Ikra Amesta's Reviews > The Hobbit

The Hobbit by J.R.R. Tolkien
Rate this book
Clear rating

by
2561971
's review
Jan 03, 11


Sebuah kisah petualangan selalu menarik diikuti terutama jika di dalamnya terkandung bumbu sentimentil tentang nilai kepahlawanan yang lahir dari kenaifan seorang tokoh. Formula “From Zero to Hero” kerap kali menjadi mantra yang ampuh dalam kisah fiksi yang barangkali juga menjadi bagian dari daftar mimpi kebanyakan orang di dunia nyata. Dan layaknya sebuah “lompatan takdir” yang mendatangi seseorang, kisah Bilbo dimulai dari ketukan di pintu di rumahnya.

Bilbo Baggins, bangsa hobbit, menyukai hidup dalam kedamaian, bersantai menghisap pipanya sambil meminum secangkir teh, duduk-duduk di atas sofanya yang nyaman, dan yang terpenting adalah menikmati dua kali sarapan pagi. Tak pernah terbesit dalam kepalanya untuk menjadi tokoh utama dalam setiap kisah legenda yang pernah ia dengar di mana di dalamnya selalu terdapat kisah mengerikan tentang monster-monster. Tapi hidupnya berubah ketika suatu kali rumhnya didatangi oleh 13 kurcaci pemberani dan seorang penyihir (Gandalf) yang mengajaknya untuk berpetualang merebut harta karun turun-temurun yang kini dikuasai oleh seekor naga. Dalam perjalanan yang melelahkan dan berbahaya itu, Bilbo menjalani ujian penting tentang siapa dirinya dan kekuatan apa yang terkandung di dalamnya, seperti yang terangkum dalam kata-kata Gandalf: “What did I tell you? Mr. Baggins has more about him than you guess.”

Kemahiran Tolkien dalam meramu cerita petualangan fantasi ini memang patut dipuji. Tidak hanya imajinasinya yang hidup dalam aksara, tapi juga bagaimana karakter-karakter tokoh di sini diciptakan secara nyata dan bahkan logis ─tentu saja mengikuti logika Middle-Earth─ seolah-olah ia menceritakan kisah biografi. Apa yang terjadi pada Bilbo bukanlah kisah kepahlawanan epik yang instan di mana semacam kekuatan tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Namun lewat Bilbo Tolkien seperti hendak menunjukkan bahwa seseorang takkan pernah tahu siapa dirinya bila hanya “berdiam diri” tanpa “petualangan” menghampiri hidupnya. Bilbo tidak menjadi sosok yang terkesan berani mati atau petarung sejati, tapi ia tetaplah hobbit biasa yang polos, jenaka, dan banyak akal.

Beberapa adegan di novel mampu mengundang tawa gemas. Seperti ketika para kurcaci itu datang ke rumah Bilbo yang langsung masuk dan memberi hormat tanpa menjelaskan apa-apa sementara Bilbo kebingungan dan dengan gugup melayani mereka dengan hidangan dari dapur. Atau juga kecerdikan Bilbo saat ditantang untuk melakukan tebak-tebakan dengan Gollum (ya, si Gollum itu!) di sebuah gua yang gelap. Kemudian bagaimana ia meloloskan diri dari jebakan laba-laba raksasa dan penjara kaum elf. Dan niat baiknya kala berusaha mendamaikan bangsa kurcaci dengan ras manusia dan elf dari perang besar yang menunjukkan kepiawaiannya dalam berpikir jernih. Kejadian di perang besar itu sendiri juga cukup ampuh mengundang tawa.

Memang kisah Bilbo ini tidak sefenomenal keponakannya, Frodo Baggins dengan petualangan cincinnya yang melegenda itu. Tapi seandainya Bilbo tidak pernah memiliki jiwa petualangan bisa jadi kisah kolosal itu takkan pernah ada, mengingat dialah yang mencuri cincin keramat itu dari kediaman Gollum. Bilbo tidak pernah menjadi sama lagi, dan tidak ada pencapaian yang membahagiakan bagi manusia bila kita mampu mengetahui siapa diri kita dan apa yang bisa dilakukan dalam hidup untuk membuat semuanya jadi lebih bermakna. Lewat perjalanan hidupnya yang tersurat dalam 19 bab ini, Bilbo telah berhasil menemukan "harta karun" di dalam dirinya.

Mungkin setelahnya Bilbo sudah merasa ketagihan dan tidak sabar dengan petualangan yang lain dan dia akan senang sekali bila yang mengetuk pintu rumahnya berikutnya adalah Tintin dan kawan-kawan :)
7 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Hobbit.
sign in »

No comments have been added yet.