalam hal penerbitan) XD


message 6: by Ivon (new) - added it

Ivon ahahahahah, thx all, jdi dapet banyak lemparan Pepsi nih ^^

@Anggra, Fred, & Mbak Dewi:
heheh, kadang2 aku memang bisa agak keras kepala kalau menyangkut keunikan 'bla-bla-orisinil-gitu-loh-bla-bla' begituan,

*sebuah kaleng pepsi raksasa (sekilas terlihat ada coretan grafiti "POV-II" di permukaan kalengnya) bergerak, mengancam terguling dan melindas benda apapun di depannya, termasuk seseorang yang sedang mengoceh soal POV orang kedua cerpen-nya*,

ummm,
tapi kulihat ternyata kalian lebih suka versi ini, jadi...yah, aku senang telah memutuskan untuk mengubahnya, heheheh, serta makasih telah mewanti-wanti ketika cerita ini masih terpajang dalam bentuk POV orang kedua ^^

*perlahan, kaleng Pepsi raksasa itu berguling mundur dan hilang dari pandangan*

*ngusap keringat*

syukurlah... -.-;;;


ps: itu serius tadi, heheh, stelah baca ulang ak juga lebih suka baca versi yang ini, walau seperti kata Fred, POV org kedua itu salah keunikan cerpen "Hujan" dulu-

*grrkkk....gruduk....glllrrrRRRRRR!!!*

*sebuah kaleng Pepsi raksasa terguling dengan kecepatan tinggi ke arah anda!!!*

O_O gya.


Magdalena Amanda Gw sumbang BGM deh:

"Pepsimaaaaan~"

Oh, hrsnya Pepsiwoman, tapi gak enak nadanya. :D

Hehe.


message 8: by Ivon (new) - added it

Ivon Pepsiman~

heheheh, game yg lmyn asik itu XD, sayang ak gak pernah tamat maininnya, mati terus nyemplung jurang atau terlindas Pepsi raksasa, hahahah~


back to top