Ririenz's Reviews > Warna Tanah

Warna Tanah by Kim Dong Hwa
Rate this book
Clear rating

by
393578
's review
Oct 17, 10

bookshelves: novel-grafis
Read in January, 2010

WARNA TANAH
Penulis : Kim Dong Hwa
Penerjemah : Rosi L. Simamora
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Juni, 2010
Tebal : 320 Halaman

Kekasihku tiba, tapi bukan menyambutnya,
Aku hanya bisa menggigiti ujung celemeku dengan ekspresi hampa ---
Betapa kikuknya diriku.

Hatiku merindukannya, sebesar dan senyalang bulan yang purnama
Namun aku malah menyipitkan mata, tatapanku
Setajam dan setipis bulan sabit.

Namun bukan aku melulu yang bertingkah begini.
Ibuku dan ibu dari ibuku sama konyol dan canggungnya saat masih gadis…

Tapi cinta yang datang dari hatiku meluap-luap,
Seterang dan semerah besi panas dalam tunggu pandai besi.


Entah kenapa dari sekian banyak bacaan yang digelar pada Indonesia Book Fair pada awal bulan Oktober ini hanya karya Kim Dong Hwa saja yang meluapkan rasa ingin tahuku. Aku ambil buku jilid satu lalu kubaca sinopsis di cover belakangnya dan aku mendadak kaku. Ini Indah sekali… tapi kenapa diskonnya hanya sedikit… hiks…
Tapi bukan Ririn namanya jika menyerah pada diskon yang sedikit… dan hari ini aku berhasil menamatkan bacaannya dipertengahan bulan Oktober ini.

Hampir setahun belakangan ini aku memang terhipnotis dengan tontonan dari negeri ginseng. Tapi bukan karena itu alasanku memilih buku ini. Aku sepertinya benar-benar jatuh cinta dengan puisi-puisi Kim Dong Hwa dalam novel trilogi warnanya ini. Khususnya pada perkenalan pertama, Warna Tanah. Warna Tanah Bercerita tentang cinta pertama seorang gadis dan cinta yang yang hadir kemudian pada seorang wanita.

Kali ini akhir pekanku ditemani oleh dua jilid novel grafis karya Kim Dong Hwa. Menurut definisinya novel grafis adalah kisah panjang yang diceritakan dalam bentuk komik. Topiknya beragam, bisa fiksi atau non-fiksi yang kemudian dieksplorasi dalam bentuk grafis. Di Korea Kim Dong Hwa memang dikenal sebagi penulis spesialis “ ManHwa “ ( sebutan untuk novel grafis dalam bahasa Korea ) serta banyak menghasilkan karya yang cermerlang. Sebelumnya dia dikenal dengan master komik “ Sunjung “ yang ringan dan manis serta diperuntukkan bagi anak perempuan. Kemudian dia membuat sesuatu yang baru yaitu membuat ManHwa dengan gaya sunjung sehingga bisa dinikmati baik pria maupun wanita ; remaja maupun dewasa.

ManHwa ( aku lebih suka menyebutnya demikian ) ini merupakan karya tiga serangkai, yaitu Warna Tanah, Warna Air dan Warna Langit. Dimulai dari sekuel pertama, Warna Tanah. Cerita ini berseting di sebuah pedesaan bernama Namwon pada masa pergantian abad. Di pinggir desa itu hiduplah seorang janda muda dengan seorang anak gadisnya berumur tujuh tahun bernama Ehwa. Untuk menafkahi keluarga kecilnya Ibu Ehwa membuka kedai minuman. Awalnya mereka menjalani kehidupan yang tenang dan muram, mungkin karena tidak adanya laki-laki disana jadi suasana agak sedikit pincang. Tetapi ketika Ehwa mulai memperhatikan lawan jenisnya dan ketika tukang gambar hadir dalam hati ibunya kehidupan mereka berubah.

Warna Tanah dibuka dengan adegan perkelahian dua ekor kumbang jantan yang memperebutkan seekor betina. Dua orang petani yang melihat kejadian itu membahasnya dan entah kenapa kemudian membandingkannya dengan status ibu Ehwa dan dengan nada yang menghina pula. Ternyata bukan di Indonesia saja status “ Janda atau wanita single “ menjadi masalah buat penyandangnya. Lingkungan sering berasosiasi negatif dengan dengan predikat tersebut meskipun ada kedekatan emosional. Jika zaman sekarang ada seorang wanita menjadi single parent dengan seorang puterinya tunggal serta menjalani dan menghadapi kronik kehidupan tanpa pendamping mungkin dianggap lumrah bahkan hebat. Tetapi tidak demikian pandangan masyarakat zaman dahulu. Dan sikap chauvinistik ini terus muncul hingga akhir cerita.

Eksploitasi pubertas ketika Ehwa mengalami menstruasi pertama atau ketika Chung Myung mendapat mimpi basah disajikan dengan sangat natural. Hubungan internal yang sangat dalam antara Ehwa dan Ibunya atau antara Chung Myung dengan Kepala Biksu mampu membuatnya jauh dari kesan vulgar atau tabu.

Ibu Ehwa hati-hati sekali menjawab semua keingintahuan Ehwa yang haus akan pengetahuan terutama hal-hal yang berhubungan dengan seks. Sikap ibu Ehwa yang terbuka secara tidak langsung juga membentuk karakter Ehwa yang juga terbuka dan bisa bertoleransi dengan kepentingan orang lain. Seperti ketika Ehwa menerima kehadiran si Tukang Gambar yang menjadi kebahagiaan ibunya. Ehwa menyadari Ibunya sangat mendambakan kasih sayang dari seorang laki-laki dan Ehwa berbesar hati ketika dinding rumahnya dihiasi oleh pena si Tukang Gambar bahkan dia memetik bunga Azalea untuk dibuat anggur lalu dipersembahkan kepada orang yang dianggapnya istimewa, si Tukang Gambar.

Ehwa sering menghabiskan waktunya untuk bermain bersama Bong Soon, Jung Hee, Dong Chul dan lainnya tetapi dia lebih akrab dengan Bong Soon, mungkin karena Bong Soon lebih terbuka untuk membicarakan hal-hal yang bersifat dewasa ( seks )bila dibandingkan dengan anak-anak lain. Bong Soon ini ini punya hubungan yang menyimpang dan lucu dengan Dong Chul dan itu terbawa hingga mereka remaja. (ckckckck…. )

Ketika Ehwa pertama kali jatuh cinta kedua anak-beranak itu juga berubah kearah yang lebih dewasa. Cinta pertama Ehwa adalah seorang biksu muda Buddha bernama Chung Myung. Tapi karena seorang biksu terikat dengan sepuluh aturan “ Samanera ” ( menahan diri dari kesenangan duniawi ) maka perasaan Chung Myung terhadap Ehwa tidak bebas terekspresi bahkan menemui kebuntuan. Ia tidak bisa menegosiasikan antara hasratnya yang dahaga dengan keimanannya yang mengharuskannya berada dalam posisi mulia.

Untuk yang satu ini aku benar-benar salut pada Kim Dong Hwa karena dia menyajikan berbagai bentuk “ seksualitas dan sensualitas “ dalam nuansa puitis yang ringan bahkan terkesan “ kocak “. Salah satunya seperti pada halaman 107 ;

“…. Ketika seorang wanita basah kuyup karena hujan,
malam itu kekasihnya akan mimisan hebat. “

( maaf sekali jika aku selalu ingat bagian ini, tapi terus terang bagian ini membuat aku tersenyum untuk waktu yang cukup lama , hihihihihihi… )

Cinta kedua Ehwa adalah Tuan Muda Sunoo, ia satu-satunya yang berpendidikan di desa itu. Mungkin pada saat itu karena banyak keterbatasan pendidikan hanya untuk golongan tertentu, ada di tempat tertentu dan biayanya juga mahal jadi tidak semua orang dari berbagai usia golongan bisa menikmatinya dan “” melek “ ilmu. Tetapi cinta kedua Ehwa ini juga kandas karena Tuan Muda Sunoo harus ke kota untuk melanjutkan pendidikannya.

Buku ini tampil sangat cantik. Membacanya membuat aku seperti masuk ke dalam alur cerita. Aku seperti menjadi bagian dari desa di Namwon yang sangat indah, sejuk, basah dan ceria. Percakapan para tokoh didalamnya mengalun bak puisi, ringan dan menyenangkan. Kim Dong Hwa melukiskan cinta dengan hujan dan bunga. Bunga digunakan sebagai symbol untuk mengekspresikan cinta. Bunga juga menggambarkan pribadi seseorang seperti: Ehwa yang diwakili oleh bunga Hollyhock, Ibunya Ehwa dengan bunga labu putih atau Chung Myung dengan bunga Tiger lily.

Hujan dengan elemen air melambangkan potensi kekuatan hidup. Bagi Ehwa yang baru saja memulai perjalanannya menjadi wanita hujan merupakan kekuatan untuk tumbuh menjadi seorang wanita yang matang secara fisik dan pikiran. Hujan juga memberikan kekuatan kepada ibu Ehwa untuk mengukir kebahagiaan bersama si Tukang Gambar. Hubungan Ehwa dengan ibunya sangat dekat, dalam dan mempesona. Keduanya sama-sama sedang tumbuh dan berubah. Keduanya merupakan sekutu bagi yang lain, saling mendukung untuk menghadapi dunia yang tidak selalu ramah.

Ada persamaan antara ManHwa ini dengan drama atau film-film Korea yang sering aku tonton. Keduanya sama-sama mempunyai kekuatan untuk mempertahankan identitas diri sebagai bangsa Korea. Keduanya menyajikan referensi budaya yang bisa menambah khazanah ilmu pengetahuan kita tentang Korea. Misalnya saja ramuan untuk melembutkan dan mempercantik kulit, ramuan untuk tulang yang patah atau tentang “ samgaetang “, makanan untuk menambah energi dan stamina.

ManHwa ini mengungkapkan cerita yang lebih indah dan lebih luas dari yang terlukiskan serta terucapkan dari setiap karakternya.
ManHwa ini cantik…


~* Rienz *~

likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Warna Tanah.
sign in »

No comments have been added yet.