Yulianto Qin's Reviews > Desersi: Menembus Rimba Raya Kalimantan

Desersi by Michael Theophile Hubert Pe...
Rate this book
Clear rating

by
187116
's review
Jun 03, 10

bookshelves: fiksi-sejarah
Read in April, 2007

“Kolonel yang mulia dan terhormat. Kami kiranya sudah berada jauh sekali ketika surat ini Anda baca…”

-Surat Yohanes kepada Kolonel Hindia Belanda di Borneo (Kalimantan)-

Empat orang serdadu Hindia Belanda dinyatakan hilang ketika apel sore di sebuah benteng pertahanan Belanda di tengah-tengah belantara Kalimantan. Dua Swiss, satu Belgia, dan satu Indo-pribumi.

Schlickeisen, orang Swiss, kelahiran Steinbach, wilayah bagian Glarus, usia 21 tahun. Anak seorang pendeta
Wienersdorf, orang Swiss, kelahiran Winterthur, wilayah bagian Zurich, usia 23 tahun. Anak seorang guru besar ilmu alam.
La Cueille “der Wallon”, orang Belgia, kelahiran Cheratte, Provinsi Liege, usia 26 tahun. Anak seorang buruh tambang batu bara di Jupille.
Yohanes, orang Indo-pribumi, kelahiran Padang, Sumatera, usia 30 tahun. Ayah tidak diketahui, Ibu orang Nias.

Empat orang biasa yang akan ditakdirkan untuk mengalami petualangan terhebat sepanjang hidup mereka di belantara Kalimantan yang ganas di penghujung abad 19.

Disulut oleh ketidak puasan Schickeisen dan Wienersdorf yang merasa di bohongi ketika ditawari pekerjaan sebagai serdadu di Hindia Belanda. Maka keduanya sepakat untuk melarikan diri, desersi kembali ke pangkuan ibu pertiwi, negeri Swiss. Yohanes yang juga tidak puas dengan perlakuan pemerintah Hindia Belanda turut bergabung dengan mengajak seorang “pemabuk tua”, si orang Wallon, Le Cueille.

Maka terkumpullah 4 orang serdadu yang sebentar lagi akan menjadi mantan serdadu, para desersi, orang-orang yang dijadikan buruan.

Ide jitu yang ditawarkan oleh Yohanes akhirnya membawa mereka berhasil melarikan diri dari benteng, suatu tindakan yang sangat sempurna kalau tidak dikacaukan oleh si pemabuk La Cueille yang berteriak memaki disaat terakhir mereka melewati gerbang. Kacaulah semua siasat Yohanes yang segera menjadi pemimpin para desersi ini. Siasat yang seharusnya membawa mereka ke laut lepas Pasifik dan Singapura, menjadi perjalanan menyusuri rimba raya kalimantan yang ganas.

Dengan terpaksa ke empat petualang Eropa dan 3 orang Dayak mengubah rencana mereka. Menyusuri sungai Kalimantan menuju negeri para pengayau (pemenggal kepala) diikuti oleh sepasukan pimpinan sang Kolonel Belanda yang bersumpah untuk membawa mereka kembali, hidup maupun mati.

Segera perjalanan mereka melarikan diri menjadi sebuah petualangan hidup dan mati. Dari belakang sepasukan serdadu Hindia Belanda yang terlatih dipimpin oleh sang Kolonel sendiri dengan dibantu oleh Temenggung Nikodemus Jaya Negara, seorang raja Dayak yang disegani mengejar dengan persenjataan lengkap. Dari depan adalah para Dayak pengayau, penduduk asli pulau kalimantan yang menganggap pemenggalan kepala adalah seni, isi kepala manusia adalah makanan lezat dan batok kepala adalah souvenir berharga, apalagi batok kepala orang kulit putih.

Menyamar sebagai orang Dayak dengan membalur tubuh putih mereka dengan suatu zat pohon yang berwarna coklat perunggu. Petualangan membawa mereka bertarung dengan ular piton boa konstriktor dan para buaya yang semuanya berukuran raksasa. Mengalami perang dengan orang Dayak asli yang sangat ganas dan menyelamatkan beberapa desa dari penyerangan bangsa liar menjadikan mereka para Conquetadores abad 19. Bahkan petualangan membawa mereka menjadi saudara kepala suku Punan, suku Dayak pengayau yang paling ganas, Harimau Rimba.

Bersama-sama dengan Harimau Rimba, ke-empat petualang Eropa yang menyamar sebagai orang Dayak ini merasakan bagaimana kejamnya perang antar suku di pedalaman Kalimantan dan serakahnya pemerintahan Kolonial Hindia Belanda dalam mengeruk dan memperbudak kekayaan alam Kalimantan.

Selama 70 hari, petualangan demi petualangan dialami mereka, baik yang lucu, seru, mengharukan, menyeramkan, serta hampir merengut nyawa mereka.

Sebagai seorang Belanda yang berprofesi sebagai serdadu dan pegawai Hindia Belanda di Kuala Kapuas, Kalimantan, Michael Theophile Hubert (M.T.H) Perelaer (1831-1901) pengarang buku ini cukup obyektif dalam memandang pendudukan Kolonial Belanda atas pulau Kalimantan. Dia tidak melulu mencela suku Dayak yang ganas dan kejam tetapi juga mengkritik pemerintah Kolonial Belanda. Suatu tindakan yang cukup berani mengingat kedudukannya sebagai opsir Belanda kala itu. Buku ini adalah salah satu karya Perelaer selain sebuah buku yang membahas tentang adat-istiadat Dayak dalam Etnographische Beschrijving der Dajaks (1870) dan sebuah novel roman kategori opiumroman (mungkin maksudnya roman yang memabukkan), Baboe Dalima.

Sedikir berbeda dengan karya besar Karl May tentang nusantara yang mengambil latar Aceh, “Damai di Bumi” (diterbitkan oleh KPG). Karya M.T.H Perelaer ini lebih terasa mengalir, menegangkan, dan secara historis cukup akurat. Karya Karl May walaupun sangat menarik dan menawan tapi terkadang tidak akurat secara historis dan terasa terlalu romantis dalam memandang situasi dengan bahasanya yang mengawang-awang. Sedangkan karya Perelaer ini walaupun fiksi tapi sangat tepat dalam penggambar keadaan alam, tokoh (beberapa tokoh yang dimunculkan benar-benar tokoh historis yang pernah hidup), adat istiadat dan istilah-istilah. Ini dimungkinkan karena Perelaer adalah seorang pengamat dan antropolog yang berdedikasi selain sebagi seorang opsir Belanda. Bahkan dalam novel ini dijabarkan tentang kenapa Kalimantan suka disebut orang Eropa dengan nama Borneo dan bagaimana adat pemenggalan kepala dilakukan.

Seperti yang diakui oleh Helius Sjamsuddin, penerjemah novel ini yang juga pernah menyusun disertasi mengenai keadaan di Kalimantan Selatan dan Kalimanatan Tengah di tahun 1859-1906, “Memang novel ini tidak persis menggambarkan budaya maupun kehidupan sosial-politik masyarakat Dayak masa itu, karena tidak dimaksudkan sebagai tulisan sejarah, namun lukisannya tentang alam dan rimba raya Kalimantan beserta isinya benar-benar prima…”.

Lalu bagaimana akhir petualangan mereka, berhasilkah mereka keluar dari kejaran para serdadu Belanda dan kepungan para pemenggal kepala? Untuk itu saya sarankan anda untuk membaca sendiri novel yang seru dan menakjubkan ini. Saya yakin kalau anda menyukai petualangan, maka buku ini akan membawa anda bertualang ke rimba Kalimantan yang ganas.

“Semoga Tuhan menuntun mereka! Mereka orang-orang yang gagah berani.”

- Yohanes kepada sahabat-sahabatnya -

Yogyakarta, April 2007
likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read Desersi.
sign in »

No comments have been added yet.