Bunga Mawar's Reviews > Greyfriars Bobby

Greyfriars Bobby by Eleanor Atkinson
Rate this book
Clear rating

by
1007892
's review
Aug 30, 2010

really liked it
bookshelves: classics-world, it-s-mine, translated-into-indonesian
Read from August 27 to 28, 2010

** spoiler alert ** Peringatan buat calon pembaca buku ini, dan kebetulan sering memberi rating atas buku2 nyaris mirip dengan rating yang saya berikan atas buku yang sama: siapkan sapu tangan atau kertas tisu yang banyak.

Berapa kali saya dibuat menangis oleh sebuah buku, lumayan sering terjadi. Sebab saya termasuk cengeng, gampang nangis. Terakhir, selain buku The Miraculous Journey of Edward Tulane, saat membaca bagian menjelang akhir hayat Ibu Sudalmiyah Rais dalam Menapak Jejak Amien Rais, saya begitu terharu dan berpikir alangkah kecil dan tidak berartinya hidup kita ini, bahkan bisa dibilang percuma, jika karunia hidup yang diberikan Allah SWT dijalani tanpa mengingat-Nya ataupun memberi kebaikan dan manfaat bagi banyak orang.

Dan... berapa kali saya dibuat menangis oleh buku tentang Bobby si anjing terrier kecil di pemakaman Greyfriars ini? Berkali-kali. 5? 6? 10? Entah. Padahal saat pertama kali tenggorokan saya terasa sesak, hidung mulai mampet, dan mata terasa panas, buku ini belum sampai pada seperempat bagian awalnya.

Bisa jadi cerita ini kalau dilihat dari keadaan masa sekarang begitu berlebihan. Nggak masuk akal. Seekor anjing muda begitu setia pada kakek tua yang sudah dikubur, selama empat belas tahun tiap malam hanya mau tidur di makam sang kakek? Lebay banget. Nggak percayaaa... Jangan2 di era komodifikasi hal2 aneh ini, si anjing bisa dianggap jejadian. Jelmaan makhluk dunia lain. Lalu disinetronkan dengan efek pembesaran badan, ekor tombak dan lidah api... hiii... amit2! Atau kalau pun si anjing dianggap mamalia biasa, dan memang menginap di kuburan majikannya, cerita ini hanya akan terdengar sesaat, lalu terlupakan di tengah kabar kebakaran, penyelundupan, pelanggaran batas laut oleh negeri jiran, atau perampokan bersenpi yang kian mengganas.

Untungnya, setting cerita ini adalah Edinburgh di Skotlandia, abad ke-19. Suatu zaman di mana nilai kebaikan dan martabat manusia kadang dikalahkan oleh norma sosial. Kalangan kelas atas punya aturan dan kedudukan yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh rakyat jelata. Maka ketika penggembala miskin Auld Jock yang sebatang kara meninggal dunia, pemakamannya di makam mewah Greyfriars sempat dianggap tak tahu diri. Namun Bobby, anjing kecil yang paling setia menemani tahun2 terakhir Auld Jock, tidak peduli. Dia hanya merasa mendianglah orang yang paling mencintainya, juga paling dicintainya. Karenanya, dengan segala cara dia bertahan untuk bisa mendampingi Auld Hock yang sudah berselimut tanah. Selama belasan tahun.

Apa lagi yang bisa saya ceritakan dari buku ini? Sebenarnya ceritanya biasa, dengan pesan moral yang biasa pula, yaitu jika binatang saja bisa mengerti kebaikan manusia terhadapnya, lalu kemudian membalasnya, harusnya sesama manusia pun bisa saling memahami dan menghormati. Gaya berceritanya menggunakan bahasa yang biasa juga, tidak berbunga2... dan sukses membuat saya terisak. Belum lagi deskripsi yang kuat tentang daerah dan penokohan, membuat saya seperti membaca karya Dickens dengan setting yang lebih modern. Ada gambaran tentang kaum miskin yang tinggal berdesak-desak di rumah susun kumuh, anak2 kelas bawah yang kemudian ditolong oleh kalangan menengah atas yang baik budi, juga agen polisi yang agak arogan lalu kena batunya.

Demikianlah. Ingat lagi, siapkan saputangan dekat2 saat membaca buku ini...


3 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Greyfriars Bobby.
Sign In »

Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)

dateDown arrow    newest »

Mia Prasetya Pas baru buka sampulnya, langsung siap-siap tissue deh :) Agak mirip sama hachiko ya ceritanya...


Bunga Mawar Udah mulai baca, mia? Iya... siap2 saputangan deh... sayang hutan... :)


back to top