Ririenz's Reviews > Tarian Setan

Tarian Setan by Saddam Hussein
Rate this book
Clear rating

by
393578
's review
Jul 20, 10

bookshelves: sastra-inspirasi

TARIAN SETAN ( Akhreej Minha Ya Ma’ul )
Penulis : Saddam Hussein
Penerjemah : Abdurrahman
Penerbit : Jalasutra
Edisi : Cetakan 1. Desember 2006
Tebal : xx + 266 Halaman

Ada paragraph yang kurasa cukup menarik di bagian Avant-Propos tentang kelahiran novel ini ;

… Mengapa begitu mudahnya Irak dikalahkan ? Kemana saja Saddam Hussein ? Mengapa seperti tak ada perlawanan yang berarti darinya ?
… Kata Deputi Perdana Menteri Irak era Saddam, Tariq Aziz, “ Saddam sedang sibuk menulis novel saat pasukan koalisi internasional bersiap menggempur Irak “.

Yups…betul sekali teman-teman novel ini lahir menjelang penyerbuan pasukan koalisi internasional ke Irak. Aneh juga jalan fikiran Saddam Hussein karena di saat genting masih sempat membuat novel. Ada yang bilang bahwa Saddam sengaja melawan dengan pena karena dia menyadari kans-nya untuk memenangkan perang tidak ada. Selain itu dia juga meyakini sebuah pepatah yang mengatakan bahwa : yang tertulis lebih abadi sedangkan yang terucap akan menguap dibawa angin. tahu. Tapi ada juga yang beranggapan bahwa Saddam Hussein terinspirasi oleh kecerdikan Syahrazad ysng meramu kisah 1001 malam.

Aku tidak menyangka ternyata seorang yang wajahnya selalu terlihat seram seperti Saddam Hussein punya wajah lain yang lebih halus dalam menuangkankan pemikirannya. Menurut keterangan dari penerbit Jalasutra, sejak tahun 2001 Saddam Hussein sudah menghasilkan empat buah novel, yaitu ; " Zabibah wa Al-Mulk ( Zabibah dan Sang Raja ), Al-Qal’ah Al-Hashinah ( Benteng Pertahanan ), Rijal wa Madinah ( Pahlawan dan Kota ) dan yang terakhir adalah Akhrej Minha Ya Mal’un ( Pergilah, Laknat ! atau Tarian Setan )". Novel pertama sampai ketiga diterbitkan di Irak ketika Saddam Hussein masih berkuasa, sedangkan novelnya yang terakhir diterbitkan ketika kekuasaan Saddam sudah jatuh dan partai Baath yang dipimpinnya sudah terguling.

Cerita novel ini diawali dengan kisah keluarga Ibrahim. Ibrahim di daerah Eufrat bersama istrinya Ummu Halimah dan ketiga cucunya yang sudah yatim piatu ; Hasqil, Yusuf dan Mahmud . Keluarga Ibrahim hidup secara nomaden ( berpindah-pindah tempat ) karena profesi Ibrahim sebagai ulama yang mempunyai kewajiban untuk menyebarkan agama islam di seluruh jazirah arab. Sebagai ulama Ibrahim senantiasa mengajarkan syari’ah islam dan menanamkan nilai-nilai akidah-akhlak kepada cucu-cucunya. Ibrahim ingin cucu-cucunya bisa menjadi penerusnya kelak. Tetapi dari ketiga cucunya hanya Yusuf dan Mahmud saja yang benar-benar bisa menerima dan menjiwai nilai-nilai islami yang ditanamkan Ibrahim. Karena Hasqil cucunya yang paling tua mempunyai perangai dan perilaku yang jauh bersebrangan dengan kedua saudaranya.

Selanjutnya novel ini berkisah tentang Hasqil, bagaiman sepak terjang Hasqil dalam meraih semua keinginannya. Sejak kecil tabiat dan tingkah laku keseharian Hasqil memang kurang terpuji padahal tidak kurang-kurangnya Ibrahim beserta kedua saudaranya mengingatkan dia. Hasqil juga suka membuat keonaran sehinnga banyak orang yang tidak simpatik padanya. Ia juga seorang egois yang selalu membenarkan semua tindakannya. Terhadap orang tua pribadi Hasqil juga kurang sopan. Mulanya Ibrahim memaklumi semua tindakan Hasqil tetapi setelah dewasa ternyata perangai buruk Hasqil tidak berubah bahkan bertambah buruk.

Puncaknya ketika akhirnya Ibrahim mengusir Hasqil karena dia telah berbuat tidak senonoh dengan meraba payudara putri seorang kepala suku dan mencoba memperkosanya. Hasqil meninggalkan kelurganya dan menghidupi hidupnya dengan berjualan emas, membuat senjata dan sepatu kuda. Untuk memperlancar bisnisnya Hasqil juga menggunakan trik-trik yang kurang terpuji. Dia senang sekali memancing konflik dan kepada siapa saja yang bisa mendatangkan keuntungan banyak baginya disitulah dia bernaung.

Kemudian sampailah petualangan Hasqil di suku al-Mudtharrah yang sedang berselisih dengan suku al-Mukhtarah. Ia lalu bersekongkol dengan suku Romawi untuk menduduki jabatan kepala suku al-Mudtharrah. Kelicikannnya membuat Hasqil dengan mudah menguasai suku al-Mudtharrah dan dalam waktu singkat jabatan kepala suku jatuh ketangannya. Padahal dalam tradisi suku-suku di Arab, seorang kepala suku harus putera asli dan bukan pendatang. Hasqil juga berperan dalam kematian mantan kepala suku dan tidak itu saja Hasqil juga meniduri istri mantan kepala suku yang imannya lemah karena emas, berlian dan kekayaan Hasqil. Lebih sadis lagi Hasqil juga berniat untuk meniduri dan mendapatkan anak mantan kepala suku yang bernama Lazzah.

Sejak semula Lazzah sudah tidak suka kepada Hasqil karena dia sudah mencium niat jahat Hasqil terhadap sukunya. Ketika menjabat sebagi kepala suku terbongkarlah sifat buruk Hasqil. Dengan dibantu suku Romawi Hasqil menghisap hasil perekonomian rakyatnya untuk membangun sebuah imperium yang disimbolkan dengan menara kembar. Pemakzulan Hasqil terhadap ayahnya serta kesewenang-wenangan terhadap rakyatnya membuat Lazzah menyusun kekuatan untuk meruntuhkan kekuasaannya. Lazzah bergerak dibantu oleh Salim, kekasihnya. Keduanya memobilisasi rakyat sukunya untuk menegakkan kebenaran dan menumbangkan kekuasaan Hasqil beserta antek-antek Romawinya.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan novel ini selain nama penulisnya. Ceritanya cukup menarik karena tokoh-tokoh di dalamnya terkesan hidup, alur juga runut dan gaya bahasanya sederhana karena hampir tidak ada metaphor apalagi propaganda untuk mendeskreditkan seseorang, agama atau suatu negara. Jadi secara keseluruhan novel ini bagus, enak dibaca dan tidak bikin ngantuk.

* Rienz *
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Tarian Setan.
sign in »

No comments have been added yet.