Nia Robie''s Reviews > Married with Brondong

Married with Brondong by Mira Rahman
Rate this book
Clear rating

by
F 50x66
's review
Jun 15, 2010

really liked it

Married with Brondong, Bukan Sekedar Gambar

Judul : Married with Brondong
Cerita dan Gambar : Vbi Djenggotten & Mira Rahman
Penerbit : Bikumiku
Hal : vi+125 Hal, Cetakan Pertama
Harga : Rp. 33.500

Tidak perlu kemana-mana untuk memaknai sebuah sekolah yang bernama kehidupan. Karena sejati sekolah tersebut berasal dari pengalaman yang telah dilalui tiap-tiap orang.

Berbicara mengenai sebuah novel grafis, ‘duet maut’ suami istri Vbi Djenggotten dan Mira Rahman adalah berbicara tentang pengalaman sederhana yang mematangkan. Menuai hikmah, perenungan, bahkan kelucuan dan kemirisan hidup, yang terjadi di diri dan lingkungan sekitar.

Novel grafis ini bercerita tentang tantangan sepasang pemuda, antara Jo (wanita) yang berbeda 7 tahun 4 bulan 2 hari lebih muda dari seorang Bo (laki-laki) yang pada waktu itu berusia 25 tahun.

Masyarakat pada umumnya memandang seorang perempuan lajang dan mapan berusia 32 tahun adalah usia ‘di ujung pintu’, kadang tindak-tanduk menjadi sorotan. Termasuk bagaimana ia memilih dan menjatuhkan pilihan. Terpaut umur 1 - 2 tahun mungkin biasa, tapi berbeda 7 tahunan menuai banyak pro dan kontra. Novel grafis ini mulai bicara. Antara hidup, hak privasi dan realita.

“Dan Aku mengikutinya sebagai imamku di dunia ini, untuk akhirat kelak... InsyaAllah..” (hal. 53)

Hal yang menarik mengenai pembahasan mengenai umur yang dapat dipetik dalam novel grafis ini adalah bagaimana menyelaraskan antara hal yang terjadi antara Bo & Jo yang sebenarnya sudah dicontohkan 1400 tahun yang lalu, kisah antara Nabi Muhammad SAW dan Khadijah.

Tantangan lain pra nikah selain umur adalah tantanangan meyakinkan orang sekitar bahwa pernikahan harus disegerakan. Selain itu, awal ketidaksengajaan Bo & Jo bertemu dalam dunia maya lewat chatting akibat salah ID juga sempat dipermasalahkan untuk beberapa orang yang dituai. Namun, pernikahan adalah usaha menemukan jalan.

Dilihat dari gambar, novel grafis ini terlihat sekali perpaduan khas penyatuan gaya menggambar suami istri yang begitu kompak dan ekspresif menggambarkan pribadi seorang laki-laki dan perempuan. Perbedaan gaya menggambar dapat terlihat pada karya Vbi Djenggoten sebelumnya “Aku Berfacebook Maka Aku Ada”.

Mengenai gaya penceritaan dalam “Maried with Brondong”, curhat bukan sorotan utama, tapi bagaimana dari curhat itu membawa nilai. Kata-kata puitis, gombal(tis) membuat novel ini bertambah menarik yang pada akhirnya menciptakan kelucuan tersendiri bagi pembaca. Memahami arti ‘Bojo’ (suami atau istri) dan ‘garwa’ (sigaraning nyawa) yang keduanya berasal dari bahasa Jawa membuat sebuah pemahaman bahwa pernikahan tidak melulu dihiasi dengan keindahan namun keterbatasan yang pada akhirnya memunculkan pemaknaan dalam kedua istilah tersebut ke dalam nilai yang mendewasakan.

Novel grafis ini juga novel yang peduli dengan lingkungan sosial. Penggambaran dan penceritaan tentang mirisnya kehidupan perkotaan dan sindiran tentang kekuasaan menjadi bahan ‘gerundelan’ yang akhirnya bisa diiyakan.

Pada akhirnya, membaca novel grafis ini adalah membaca suka duka pernikahan yang membawa keindahan dalam sebuah kesederhanaan :) .

***
2 likes · flag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Married with Brondong.
Sign In »

Reading Progress

06/13/2016 marked as: read

No comments have been added yet.