Ivon's Reviews > Magus: Thriller di Mesjid Menara Kudus

Magus by Mahardhika Zifana
Rate this book
Clear rating

by
3505628
's review
Nov 09, 10

bookshelves: suspense, detective, indonesian, 3rd-pov, lawsuit, it-s-inspiring, it-s-shallow
Read in September, 2010

** spoiler alert ** Tertarik beli buku ini karena melihat cover dan reviewnya di notes Fesbuk Mbak Truly (XD) yang membuatku berpikir 'hmm, kekny oke juga nih...misteri ya, cobain baca ah'.

Plot: sebuah pemugaran masjid yang meminta darah dari banyak orang tak bersalah. dimulai dari pembunuhan (tidak seperti yang polisi duga adalah kecelakaan dan kematian 'normal') beruntun lima orang mahasiswa ITB...lenyapnya seorang profesor arkeologi...yang akhirnya membawa tokoh-tokoh cerita ini terseret dalam suatu konspirasi besar berskala internasional.
Apa yang sebenarnya telah lima mahasiswa ITB itu saksikan?
Kemana profesor arkeologi itu menghilang?
Apa ada dengan Masjid Menara Kudus yang menjadi sub-judul novel ini?
Dan siapakah sebenarnya sang magus yang penuh misteri tersebut?

Gaya penceritaan: rapi. sangat rapi. sangat, sangat rapi. sampai-sampai, kurasa, kalau novel ini diubah bentuknya menjadi sebuah skripsi, bisa-bisa dapat nilai A, dengan IPK minimal 3,5 keatas (oyeah, cum laude XD). tapi, kurasa juga, itu kalau dosennya bukan dosen sastra-bahasa.
'Saking' rapinya, tiap karakter juga diberikan deskripsi akan tindakan apa saja yang mereka lalukan. "Rian tersenyum, dan Rafka balas tersenyum". Dan hal itu berulang-ulang sepanjang novel. Enggak mengganggu banget sih, cuma...lama-lama lucu aja hal seperti ini diulang-ulang terus menerus. Enggak ada masalah dengan dialognya juga...walau agak jengah pas baca si big-bad-boss yang ternyata bisa ngomong Indo.
Narasinya terjaga baik, tertata apik, dan teramat rapi.
XD *dikeplak sepatu*

Tokoh2:
Para Pemuda Harapan Bangsa (guaranteed 100 %) -VS- stereotip sampah masyarakat lokal (dan multinasional) yang cukup profesional dalam hal 'memata-matai', dan membunuh tanpa jejak.

Hebatnya: detil, rapi, dan rapi. XD, oke2, berhubung aku orangnya enggak bisa menulis serapi ini, kurasa aku jadi terlalu heboh membicarakannya. Selain itu...riset untuk setting dan latar sejarah yang mendasari cerita ini patut untuk mendapat pujian tersendiri. Penulisnya jelas-jelas berpengetahuan luas soal sejarah Islam kuno, kesenian sastra Jawa kuno, agama Islam dan agama-agama lainnya) dan dapat 'menyisipkan'nya dengan baik di buku ini. Aku cukup menikmati membacanya, didorong rasa penasaranku oleh sejarah kuno era Walisongo dan tembang-tembang Jawanya.

Sayang...(menurutku):
- kurasa fakta-fakta yang ada di awal buku enggak usah dijabarkan saja enggak apa-apa, karena ujung-ujungnya, isi dari fakta-fakta tersebut nantinya akan didiktekan langsung dalam dialog, dengan isi yang sama persis. kesan redundancy-ny kuat banget :/
- kurang sreg 1 (logika): kenapa saat si -spoiler- ditawari sogokan dan menolak, dia enggak dibunuh saat itu juga? malah mereka minta preman lokal untuk menabrak mati dia. coba kalau dari awal dia dibunuh, terus mayatnya dibuang kemana. mereka tinggal berpura-pura si -spoiler- tak pernah datang, dan terhindar dari segala kecurigaan. si penjahatnya enggak lulus untuk menjadi 'orang jahat sejati' ah :p.
- kurang sreg 2 (logika): salah satu penjelasan penyebab kematian mahasiswa ITB: makanannya diracuni. GIMANA CARANYA? minta mbak-mbak penjaga kantin kampus untuk nuangin bubuk "oh ini bukan apa-apa, cuma penyedap rasa ajinomoto saja kok" ke makanan pesanan dia? atau pas dia beli dan bungkus nasi di warteg atau resto mana, penjahatnya nyamar jadi penjualnya terus nuangin 'obat itu' ke dalam nasinya? Obat kadaluwarsa bisa bikin alergi parah, tapi kayaknya hanya dalam dosis besar yang bisa sampai bikin mati deh.
- kurang sreg 3 (menghadapi kematian): ketika -spoiler- mati, kenapa aku mendapat kesan teman-temannya tidak begitu sedih menghadapi kematiannya? mereka tetap go on, let's solve the mystery. baru setelah -spoiler- mati, karakter utamanya bermuram durja. jiah, tangguh sekali tokoh utamanya...
- kurang sreg 4: and the true villain is....baru kali ini aku jadi bete setelah mengetahui siapa dalang di balik semua pembunuhan-pembunuhan tersebut. mengejutkan? ya, mengejutkan. tapi juga agak mengecewakan, dan sedikit...menyebalkan ._.
- kurang sreg 5: aku mendapat kesan gaya penceritaan novel ini...sangat bermoral, tapi 'membungkam' perasaan. memang tersodorkan fakta-fakta akan apa saja yang tengah terjadi, tapi aku tidak sepenuhnya bisa menyelami perasaan para tokoh yang ada di dalamnya. apa ini gara-gara akunya saja yang terlalu terbiasa membaca novel-novel yang penuh deskripsi dari 'air mata kebahagiaan dan kesedihan'?

sekian dari review novel ini, terima kasih untuk Mbak Truly yang sudah membuat reviewnya duluan dan mengundang ketertarikanku (XD), dan bagi yang sudah menyempatkan waktu untuk membacanya.

ps: kayaknya seru loh, kalau ini novel sampai dijadiin filem :D serius!
1 like · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Magus.
sign in »

Comments (showing 1-5 of 5) (5 new)

dateDown_arrow    newest »

Truly kebetulan aku mendapat kesempatan baca draftnya sebelum dicetak. Kapan2 kita ngebahas ini yah. Seru............!


Ivon wah, brarti ak musti baca-baca lagi nih, daripada ntar diajak bicara ak malah enggak nyambung, wkwkwk~

btw, mbak...*colek2*
ada kabar soal buku Balada Si Roy? tabungan untuk ongkos beli bukuny sudah cukup nih :D hehehe, okeh~


Truly kalo enggak salah
ntar aku pm yah


Heru Setiawan Reviewnya kebanyakan -spoiler-nya. Padahal ada banyak yang mati. Setidaknya, kasihlah label: spoilerA, spoilerB, spoilerC, dst >.<


Ivon waduh, iya ya? ini review jadul pas ak lum nemu fitur label spoiler kekny, jadi ak cuma kasih peringatan spoiler gede2an di awal reviewnya aja, hahah :))

thanks peringatannya, ak akan lebih hati2 lain kali :))


back to top