Melisa Mariani's Reviews > Les Misérables
Les Misérables
by Victor Hugo, Anton Kurnia
by Victor Hugo, Anton Kurnia
Melisa Mariani's review
bookshelves: classics, koleksiku-ind, favorites, contemplating-inspiring-philosophy, historical-fiction, 1001-books, the-classics-club, bukuku-lagi-dipinjam
Jan 19, 11
bookshelves: classics, koleksiku-ind, favorites, contemplating-inspiring-philosophy, historical-fiction, 1001-books, the-classics-club, bukuku-lagi-dipinjam
Read from January 09 to 19, 2011
Les Misérables (1862) adalah salah satu dari dua karya paling terkenal dari Victor Hugo (1802-1885). Karya satunya adalah The Hunchback of Notre-Dame yang diselesaikannya pada 1831.
Tokoh utama Les Misérables adalah Jean Valjean, seorang mantan narapidana yang telah mengalami 19 tahun hukuman yang berawal dari pencurian sepotong roti. Hidup keras di kapal kerja paksa telah mengubahnya menjadi orang yang jiwanya dipenuhi kegelapan dan kebencian.
Ia mengecap kebebasannya pada Oktober 1815 dan di kota D___ (bukan disensor, memang penulisannya begitu) ia bertemu dengan Uskup Bienvenu-Myriel, seorang pelayan Tuhan yang benar, dan sang Uskup menyibak kegelapan dari jiwa Jean Valjean dan melepaskan cahaya yang masih dipunyai sang narapidana sebagai manusia.
Tiga tahun kemudian Jean Valjean tiba di kota M___sur m___ dan menempuh kehidupan sebagai manusia yang diperbarui, ia menggerakan roda industri kota M___sur m___ sebagai seorang bijak dan lembut hati. Akhirnya ia diangkat menjadi walikota atas kota itu. Masa lalunya terkubur dalam-dalam dan saat itu ia dikenal sebagai Bapa Madeleine. Namun di kota itu ada seorang inspektur polisi bernama Javert, yang merasa mengenali Bapa Madeleine sebagai salah satu narapidana yang ia pernah lihat di kapal kerja paksa.
Sang Monsieur Walikota terbebas dari kecurigaan Javert ketika seorang bapak tua bernama Champmathieu dituduh sebagai Jean Valjean. Champmathieu terancam hukuman seumur hidup di kapal kerja paksa, sementara Jean Valjean yang asli mengalami pergolakan batin antara menyerahkan diri atau membiarkan orang tua yang tak bersalah itu mengambil tempatnya sebagai orang terhukum. Monsieur Walikota yang dihormati banyak orang itu akhirnya mengakui jati dirinya dan ia kembali ke kapal kerja paksa, namun tidak untuk waktu yang lama.
Tahun 1823 Jean Valjean diberitakan jatuh ke laut dan mayatnya tidak ditemukan. Namun yang sesungguhnya terjadi adalah, Jean Valjean hidup, dan ia menjemput anak dari Fantine, seorang perempuan miskin yang meminta pertolongannya ketika ia masih menjadi walikota di M___sur m___. Gadis cilik ini bernama Cosette dan ia diperlakukan seperti budak oleh keluarga dimana ibunya telah menitipkannya.
Dari sini cerita bergulir kepada pelarian Jean Valjean dan Cosette, sampai Cosette beranjak dewasa sepuluh tahun kemudian, diselingi dengan kisah keluarga Thénardier yaitu keluarga yang dititipi Cosette, sampai kepada peristiwa 5 Juni 1832 saat pecahnya huru-hara revolusi yang digaungkan kaum Republikan.
Les Misérables adalah suatu cerita yang kompleks dengan banyak tokoh, namun Victor Hugo dengan amat brilian menjalin satu demi satu benang merah yang menghubungkan tokoh-tokoh tersebut. Les Misérables memberitahu kita tentang perihnya menjadi orang terbuang, kemelaratan sejati, jiwa manusia yang gundah memilih antara kebaikan atau kejahatan, sistem hukum dan keadilan yang berlaku pada masyarakat Prancis pada masa itu, belum lagi sejarah, politik, sistem sosial, dan arsitektur Prancis yang diuraikan panjang-lebar oleh sang penulis. Hugo juga tak lupa untuk memasukkan unsur spiritual dan cinta dalam karya ini, baik cinta antara pria dan wanita dan cinta kekeluargaan, serta pengampunan dan belas kasihan.
Dari awal hingga akhir, pembaca akan dibawa dalam gejolak emosi yang naik-turun: kesedihan, keputusasaan, kegundahan, kebahagiaan, dan sampai pada suatu perasaan yang begitu ilahi yang sulit untuk dijelaskan.
Betapa Jean Valjean sesungguhnya berhati malaikat. Jika ia adalah seorang mantan narapidana yang sudah dibebaskan, lalu atas dasar apa inspektur Javert memburunya untuk ditangkap kembali? Bukankah ia tak berbuat kejahatan lagi? Rasanya sentimen inilah yang melekat pada tatanan sosial di Prancis abad ke-19, bahwa sekali seseorang terjatuh dalam lembah kejahatan, maka selamanya ia tidak akan terlepas dari cap “orang berbahaya”, tanpa diberi kesempatan untuk bertobat, tanpa diberi kesempatan untuk memulai lagi hidupnya, tidak diterima dimanapun.
Terjemahan Indonesia yang diterbitkan Bentang Pustaka digarap dengan sangat apik oleh Anton Kurnia, terlepas dari banyaknya typo dan panggilan tokoh yang berbeda-beda; misalnya ada kalanya sang tokoh utama disebutkan sebagai Bapa Madeleine, Bapak Madeleine, Monsinyur Madeleine, Monsieur Walikota, dan sebagainya. Hal ini sedikit mengganggu kenikmatan membaca.
Ada banyak kalimat yang layak digarisbawahi dalam buku ini; kalimat-kalimat yang indah menyejukkan hati, yang mencerahkan, sampai yang menohok batin.
Dari Fantine, perempuan miskin yang memiliki anak hasil hubungan gelap, kita dapat belajar bagaimana rasanya terpuruk dalam kemiskinan.
Fantine yang aslinya seorang perempuan yang cantik, dengan rambut panjang tergerai dan gigi indah, memotong rambutnya panjangnya dan menjualnya, bahkan ia menjual dua gigi serinya kepada tukang gigi. Fantine yang telah menjelma menjadi perempuan gundul buruk rupa berkata, “Ayolah! Aku akan menjual apa yang masih tersisa padaku.”
Hugo juga lihai membuat baris-baris puisi cinta, seperti sepenggal puisi Marius kepada Cosette dibawah ini:
“Tatkala semesta menciut menjadi sesosok makhluk, tatkala sesosok makhluk meluas bahkan sampai menjangkau Tuhan, maka itulah cinta.
Kau yang merana karena cintamu, tetaplah mencinta. Mati dalam cinta berarti hidup bersama cinta.”
Pada akhirnya, Les Misérables memang bercerita tentang para jembel (terjemahan di halaman 291, les misérables berarti para jembel); orang-orang merana (dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi The Miserable Ones, The Wretched, The Poor Ones, The Wretched Poor, atau The Victims). Les Misérables yang ditulis Hugo semasa menjalani pengasingan di Pulau Guernsey, adalah mahakarya yang menggambarkan dan mengutuk ketidakadilan sosial di Prancis abad ke-19. Tulisan-tulisannya menjadi karya-karya sastra paling berpengaruh di Prancis dan seluruh dunia sampai sekarang. Les Misérables juga dikenal melalui banyaknya adaptasi teatrikal, drama musikal, dan film yang diangkat dari karya tersebut.
Cita-cita yang terpendam dalam hati Victor Hugo tersurat pada halaman 442 dan 483;
Tokoh utama Les Misérables adalah Jean Valjean, seorang mantan narapidana yang telah mengalami 19 tahun hukuman yang berawal dari pencurian sepotong roti. Hidup keras di kapal kerja paksa telah mengubahnya menjadi orang yang jiwanya dipenuhi kegelapan dan kebencian.
Ia mengecap kebebasannya pada Oktober 1815 dan di kota D___ (bukan disensor, memang penulisannya begitu) ia bertemu dengan Uskup Bienvenu-Myriel, seorang pelayan Tuhan yang benar, dan sang Uskup menyibak kegelapan dari jiwa Jean Valjean dan melepaskan cahaya yang masih dipunyai sang narapidana sebagai manusia.
Tiga tahun kemudian Jean Valjean tiba di kota M___sur m___ dan menempuh kehidupan sebagai manusia yang diperbarui, ia menggerakan roda industri kota M___sur m___ sebagai seorang bijak dan lembut hati. Akhirnya ia diangkat menjadi walikota atas kota itu. Masa lalunya terkubur dalam-dalam dan saat itu ia dikenal sebagai Bapa Madeleine. Namun di kota itu ada seorang inspektur polisi bernama Javert, yang merasa mengenali Bapa Madeleine sebagai salah satu narapidana yang ia pernah lihat di kapal kerja paksa.
Sang Monsieur Walikota terbebas dari kecurigaan Javert ketika seorang bapak tua bernama Champmathieu dituduh sebagai Jean Valjean. Champmathieu terancam hukuman seumur hidup di kapal kerja paksa, sementara Jean Valjean yang asli mengalami pergolakan batin antara menyerahkan diri atau membiarkan orang tua yang tak bersalah itu mengambil tempatnya sebagai orang terhukum. Monsieur Walikota yang dihormati banyak orang itu akhirnya mengakui jati dirinya dan ia kembali ke kapal kerja paksa, namun tidak untuk waktu yang lama.
Tahun 1823 Jean Valjean diberitakan jatuh ke laut dan mayatnya tidak ditemukan. Namun yang sesungguhnya terjadi adalah, Jean Valjean hidup, dan ia menjemput anak dari Fantine, seorang perempuan miskin yang meminta pertolongannya ketika ia masih menjadi walikota di M___sur m___. Gadis cilik ini bernama Cosette dan ia diperlakukan seperti budak oleh keluarga dimana ibunya telah menitipkannya.
Dari sini cerita bergulir kepada pelarian Jean Valjean dan Cosette, sampai Cosette beranjak dewasa sepuluh tahun kemudian, diselingi dengan kisah keluarga Thénardier yaitu keluarga yang dititipi Cosette, sampai kepada peristiwa 5 Juni 1832 saat pecahnya huru-hara revolusi yang digaungkan kaum Republikan.
Les Misérables adalah suatu cerita yang kompleks dengan banyak tokoh, namun Victor Hugo dengan amat brilian menjalin satu demi satu benang merah yang menghubungkan tokoh-tokoh tersebut. Les Misérables memberitahu kita tentang perihnya menjadi orang terbuang, kemelaratan sejati, jiwa manusia yang gundah memilih antara kebaikan atau kejahatan, sistem hukum dan keadilan yang berlaku pada masyarakat Prancis pada masa itu, belum lagi sejarah, politik, sistem sosial, dan arsitektur Prancis yang diuraikan panjang-lebar oleh sang penulis. Hugo juga tak lupa untuk memasukkan unsur spiritual dan cinta dalam karya ini, baik cinta antara pria dan wanita dan cinta kekeluargaan, serta pengampunan dan belas kasihan.
Dari awal hingga akhir, pembaca akan dibawa dalam gejolak emosi yang naik-turun: kesedihan, keputusasaan, kegundahan, kebahagiaan, dan sampai pada suatu perasaan yang begitu ilahi yang sulit untuk dijelaskan.
Betapa Jean Valjean sesungguhnya berhati malaikat. Jika ia adalah seorang mantan narapidana yang sudah dibebaskan, lalu atas dasar apa inspektur Javert memburunya untuk ditangkap kembali? Bukankah ia tak berbuat kejahatan lagi? Rasanya sentimen inilah yang melekat pada tatanan sosial di Prancis abad ke-19, bahwa sekali seseorang terjatuh dalam lembah kejahatan, maka selamanya ia tidak akan terlepas dari cap “orang berbahaya”, tanpa diberi kesempatan untuk bertobat, tanpa diberi kesempatan untuk memulai lagi hidupnya, tidak diterima dimanapun.
Terjemahan Indonesia yang diterbitkan Bentang Pustaka digarap dengan sangat apik oleh Anton Kurnia, terlepas dari banyaknya typo dan panggilan tokoh yang berbeda-beda; misalnya ada kalanya sang tokoh utama disebutkan sebagai Bapa Madeleine, Bapak Madeleine, Monsinyur Madeleine, Monsieur Walikota, dan sebagainya. Hal ini sedikit mengganggu kenikmatan membaca.
Ada banyak kalimat yang layak digarisbawahi dalam buku ini; kalimat-kalimat yang indah menyejukkan hati, yang mencerahkan, sampai yang menohok batin.
Dari Fantine, perempuan miskin yang memiliki anak hasil hubungan gelap, kita dapat belajar bagaimana rasanya terpuruk dalam kemiskinan.
Fantine yang aslinya seorang perempuan yang cantik, dengan rambut panjang tergerai dan gigi indah, memotong rambutnya panjangnya dan menjualnya, bahkan ia menjual dua gigi serinya kepada tukang gigi. Fantine yang telah menjelma menjadi perempuan gundul buruk rupa berkata, “Ayolah! Aku akan menjual apa yang masih tersisa padaku.”
Hugo juga lihai membuat baris-baris puisi cinta, seperti sepenggal puisi Marius kepada Cosette dibawah ini:
“Tatkala semesta menciut menjadi sesosok makhluk, tatkala sesosok makhluk meluas bahkan sampai menjangkau Tuhan, maka itulah cinta.
Kau yang merana karena cintamu, tetaplah mencinta. Mati dalam cinta berarti hidup bersama cinta.”
Pada akhirnya, Les Misérables memang bercerita tentang para jembel (terjemahan di halaman 291, les misérables berarti para jembel); orang-orang merana (dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi The Miserable Ones, The Wretched, The Poor Ones, The Wretched Poor, atau The Victims). Les Misérables yang ditulis Hugo semasa menjalani pengasingan di Pulau Guernsey, adalah mahakarya yang menggambarkan dan mengutuk ketidakadilan sosial di Prancis abad ke-19. Tulisan-tulisannya menjadi karya-karya sastra paling berpengaruh di Prancis dan seluruh dunia sampai sekarang. Les Misérables juga dikenal melalui banyaknya adaptasi teatrikal, drama musikal, dan film yang diangkat dari karya tersebut.
Cita-cita yang terpendam dalam hati Victor Hugo tersurat pada halaman 442 dan 483;
“Di masa depan tidak boleh ada lagi manusia yang membantai sesamanya, bumi akan menjadi terang, umat manusia akan saling mencinta. Akan tiba suatu hari ketika semuanya terasa damai, harmonis, terang benderang, menggembirakan, dan begitu hidup.”
“Mereka tak perlu lagi takut pada kelaparan, nasib yang tak menentu, pelacuran karena kemelaratan, penderitaan karena tiadanya kesempatan kerja, dan pada tiang gantungan, pada pedang, pada pertempuran, juga pada segala perampasan peluang dalam belantara kejadian. Kita hampir bisa mengatakan: tak akan ada lagi peristiwa-peristiwa seperti itu. Semua orang akan bahagia.”
Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Les Misérables.
sign in »
Quotes Melisa Liked
“To love or have loved, that is enough. Ask nothing further. There is no other pearl to be found in the dark folds of life.”
― Victor Hugo, Les Misérables
― Victor Hugo, Les Misérables
“When love has fused and mingled two beings in a sacred and angelic unity, the secret of life has been discovered so far as they are concerned; they are no longer anything more than the two boundaries of the same destiny; they are no longer anything but the two wings of the same spirit. Love, soar.”
― Victor Hugo, Les Misérables
― Victor Hugo, Les Misérables
“...Nobody knows like a woman how to say things that are both sweet and profound. Sweetness and depth, this is all of woman; this is Heaven.”
― Victor Hugo, Les Misérables
― Victor Hugo, Les Misérables
“Do you hear the people sing
Lost in the valley of the night?
It is the music of a people
Who are climbing to the light.
For the wretched of the earth
There is a flame that never dies.
Even the darkest night will end
And the sun will rise.”
― Victor Hugo, Les Misérables
Lost in the valley of the night?
It is the music of a people
Who are climbing to the light.
For the wretched of the earth
There is a flame that never dies.
Even the darkest night will end
And the sun will rise.”
― Victor Hugo, Les Misérables
“Diamonds are to be found only in the darkness of the earth, and truth in the darkness of the mind. ”
― Victor Hugo, Les Misérables
― Victor Hugo, Les Misérables
“Promise to give me a kiss on my brow when I am dead. --I shall feel it."
She dropped her head again on Marius' knees, and her eyelids closed. He thought the poor soul had departed. Eponine remained motionless. All at once, at the very moment when Marius fancied her asleep forever, she slowly opened her eyes in which appeared the sombre profundity of death, and said to him in a tone whose sweetness seemed already to proceed from another world:--
"And by the way, Monsieur Marius, I believe that I was a little bit in love with you.”
― Victor Hugo, Les Misérables
She dropped her head again on Marius' knees, and her eyelids closed. He thought the poor soul had departed. Eponine remained motionless. All at once, at the very moment when Marius fancied her asleep forever, she slowly opened her eyes in which appeared the sombre profundity of death, and said to him in a tone whose sweetness seemed already to proceed from another world:--
"And by the way, Monsieur Marius, I believe that I was a little bit in love with you.”
― Victor Hugo, Les Misérables
“You who suffer because you love, love still more. To die of love, is to live by it.”
― Victor Hugo, Les Misérables
― Victor Hugo, Les Misérables
“He never went out without a book under his arm, and he often came back with two.”
― Victor Hugo, Les Misérables
― Victor Hugo, Les Misérables
“He fell to the seat, she by his side. There were no more words. The stars were beginning to shine. How was it that the birds sing, that the snow melts, that the rose opens, that May blooms, that the dawns whitens behind the black trees on the shivering summit of the hills?
One kiss, and that was all.
Both trembled, and they looked at each other in the darkness with brilliant eyes.
They felt neither the cool night, nor the cold stone, nor the damp ground, nor the wet grass; they looked at each other, and their hearts were full of thought. They had clasped hands, without knowing it.
She did not ask him; did not even think where and how he had managed to get into the garden. It seemed so natural to her that he should be there.
From time to time Marius’ knee touched Cosette’s. A touch that thrilled.
At times, Cosette faltered out a word. Her soul trembled on her lips like a drop of dew on a flower.
Gradually, they began to talk. Overflow succeeded to silence, which is fullness. The night was serene and glorious above their heads. These two beings, pure as spirits, told each other everything, their dreams, their frenzies, their ecstasies, their chimeras, their despondencies, how they had adored each other from afar, how they had longed for each other, their despair when they had ceased to see each other. They had confided to each other in an intimacy of the ideal, which already, nothing could have increased, all that was most hidden and most mysterious in themselves. They told each other, with a candid faith in their illusions, all that love, youth and the remnant of childhood that was theirs, brought to mind. These two hearts poured themselves out to each other, so that at the end of an hour, it was the young man who had the young girl’s soul and the young girl who had the soul of the young man. They interpenetrated, they enchanted, they dazzled each other.
When they had finished, when they had told each other everything, she laid her head on his shoulder, and asked him: "What is your name?"
My name is Marius," he said. "And yours?"
My name is Cosette.”
― Victor Hugo, Les Misérables
One kiss, and that was all.
Both trembled, and they looked at each other in the darkness with brilliant eyes.
They felt neither the cool night, nor the cold stone, nor the damp ground, nor the wet grass; they looked at each other, and their hearts were full of thought. They had clasped hands, without knowing it.
She did not ask him; did not even think where and how he had managed to get into the garden. It seemed so natural to her that he should be there.
From time to time Marius’ knee touched Cosette’s. A touch that thrilled.
At times, Cosette faltered out a word. Her soul trembled on her lips like a drop of dew on a flower.
Gradually, they began to talk. Overflow succeeded to silence, which is fullness. The night was serene and glorious above their heads. These two beings, pure as spirits, told each other everything, their dreams, their frenzies, their ecstasies, their chimeras, their despondencies, how they had adored each other from afar, how they had longed for each other, their despair when they had ceased to see each other. They had confided to each other in an intimacy of the ideal, which already, nothing could have increased, all that was most hidden and most mysterious in themselves. They told each other, with a candid faith in their illusions, all that love, youth and the remnant of childhood that was theirs, brought to mind. These two hearts poured themselves out to each other, so that at the end of an hour, it was the young man who had the young girl’s soul and the young girl who had the soul of the young man. They interpenetrated, they enchanted, they dazzled each other.
When they had finished, when they had told each other everything, she laid her head on his shoulder, and asked him: "What is your name?"
My name is Marius," he said. "And yours?"
My name is Cosette.”
― Victor Hugo, Les Misérables
Reading Progress
| 01/10/2011 | page 24 |
|
4.0% | "Buku yg lumayan berbobot neh. Wish me luck!" 2 comments |
| 01/16/2011 | page 415 |
|
69.0% | "sedikiiiit lagiiiii..." |
Comments (showing 1-17 of 17) (17 new)
date
newest »
newest »
message 1:
by
Mahareni
(new)
Nov 22, 2010 04:04am
Bagus ya ni buku?Yg udh dfilmkn it kan?
reply
|
flag
*
Ak jg blm liat film+bc bukunya.Tp judul ini trkenal bgt,jd sering dgr gtu.Ntar ak tak ikut bc,kyaknya prnh liat ni buku d rental langgananku.
aku juga sedang baca buku ini, tapi versi Ingris-nya... wah sedikit bikin kening berkerut, terlalu bertele-tele, terlalu banyak sejarah.. versi Indonesianya gimana ? share ya...
Nila wrote: "aku juga sedang baca buku ini, tapi versi Ingris-nya... wah sedikit bikin kening berkerut, terlalu bertele-tele, terlalu banyak sejarah.. versi Indonesianya gimana ? share ya..."Klo buku yang udah kliatan "berat" begini aku gak berani baca versi bahasa Inggris nya deh, bisa2 keriput, hehehe.
Aku baru mulai baca, so far penuturannya lancar n enak diikuti. nanti klo udah selesai aku pasti bikin reviewnya kok :)
Hwaa... emang banyak sejarahnya, mana eyang Hugo tau banget Paris dari jalan-jalannya, jembatan, taman, sampe gorong2... #_#Terjemahannya bagus. dan endingnya.... *hiks hiks*
Hugo juga lihai membuat baris-baris puisi cinta, seperti sepenggal puisi Marius kepada Cosette dibawah ini: di versi unabridged nya ntu surat cinta marius panjang syekaleeee ;))
Yap, akhirnya selesai juga. *Fiuhhh*Wah, kudu ngecek ebook dirumah nih surat cinta nya si Marius. Klo in English kayaknya lebih berasa tu surat cinta...
Eyang Hugo emang jago ngaduk2 perasaan nih,,, *nangis bombay baca endingnya*
HappyHippo wrote: "coba periksa deh, pasti "klenger" baca surat cinta marius buat cossette ;))"kalo surat cinta sih emang bikin klenger buat orang yg dituju.
penasaran mau baca surat cinta jadul, yg bikin kang Hippo ikutan klenger :P
tapi keiknya msh lama nemunya, yg sedang sy baca si cossette masih cilik.
Melisa wrote: "Eyang Hugo emang jago ngaduk2 perasaan nih,,, *nangis bombay baca endingnya* "Valjean memang malaikat seperti yang dikatakan Marius kepada Cossette menjelang ending ceritanya :D
Nila wrote: "kalo surat cinta sih emang bikin klenger buat orang yg dituju.
penasaran mau baca surat cinta jadul, yg bikin kang Hippo ikutan klenger :P"
jadi gini, kalo dari sudut pandang laki2 mereka pasti pengen bisa nulis surat seromantis surat Marius kepada Cossette dan kalo dari sudut pandang perempuan mereka pasti ingin dapat surat seromantis surat cinta dari Marius ;))
Nila wrote: "aku juga sedang baca buku ini, tapi versi Ingris-nya... wah sedikit bikin kening berkerut, terlalu bertele-tele, terlalu banyak sejarah.. versi Indonesianya gimana ? share ya..."hiiiiiiiii aku juga mau baca yang versi inggrisnya nih, tapi kog nyari2 ga nemu ya? kalo boleh tau Nila beli dimana?
Melisa wrote: "Yap, akhirnya selesai juga. *Fiuhhh*Wah, kudu ngecek ebook dirumah nih surat cinta nya si Marius. Klo in English kayaknya lebih berasa tu surat cinta...
Eyang Hugo emang jago ngaduk2 perasaan nih..."
udah selesai baca ya?yg versi ind or inggris?
