Farah's Reviews > Putri Si Pembuat Kembang Api

Putri Si Pembuat Kembang Api by Philip Pullman
Rate this book
Clear rating

by
2112750
's review
Sep 21, 10

bookshelves: children, fiction, reviewed
Read in September, 2010

Bakat - Keberanian - Nasib baik.

"Aku ingin menjadi pembuat kembang api," Lila berhasil berkata.
Razvani tertawa keras sekali.
"Kau? Tidak mungkin! Dan apa yang kauinginkan dariku?"
"Sulfur Bangsawan," jawab Lila tersedak.

Mendengar itu Razvani menepuk sisi tubuhnya sendiri dan tertawa semakin keras, lalu seruan mengejek dan pekukan girang terdengar dari semua setan api.
"Sulfur Bangsawan? Kalian dengar itu? Oh, hebat! Lucu sekali! Nah, bicaralah, Nak: apakah kau memiliki Tiga Bekal?"
Lila hanya bisa mengangkat bahu dan menggeleng. Ia hampir tidak bisa bicara.
"Aku tidak tahu apa itu," katanya.
"Jadi apa yang akan kautukar dengan Sulfur Bangsawan?" Razvani bertanya menggelegar.
"Aku tidak tahu!"
"Kau takkan memberi apa pun untuk ditukarkan?"
"Baiklah, aku akan bercerita kepadamu. Aku harap cerita ini cukup berharga bagimu untuk ditukar dengan Sulfur Bangsawan. Nah, dengarkanlah ceritaku ini wahai Razvani."
Razvani duduk diam di singgasananya. Siap mendengarkan. Ia ingin tahu, cerita seperti apa yang sepadan dengan Sulfur Bangsawan.
Lila mulai bercerita,

"Alkisah, pada jaman dahulu kala, tersebutlah dua butir telur puyuh berbintik hitam dan berbintik cokelat. Kedua butir telur puyuh itu tertidur meringkuk dengan nyaman dibawah eraman hangat sang induk burung puyuh betina, di dalam sarang mereka, di balik semak-semak bunga soka.

Setiap pagi sebelum mencari makan, burung puyuh jantan selalu mematuk sayang kening induk burung puyuh. Setelah itu pergi mencari makanan. Terkadang ia membawa pulang seekor cacing, atau beberapa butir biji-biji beras yang tercecer di halaman rumah pak tani, tak jarang pula ia membawa pulang seekor serangga yang cukup besar untuk dimakan berdua. Begitu cintanya burung puyuh jantan kepada pasangannya yang dengan sabar mengerami buah cinta mereka tanpa lelah, sehingga burung puyuh jantan merasa ia rela mati demi keluarganya.

Tapi rupanya takdir mempermainkan mereka.
Pak tani mengalami rugi besar tahun ini. Panennya gagal karena sawahnya terkena banjir. Keluarga pak tani mulai menderita kelaparan dan kerugian besar. Satu persatu hewan peliharaan mereka dijual. Beberapa ekor disembelih dan dagingnya disimpan hemat-hemat oleh istri pak tani.

Hingga suatu hari, yang tersisa hanyalah segenggam gabah yang belum digiling, dan sepasang burung puyuh. Pak tani memandangi gabah di dalam genggamannya dengan sedih. Anak-anaknya di rumah menangis karena lapar. Sedangkan istrinya mulai sakit-sakitan. Sepanci bubur terakhir yang mereka santap bersama kubis telah habis dua hari yang lalu. Dengan berat hati, Pak tani menyembelih burung puyuh jantan, dan memasaknya bersama bubur untuk dimakan bersama keluarganya malam ini.

Hari mulai gelap. Angin dingin berhembus meniup semak-semak bunga soka hingga bergetar. Induk burung puyuh merapatkan eramannya. Belahan jiwanya belum kembali ke sarang mereka. Dimana gerangan ia berada?

Matahari mulai bersinar. Induk burung puyuh menitikkan air mata. Tidak pernah seumur hidupnya ia merasa begitu sendirian. Tidak pernah selama ini, burung puyuh jantan membiarkannya menunggu begitu lama.

Pak tani membelai burung puyuh ditangannya dengan penuh kasih sayang. Sorot matanya berduka, penuh permohonan maaf. Langit bergemuruh, angin dingin berhembus. Hujan mulai turun malam ini. Udara diluar begitu dingin. Dan malam ini, keluarga Pak tani makan daging burung puyuh lagi.

Telur berbintik hitam mengerjapkan matanya. Seluruh cangkangnya bergetar kedinginan. Sarangnya mulai digenangi air. Ia memiringkan tubuhnya, membentur perlahan cangkang saudaranya. Merasakan setiap benturan cangkang saudaranya, telur berbintik cokelat. Kedua butir telur kedinginan. Bertanya-tanya kemana kehangatan yang biasa melindungi mereka? Kemana perginya rasa nyaman yang biasa menyelimuti? Apa ini namanya, perasaan yang membuncah, mengalir di seluruh permukaan cangkangnya yang berbintik? Ia ingin memberikan kehangatan kepada telur yang lainnya, tapi tak memiliki daya untuk merengkuhnya. Mengapa?

Perlahan tapi pasti, air mulai menyusup melalui pori-pori. Degup jantung makhluk yang masih meringkuk di dalam lindungannya perlahan melemah. Sampai akhirnya hilang sama sekali.

Mereka tenggelam. Hujan malam itu deras sekali. Banjir setinggi mata kaki orang dewasa menggenangi rumah pak tani. Dan semak-semak bunga soka di halaman depannya.

Telur-telur itu tidak akan pernah bisa menetas. Namun ternyata, tak perlu terbangun dari tidur untuk merasakan cinta. Setiap kehangatan yang dialirkan induk telur puyuh, meresap kedalam ingatan mereka. Dan itulah yang ingin mereka sampaikan bahkan hingga di saat-saat terakhirnya."


Lila menyelesaikan ceritanya.
Razvani berdeham, dan mengusap matanya dengar gerakan cepat.
"Ah, debu-debu api ini, selalu membuat mataku berair di saat-saat yang tidak tepat."
Lila berdiri mematung. Ia menunggu. Jantungnya berdegup begitu kencang seakan-akan terdengar bunyi dentam yang bertalu-talu. Dug dug dug dug

"Cerita yang sungguh mengharukan, Lila," Razvani berkata kepadanya.
"Dan.. Sulfur Bangsawan-nya?" tanya Lila.
"Ah.. itu lagi. Semua itu hanya ilusi, Lila. Kenapa sih kalian manusia mudah sekali tertipu dengan hal-hal semacam itu?" Razvani menyilangkan kaki dan meniup ujung kukunya. Ia membersihkan ujung jarinya dengan ujung kain yang menjuntai dari jubahnya.
"Ilusi? Aku tidak mengerti!"
"Ilusi! Sama seperti ceritamu yang tidak masuk akal itu!"
"Apa maksudmu?" Lila menatap Razvani dengan berang.

"Pertama, pohon soka tidak berbentuk semak-semak, anak bodoh. Pohon adalah pohon. Batangnya mungkin tidak tinggi, tapi juga tidak serendah semak-semak. Kemudian, apa itu 'mematuk sayang'? Kamu terlalu banyak mainan Twitter dan bergaul dengan penjahat-penjahat hashtags! Dan kening?!? Sejak kapan burung memiliki kening?!? Sungguh aku emosi jiwa mendengarnya.
Walaupun aku tahu, ya ya, telur memang memiliki pori-pori karena itu tidak boleh direndam terlalu lama di dalam air saat dicuci. Dan telur tidak boleh dicuci dengan sabun. Dan cangkangnya tidak boleh digosok terlalu keras karena akan menghilangkan lapisan luarnya dan memengaruhi kesegaran telur. Pasti ibumu yang mengatakan hal itu kepadamu.
Dan aku mengakui, ceritamu menyentuh hati. Kepandaianmu dalam merangkai kata untuk memainkan emosi pembaca. Tapi semua itu tidak akan berarti tanpa fakta, Lila. FAKTA!
Dan tidak ada yang namanya Tiga Bekal. Pertama, kamu mungkin memiliki bakat. Kedua, kamu memiliki tekad, keberanian, atau apalah itu untuk merusak cerita dari buku yang telah menerima penghargaan Gold Medal Smarties Prize. Tapi kamu tidak memiliki yang ketiga. Nasib baik. Tak ada orang yang akan membaca ceritamu. Ceritamu ini tidak akan membawamu kemanapun. Cerita ini tidak berguna, Lila. Dan kamu, kamu tidak bisa kemana-mana. Kamu akan mati kering di dalam gua ini. Terima saja hal itu. Hahaha. Semua itu hanya ILUSI. Hahahahahaha"

Lila memicingkan matanya dengan geram. Tawa Razvani masih menggema. Kemudian ia berkata, "sama seperti kesombonganmu saat ini, Razvani. Semua hanya ilusi."
"Apa maksudmu?" Razvani menghentikan tawanya.
"Yah, Sulfur Bangsawan, Tiga Bekal, cerita sedih tentang telur burung puyuh, semua hanya ilusi. Aku ilusi. Kau pun ilusi. Dan tidak lama lagi, semua rahasia ini akan terungkap. Seluruh dunia akan mengetahuinya. Tawa sombongmu itu tidak akan terdengar lagi, Razvani."
"Apa maksudmu?" wajah Razvani memucat.
"Sepersekian detik lagi, ia akan menekan tombol save review . Dan dengan segera, cerita kita berdua akan dipublish di halaman Goodreadsnya. Orang-orang akan membaca, Razvani. Membaca seluruh rahasiamu yang hanya ilusi itu. Mereka akan tahu. Kau sudah tamat, Razvani."
"TIDAAAAAAAKKKKK"

Lila melenggang keluar dari gua. Hamlet dan Chupak sudah menunggunya disana. Ia berbalik sebentar, dan mengirim senyum manisnya kepada sang penulis review.
15 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Putri Si Pembuat Kembang Api.
sign in »

Comments (showing 1-24 of 24) (24 new)

dateDown_arrow    newest »

message 1: by Iyut (new) - added it

Iyut *keplok-keplok* huahahahaha.. faraaaaaaaaaaaah *peluk-peluk*


Farah Iyut wrote: "*keplok-keplok* huahahahaha.. faraaaaaaaaaaaah *peluk-peluk*"

Iyaaaahh..? *pasang tampang lugu*


message 3: by Iyut (new) - added it

Iyut lagi pengen meluk ajah *lebih lugu*


Farah XD banyak banget buku yang ngantri mau di review. tapi kayaknya otak lagi macet nih *minum Gibolan*


Harun Harahap Kok Gibolan? Bukannya Entrostop?

*lugu*


Sweetdhee mangtabs!!!


Farah Harun Harahap wrote: "Kok Gibolan? Bukannya Entrostop?
*lugu*"


lugu.. cenderung bolot gitu.
Entrostop buat diare kali. Makanya bergaul dong ama suster di klinik sekolah *lah* *apa deh*


Farah Sweetdhee wrote: "mangtabs!!!"
Ooowww terima kasiiiii *ciyum* *ampe berbekas*


message 9: by an (new) - rated it 2 stars

an ngakak ga habis pikir :D

-tekan tombol post comment-


Farah sha wrote: "ngakak ga habis pikir :D
-tekan tombol post comment-"


kenapa ga habis pikir? pasti karena reviewnya ngga nyambung ama ceritanya ya? hahahahaha XD XD~


message 11: by an (new) - rated it 2 stars

an Farah wrote: "kenapa ga habis pikir? pasti karena reviewnya ngga nyambung ama ceritanya ya? hahahahaha XD XD~"

ide na ada aja, telur tidur meringkuk? ngebayangin aja dah bikin ngakak :))


message 12: by Speakercoret (new)

Speakercoret Farah wrote: "Sweetdhee wrote: "mangtabs!!!"
Ooowww terima kasiiiii *ciyum* *ampe berbekas*"


awas.... ada yg suka kalap kalo denger kata2 ciyum :p


message 13: by Iyut (new) - added it

Iyut Speakercoret wrote: "Farah wrote: "Sweetdhee wrote: "mangtabs!!!"
Ooowww terima kasiiiii *ciyum* *ampe berbekas*"

awas.... ada yg suka kalap kalo denger kata2 ciyum :p"


yang suka kalap lagi sibuk TP-TP di skype ke yang empunya repiu :D


Sweetdhee suit-suit..
ada yang tepe-tepe..
*ngelap bekas ciuman farah pake lap pel*
gigigi


ayu-si-peri-kecil yudha huahaha... dasar farah, bener2 deh review-nya..


message 16: by erry (new)

erry reviewnya kereaan...


Farah XD yah ga sempet lama2 tadi di skype. lagi sibuuukk *sekarang pun lagi kabur sebentar dari kelas hahaha* *dipelototin kepala sekolah* *seyem*
Maaf ya, kalo reviewnya ngga nyambung sama cerita.
padahal awalnya pengen ngebahas medalnya tuh


message 18: by Mery (new) - rated it 4 stars

Mery huahahaha ngakak....
kaupun cuma ilusi Farah, ILUSI! :D
*kibasrambut*


Harun Harahap Farah cuma ilusi???atapilo gw delusi selama 10 tahun..

*siap2 buat ruwatan*


message 20: by Mery (new) - rated it 4 stars

Mery Harun Harahap wrote: "Farah cuma ilusi???atapilo gw delusi selama 10 tahun..

*siap2 buat ruwatan*"


coba baca ayat kursi kak. itu beneran ada atau gak hahahahaha


Farah M o m o wrote: "huahahaha ngakak....
kaupun cuma ilusi Farah, ILUSI! :D
*kibasrambut*"


aku suka gaya kamu.. *pake kacamata item*


Farah Harun Harahap wrote: "Farah cuma ilusi???atapilo gw delusi selama 10 tahun..*"

Elo juga ilusi Run.. tugas2 kuliah lo, dosen2 lo, SKRIPSI lo. itu semua hanya ilusi! ILUSI!
*melenggang*


Farah M o m o wrote: "coba baca ayat kursi kak. itu beneran ada atau gak hahahahaha"

*ulek bareng bumbu pecel*



Farah Amang wrote: "asli keren abits..."

Huwow! Ada mas Amang ngasih komen! Hahaha makasiiihh… padahal itu review kemana, buku kemana. Ngga nyambung.. XD~


back to top