mellyana's Reviews > The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism

The Shock Doctrine by Naomi Klein
Rate this book
Clear rating

by
196693
's review
Sep 21, 08

bookshelves: insight, all-time-non-fiction, development
read count: many

Melihat tampilan fisik buku Shiock Doctrine karya Naomi Klein bisa membuat ciut nyali. Ada lebih dari 500 halaman. Sampul depan seakan-akan bolong terkena peluru dengan tulisan besar The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism. Di bagian atas cover ditulis “Impassioned, hugely informative, wonderfully controversial, and scary as hell” John Le Carre. Tulisan yang mungkin membuat kita bertanya, apa masih perlu ada semacam iklan tukang obat untuk membuat orang mau membeli dan membaca buku itu?

Kekhawatiran itu ternyata tidak perlu ada. Bahasa yang digunakan Klein relatif umum. Tidak ada jargon-jargon aneh yang membuat kening berkerut. Buku itu adalah tulisan jurnalistik. Setiap hal merupakan fakta. Tidak mengherankan jika menghabiskan 60 untuk catatan kaki berisi berbagai referensi maupun catatan wawancara.

Membaca Shock Doctrine menuntut kita memiliki pikiran terbuka dan peka terhadap keadaan di sekeliling kita.

Mengapa begitu?

Shock Doctrine seperti sebuah puzzle dengan beberapa potongan yang berasal dari kehidupan di sekitar kita, begitu akrab dan dekat. Tetapi, ketika potongan puzzle itu diletakkan pada satu pigura besar tampaklah sebuah gambaran mengagetkan. Puzzle yang berasal dari tiga dekade, dari berbagai belahan dunia ternyata merupakan potongan yang sama dan berasal dari kotak yang sama. Puzzle itu menggambarkan uang, dalam huruf kapital besar.

Uraian Shock Doctrine dimulai dengan fakta sejarah setengah abad lalu, 1950-an di Amerika Serikat. Saat itu Ugo Cerletti, seorang psikiatris tengah melakukan eksperimen terapi kejut listrik. Sebuah terapi yang didasari asumsi bahwa kejutan dapat dipakai untuk “mengosongkan” pikiran dan mengisinya dengan pikiran yang lebih baik, apapun definisi baik tersebut.

Adalah Gail Kastner, seseorang yang menjadi salah satu manusia percobaan. Enam halaman pertama Shock Doctrine menggambarkan kisah hidupnya. Getir sekali. Tidak ada pikiran yang lebih baik, yang ada (atau malah tidak ada?) adalah ingatan yang rusak parah dan hidup yang hancur karenanya.

Itulah kisah pembuka Shock Doctrine atau Doktrin Kejut ketika ia diterapkan pada manusia di laboratorium. Kisah-kisah selanjutnya menceritakan bagaimana kejut diterapkan pada tahanan, dan bahkan dalam pengelolaan negara. Dengan prinsip yang sama, negara diberi terapi kejut dengan harapan negara yang bersangkutan akan mengalami kekejutan luar biasa. Terciptalah lembaran baru kosong yang siap diisi berbagai kepentingan modal, bahkan tanpa disadari oleh para penyelenggara negaranya.

Itulah yang terjadi di Amerika Latin, Afrika, Eropa Timur, Asia, Timur Tengah , dan bahkan di Amerika Serikat sendiri. Peristiwa yang bukan baru-baru saja terjadi, tetapi sudah terjadi sejak tiga dekade lalu. Sejarah yang berulang, tanpa disadari oleh banyak orang.

Mari kembali ke masa yang lebih dikenal sebagai jaman “krisis moneter”. Pada masa itulah “Indonesia, first in the region to fling open its doors to deregulated foreign investment…” (Klein 2007:270). Ya, krisis tersebut telah membuka pintu bagi ekspansi modal ke Indonesia.

Bacalah lebih lanjut. Terkadang memang membuat bulu kuduk berdiri, membayangkan sesuatu yang tak terbayangkan. Terkadang, kepala menggeleng tak percaya menyaksikan peristiwa yang bisa terjadi berulang kali. Itu semua, membuka mata untuk bisa melihat apa yang sesungguhnya terjadi di berbagai belahan dunia ini.

Bencana bisa terjadi karena alam, dan bisa juga dibuat. Teror terjadi bukan karena agama, rasial dan isu sosial lain. Pada akhirnya, semua berakhir kepada uang. Keinginan untuk terus memperkaya diri, dengan berbagai cara secara masif.

Buku Shock Doctrine diawali dengan kisah suram, tapi ia memberi penutup dengan spirit optimisme. Bacalah petikan di bawah ini:

“…local people’s renewal movement begin from the premise that there is no espace from the substantial messes we have created and that there has already been enough erasure – of history, of culture, of memory. These are movements that do not seek to start from scratch but rather from scrap, from the rubble that is all around. As the corporatist crusade continues its violent decline, turning up the shock dial to blast through the monting resistenace it encounters, there projects point a way forward between fundamentalisms. Radical only in their intense practicality, rooted in the communities where they live, these men and women see themselves as mere repair people, taking what’s there and fixing itu, reinforcing it, making it better and more equal. Most of all, they are building in resilience – for when the next shock hits.” (Klein, 2007:466)
Likeflag

Sign into Goodreads to see if any of your friends have read The Shock Doctrine.
Sign In »

Comments (showing 1-1 of 1) (1 new)

dateDown arrow    newest »

message 1: by Hera (new)

Hera Diani Uh, uh, uh, menarik! Minjem! Mmm.. tapi gue selesein dulu si Poor Story deh :)


back to top