Puguh's Reviews > Selimut Debu

Selimut Debu by Agustinus Wibowo
Rate this book
Clear rating

by
170506
's review
Sep 18, 10


Selalu ada jarak antara berita dan realita. Boleh saja seorang reporter memberikan laporan langsung sambil merendam dirinya didalam air ditengah hujan untuk meyakinkan pemirsanya tentang pengalaman tangan pertama musim banjir, tetap saja ada jarak dengan apa yang dialami dan dirasakan oleh warga yang rumahnya terkena banjir.

Demikian juga jarak antara Berita dan Agus Weng. Buku Selimut Debu ini adalah tentang perjalanan Agus Weng yang ingin memperkecil jarak antara berita dan realita Afganistan.

Jauh sebelum masehi sampai abad pertengahan para penakluk dan penjelajah besar; mulai dari Alexander Agung, Marco Polo, Jengis Khan, dan tokoh sekte-sekte dalam Islam, sampai para pedangan Jalur Sutra, sudah malang melintang di tanah yang sekarang menjadi Afganistan.

Tentang Afganistan
Dibagian tertentu pesta berjalan terus bagi mereka yang ingin melupakan beratnya penugasan di Kabul. Mereka adalah pekerja-pekerja badan dunia, individu yang mungkin secara financial paling diuntungkan dengan adanya perang di Afganistan.

Ada dari mereka yang benar-benar datang atas panggilan kemanusiaan, ada yang datang karena ingin sesuatu yang bersinar dalam daftar riwayat pekerjaan mereka. Program-program diciptakan, konsultan didatangkan, yang terkadang tanpa mempertimbangkan kebijaksanaan lokal.

Ketika patung Budha di Bamiyan dihancurkan oleh Taliban, banyak orang yang mengutuk tindakan tersebut sebagai sebuah tindakan tak beradab. Dari sisi Taliban, selain tidak sesuai dengan pengertian mereka terhadap kepercayaannya, mereka juga muak ketika manusia masih disibukkan dengan upaya bertahan hidup, orang asing malah datang ke tanah mereka dan sibuk mengurusi benda mati.

Bagi perempuan yang melakukan perjalanan, umumnya yang menjadi perhatian utama adalah keselamatan dari gangguan yang bersifat susila. Di Afganistan, sebaliknya kaum lelakilah yang perlu waspada untuk tidak memberi sinyal yang salah kepada sejenis. Homoseksualitas adalah sesuatu yang bisa diterima secara budaya. Saat Taliban berkuasa mereka memberi hukuman yang berat bagi yang melakukan praktek ini.

Parallel dengan Indonesia
Buku ini menjadi reflektif ketika berbicara tentang bagaimana rakyat Afganistan dengan berbagai kesulitan hidupnya memandang negara tetangganya Iran atau Tajikistan yang hanya diseberang sungai. Walaupun ketika mereka berhasil melampaui perbatasan seringkali mendapat perlakuan yang tidak layak dari sang tuan rumah yang sebenarnya saudara ‘serumpun’.

Dalam buku ini secara perlahan kita diberi cermin tentang pertanyaan arti sebuah ‘Bangsa’ Pertanyaan tentang arti sebuah bangsa, persatuan.

“Tidak salah memang, diantara kelima komponen kebangsaan- wilayah, negara, bahasa, kebudayaan, dan sejarah-bahasa adalah unsure terkuat pembentuk identitas. Bahasa, alat terpenting komunikasi antara manusia, adalah senjata paling ampuh untuk mempersatukan atau memecah belah sebuah bangsa. Komunitas imajinasi dapat diciptakan dengan bahasa, dimana para warga bangsa dipersatukan dengan warga bangsa lainnya yang berbeda kultur dan etnik, dan bahkan sama sekali tidak pernah mereka temui, kenal, atau bayangkan”(hal 222)

Bahasa punya kekuatan magis. Mampu menciptakan dimensi ruang, waktu, dan imaji bagi setiap pemakainya. Sebuah ikatan kebangsaan, yang wujudnya melayang-layang dikeliling garis batas Negara, tercipta dalam alam pikir semua manusia yang hidup dalam teritorinya.(hal xxx)

Formating dan Penulis
Dengan lincah, Agus Weng mampu menangkap kejadian masa kini, masa lalu, dan menarik benang merahnya. Tentu hal ini hanya bisa dilakukan jika si penulis melakukan studi yang cukup.

Buku ini cukup berat untuk dibaca mengingat alurnya yang linier. Mungkin karena penulis terbiasa menulis kolom. Di beberapa tempat memang diberikan ilustrasi sketsa peta, namun buat orang yang visual seperti saya, perlu beberapa kali kembali ke halaman peta untuk dapat membayangkan alur perjalanannya.

Bahasa, suku, dan sekte, ditengah buruknya fasilitas umum akibat perang berkepanjangan, telah membentuk sekat-sekat imajiner diantara warga Afganistan.

Adalah satu yang mampu menembus sekat-sekat itu: Selimut Debu.
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Selimut Debu.
sign in »

No comments have been added yet.