Sepertinya eskpektasi saya terhadap novel ini terlampau besar. Hanya karena mendengar komentar dari teman-teman yang mengatakan betapa hebatnya novel ...moreSepertinya eskpektasi saya terhadap novel ini terlampau besar. Hanya karena mendengar komentar dari teman-teman yang mengatakan betapa hebatnya novel Rahasia Meede, saya jadi ikut-ikutan beranggapan demikian, padahal saat itu saya belum pernah membacanya. Sekarang saya sudah membacanya, dan saya merasa novel ini tidak hebat-hebat amat. Tapi juga bukan berarti novel ini jelek.
Cerita tentang kehebatan novel ini, yang akhirnya sempat menjadi mitos bagi saya, menurut saya terlampau bombastis.
Beberapa kekurangan dalam novel ini (jika memang disebut sebagai kekurangan)adalah sebagai berikut:
1. "Suara-suara" E.S. Ito tidak bisa lepas dari beberapa tokoh rekaannya. Tokoh Batu alias Roni Damhuri, Attar Malaka alias Kalek, Guru Uban, Gatot, dan Cathleen, menurut saya memiliki kesamaan karakter. Jika semua dialog/percakapan tidak ada keterangan si pengujarnya, saya pasti kebingungan siapa yang sedang berbicara. Begitulah. Menurut saya suara tokoh-tokoh yang saya sebutkan di atas adalah suara E.S. Ito sendiri.
2. Pemaparan sejarah dalam dialog yang menurut saya terlampau berlebihan. Saya belum pernah bertemu sepasang manusia penggila sejarah yang kalau sedang ngobrol bisa mengupas sejarah sampai sedetail-detailnya begitu. Nggak logis. Apalagi ketika adegan Batu, Cathleen, dan Kalek sedang menyusuri terowongan mencari harta karun VOC. Di adegan itu Kalek dan Cathleen asyik berdiskusi soal sejarah. Sampai-sampai penulis (E.S. Ito) lupa bahwa di situ ada Batu yang dianggap seperti batu. Tidak dihiraukan sama sekali. Menurut saya penulis terlalu keasyikan sendiri ketika memaparkan sejarah. Tidak peduli apakah pemaparan itu dibutuhkan dalam cerita atau tidak.
3. E.S. Ito terlihat seperti sedang marah-marah dalam novel ini. Itu sangat terasa di tiap lembar demi lembar halaman Rahasia Meede. Saya tidak tahu apakah itu boleh-boleh saja atau tidak, yang pasti saya merasa tidak nyaman mendengar sang narator hantam sana-sini, kritik sana-sini, caci maki sedemikian rupa. Jika cerita ini memakai sudut pandang pertama, mungkin hal tersebut bisa dimaafkan.
Yeah! Sekian dulu review singkat atau pandangan mata dari saya seputar novel Rahasia Meede. Apakah novel ini layak baca? Tentu saja ^_^
Ada tiga pertanyaan mendasar dalam kehidupan ini yang selalu menggoda manusia untuk menyelaminya, yaitu: Dari mana manusia berasal? Untuk apa manusia ...moreAda tiga pertanyaan mendasar dalam kehidupan ini yang selalu menggoda manusia untuk menyelaminya, yaitu: Dari mana manusia berasal? Untuk apa manusia hidup?Akan ke mana manusia setelah mati? Jawaban dari ketiga pertanyaan tersebut memiliki konsekuensi yang akan memengaruhi manusia dalam berperilaku dan menjalani kehidupannya.
Sebagai contoh, seorang materalis akan menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan perspektif kebendaan, yaitu manusia berasal dari evolusi jangka panjang, tak ada tujuan pasti dalam hidupnya, dan tidak akan ke mana-mana setelah mati selain hanya menjadi mayat. Dari ketiga jawaban tersebut, maka seorang materialis akan menjalani kehidupannya begitu saja, tanpa pernah berpikir tentang pahala dan dosa, apalagi surga dan neraka. Sebab, bagi mereka, segala hal yang tak dapat terindra tak layak untuk dipercaya, termasuk Tuhan sekalipun.
Seorang idealis (dalam hal ini seorang muslim), akan menjawab ketiga pertanyaan tersebut dengan perspektif agama, yaitu manusia berasal dari kreasi Tuhan, hidup manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya, dan setelah mati manusia akan kembali kepada-Nya. Begitulah. Seorang muslim sudah sepatutnya menjadikan ketiga pertanyaan tersebut sebagai dasar pijakan yang kokoh untuk menapaki jalan kehidupan.
Herry Nurdi, seorang dai muda sekaligus jurnalis, melalui tulisan-tulisannya yang kontemplatif dan provokatif, berusaha menjawab ketiga pertanyaan dasar tersebut.
Living Islam merupakan gabungan dari dua buku penulis yang dulu disambut baik oleh pembaca, The Secret for Muslim dan The Secret of Heaven. Berisi kumpulan tulisan tentang relasi antara manusia dan Tuhan, manusia dan sesamanya, manusia dan kuasa. Tulisan-tulisannya akan membangkitkan kesadaran kita sebagai muslim. Selamat membaca. Selamat berkaca. (less)
Dari pertama lihat buku itu saya udah curiga, pasti tuh buku ada apa-apanya, deh. Judulnya aja sudah mencurigakan: Iron Man: Pahlawan Pembela Penampil...moreDari pertama lihat buku itu saya udah curiga, pasti tuh buku ada apa-apanya, deh. Judulnya aja sudah mencurigakan: Iron Man: Pahlawan Pembela Penampilan. Sejak kapan super hero peduli sama penampilan? Superman aja pakaiannya enggak matching. Masak celana dalem pakainya di luar? Spiderman juga gitu, sama-sama pakai celana dalem di luar. Batman dan Robin apa lagi, enggak bisa terbang tapi malah pakai sayap segala. Belum lagi kalau ditambah si Hulk, celananya compang-camping plus enggak pakai baju pula. Benar-benar enggak fashionable banget. Harusnya sesekali tuh super hero konsultasi dulu sama Bondan Winarno, biar pakaian mereka menjadi lebih maknyooos! Hehe.
Bermula dari kecurigaan itulah akhirnya saya baca juga tuh buku Iron Man. Kecurigaan saya ternyata terbukti. Belum apa-apa saya udah nyengir-nyengir sendiri. Ngikik-ngikik sendiri. Whihihihihihiii.... Untungnya orang sekantor enggak ada yang parno. Kalo ada yang nyangka suara ketawa saya mirip Irfan Bachdim gimana? Pasti bakalan heboh tuh. (Woi, itu mah ketawanya kuntilanak! Bukan Irfan Bachdim!).
Suwer sampai bibir lu dower deh, buku Iron Man kalau kata saya mah lucunya enggak ketulungan. Berkisah tentang sahabat sehidup-semanyun, Jodi dan Beno, yang setelah lulus sekolah memutuskan untuk membuka usaha jasa laundry. Dan, dari situlah cerita ini pun bergulir. Banyak kejadian gokil yang terjadi di sepanjang cerita. Mulai dari Beno yang hobi kentut. Kentutnya pun unik. Aromanya tergantung moodnya. Kalau lagi seneng kentutnya wangi duren, kalau lagi stres kentutnya bau comberan, kalo lagi marah kentutnya bau bangke. Pokoknya, total jumlah aroma kentut Beno itu ada seratus tujuh puluh tiga! Edun. Nyabak neber (baca: banyak bener).
Itu baru soal kentut, belum lagi masalah ibunya Jodi yang seorang pedagang pisang goreng, tempe goreng, dan tahu isi. Tahu isinya macem-macem: ada tahu isi duren, tahu isi daging buaya, isi daging trenggiling, dan isi daging kuda nil. Ekstrem bener yak? Saya jadi mikir waktu buatnya tuh gimana.
Dan juga tentang masalah para tetangga Jodi yang mulai banyak menjadi pelanggan Iron Man. Oh iya, kelupaan, Iron Man itu nama jasa Laundry si Jodi dan Beno. Macam-macam pelanggannya. Malah hanya gara-gara laundry aja, para pelanggan suka pada ribut. Nih saya kasih contohnya:
“Nyuci lima baju,” jawab Ceu Asih sambil menunjuk keranjangnya.
“Ih, banyakan saya. Cucian saya ada delapan, dooong...,” kata Ceu Tita bangga.
“Delapan tapi kan kaos kaki doang,” cibir Ceu Asih enggak mau kalah.
“Saya dong baju semua.”
“Tapi kan saya mau nyuci seprei besok,” timpal Ceu Tita enggak mau malu. “Tadi enggak sempet kebawa soalnya seprei-nya masih dipakai ayunan sama si Oni.”
Hihihi.... Cuma gara-gara laundry aja pada sok-sokan begitu. Dan banyak lagi kejadian-kejadian gokil yang terdapat di novel Iron Man ini. Jujur saja, saya membaca Iron Man sampai capek sendiri. Capek ketawa. Makanya, sekarang saya tanya, siapa bilang tertawa itu sehat? Tertawa itu capek tau! :D
Bagi teman-teman yang ingin memulai awal tahun 2011 ini dengan penuh keceriaan, saya rekomendasikan novel Iron Man untuk anda!
Salam,
Noor H. Dee alias Rex si tukangtidur
(less)
Setiap penulis, alangkah baiknya, menulis apa yang ia tahu. Bukan hanya untuk menghindari anakronisme dan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, melain...moreSetiap penulis, alangkah baiknya, menulis apa yang ia tahu. Bukan hanya untuk menghindari anakronisme dan kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, melainkan juga untuk memudahkan si penulis itu sendiri. Dan Benny Arnas telah melakukan hal itu.
Dalam buku Bulan Celurit Api (selanjutnya BCA) yang berisi 13 cerita pendek, terlihat sekali penulis menguasai apa yang ia tulis. Ia mengangkat cerita dengan sentuhan lokal yang berkembang di tanah kelahirannya, Lubuklinggau (tempat tinggal si penulis), daerah yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat Lubuklinggau yang diceritakan dengan begitu lancar, seting tempat yang digarap dengan baik, sampai diksi yang terdapat dalam narasi dan dialog pun terasa kental sekali “Lubuklinggau”nya.
Ngomong-ngomong soal diksi, sejujurnya saya katakan bahwa diksi yang terdapat dalam BCA itu cukup kaya. Beragam diksi yang jarang saya jumpai ada di buku itu. Meskipun sempat mengerutkan kening, tapi setidaknya saya masih bisa menangkap inti dari setiap cerita. Sebagai contoh, Benny Arnas mengganti kata “warna” menjadi “kelir”, “air sepat(?)” menjadi “air kelat”, “usai” menjadi “tunai”, “tetangga” menjadi “jiran”, “setelah” menjadi “bakda”, dan lain sebagainya. Bukan hanya menjadikan kata-kata itu terasa unik, melainkan juga terasa bertenaga sebab masih jarang dipakai orang banyak. Perkara apakah itu upaya penulis untuk bergenit-genit dalam diksi, saya tidak tahu.
Namun saya tahu cerpen bukan hanya terdiri dari diksi semata. Diksi hanya sebagian kecil dari beberapa unsur yang terdapat dalam sebuah karya fiksi—meskipun kita sama tahu bahwa diksi kadang bisa juga menjadi penolong untuk sebuah cerita yang, katakanlah, biasa-biasa saja.
Begitulah. Saya tidak mau berlama-lama tersihir oleh pesona yang terpancar dari setiap diksi yang terdapat dalam BCA. Saya ingin menyelam ke ceruk yang lebih dalam (halah!): tema cerita, konflik, plot, dan penggambaran karakter. Apakah sama kuatnya dengan diksi yang Benny Arnas paparkan?
Entah kenapa, saya merasa sebagian besar cerita pendek yang ada dalam BCA ini tidak sejajar dengan kekuatan diksinya. Tengoklah cerita Bulan Celurit Api, Percakapan Pengantin, Hari Matinya Ketib Isa, Malam Rajam, Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang, dan Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta.
Dalam Bulan Celurit Api saya seperti menemukan logika cerita yang kurang terbangun dengan baik. Peristiwa bekacuk (berhubungan badan) yang dilakukan oleh Iyut dan Rusli menurut saya kurang masuk akal. Bagaimana mungkin mereka melakukan perbuatan zina di kebun ubi, di dekat tempat hajatan sedang berlangsung? Sehorny-horny-nya orang, menurut saya tidak mungkin mereka bersetubuh di tempat yang berdekatan dengan pusat keramaian (hajatan). Kecuali jika mereka memang memliki fantasi-fantasi liar, itu tidak jadi soal dan akan membuat cerita itu menjadi masuk akal. Masalahnya, apakah Iyut dan Rusli memiliki fantasi yang liar? Kalau iya, mengapa sebelumnya tidak ada gambaran mengenai hal itu?
Dalam Percakapan Pengantin, ada beberapa pertanyaan di dalam benak saya. Pertama, mengapa dan untuk apa penduduk kampung tiba-tiba mengerumuni rumah pengantin baru itu? Apakah pasangan yang yatim piatu tidak boleh menikah? Mengapa setelah menikah penduduk kampung baru mengepung rumah pasangan itu, bukan pas ketika acara H-nya, untuk kemudian membatalkan pernikahan sepasang pengantin yang ternyata bisu itu? Kedua, ya, saya terkejut mengetahui bahwa ternyata pasangan pengantin itu bisu. Keren, begitu kata saya dalam hati. Tapi lagi-lagi saya bertanya, di awal cerita penulis menulis begini: “...Mereka masih bisa mendengar dengan jernih,...” (hal 28). Setahu saya, orang bisu itu biasanya tuli alias telinganya pekak. Belum pernah saya temui orang bisu yang telinganya masih beres, apalagi masih bisa mendengar dengan jernih.
Dalam Matinya Ketib Isa saya pun menemukan logika cerita dan penggambaran karakter yang kurang tergarap dengan baik. Menurut saya penusukan yang dilakukan Komar dan Zul terhadap Mak Zahar, ibu mereka, bisa dibilang terlalu tergesa-gesa. Konflik belum mencapai titik klimaks, tapi penusukan itu telah terjadi. Sepreman-premannya seseorang, membunuh orangtua adalah tindakan yang tak mungkin dilakukan. Kecuali jika seseorang itu benar-benar psikopat atau si orangtua memang terlampau menyebalkan, mungkin hal itu bisa terjadi. Tapi, karakter Komar dan Zul belum digarap maksimal. Mereka memang preman, brandal, penjahat, copet, dan pemerkosa, tapi mereka bukan psikopat. Bahkan mereka (Komar dan Zul) tidak pernah membunuh seseorang. Jadi, menurut saya, penusukan yang mereka lakukan terhadap ibu mereka sampai meninggal, masih terlalu tergesa-gesa. Pembaca belum sempat disuguhkan sugesti bahwa Komar dan Zul itu memang psikopat yang paling bejat.
Dalam Malam Rajam, Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang, dan Dilarang Meminang Gadis Berkereta Unta, menurut saya hampir mirip dengan drama-drama percintaan pada umumnya. Saya tidak bisa berkata banyak mengenai cerpen-cerpen itu, kecuali untuk cerpen Surat-Surat yang Mengantarmu Pulang. Di cerpen itu diceritakan bahwa sang “aku” yang mahir membuat puisi sedang berada di depan televisi, menyakiskan berita kecelakaan pesawat yang “kekasihnya” juga berada di dalam pesawat itu. Yang saya heran, ketika sang “aku” mendatangi pesawat yang sudah menjadi puing itu, ia masih melihat “kekasihnya” di sana, terkapar dengan bercak merah di sekujur tubuh. “Kekasihnya” itu belum juga dievakuasi! Apakah jarak antara rumah “aku” dan lokasi kejadian itu memang sangat dekat? Kalau iya, mengapa tidak diceritakan?
Demikianlah laporan pandangan mata saya terhadap buku Bulan Celurit Api karya Benny Arnas. Untuk cerita-cerita yang belum saya bahas (Tentang Perempuan Tua dari Kampung Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan, Bujang Kurap, Tukang Cerita, Dua Beranak Keturunan, Anak Ibu, dan Perkawinan Tanpa Pengantin) mungkin bisa dilanjutkan kapan-kapan. Yang pasti, di antara cerpen-cerpen yang termaktub dalam BCA, saya paling menyukai Tukang Cerita, Anak Ibu, dan cerpen yang memiliki judul paling panjang itu.
Sebelum mengakhiri tulisan yang anggap saja resensi ini, saya ingin mengatakan bahwa tulisan saya ini bersifat subjektif. Apa yang saya rasakan, belum tentu sama dengan yang dirasakan oleh orang lain. Apa yang saya anggap keliru, siapa tahu benar di mata orang lain. Siapa tahu saya-nya yang bodoh. Yang pasti, Bulan Celurit Api adalah buku yang sangat layak untuk dibeli. Bravo buat Benny Arnas! Semoga saya segera bisa pandai mengarang sepertimu ^_^. Aamiin....
Perahu Kertas adalah novel terbaru Dee. Bukunya tebal banget, kayaknya cocok untuk dijadikan bantal ketika kita ingin tidur siang.
Perahu K...morePerahu Kertas adalah novel terbaru Dee. Bukunya tebal banget, kayaknya cocok untuk dijadikan bantal ketika kita ingin tidur siang.
Perahu Kertas berkisah tentang sepasang manusia yang terjebak dalam sebuah pilihan yang lumayan klise: ingin meraih mimpi atau menyerah terhadap kenyataan. Ingin meraih mimpi artinya harus siap menerima konsekuensi dan harus siap “babak-belur”. Menyerah terhadap kenyataan artinya harus berani untuk berkhianat terhadap diri sendiri. Sebuah pergulatan yang sering sekali dialami oleh sebagian besar manusia. (termasuk saya. Haha!)
Tokoh utama dalam novel ini adalah Keenan dan Kugy. Keenan ingin menjadi seorang pelukis. Kugy ingin menjadi seorang juru dongeng. Mereka bertemu dan merasa memiliki kesamaan, untuk kemudian mereka saling jatuh cinta secara diam-diam.
Bisa dibilang, Perahu Kertas sangat filmis sekali. Membaca setiap babnya, saya seperti disodori potongan-potongan gambar yang sangat jelas. Saya seperti sedang menonton film saja. Tentu saja di sini saya katakan, bahwa Dee telah berhasil bermain-main dengan deskripsi. Dan, konon, Perahu Kertas memang akan difilmkan.
Namun, tidak seperti karya-karya Dee sebelumnya, Perahu Kertas bisa dibilang sangat pop sekali. (memangnya kenapa dengan budaya pop? Hehehe.) Saya tidak menemukan aforisma-aforisma yang bertenaga seperti cerita-cerita yang terdapat di dalam Filosofi Kopi. Saya juga tidak menemukan ide-ide cerita yang segar seperti ketika saya membaca Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Menurut saya, Perahu Kertas adalah karya Dee yang “kurang dalam”, dan saya merasa tidak mendapatkan apa-apa selain hiburan semata.
Saya juga merasa Perahu Kertas ini sangat kaku sekali. Maksudnya, saya tidak merasa bebas ketika membacanya. Terlihat sekali kalau Dee terlalu setia kepada plot. Nanti di bab ke sekian tokoh ini harus begini, di bab setelah itu sang tokoh akan melakukan hal seperti ini, dan seterusnya sampai kemudian tamat. Sepertinya memang benar apa yang telah dikatakan oleh Stephen King dalam bukunya yang berjudul Stephen King On Writing, bahwa plot bisa membuat cerita menjadi kaku.
Tapi, dibandingkan dengan Dee, tetap saja saya tidak ada apa-apanya. Hehehe. (Tukangtidur)(less)
Nah, buku ini nih yang telah berhasil membuat saya pusing. Meskipun buku ini tipis, hanya 136 halaman, tapi bobot tulisannya berat banget. Setiap...more Nah, buku ini nih yang telah berhasil membuat saya pusing. Meskipun buku ini tipis, hanya 136 halaman, tapi bobot tulisannya berat banget. Setiap habis membaca satu kalimat, saya baca ulang lagi. Begitu seterusnya, sampai saya benar-benar tidak paham. Haha!
Saya tertarik untuk membeli buku ini, karena saya memang ingin mengetahui lebih banyak tentang Ideologi. Apa sih ideologi itu? Dalam Nizham al-Islam, Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan bahwa ideologi itu cuma ada tiga: Kapitalisme, Komunisme, dan Islam. Tidak ada yang lain. Pancasila tidak bisa dibilang ideologi, sebab ia masih berada di bawah ketiak (kekuasaan) kapitalisme. Tentu saja saya bingung. Sebab, saya juga sering menemukan kata-kata “ideologi” di dalam esai-esainya Seno Gumira Ajidarma. Dan “ideologi” yang dimaksud oleh Seno sama sekali tidak ada hubungannya dengan kapitalisme, komunisme, dan Islam. Nah, ideologi macam apakah yang sedang dibicarakan oleh Seno? Itu sebabnya saya beli buku ini, membacanya di dalam kamar mandi, dan kemudian menjadi pusing sendiri. Hehe.
Di dalam buku ini tertulis bahwa terdapat dua kata dalam kata ideologi, yaitu: Ide dan Logos. Jadi ideologi itu bisa dibilang sebagai aturan atau hukum tentang ide. Nah, ngomongin masalah “ide”, kita bisa merunut ke konsep idea-nya Plato. Sudah tahu konsep dunia idea ala Plato kan? Kata Plato, dunia idea itu adalah kebenaran yang sejati. Dunia idea adalah rujukan bagi segala macam benda-benda yang terdapat di dunia yang kita tinggali sekarang. Apa pun yang kita lihat di dunia fisik adalah tiruan dari dunia idea. Plato juga mengatakan bahwa manusia terdiri dari jiwa dan badan. Jiwa berasal dari dunia idea, sedangkan badan tidak. Jadi kalau kita ingin menemukan kebenaran sejati, kita harus mementingkan jiwa kita. Sebab, kalau kita hanya mementingkan badan kita, maka kita akan kesulitan dalam menemukan kebenaran sejati. Anamnesis. Begitulah istilah yang diciptakan Plato dalam usaha mengingat kembali pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada di dalam diri.
Teori pemisahan jiwa dan badan yang dikemukakan Plato dibantah oleh muridnya sendiri, Aristoteles. Menurut Aristoteles, jiwa dan badan adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Dan seterusnya… dan seterusnya…. Hehehe. Baca sendiri saja sejarahnya, ya.
Di dalam buku ini juga menerangkan bahwa istilah ideologi pertama kali dicetuskan oleh Antoine Destutt de Tracy (1754—1836) pada abad ke-18. De Tracy dianggap memiliki jasa yang amat besar dalam kajian ideologi sistematis. Kemudian, buku ini mengulas pengertian ideologi dari berbagai macam pengertian. Mulai dari Karl Marx, Feurbach, Gramsci, para penganut Mazhab Frankfurt, Focault, sampai Pierre Bourdieu.
Intinya, definisi ideologi itu belumlah (dan memang tidak akan) pernah selesai. Sama seperti saya, yang juga belum selesai memahami buku tipis ini. Hehehe. Tapi saya yakin, buku ini adalah buku yang akan sering saya baca ulang. (untuk menghindari kata: saya bego sekali karena tidak bisa memahami buku ini hanya dalam sekali baca)Hehehe. (Tukangtidur)(less)