Kerlip Bintang's Reviews > Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur

Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur by Muhidin M. Dahlan
Rate this book
Clear rating

by
370161
's review
Jul 03, 10

bookshelves: islam, memoar, motivator, novel, indonesian
Read from July 01 to 03, 2010

Sore Kamis itu, sesampainya di Tobucil, saya kecewa berat karena ternyata kelas dibatalkan tanpa pemberitahuan. Jadi aku melunglai pergi dari situ. Bete langsung menyeruak begitu saja. Maklum punya sifat moody tingkat akut. Salah satu hal yang bisa mengurangi "bete barometerku" adalah pergi ke toku buku. Memborong buku. Jadi kayaknya aku lebih pantas disebut sebagai bookshopholic ketimbang kutu buku.

Kembali menyoal buku ini, sebetulnya buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur! pernah menjadi perhatianku sejak penerbitannya yang pertama kali. Karena judulnya yang unik dan kontroversial. Tapi niat pembelian buku ini selalu urung dengan alasan, "Mau jadi Pelacur kok minta izin Tuhan?"
Kenapa harus minta izin? Gak konsisten!

Di sisi lain, aku memiliki sebuah analisa, bahwa setiap manusia di dunia ini, kemungkinan besar pernah berada di titik-titik kritis menuju pendewasaan agama.

Titik kritis pertama adalah : Pencarian Terhadap Tuhannya.
Siapakah aku, untuk apa aku ada di dunia ini, sudah betulkah agama yang kuanut ini, de el el. Dan ketika pencarian ini menemukan titik temu, bisa dipastikan manusia ini akan menjadi lebih dekat kepada Tuhan. Karena ibadah apapun yang dilakukannya selama ini memiliki dasar yang lebih kuat. Karena
kepercayaan yang dimiliki bukan lagi berupa catatan di KTP. Tapi sudah tercatat di dalam hati.
Akhir dari tahapan proses ini, si manusia akan mencurahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk Yang Terkasih, Sang Penguasa Alam.

Titik Kritis kedua akan terjadi ketika, manusia ini sudah "merasa" melakukan apapun demi Dia, kemudian Dia mengecewakannya dengan cara yang paling tidak dimengertinya. Hal ini lah yang dialami oleh Kiran, tokoh cerita Memoar Luka Seorang Muslimah.
Dan luka ini semakin menganga ketika tak ada seorang pun yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul dalam hatinya. Tidak juga jawaban dari Tuhan.

Saya tadinya berharap, dengan membeli buku ini, semua jawaban penyelesaian masalah yang di hadapi oleh Kiran bisa didapat. Tapi saya lupa, buku ini adalah sebuah memoar yang di campur fiksi. Dan bukan tidak mungkin, sampai saat ini bukunya saya baca pun, seorang Kiran masih ada dalam dunianya tanpa jawaban.

Bahkan, saya masih tetap berharap penulis bisa memberikan surat penutup atas kedahagaan saya. Tapi ternyata tidak ada juga :(

Ada sedikit kritikan yang ingin saya sampaikan terhadap buku ini, di beberapa pengadegan cerita, latar belakang kurang terceritakan dengan kuat sehingga, saya sering bertanya-tanya, apakah kekecewaan ini bisa membuat seorang manusia cukup marah kepada Tuhannya. Apakah kekecewaaan ini bisa membuat seorang manusia cukup beralasan untuk berontak dan menjadi pelacur? Apakah...? Apakah..? Dst, dst.

Paling salut dengan satu hal, penulis begitu berani untuk menuliskan kemarahan-kemarahan Kiran dengan sangat gamblang. Tidak semua orang sanggup dan bisa melakukan hal itu. Padahal salah satu modal penulis adalah "Jujur".
Dan kejujuran itulah yang saya temui di sini. Tanpa merasa takut dikecam atau dicemoohkan.

Ada kutipan dari penulis di akhir buku yang saya sangat setuju banget :
"Iman yang tak digoncangkan, sepengetahuan saya adalah Iman yang rapuh, Iman yang menipu. Hati-Hati!"

likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Tuhan, Izinkan Aku Jadi Pelacur.
sign in »

Reading Progress

07/01/2010 page 14
5.36% ""Semua lelaki adalah bangsat. Juga semua aturan yang mereka buat dengan membawa-bawa Tuhan dan agama. Nantikan kutukanku, Lelaki!" (prpfokator banget hihihi..)"
07/01/2010 page 42
16.09% "Ngomingin konsep Daulah Islamiah! Beeeuuh.. teu ngarti."
07/01/2010 page 71
27.2% "mata udah mulai nguantuks, tapi masih tetep pengen buacaaaa.. hoooammmm..."
07/01/2010 page 83
31.8% "Ketika bibit-bibit kecewa menumbuh."
07/02/2010 page 167
63.98% "absurditas"

No comments have been added yet.