Ikra Amesta's Reviews > Love In The Time Of Cholera

Love In The Time Of Cholera by Gabriel Garcí­a Márquez
Rate this book
Clear rating

by
2561971
's review
Oct 04, 10

bookshelves: nobel-prize-laureates

Jelaskan pada saya tentang cinta. Jika pertanyaan ini saya lontarkan pada 50 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, maka bukan tidak mungkin saya akan mendapatkan 50 jawaban yang berbeda, dan kesemuanya benar, atau setidaknya dapat dibenarkan. Tapi bagaimana kalau menjelaskan tentang orang yang sedang jatuh cinta, anak muda yang dimabuk kepayang sampai semabuk-mabuknya, yang akal sehatnya ditukar dengan proyeksi romantis yang ia ciptakan sendiri terhadap lawan jenisnya— pernyataan apa yang bisa menjelaskan fenomena tersebut? Apakah istilah “Love is Blind” masih cukup relevan untuk mewakili bagian dari kegilaan yang di salah satu sisi humanisme-nya mencerminkan perilaku manusia yang, katakanlah, irelevan?

Ketika selesai membaca karya Gabriel Garcia Marquez, Love in the Time of Cholera, saya memikirkan sebuah kata atau kalimat yang dapat mewakili novel ini dan kata yang berhasil saya tangkap adalah “menunggu”, sebuah kata yang pada prakteknya merupakan aktivitas yang tidak saja membosankan tapi juga penuh resiko. Namun saya tidak dapat mengenyampingkan keunikan dari menunggu di mana walaupun tidak terlalu banyak gerak atau otot-otot yang dipakai untuk melakukannya —kita bahkan dapat menyimbolkan menunggu dengan duduk di kursi malas seharian— tapi pergolakan batin yang terjadi di dalam diri manusia yang menunggu adalah paduan yang ramai antara harapan, rasionalitas, perencanaan, manajemen resiko, doa, dan yang paling mendebarkan, permainan logika yang menempatkan subjek dalam persimpangan antara bertindak atau tetap lanjut menunggu.

Florentino Ariza memiliki angan-angan muluk sejak cintanya ditolak oleh Fermina Daza dan ditinggal nikah olehnya, bahwa suatu saat ia akan mengambil hati pujaannya itu dan satu-satunya jalan yang ia percaya adalah menanti suaminya meninggal dunia. Inilah sebuah pernyataan yang menyiratkan makna menunggu yangsaya sebutkan sebelumnya yang selain menyimpan gabungan antara mimpi dan probabilitas, juga menyelipkan kepasrahan yang mengiba. Florentino adalah kisah tentang ketetapan hati, kalau tidak mau disebut sebagai ratapan tak berujung, yang benihnya lahir dari pandangan pertama dan menyiksa dia sepanjang hidup. Sebuah hal yang absurd mengingat Florentino sendiri tidak pernah punya cukup bukti bahwa hidupnya akan diliputi kebahagiaan seandainya ia bisa bersama Fermina tapi sekali lagi, dia adalah orang yang sedang jatuh cinta. Dan ini membuat kisahnya menjadi semacam perjuangan cinta sejati ketimbang keputus-asaan yang berlebihan.

Bicara tentang cinta sejati saya teringat potongan lirik lagu John Lennon berjudul Real Love yang bunyinya: From this moment on I know/ Exactly where my life will go/ Seems that all I really was doing/ Was waiting for love. Lagi-lagi memang dikaitkan dengan menunggu (atau untuk referensi lain, Radiohead juga menciptakan lagu yang berjudul True Love Waits, yang lagi-lagi mengaitkan keduanya dalam satu konsep). Mungkin memang demikianlah adanya sebuah cinta sejati, lahir dari proses menunggu, bukan dari pencarian kesana-kemari.

Cinta sejati memang bukan perkara yang mudah untuk dijabarkan tapi ada potongan gambaran yang mungkin akan sedikit membantu dari kepingan cerita Florentino di dalam buku: Pada masa-masa ditinggalkan itu, Florentino menjalani hidupnya dengan beberapa wanita yang datang dan pergi di mana ia hanya mampu mengenang kisah tersebut sebagai bentuk dari pengalaman aktivitas seksual seorang laki-laki dewasa. Rasa cintanya terhadap Fermina tidak pernah lekang di hatinya. Sampai akhirnya, kira-kira 53 tahun kemudian, ketika ia sampai pada tahap melanjutkan kisah cintanya dengan Fermina di kesempatan yang telah ia dambakan (saat suaminya meninggal), ia telah tumbuh sebagai seorang kakek yang fungsi serta hasrat seksualnya telah habis dimakan waktu. Ia tak mampu menyetubuhi Fermina. Ironis, namun manis, karena saya teringat oleh kutipan Milan Kundera dalam bukunya The Unbearable Lightness of Being, bahwa “Cinta tidak membuahkan keinginan untuk bersetubuh, tetapi keinginan untuk berbagi tidur.”

Lalu kalau begitu bagaimana dengan cinta sejati? Adakah yang bisa menjelaskannya? Bila saya lontarkan pertanyaan tersebut pada 50 orang, mungkin sebagian besar tidak ada yang tahu jawabannya ataupun jika memang ada yang tahu, mereka akan lebih memilih diam hanya untuk beberapa saat mengenangnya kembali di dalam hati sambil perlahan-lahan tersenyum sendiri.
11 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Love In The Time Of Cholera.
sign in »

Comments (showing 1-32 of 32) (32 new)

dateDown_arrow    newest »

message 1: by Roos (new)

Roos Nice review, Ikra!


Ikra Amesta Terima kasih, mungkin karena bukunya juga memang bagus untuk dibaca dan ditelaah lebih lanjut tentang manusia dan segala sikapnya.


 Δx Δp ≥ ½ ħ belom baca yg inih mah. kalo pelemnya sih dah nonton berkali2 :D


Ikra Amesta Memang tidak sehebat gaya magis realis-nya "One Hundred Years of Solitude", bahkan bisa disebut kalo novel ini bukan magis realis sama sekali, tapi tetap saja sentuhan gaya bertutur Garcia Marquez yang khas mampu menghibur pembaca lewat daya imajinasinya yang luar biasa itu.


miaaa reviewnya asik :D

sudah baca yg my melancholy whore ikra? itu juga bagus :D btw aku malah blum baca 100 years in solitude hahaha


Ikra Amesta Wah belum, ini buku kedua Garcia Marquez yang saya baca, saya tertarik untuk baca bukunya yang lain.

Terima kasih yaa :)


miaaa kapan-kapan baca bareng buku gabo yuk :D


Ikra Amesta boleh-boleh tuh, hehe


 Δx Δp ≥ ½ ħ saia bru baca Marquez dua buku. yg 100 Tahun ma yg jendral ngungsi itu. tapi yg buku ini disebut2 sbg buku Marquez kedua terbaik kan?


miaaa semua buku gabo buatku terbaik, jelas itu personal sekali hahaha


message 11: by Ikra (new) - rated it 4 stars

Ikra Amesta ★ Δx Δp ≥ ½ ħ ★ wrote: "saia bru baca Marquez dua buku. yg 100 Tahun ma yg jendral ngungsi itu. tapi yg buku ini disebut2 sbg buku Marquez kedua terbaik kan?"

iya memang konon kabarnya begitu


message 12: by Leli (new)

Leli vote utk (niat) melontarkan pertanyaan ke 50 orang.
periset cinta ya? :D


message 13: by Ikra (new) - rated it 4 stars

Ikra Amesta Hahaha bukan koo, bukan sama sekali, cuma metafora aja


miaaa bener juga gpp sih ikra :D
ntar kasi tahu hasilnya yah hahaha


 Δx Δp ≥ ½ ħ tuh Ikra, da dua responden yg dah bersedia :P


miaaa baca kalimatku di atas lad, tiga kali kalo perlu :))
*getok*


 Δx Δp ≥ ½ ħ gak usah malu gituh, Per. gpp kali jd responder. itung2 amal :D

ingat, ituh kolom nama dan biodata diisi dg benar :P

ngacir.com


message 18: by Nanny (new)

Nanny SA Lalu kalau begitu bagaimana dengan cinta sejati? Adakah yang bisa menjelaskannya? Bila saya lontarkan pertanyaan tersebut pada 50 orang, mungkin sebagian besar tidak ada yang tahu jawabannya ataupun jika memang ada yang tahu, mereka akan lebih memilih diam hanya untuk beberapa saat mengenangnya kembali di dalam hati sambil perlahan-lahan tersenyum sendir

ikut senyum2 sendiri..


message 19: by indri (new) - added it

indri reviewnya keren. dan cerita cinta yang absurd gw suka.. nice recommendation!


message 20: by indri (new) - added it

indri oh, cinta sejati adalah mencintai itu sendiri. bukan tujuan yang dicari, tapi proses mencintainya yang penting..
(ketua klub urun rembuk)


message 21: by Ikra (new) - rated it 4 stars

Ikra Amesta Wah emangnya pada bersedia apa diriset ttg kehidupan percintaannya masing-masing? ga papa nih dikorek-korek? hehe


 Δx Δp ≥ ½ ħ tuh Kang, nambah lagi dua responden *grin*


message 23: by indri (new) - added it

indri ahaha, ikra, udah pernah koq pada beberin soal first love di www.goodreads.com/review/show/96833038 check there..
coba topik2nya yang mo dikorek soal apanya nih..
eeh, elo hobi amat ngeriset, skalian kuisionernya ya hihi..


 Δx Δp ≥ ½ ħ eh Squid, dah dibaca ebooknya? mana ripiyunya!!! XD


message 25: by Thesunan (new)

Thesunan repiunya mantab bener...


message 26: by Ikra (new) - rated it 4 stars

Ikra Amesta hatur nuhun kang


message 27: by indri (new) - added it

indri ★ Δx Δp ≥ ½ ħ ★ wrote: "eh Squid, dah dibaca ebooknya? mana ripiyunya!!! XD"

eh, belum Qui, belum didonlot, kan wiken kmaren saya sakit.. lagian ripiunya restricted buat anak kecil kayak kamu


 Δx Δp ≥ ½ ħ kan ripiyunya bisa dikasih spoiler :D


message 29: by Ikra (new) - rated it 4 stars

Ikra Amesta Hmm penasaran nih, kira2 ebook apa yang sedang mereka bahas ya?


 Δx Δp ≥ ½ ħ ahahaha... bahaya Kang. ebook terlarang :P


message 31: by Nanny (new)

Nanny SA ebook yg 'menghebohkan' itu ya Qui :)


back to top