Irwan Sukma's Reviews > Tersenyumlah

Tersenyumlah by Aidh bin Abdullah al-Qarni
Rate this book
Clear rating

by
4137316
's review
Aug 11, 10


Setelah Aidh Al-Qarni datang dengan buku La Tahzan (jangan bersedih), dan kali ini buku yang hadir adalah Tersenyumlah. Kata senyum adalah kata yang indah dan menarik hati, menyenangkan dan menggembirakan. Banyak pemikir yang berpendapat bahwa tawa dan senyum adalah salah satu sebab yang paling kuat yang mendorong manusia agar lebih efektif dan produktif.
Orang-orang China berkata dalam hikmah yang sering mereka ulang-ulang, “ Orang yang tidak tahu bagaimana tersenyum seharusnya tidak membuka toko.”
Maka tidak aneh jika tawa itu (tawa yang tidak berlebihan) adalah balsam bagi ruh, obat bagi jiwa,dan ketenangan bagi hati yang sedang lelah bekerja. Dan senyum adalah satu seni kehidupan yang tidak banyak orang ingin mempelajarinya, meskipun itu mudah.
Ibnu Jauzi berkata, “Para ulama yang mulia selalu senang dengan humor dan tertawa mendengarnya. Karena ia menyegarkan jiwa, dan menghibur hati setelah lelah berfikir.”

Wahai seluruh manusia, telah datang kepadamu sekalian bukti kebenaran dari Tuhanmu (yakni Muhammad), dan telah kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (QS. An-Nisaa’: 174)

Betapa Muhammad saw telah menjadi bukti kebenaran. Beliau dilahirkan yatim dan di besarkan dalam keadaan miskin. Dia juga tidak pandai membaca dan menulis serta hidup dalam lingkungan terbelakang. Namun demikian, tidak satupun faktor negatif itu membawa dampak terhadap dirinya. Bahkan sabaliknya, beliau dinilai oleh banyak ahli dari berbagi disiplin ilmu dan dengan beraneka macam tolak ukur sebagai manusia terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Thomas Carlyle dengan tolak ukur “kepahlawanan”, Markus Dods dengan “keberanian moral”, Nazmi Luke dengan “metode pembuktian ajaran”, Will Durant dengan “hasil karya”, dan Michael H. Hart, dengan “pengaruh yang di tinggalkanya”. Kesemuanya ahli non-muslim ini –dan masih banyak lagi yang lainnya, walaupun dengan tolak ukur yang berbeda-beda—berkesimpulan bahwa Muhammad saw. Adalah manusia luar biasa. Namun demikian, beliau adalah orang yang sederhana.
Senyummu di depan saudaramu adalah sedekah, begitulah sabda Rasulullah saw. Beliau menjadikan senyum sebagai ibadah. Karena dengan senyum ruh menjadi semangat, hati menjadi lapang dan wajah menjadi ceria. Jarir bin Abdullah berkata, “setiap kali saya menjumpai Nabi saw. Pasti beliau tersenyum.”
Rasullulah dalam tawa dan canda beliau bersikap seimbang antara orang yang kering, muram dan cemberut penampilanya, dengan orang yang banyak tertawa, berlebihan dalam humor dan hobi berkelakar. Nabi saw, pernah tertawa dalam beberapa kesempatan hingga geraham beliau terlihat, namun beliau tidak tengelam dalam tawa hingga tubuh beliau bergerak-gerak, atau condong hingga bagian atas mulut belaiau terlihat.
Dalam sebuah hadist beliau bersabda,
“hendaklah kalian tidak banyak tertawa karena banyak tawa akan mematikan hati.” (HR Ahmad, Timidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Di riwayatkan seorang wanita tua pernah mendatangi Nabi saw, untuk meminta kepada beliau agar mendoakannya masuk surga. Beliau bersabda, “orang tua tidak masuk surga.” Mendengar perkataan beliau, wanita tua itupun berpaling dan menangis. Selanjutanya Nabi saw. Memangil dan bersabda,
“bukankah engkau pernah mendengar firman Allah dalam surat al- waa’qiah ayat 35-37, sesungguhnya kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan kami menjadikan gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (HR Ath-Tabrani)
Maha besar Allah yang telah mengangkat derajat Nabi saw. Hingga tawa beliau tercatat dalam kitab-kitab seakan-akan ia adalah kisah paling unik yang berisi panutan dan nasihat. Maka, semoga Allah terus memberkahi beliau yang kedudukannya mulia, sehingga Allah membuat humor beliau sebagai sesuatu yang patut untuk diriwayatkan.

Dalam buku ini Aidh Al-Qarni memberi judul bab utamannya dengan judul “Bersama Orang-Orang Lucu”. Di bab ini terdapat banyak cerita polos yang menarik, dan humor yang mengundang tawa. Namun tidak bertentangan dengan agama, rambu-rambu syariah, dan keharaman hukum.

Berikut penggalan cerita yang saya senangi :
Ketika itu sang imam memebaca surat Al-Baqarah, padahal saat itu orang badui tersebut sedang terburu-buru karena suatu keparluan. Akhirnya, ia tidak dapat memenuhi keperluanya itu. Pada esok harinya, ia kembali ikut shalat subuh berjamaah. Ketika imam mulai memebaca surat Al-Fill, orang badui tersebut langsung pergi, seraya berkata, “ini pasti lebih lama lagi! Bukankan Al-Fill (gajah) lebih besar dari Al-Baqarah (sapi)?”

Dari cerita ini cukup membuat bibir sedikit tertarik keluar kemudian tersenyum. Di cerita ini yang kita tertawakan adalah sebuah logika yang “bengkok” atau biasa di sebut plesetan. Karena seperti yang kita ketahui bahwa surat Al-Baqarah (sapi) lebih panjang –286 ayat— dari surat Al-Fill (gajah) –5 ayat. Karena maksud dari surat ini bukan menceritakan tentang ukuran dari sapi atau gajah. Kalau Al-Baqarah tantang kisah sapi Bani Israil (lihat surat Al-Baqarah ayat 67-74) dimana waktu itu Nabi Musa AS memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih sapi betina. Sedangkan surah Al-Fill (gajah) menceritakan tentang datangnya pasukan bergajah yang di pimpimpin oleh Abrahah untuk mgnhancurkan Mekkah namun akhirnya gagah, eh gagal.

Ataupun kisah lucu lain yaitu kisah perbincangan antara seorang ulama yang meyewa rumah dengan pemilik rumah, terjadilah suatu perbincangan cerdas khas seorang berilmu. Yang mengibaratkan langit-langit rumah yang ingin runtuh dengan kata-kata yang sangat lembut. Berikut ceritanya:

“ada seorang ulama fikih yang tinggal di sebuah rumah yang langit-langit rumahnya selalu berderit sepanjang waktu. Kemudia pemilik rumah itu datang menagih sewa rumah tersebut. Maka ulama fikih itu berkata, “perbaiki dahulu langit-langit rumah ini, karena ia selau berderit!”
Orang itu menjawab, “jangan takut, ia sebenarnya sedang bertasbih kepada Allah.
Ulama itu berkata,” saya khawatir jika di hanyut dalam tasbihnya dan kemudian sujud.”

Ada juga kisah perdebatan antara orang berilmu yang berbeda dalam hal penafsiran suatu tindakan. Sama-sama menggunakan ayat suci sebagai bahan perdebatan, berikut penggalan ceritanya :
Di suatu subuh, Al- A’masy keluar rumah dan melewati bani Asad. Kala itu iqamah telah di kumandangkan, lalu ia pun masuk ke dalam masjid dan shalat berjamaah. Pada rakaat pertama, setelah membaca Al-Fatihah, sang imam membaca surat Al-Baqarah. Dan pada rakaat ke dua membaca Ali-Imran. Ketika selesai shalat Al-A’masy menghampiri sang imam dan berkata, “bertaqwalah kepada Allah. Tidakkah engkau mendengar Rasullulah bersabda,
“barang siapa mejadi imam shalat maka ringankanlah shalatnya, karena di belakang ada orang tua, orang lemah dan orang yang mempunyai keperluan”

Sang imampun berpaling dan berkata, “ bukankah Allah berfirman dalam surat al-baqarah ayat 45, ‘dan sesungguhnya yang demikian itu sunguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.’ ”
Al-A’masyi berkata , “ saya adalah utusan orang-orang khusyu’ untuk meyampaikan bahwa engkau terlalu memberatkan.”

Selain cerita-cerita yang berhubungan dengan agama terdapat pula cerita lucu yang umum, seperti cerita yang satu ini,
“istri seorang Arkeolog berkata, “seorang Arkeolog adalah suami terbaik bagi setiap wanita. Karena semakin tua usia istri, maka ia semakin mencintai dan memperhatikannya.”
Dan masih banyak lagi cerita-cerita lucu dalam buku ini yang membuat anda tersenyum. Bukan haya lucu tapi juga memberikan kisah-kisah yang bertaburan dengan hikmah.

Ia berkata, “langit sedang mendung dan tidak cerah.”
Saya katakan, “senyumlah, cukuplah mendung di langit saja!
3 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Tersenyumlah.
sign in »

No comments have been added yet.