Femmy's Reviews > Samita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit

Samita by Tasaro G.K.
Rate this book
Clear rating

by
87906
's review
Aug 25, 10

bookshelves: indonesian, historical-fiction, forum-lingkar-pena
Read in May, 2007

Aku pertama tertarik membaca Samita karena tahu novel ini berkaitan dengan Cheng Ho. Soalnya, aku juga pernah ingin menulis soal dia sih. Sebagai penggemar cerita silat Mandarin, kupikir sepertinya asyik juga kalau bisa menulis dalam genre ini, dan sekaligus memasukkan unsur-unsur Islam di dalamnya, melalui tokoh Cheng Ho ini. Eh, tahunya keduluan, hehehe...

Tepatnya, novel ini berkisah tentang murid perempuan kesayangan Cheng Ho, bernama Hui Sing. Tokoh kita ini turut gurunya berlayar ke Majapahit dalam misi persahabatan. Tak disangka-sangka, kitab silat berharga milik Cheng Ho dicuri orang, lalu ternyata pencurian ini berkaitan dengan pembunuhan seorang pejabat Majapahit. Hui Sing memutuskan untuk tetap tinggal di Jawa untuk membongkar kasus tersebut, sementara gurunya harus pergi ke Palembang untuk menumpas bajak laut di sana. Dalam petualangan di Jawa inilah Hui Sing bertemu cinta dan sahabat, juga musuh dan dendam, dibumbui pula dengan adegan laga di sana-sini.

Keuntungan membaca novel sejarah, tentu saja, kita dapat belajar tentang sejarah yang melatari novelnya, tanpa perlu berkerut kening menghafal tanggal seperti di sekolah. Dengan membaca Samita, kita melihat armada Cheng Ho mengajari rakyat desa pesisir Jawa bersawah, ataupun kisah penyebaran agama Islam oleh bangsa Gujarat, juga pergolakan di kerajaan Majapahit, termasuk pemberontakan yang dipimpin oleh putri Bhre Wirabumi dari Blambangan.

Ganjalan
Namun, aku menemui beberapa hal yang sedikit mengganjal, karena tidak bersesuaian dengan pengetahuanku tentang hal itu. Hal-hal ini kecil sih, tapi bagiku mengganggu kenikmatan membaca dan membuatku meragukan hal-hal yang lain.

Salah satunya adalah masalah penggunaan istilah bahasa Mandarin. Pertama-tama, transliterasinya tidak konsisten. Sebagian besar buku ini sepertinya memakai transliterasi Wade-Giles (nama Cheng Ho), tetapi ada beberapa yang transliterasi Pinyin (ada huruf q dan zh dalam nama), dan ada pula sedikit penggunaan dialek Hok-kian. Jadilah, misalnya, kata 中國 dituliskan sebagai Tiong-kok maupun Chung Kuo. Selain itu, penggunaan istilah "hwa-kiauw" terasa janggal (h. 234), karena setahuku hanya mencakup perantauan Tionghoa yang menetap di luar Tiongkok, jadi tidak termasuk orang-orang seperti Cheng Ho atau Hui Sing. Satu lagi, kenapa Cheng Ho disebut dengan Tuan Ho, bukan Tuan Cheng menggunakan nama marganya?

Hal lain yang mengganjal adalah masalah proses pembuatan batik (h. 101). Di sini disebutkan bahwa canting diisi dengan tinta, padahal setahuku canting itu diisi dengan lilin.

Dalam penggambaran permainan suling (h.179), disebut "saat jemari pemuda itu lincah berpindah-pindah dari satu lubang ke lubang lain pada seruling dari bambu panjang itu". Setahuku, jari pemain seruling tidak berpindah-pindah, tetapi setiap jari mengendalikan satu lubang, dengan membuka atau menutupnya.

Dan... kenapa tokoh Ciu Pek Tong bisa sampai muncul? Tokoh rekaan dari trilogi Jin Yong ini mungkin bisa menjadi inside joke buat penggemar cerita silat, tapi bagiku hal ini juga membuatku kesulitan menganggap serius cerita ini. Ilusi bahwa novel ini merupakan cerita yang "benar-benar" terjadi dalam sejarah menjadi rusak, mengubahnya menjadi sekadar novel fiksi biasa, yang bisa mempertemukan tokoh fiktifnya dengan tokoh fiktif dari novel lain.

Penasaran
Gara-gara ganjalan di atas, aku jadi bertanya-tanya dan penasaran tentang beberapa hal. Misalnya, seberapa luas penggunaan lontar pada masa itu? Seberapa banyak salinan yang ada untuk suatu kitab penting seperti Negarakertagama? Apakah cukup meluas dan banyak, sehingga orang seperti Anindita mudah saja memberi Hui Sing hadiah berupa kitab?

Lalu, yang bikin penasaran juga, seberapa mirip rumah makan yang ada pada zaman itu, dengan yang ada pada zaman sekarang? Selain piring dan cawan dari tanah liat? Sebenarnya sejak kapan rumah makan di Jawa menyediakan menu khusus untuk tamu? (Dari Om Wiki, restoran di Barat punya menu khusus baru abad ke-18, tapi di Tiongkok sudah sejak abad ke-12, di Jawa...?)

Bahasa
Bahasa di novel ini unik dengan ungkapan-ungkapan yang tak biasa. Sebagian kusuka, sebagian tidak.

Contoh yang kurang kusukai:
* ...angin tak sedang galak.
* Alis matanya tebal, namun tak terkesan garang karena mengapit sepasang mata yang jenaka (Nggak kebayang bagaimana caranya alis mengapit mata? Atas-bawah? Kiri-kanan? Paling juga menaungi).
* ...serumpun pohon nyiur. (Ngga kebayang bagaimana pohon nyiur bisa tumbuh serapat bambu?)

Contoh yang kusukai:
* Suara ombak seperti bunyi bulir beras yang sedang ditampi di atas tambah. (Jadi kebayang bunyinya kayak apa.)
* Ada lega yang terlepas. Seperti seorang pengembara yang berjalan jauh dengan berbagai barang di sekujur tubuhnya, lalu melepaskan segala beban itu begitu sampai di tempat yang ia inginkan. (Jadi kebayang, rasa leganya kayak apa.)

Adegan Favorit
Dari seluruh novel ini, adegan favoritku justru berkaitan dengan tokoh yang muncul sangat sebentar. Adegan halaman 309-313 yang menggambarkan percakapan antara Kusumawardhani dan Wikramawardhana, dilanjutkan dengan Kusumawardhani dan Suciatma. Menyentuh sekali melihat ketiga orang ini mengorbankan perasaan demi kepentingan negara. Satu adegan kesukaanku juga adalah adu otak antara Respati dan kakek aneh pada halaman 362-364.

Penutup
Secara keseluruhan, novel ini adalah upaya yang patut dipuji. Semoga ke depannya Tasaro dapat terus berkarya dengan novel sejenis, semoga dengan riset yang lebih mantap.
4 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Samita.
sign in »

No comments have been added yet.