Uci 's Reviews > The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society
The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society
by Mary Ann Shaffer, Annie Barrows
by Mary Ann Shaffer, Annie Barrows
War. Books. Letters. Friendship. Love.
WAR
Tahun 1946, London hancur lebur oleh perang. Penduduknya muram dan getir, semuram dan sekelabu kota mereka. Beberapa mil dari sana, pulau kecil Guernsey yang indah tengah kembali menata hidup setelah lima tahun berada di bawah okupasi Jerman/Nazi.
BOOKS
Di antara kesuraman itu, ada satu hal yang membuat sebagian orang sanggup bertahan. Buku. Perpustakaan yang hancur di London dan ketiadaan kontak dengan dunia luar di Guernsey, membuat buku menjadi barang mewah yang disayang-sayang. Saya membayangkan toko buku sederhana yang temaram, berisi buku-buku bekas dari berbagai periode. Toko buku yang ketika kita memasukinya, kita tidak tahu harta karun apa yang akan kita temukan di dalam sana. Toko buku yang personal, yang pemiliknya dengan senang hati mencarikan buku yang kita idam-idamkan, lalu setelah dapat mengirimkannya kepada kita tanpa meminta bayaran. Sebagai hadiah bagi seorang pencinta buku.
Buku menyelamatkan hidup sebagian orang di Guernsey, yang di antara kelaparan dan penderitaan sebagai tawanan Nazi, menemukan pelarian lewat buku.
LETTERS
Saya tidak ingat kapan terakhir kali menulis surat. Surat sungguhan, ditulis tangan dan dikirim lewat pos. Surat yang membuat bungah setiap kali pak pos datang.
Antara Guernsey dan London, surat menjadi penghubung antara Juliet Ashton sang penulis buku dan para anggota Guernsey Literary and Potato Peel Society. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal, namun dipertemukan oleh buku dan dipersatukan oleh surat.
FRIENDSHIP
Tak peduli sekelam apa hidupmu, saat ada seseorang di sampingmu yang akan selalu menggandeng tanganmu dan tertawa bersamamu, hidup akan terasa jauuh lebih mudah. Di tengah perang, di bawah penindasan, di kejamnya kamp nazi, benih pertemanan ternyata tetap tumbuh dan bersemi. Membuat manusia-manusia di dalamnya tetap percaya bahwa hidup itu indah.
LOVE
Cinta tak mengenal kasta, kelas sosial, ras, maupun jarak dan waktu. Antara Guernsey yang tradisional dan London yang modern, antara tentara Nazi yang ditakuti dan gadis Inggris yang pemberani, antara wanita lajang yang mandiri dan anak perempuan yang keras hati, cinta menjelma dan mendamaikan hidup mereka. Walaupun tak semuanya abadi namun selalu tersimpan dalam hati.
GUERNSEY LITERARY AND POTATO PEEL SOCIETY
Buku sederhana yang layak dibaca saat ingin menikmati keindahan hidup. Format surat-menyurat yang digunakan penulis memberi sentuhan unik, walaupun beberapa kali saya dibuat keheranan dengan surat-surat pendek yang bolak-balik antara Juliet dan Mark. Hanya dalam hitungan menit/jam? Bagaimana caranya? Kenapa tidak pakai telepon saja?
Melewati setengah buku, saya juga agak terganggu dengan karakter tokoh-tokohnya yang...kok baik-baik banget ya? Kok gaya bicara dan kepribadiannya mirip-mirip ya? Kok bisa satu kelompok baca kecil di pulau kecil punya anggota yang karakternya begitu beragam sehingga sempurna untuk diangkat ke dalam buku. Seperti membaca cerita-cerita klasik itu lho, penggambaran karakter yang digunakan penulis mirip-mirip seperti itu. So Jane Austen...CMIIW
Tapi tetap saja, menurut saya para pencinta drama akan sulit untuk tidak menyukai buku ini...
Thanks Mia Queen... :)
WAR
Tahun 1946, London hancur lebur oleh perang. Penduduknya muram dan getir, semuram dan sekelabu kota mereka. Beberapa mil dari sana, pulau kecil Guernsey yang indah tengah kembali menata hidup setelah lima tahun berada di bawah okupasi Jerman/Nazi.
BOOKS
Di antara kesuraman itu, ada satu hal yang membuat sebagian orang sanggup bertahan. Buku. Perpustakaan yang hancur di London dan ketiadaan kontak dengan dunia luar di Guernsey, membuat buku menjadi barang mewah yang disayang-sayang. Saya membayangkan toko buku sederhana yang temaram, berisi buku-buku bekas dari berbagai periode. Toko buku yang ketika kita memasukinya, kita tidak tahu harta karun apa yang akan kita temukan di dalam sana. Toko buku yang personal, yang pemiliknya dengan senang hati mencarikan buku yang kita idam-idamkan, lalu setelah dapat mengirimkannya kepada kita tanpa meminta bayaran. Sebagai hadiah bagi seorang pencinta buku.
Buku menyelamatkan hidup sebagian orang di Guernsey, yang di antara kelaparan dan penderitaan sebagai tawanan Nazi, menemukan pelarian lewat buku.
LETTERS
Saya tidak ingat kapan terakhir kali menulis surat. Surat sungguhan, ditulis tangan dan dikirim lewat pos. Surat yang membuat bungah setiap kali pak pos datang.
Antara Guernsey dan London, surat menjadi penghubung antara Juliet Ashton sang penulis buku dan para anggota Guernsey Literary and Potato Peel Society. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling kenal, namun dipertemukan oleh buku dan dipersatukan oleh surat.
FRIENDSHIP
Tak peduli sekelam apa hidupmu, saat ada seseorang di sampingmu yang akan selalu menggandeng tanganmu dan tertawa bersamamu, hidup akan terasa jauuh lebih mudah. Di tengah perang, di bawah penindasan, di kejamnya kamp nazi, benih pertemanan ternyata tetap tumbuh dan bersemi. Membuat manusia-manusia di dalamnya tetap percaya bahwa hidup itu indah.
LOVE
Cinta tak mengenal kasta, kelas sosial, ras, maupun jarak dan waktu. Antara Guernsey yang tradisional dan London yang modern, antara tentara Nazi yang ditakuti dan gadis Inggris yang pemberani, antara wanita lajang yang mandiri dan anak perempuan yang keras hati, cinta menjelma dan mendamaikan hidup mereka. Walaupun tak semuanya abadi namun selalu tersimpan dalam hati.
GUERNSEY LITERARY AND POTATO PEEL SOCIETY
Buku sederhana yang layak dibaca saat ingin menikmati keindahan hidup. Format surat-menyurat yang digunakan penulis memberi sentuhan unik, walaupun beberapa kali saya dibuat keheranan dengan surat-surat pendek yang bolak-balik antara Juliet dan Mark. Hanya dalam hitungan menit/jam? Bagaimana caranya? Kenapa tidak pakai telepon saja?
Melewati setengah buku, saya juga agak terganggu dengan karakter tokoh-tokohnya yang...kok baik-baik banget ya? Kok gaya bicara dan kepribadiannya mirip-mirip ya? Kok bisa satu kelompok baca kecil di pulau kecil punya anggota yang karakternya begitu beragam sehingga sempurna untuk diangkat ke dalam buku. Seperti membaca cerita-cerita klasik itu lho, penggambaran karakter yang digunakan penulis mirip-mirip seperti itu. So Jane Austen...CMIIW
Tapi tetap saja, menurut saya para pencinta drama akan sulit untuk tidak menyukai buku ini...
Thanks Mia Queen... :)
Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society.
sign in »
Reading Progress
| 08/24/2010 |
|
30.0% | "Men are more interesting in books than they are in real life" |
Comments (showing 1-11 of 11) (11 new)
date
newest »
newest »
message 1:
by
e.c.h.a
(new)
-
rated it 4 stars
Aug 29, 2010 08:35pm
ebook yah?
reply
|
flag
*
@Mia: ayuuuuk. aku sampai googling dan wikipedia-ing (hahaha) Guernsey lho, pingin liat bentuknya kayak apa
Haha ga ada koq, pinjaman tanpa bunga *niru mbak uci* :) Oia, kalo echa ada ulysses moore yang no 1 boleh pinjam ga? ;p
oki doki...Ulysses Moore yang nomor 1, gue cek di rumah dulu ya ada apa gk? secara 3-3nya lagi di baca sama adek gue, tahu tuh di bawa hijrah ke Solo apa gk hahahaha....
Ntar gue kabari lo ya Mi....
