Riri's Reviews > Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck by Hamka
Rate this book
Clear rating

by
2226174
's review
Jun 17, 10


Sistem Matrilineal—garis keturunan suku diambil dari garis ibu—membuat Zainuddin seolah tak dapat tempat di kampung halamannya sendiri, Batipuh, Padang Panjang. Sungguh, hanya karena ibunya seorang Bugis dengan ayah berdarah Minang yang jauh merantau. Ia layaknya orang asing dan tak diakui sebagai seorang Minang. Hati Zainuddin tak lantas langsung menciut walau tak diakui sebagai keluarga. Selama di Batipuh, ia tinggal bersama bibinya yang mengizinkannya untuk berada di kampung.

Tak lama berselang, Zainuddin jatuh hati dengan Hayati, seorang perempuan manis dari keluarga terpandang. Kasih pun terjalin. Namun, Zainuddin tak dapat bertahan lama untuk tinggal di rumahnya sendiri. Karena semakin banyak orang-orang kampung yang banyak bertanya tentang keberadaannya di Batipuh. Ia tahu diri sehingga memutuskan untuk mencari peruntungan ke Padang Panjang. Sebelum berangkat, Hayati berjanji setia menunggu Zainuddin untuk kembali pulang ke Batipuh.

Zainuddin dan Hayati masih bertahan dengan cinta kasih mereka. Tak peduli walau hanya dapat mendekap surat cinta saja. Tak berapa lama, sepucuk surat datang dari Zainuddin untuk meminang Hayati. Namun, bersamaan dengan itu, Aziz, kakak dari teman Hayati, juga datang dengan maksud yang sama. Atas keputusan keluarga, akhirnya pinangan Zainuddin ditolak.

Zainuddin patah arang. Hatinya hancur tak terkira. Sakit hati sungguh menyesak dadanya. Berbulan-bulan ia terbaring lemah tak berdaya, mengigau memanggil nama Hayati. Dokter tak dapat berkata, Zainuddin harus dipertemukan dengan kekasih hatinya, Hayati. Bang Muluk, anak ibu kost tempat Zainuddin tinggal, mengirimi Hayati surat agar datang ke Padang Panjang melihat kondisi Zainuddin.

Berderai air mata Zainuddin melihat Hayati datang bersama Aziz. Tangannya sudah penuh dengan hiasan inai—pacar kuku—dan melingkar pula di jari manisnya sebuah cincin. Pada akhirnya ia harus dihadapkan pada kenyataan bahwa Hayati sudah menjadi milik orang lain.

Bang Muluk menjadi sahabat karib Zainuddin, membantunya untuk melupakan masa lalunya yang pahit. Entah itu identitas diri yang tak diakui keluarga, atau juga kasih tak sampainya. Zainuddin sadar bahwa ia harus bangkit dari keterpurukannya. Bersama Bang Muluk, ia merantau ke Surabaya. Menjadi pengarang yang sukses bukan kepalang. Tapi ternyata dunia teramat sempit. Aziz pindah tugas ke Surabaya, Hayati pun dibawa bersamanya. Mereka bertemu kembali dengan Zainuddin di sebuah perkumpulan orang Sumatera di sana.

Sungguh sayang, rumah tangga Aziz dan Hayati semakin tak harmonis. Aziz mulai sering menghabiskan waktu dan uang di meja judi. Hayati makin nelangsa. Aziz kehilangan pekerjaan hingga mereka sempat menumpang tinggal dengan Zainuddin. Berlarut-larut dengan kondisi yang tak juga membaik, Aziz menalak Hayati. Ia pun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri di Banyuwangi. Sebelumnya, karena merasa dahulu telah merebut Hayati dari Zainuddin maka Aziz “mengembalikan” Hayati ke pangkuan Zainuddin.

Namun, sakit itu masih membekas. Hati Zainuddin telah beku. Ia tak mau mengingat kembali cintanya yang dalam pada Hayati. Ia tak peduli walau saat itu ia masih membujang. Ia menolak Hayati, menyuruhnya agar pulang ke Batipuh. Dengan perasaan hampa, Hayati pun berangkat dengan Kapal Van der Wijk yang bertolak dari Makassar-Tanjung Perak-Semarang-Tanjung Priok-Palembang, lalu menuju Padang. Tetapi, malang tak dapat ditolak, kapal yang ditumpangi Hayati karam beberapa jam setelah dari Perak. Hayati dan penumpang lain dilarikan ke rumah sakit daerah Tuban.

Zainuddin kalap. Ia masih sempat bertemu Hayati sebelum akhirnya ia meninggal. Rasa sesal menyelimuti relung hati Zainuddin. Hatinya patah lagi. Untuk kedua kalinya ia kehilangan orang yang dicintainya. Dan kali ini untuk selamanya. Setahun kemudian, ia pun meninggalkan semua kenangannya karena jatuh sakit.

Sewaktu SMA saya membaca novel ini dan hingga saat ini pun, saya merasa novel ini sungguh luar biasa. Dari segi cerita, betapa dahulu, seorang anak lelaki yang ingin mengetahui jati dirinya ditolak mentah-mentah oleh keluarga ayahnya sendiri karena dianggap tak punya identitas sebagai orang Minang. Hanya karena ia tak punya suku—sistem matrilineal—di kampung. Sejak kecil Zainuddin besar di Makassar, ibunya seorang Bugis dan ayahnya adalah Minang. Maka otomatis jika ditelaah dari adat Minang, tentu saja ia dianggap seperti tak punya keluarga di kampung Batipuh, Padang Panjang. Lamarannya pada gadis Minang bernama Hayati pun ditolak karena keluarga Hayati lebih memilih Aziz yang jelas silsilah keluarga dan masa depannya.

Konflik yang bertubi-tubi membuat Zainuddin berusaha bangkit. Mulai dari sikap keluarga yang tidak memberinya tempat, kisah cintanya yang berliku, pencapaian sukses yang tidak sebentar, hingga kembali dihadapkan pada kerumitan untuk memilih : menerima Hayati kembali atau tetap mempertahankan kerasnya hati yang sudah dilukai teramat dalam. Namun semua itu berujung pada penyesalan. Tapi, inilah kisah roman klasik yang begitu memukau.

Lalu, dari segi bahasa penulisan, novel ini tak begitu sulit untuk dimengerti. Karena pada beberapa novel zaman dulu terdapat bahasa sastra yang sering tak begitu dipahami oleh pembaca masa kini. Tapi saya rasa untuk novel ini tidak. Bahasanya begitu menyentuh, Hamka dapat membuat pembaca masuk ke dalam alur cerita. Ikut merasakan kepedihan hati Zainuddin, dan segala bentuk konflik yang terjadi pada tokoh cerita novel ini.

Akhirnya, mencoba untuk tidak berlebihan dalam menilai, novel yang telah dicetak ulang hingga puluhan kali ini membuat saya terharu dengan seluruh aspeknya; cerita, bahasa, dan konflik cinta yang mendalam. Sungguh, begitulah adanya.
8 likes · likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck.
sign in »

Comments (showing 1-2 of 2) (2 new)

dateDown_arrow    newest »

message 1: by Almunawar (new) - added it

Almunawar Koto kalo dari sudut pandang saya Hamka seolah memberi Gambaran walaupun di ranah minang atau keluarga ayahnya tidak menganggap Zai sebagai keluarga*banyak orang tetapi dari sekian banyak yang menentang akan selalu ada yang akan berpihak seperti itulah Bibinya Zai yang mengizinkan tinggal bersamanya.
itu mungkin sisi baiknya sistem kekeluargaan minang yang merunut garis ibu tetapi tetap memiliki hubungan erat pada garis ayah,saya lihat dari sini seolah Hamka berpesan bahwa tugas wanita di minang itu juga sebagai pengayom/rumah


message 2: by Leli (new) - added it

Leli Nad ngeri baca resensinya..
tapi agak penasaran juga sih. saya nggak pernah baca tulisannya hamka soalnya


back to top