Hmm gimana ya... buku ini berisi tentang pewujudan mimpi, kegelisahan hati serta adaptasi dengan tempat baru. Bagus sih, tapi menurutku cerita di buku...moreHmm gimana ya... buku ini berisi tentang pewujudan mimpi, kegelisahan hati serta adaptasi dengan tempat baru. Bagus sih, tapi menurutku cerita di buku ini agak bertele-tele dan tidak ada satu konflik yang benar-benar kuat.
Mungkin dengan adanya beberapa konflik (urusan hati yang tertinggal di Indonesia, teman sekamar yang bermasalah, kegiatan kamus dll) penulis ingin membuat buku ini agar tidak monoton, tapi nyatanya aku sendiri agak capek bacanya. Sehingga beberapa bagian aku skip atau aku baca sekilas saja.
Andai penulis fokus di satu konflik saja yakni tentang kehidupannya belajar di luar negeri -bagian inilah yang paling menarik untuk dikembangkan serta mengikis kegalauan hati yang nggak penting *ooppss* aku yakin buku ini bisa jadi lebih menarik.
Citra Dyah Pratuti adalah salah satu mahluk (hihi) di Indonesia yang beruntung bisa kuliah di Landon dengan beasiswa penuh. Nama program beasiswanya a...moreCitra Dyah Pratuti adalah salah satu mahluk (hihi) di Indonesia yang beruntung bisa kuliah di Landon dengan beasiswa penuh. Nama program beasiswanya adalah Chevening (silahkan cek di google). Konon, hanya orang-orang terpilihlah yang mampu meraih beasiswa ini *beruntungnya dirimu nak. Lucunya, Citra menggunakan istilah, ”mengelabui pemerintah Inggris” dalam mendapatkan beasiswa di School of Oriental African Studies (SOAS), University of London.
London memang kota tujuan Citra yang paling utama. Buat apa sekolah jauh-jauh di Inggris kalau ternyata dapet di kota pinggiran *jitak Citra, pletak... Tapi emang sih, dengan mendapatkan sekolah di pusat kota, Citra bisa melancong ke mana-mana. Dan, sebagai makluk yang doyan belanja-belinji, London adalah surganya.... *haaa, jauh-jauh ke London Cuma buat belanja doang huuhuhuhuhuhu.
Berbagai pengalaman Citra dapatkan di negeri Big Ben ini. Dari yang paling gokil, seneng, sedih sampe yang bikin ketawa-ketiwi. Iri banget dah, dengan pengalaman Citra yang bisa menyaksikan pentas opera sekelas dunia. Di London juga Citra sempat bela-belain merogoh saku untuk bisa nonton konsernya Jamie Cullum. Nggak sampe situ aja, Citra dan beberapa rekannya bela-belain nunggu di depan gedung konser hanya untuk bisa foto bareng... dan sayangnya... dia berhasil! *iri.com hehehe.
Dengan sistem transportasi Eropa yang sudah bagus, kesempatan melancong ke negara lain juga terbuka lebar *ini kuliah atau jalan-jalan sih? :P selama satu tahun di London, Citra bahkan menyempatkan diri ngabur ke Jerman. Manteeeeb. Pengalaman seru lainnya adalah perburuan makanan Indonesia. Di negeri serba roti itu, semangkuk Indomie hangat bisa merontokkan air mata haiyaaah hehe.
Masih banyak lagi catatan kehidupan Citra di London. Kelebihan buku ini, di beberapa bagian cerita dituliskan tips bagaimana menjelajahi London. Misalnya tips memilih taksi atau tips jalan-jalan gratis ke museum dsb. Berbagai foto juga bisa memanjakan mata kita takkala membaca buku ini. Sayang, kisah perjuangan Citra dalam mendapatkan beasiswa Chevening gak ditulis hiks... *citrapeliiit! Hehe. Baiklah, silahkan beber buku ini dan... Selamat datang di London. (less)
”... Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini? Terus gue ambil kertas dan jangka, seperti main jelangkung tuh. Terus di kertas itu gue bikin lingkaran...more”... Apa sih yang tidak mungkin di dunia ini? Terus gue ambil kertas dan jangka, seperti main jelangkung tuh. Terus di kertas itu gue bikin lingkaran abjad dari A sampai Z. Itu mewakili pilihan negara atau kota besar yang diawali dengan abjad itu. Jangka gue putar random, trus jatuh deh di huruf A.... Gue bikin list tuh. A: Amerika-kegedean. Am:Amsterdam, gue gak bisa bahasa Belanda... gitu seterusnya. Hingga sampai ke Abu Dhabi.” Hal.142.
Itulah Entin, baginya hidup seperti untung rugi. Begitupun ketika ia memutuskan untuk merantau dan bekerja di Abu Dhabi. Semua dilakukan secara spontan. Beruntung dengan kecerdasan dan pembawaan diri yang baik, Entin bisa mendapatkan pekerjaan yang baik pula di Abu Dhabi. Bahkan, ia juga menemukan cinta di sini, cinta yang menyilaukan yang ia dapatkan dari pria bernama Dennis yang kerap berjalan rumit.
Chloe lain lagi. Gadis manja ini telah merasakan begitu banyak kemudahan dalam hidupnya. Pekerjaan yang baik tanpa susah-susah, bisa ia dapatkan di Jakarta. Uang yang banyak, orang tua yang kaya dan juga kekasih hati bernama Raymond. Sayang Chloe tidak memanfaatkan berbagai keuntungan itu untuk hal-hal yang baik. Tata kramanya buruk, ia kerap bertingkah kasar hingga Raymond meninggalkannya. Ditengah gemuruh kesedihan, Chloe akhirnya berani untuk melepaskan semua kenyamanan yang ia miliki demi hidup mandiri di tanah rantau mengikuti jejak sahabatnya Entin. Yup, Abu Dhabi.
Kemudian hadir Siti. Keadaan yang memaksa Siti hingga ia bekerja di Abu Dhabi. Berbeda dengan Entin dan Chloe yang mendapatkan pekerjaan yang baik di sana, Siti hanyalah buruh kasar. Ia bekerja serabutan menjadi pemantu rumah tangga dari satu majikan ke majikan yang lain. Walau begitu, Siti adalah wanita lembut yang berpribadi santun. Pekerjaan yang ia lakukan juga rapi sehingga pada akhirnya Chloe merasa dekat dengan Siti walaupun sesungguhnya Siti hanya berstatus pekerja pada apartemennya.
Kisah 3 wanita pekerja berbeda status sosial inilah yang ditampilkan apik melalui Memburu Fatamorgana. Siapa sangka, kehidupan Abu Dhabi yang keras, pada akhirnya merontokkan segala keegoisan Chloe sehingga ia bersedia bersusah payah membantu Siti yang diperas lintah darat. Kepekaan Chloe berpendar di negeri berkilauan ini. Siapa sangka ia yang dulu manja dan acuh mau membantu Siti yang papa. Bahkan tak segan menganggap Siti sebagai saudaranya sendiri.
Keakraban antara Chloe dan Entin juga semakin erat. Sebagai sesama perantau dan sama-sama butuh teman curhat, Chloe dan Entin seperti terikat sebuah benang maya. Mengikat namun mereka tetap mampu berjuang demi hidup masing-masing. Berbagai konflik hadir. Mulai dari masalah remeh-temeh-percintaan hingga perkara hak mereka sebagai pekerja. Masing-masing berjuang demi melepas belenggu yang menjerat. Entin berusaha memaklumi kekasih yang suka berperilaku kasar. Chloe harus berjuang melawan berbagai goadaan hedonis, sedangkan Siti... ia harus berjuang menghadapi diri sendiri untuk berani menuntut orang yang telah melecehkannya secara seksual.
Memburu Fatamorgana adalah sebuah selimut kisah yang unik. Kadang ia berpendar pekat, namun juga menghangatkan tokoh-tokoh yang ada di dalamnya. Mengencani buku ini, kita seolah diajak mengilingi Abu Dhabi. Deskripsi adalah kekuatan utama. Walaupun pada awal-awal bab, penggunaan diksi sedikit kaku, namun semakin ke belakang, buku yang ditulis oleh dua orang ini mampu menebar rata seperti butiran pasir di padang pasir. Konflik yang ditawarkan cukup beragam. ] Memang tidak ada konflik mencolok yang dihadirkan dari awal dan dipecahkan pada akhir cerita. Semua berjalan apa adanya. Hal ini bisa dianggap sebagai kelemahan juga sebagai kekuatan pada saat yang sama. Tergantung sudut mata pembaca. Aku sendiri, lebih enjoy membaca takkala konflik yang dihadirkan mampu dipecah-pecah. Pembaca diajak berfikir rumit, namun bisa diselingi kisah-kisah cinta dan... tentu saja, kita akan diajak jalan-jalan keliling Abu Dhabi.
Tidak mudah menyatukan dua buah pemikiran dalam satu novel. Aku pribadi pernah mencoba dan... gagal. Butuh kesabaran dan kepekaan untuk mampu memahami loncatan-loncatan ide satu sama lain. Mbak Helene dan Mbak Wuwun sudah membuktikannya. Selamat! Kisah perjuangan Chloe, Entin dan Siti bisa mengajarkan kita bahwa... keadaan bisa berubah, dan kita harus terus berjuang demi hidup kita. (less)
Buku ini sudah aku baca bertahun-tahun yang lalu. Ulasannya di blog multiply tak terselamatkan. Yang pasti, travellous ini salah satu buku perjalanan...moreBuku ini sudah aku baca bertahun-tahun yang lalu. Ulasannya di blog multiply tak terselamatkan. Yang pasti, travellous ini salah satu buku perjalanan terkeren yang pernah aku baca ;)(less)
“Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menuliskah” Imam Al-Ghazali, Hal.9
Setahun sudah Alif merengkuh sejuta pengalaman di ko...more“Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menuliskah” Imam Al-Ghazali, Hal.9
Setahun sudah Alif merengkuh sejuta pengalaman di kota Saint-Raymond, Kanada dalam rangka pertukaran pelajar. Kini ia kembali ke Bandung, kembali ke kota dimana mimpi-mimpinya menapaki benua Amerika bermula. Dengan berhasil memperlihatkan bahwa dengan kerja keras dan keyakinan Man Shabara Zhafira –siapa yang bersabar akan beruntung, Alif telah membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin diraih di dunia ini, terlebih ketika berjuang mewujudkan mimpi.
Rasa percaya diri Alif membuncah. Pasca perjalanan dari Kanada, Alif dengan mudah meraih beasiswa lainnya. Tak lama dari kepulangannya ke kos yang berdebu dan lembab, Alif berkesempatan meraih beasiswa visiting student di National University di Singapura selama satu semester. Dengan pengalamannya itu, Alif sudah satu level di atas teman-temannya yang lain. Kemampuan menulisnya juga terus meningkat. Rasanya, masa depan gemilang sudah berada di genggamannya. Tapi benarkah?
Iklim politik yang memanas di penghujung tahun 1990-an ternyata juga berdampak dalam kehidupan Alif. Belasan lamaran pekerjaan selalu berakhir dengan penolakan. Memang sulit untuk mendapatkan pekerjaan dikala banyak perusahaan gulung tikar. Di titik terendahnya, Alif bahkan sudah tidak mampu lagi membantu kehidupan Amak dan adik-adiknya di kampung. Bahkan, Alif sempat mengambil keputusan nekat. Berhutang! “Hari ini aku bukan lagi orang merdeka. Aku terjajah oleh hutang,” hal. 25.
Reformasi di tahun 1998 menggemparkan Indonesia bahkan dunia. Kekacauan dan kerusuhan terjadi. Namun, tentu saja ada hikmah di balik sebuah kejadian. Pasca tumbangnya penguasa, media massa yang sebelumnya dibredel kembali tumbuh dan berusaha bangkit menunjukkan tajinya. Alif pun beruntung bisa unjuk gigi menjadi jurnalis di media. Alif akhirnya berkarir sebagai wartawan di Derap. Media yang menjunjung tinggi kejujuran dan berusaha mengungkapkan berita dengan apa adanya.
Di sini kemampuan menulis Alif berkembang pesat. Keterpurukan keuangan juga mulai teratasi walaupun Alif masih harus berjuang keras untuk itu. Bersama sahabatnya –Pasus, Alif rela mondok di kantor dan bermalam di ruangan arsip agar dapat menyisihkan gaji lebih banyak untuk membantu kehidupan Amak di kampung. Untunglah, ia memiliki rekan kerja yang baik. Atmosfer kekeluargaan sangat dijunjung tinggi di sana. Bahkan, ketika Derap merekrut pegawai baru bernama Dinara, Alif merasakan getaran berbeda di dadanya. Bayang-bayang Raisa mulai pupus. Dinara sangat menyita hati dan pikirannya. Itukah yang dinamakan cinta?
Randai… sahabat masa kecil yang telah memenangi hati Raisa kembali hadir di hidup Alif. Semangat Randai untuk berkompetisi tak pernah surut. Dengan sengaja Randai bercerita tentang pencapaian-pencapaian yang ia raih. Alif tak ingin dicundangi, Alif tak ingin lagi tertampar ketika apa yang ia inginkan terebut lebih dulu dari sahabatnya itu. Ketika Randai bercerita bahwa ia akan mendapatkan beasiswa ke Eropa, Alif tersentak. Ia tak ingin kalah. Alif mulai gencar memburu beasiswa. Sekali lagi, Alif berharap dia bisa menaklukkan Amerika!
“Jika saja aku ditakdirkan untuk mendapatkan beasiswa ini, maka aku akan menjadi anggota klub elite ini, kelompok cerdik pandai dan pemimpin dunia. Siapa tahu aku ikut tertular seperti mereka, memenangi nobel dan pulitzer. Siapa tahu. Aku diajarkan untuk tidak meremehkan impian setinggi apapun, karena sungguh Tuhan Maha Mendengar.” Hal.170. Dan… benar saja, akhirnya Alif mendapatkan apa yang ia mau. Ia sukses melompati Randai. Jauh sebelum keberangkatannya ke Eropa, Alif terlebih dulu sampai ke negeri Paman Sam. Di sana, ia menemukan orang-orang yang segera disebutnya sebagai keluarga dan mulai merajut kehidupan baru. Namun, satu pencapaian yang belum direngkuhnya. Jika Randai sudah memiliki Raisa maka hubungan antara Alif dan Dinara masih belum jelas. Jutaan kilometer dari Indonesia… Alif gamang.
Gambar : Monumen Washington, pemandangan yang biasa dilihat Alif dari jendela apartemennya :)
Seperti halnya Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna yang memikat, Ahmad Fuadi tetap mempertahankan ciri khasnya dalam Rantau 1 Muara ini. Apa itu? Yakni keberadaan mantra-mantra penyemangat yang bisa menginspirasi pembaca. Man saara ala darbi washala, Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Mantra itulah yang jadi senjata Ahmad Fuadi di penutup trilogi Negeri 5 Menara ini.
Di dua buku terdahulu Ahmad Fuadi lebih banyak menyoroti tentang persahabatan dan mimpi. Namun, di Rantau 1 Muara ini Ahmad Fuadi banyak berbicara tentang cinta. Keresahan Alif menangani urusan hati ini sangat menarik. Di satu sisi Alif ingin menunjukkan bahwa ia sungguh berjuang demi cinta. Namun, pengalamannya terhadap Raisa dulu cukup menghambat. “Ada nyaliku. Kuat dan siap. Tapi aku tidak sudi malu. Nyali punya, malu tak mau,” hal. 166 suara hati Alif tersebut cukup menjelaskan bahwa urusan hati bukanlah sesuatu yang mudah ia taklukan. :)
Gambar : Halal gyro, tempat makan Alif kalau ke New York :)
Walaupun kisah percintaan dapat posri yang cukup besar di buku ini, pengalaman Alif hidup di Amerika Serikat juga banyak dikisahkan dan tentu saja sangat menarik untuk diikuti. Apalagi, Ahmad Fuadi sempat menuliskan tragedi 9/11 yang berpengaruh besar terhadap kehidupan Alif. Hmm… dengan berbagai elemen kisah yang diceritakan, bisa dibilang kemungkinan Rantau 1 Muara dapat disuka dan ‘dibenci’ pada saat yang bersamaan cukup besar. Haha.
Jika dibandingkan dengan Ranah 3 Warna, tampilan Rantau 1 Muara ini terlihat lebih kurus. Perubahan cukup besar nampak di kavernya. Jika sebelumnya memakai kaver yang cukup ramai dan berwarna-warni, kaver Rantau 1 Muara sangat sederhana dan tidak terlalu bermain warna. Sebagian orang mungkin lebih suka kaver yang menenangkan seperti ini. Namun, menurutku walaupun sederhana masih banyak elemen-elemen yang bisa ditambahkan di kaver ini sehingga bisa lebih menarik. Hmm, jika bicara soal selera memang jadinya subjektif, ya? :)
Terlepas dari itu semua, Rantau 1 Muara adalah bacaan ringan, inspiratif dan menyenangkan. Terlebih jika sudah membaca dua seri sebelumnya maka Rantau 1 Muara menjadi wajib untuk ditamatkan terlebih bagi yang penasaran bagaimana kehidupan Alif selanjutnya. Jangan lupa, resapi mantra-mantra yang ditawarkan buku ini. Jika begitu, maka tidak ada yang mustahil jika sudah berbicara mimpi. Terima kasih Bang Ahmad Fuadi atas karyanya yang bermanfaat ini. Seperti halnya yang ia tulis di Rantau 1 Muara bahwa, “melalui tulisan dan huruflah manusia belajar dan menitipkan ilmu kepada orang lain,” Hal.41. Maka Bang Ahmad sudah melakukan dan membuktikan itu semua.(less)
Dapet buku ini di obralan beberapa tahun lalu. Kavernya terkesan tua, namun karena beembel-embel setting luar negeri *haha* aku jadi tertarik untuk be...moreDapet buku ini di obralan beberapa tahun lalu. Kavernya terkesan tua, namun karena beembel-embel setting luar negeri *haha* aku jadi tertarik untuk beli. Ketika dibeli pun butuh bertahun-tahun lagi untukku berjodoh waktu sehingga bisa menuntaskan buku ini.
Ternyata... ini buku yang menarik! Menceritakan kisah cinta sepasang paruh-baya. Gerhana, ibu dua anak yang tinggal di Yogyakarta harus berangkat ke Belanda untuk menjenguk dua cucunya. Siapa sangka, pertemuan menyebalkan antara ia dan lelaki yang secara tak sengaja duduk di sebelahnya membuat kehidupannya selama berada di Belanda menjadi sebegitu berwarnanya.
Gerhana bertemu lagi di sebuah toko Asia dan ternyata perkenalan antara pemilik toko dan anak Gerhana menjadikan hubungan mereka lebih akrab. Perlahan namun pasti lelaki itu menunjukkan rasa sayangnya terhadap Gerhana. Namun, Gerhana masih tak bisa lepas dari bayang-bayang almarhum suaminya.
Pokoknya ceritanya bagus deh :) Apalagi melalui buku ini aku diajak jalan-jalan hingga ke Perancis Selatan. Ke sebuah kastil yang sempat aku liat di tayangan Amazing Race. Hahaha...
Penulis buku ini, Toeti Senja sepertinya sudah khatam Eropa. Makanya penggambaran settingnya lumayan tajam. Gaya bahasanya juga asyiiiikkk sekali.
Teriak Chantal Della Concetta murka. Wajar saja Chantal marah seperti itu, faktanya ketika sedang melakukan liputan,...more“Hei kamu jangan kurang ajar ya!”
Teriak Chantal Della Concetta murka. Wajar saja Chantal marah seperti itu, faktanya ketika sedang melakukan liputan, seorang pemuda iseng menyolek pantatnya. Kejadian ini aku ketahui ketika stasiun berita tempat Chantal dulu bekerja (sebelum akhirnya dia beralih profesi menjadi model majalah ‘horor’) menayangkan behind the scenes kerjaan para reporter dalam rangka peringatan hari ulang tahun stasiun televisi tersebut.
Kehidupan seputar reporter ini pula yang membuat Wuri untuk menuliskan kisah-kisah konyolnya ketika dulu masih bekerja sebagai pemburu berita. Alih-alih menceritakan dengan serius, Wuri memilih menuliskannya dengan jenaka. PeLit (Personal Literatur) semacam ini memang sedang booming. Namun, karena cerita ini diangkat dari kisah nyata dan… menceritakan sebuah profesi yang memang bagi sebagian orang bikin penasaran, maka lahirlah Cenat Cenut Reporter.
Lebih dari satu lusin pekerja kurang waras tampil di buku ini. Dari si Bossman, driver hingga… tentu saja para reporter yang unyu-unyu, hihi. “Sejak Flintstone masih pakai pokok, sudah ada ‘kesepakatan-tidak-tertulis’ perihal sosok reporter yang identik dengan cerdas, berawasan luas, dan update” Hal.9, padahal ya… reporter juga manusia yang punya sisi gokil dan apesnya hahaha.
Misalnya saja ketika ditugasi untuk mewawancarai narasumber bule. Selain ketar-ketir masalah bahasa, mereka harus menghadapi tingkah laku bule yang hanya mau diwawancari oleh laki-laki. *uhuk, you know what I mean* Padahal tim pewawancara yang diutus perusahaan cewek semua! Ya sudah, kameramen cowok deh yang harus ambil alih. Heuheuheu.
Ternyata ya, jadi reporter itu enak juga. Bisa dzalan-dzalan dan bisa jual mahal ding. Kebanyakan orang berpendapat bahwa salah satu tugas berat reporter adalah mengejar narasumber. Namun, di saat-saat tertentu narasumber inilah yang pada akhirnya mengejar-ngejar reporter. “…narasumber yang memohon-mohon untuk diwawancara… wawancara ditolak rayuan bertindak. Maksudnya, setelah liputan maka narasumber memberi jaminan kalau tim bakal dapat makan gratis tiga hari-tiga malam di restoran miliknya.” Hal. 38.
Masih banyak lagi pengalaman seru dan sial para reporter ini dalam memburu berita. Dari yang mobil mogok di rumah narasumber, ngadepin narasumber cerewet dan banyak maunya, hingga ketiban rezeki ngeliat narasumber model ganteng yang pamer bodi. Uhlalaaa… sesuai dengan judul bukunya, kisah kehidupan reporter memang bikin cenat-cenut hihi *ngomong ala Smash. Yu no-w mi so wel-lah!*
Kelebihan utama (dan sekaligus jadi bumerang) buku bergenre komedi semacam ini adalah... hasil akhir dari kisah-kisah yang disajikan sangat berpengaruh dengan kondisi psikis pembacanya. Artinya, hal-hal lucu yang mungkin diniatkan untuk memancing gelak tawa bisa jadi tereksekusi biasa-biasa saja. Sebaliknya, hal-hal yang biasa bisa jadi berakhir lucu takkala pembaca merasa bagian itu cukup laik untuk ditertawakan hahaha. Pada intinya, Cenat Cenut Reporter cukup laik memperoleh predikat PeLit komedi :)(less)
“A journey of a thousand miles must begin with a single step,” Lao Tzu, Hal.113.
Sebagian besar traveler pasti ingin menjejaki tanah Eropa. Bukan hany...more “A journey of a thousand miles must begin with a single step,” Lao Tzu, Hal.113.
Sebagian besar traveler pasti ingin menjejaki tanah Eropa. Bukan hanya untuk menggalang gengsi, namun perjalanan ke benua biru itu tentulah akan menawarkan banyak hal baru di dalam hidup si pengelana. Bagi kalangan borjuis tentulah melakukan perjalanan ke Eropa bukan hal yang sulit. Namun bagi kalangan yang mengaku backpacker kere nan nekat sekalipun, Eropa masih sulit tersentuh. Apalagi jarak Indonesia-Eropa sangat jauh dan tentu tiketnya pun lumayan mahal.
Kenyataan ini tidak membuat Icha gentar. Melalui program Au Pair, Icha berencana menaklukan Eropa! Tidak hanya itu, di sana ia akan berkesempatan untuk belajar sekaligus bekerja. Bekerja sebagai pengasuh tepatnya. Ya, “Au Pair adalah sebuah program yang memungkinkan semua orang dengan batasan usia tertentu, dapat mempelajari bahasa dan budaya negara yang dia inginkan dengan bekerja sebagai pengasuh anak…” Hal.2.
Setelah semua persiapan telah selesai dilakukan, Icha pun memutuskan untuk cuti kuliah dan memulai kehidupan baru sebagai Au Pair di Annecy, Perancis. Akhirnya, cita-cita Icha untuk menjejakkan kaki dan merengkuh ilmu di Eropa berhasil ia gapai. Walau begitu, dari awal Icha sadar betul bahwa keberadaannya di Eropa bukanlah untuk pelesiran semata. Di sini ia harus belajar dan bekerja. “For some people, being an au pair might seem to be a fairytale, but it could actually be your worst nightmare,” sahut Icha.
Keindahan Annecy, Perancis
Di Annecy, Icha bekerja di keluarga Abdul. Ia tinggal di rumah yang besar dan indah. Di sana ia bertugas untuk menjaga Sarah, “…gadis kecil yang sangat aktif dan tidak bisa berhenti bicara.” Hal.32. Sebetulnya Icha sangat diterima baik di keluarga ini. Namun, sayangnya kehidupan pernikahan host family-nya berada di ambang perceraian. Tentulah hal tersebut sedikit banyak mempengaruhi keadaaan di rumah. Di saat-saat tertentu Icha bahkan harus rela menenangkan Sarah yang sedang down.
Bulan-bulan awal Icha juga sangat kesulitan mendapatkan teman. Di lembaga bahasa tempat ia belajar pun Icha kesulitan untuk masuk ke salah satu kelompok belajar –karena mereka sudah mempunyai geng sendiri. Namun, untunglah melalui forum couchsurfing.com, Icha akhirnya mendapatkan teman-teman yang belakangan menjelma sebagai sahabat terbaiknya selama berada di Annecy. Bahkan, teman-teman baru di CS ini pulalah yang menjadikan impian Icha untuk keliling Eropa menjadi nyata!
Pasca perceraian host family yang berakhir menegangkan, dengan uang yang dikumpulkan dari bekerja sebagai Au Pair, Icha bersama sahabat barunya –Kanthy, memutuskan untuk menjelajahi Eropa dengan cara-cara yang lumayan ekstrem. Ya, hal ini mereka lakukan terlepas dari minimnya dana yang mereka punya. Untuk berpindah dari satu kota ke kota yang lain misalnya… alih-alih menggunakan angkutan paling murah sekalipun, Icha dan Kanthy melakukannya hanya dengan bermodal jempol! Ya mereka hitchhike dan berharap ada pengemudi baik yang bersedia memberikan mereka tumpangan.
Akomodasi sepenuhnya mereka dapatkan dari couchsurfing. Bahkan, dalam perjalanannya, Icha dan Kanthy juga melakukan Wwoofing! Yakni menjadi sukarelawan di perkebunan dengan imbalan makan dan tempat tinggal! Benar-benar perjalanan yang ‘gila’! Tak sedikit halangan menghampiri perjalanan mereka. Seperti terjebak di mobil pria hidung belang misalnya… namun syukurlah Icha dan Kanthy bisa melewati itu semua. “The most difficult situation is always being the most memorable thing that stays in our memory,” Hal.172.
Lyon, Perancis. Kota yang menghangatkan hati si penulis ;)
Bahkan, dari pengalaman mereka wwoofing, mereka diingatkan untuk betapa pentingnya mengkonsumsi makanan lokal. “…karena produk impor membutuhkan banyak energi untuk sampai ke perut kita. Mulai dari proses pembekuan, hingga minyak yang digunakan untuk distribusi. Jadi, untuk membuat makanan sampai ke meja kita membutuhkan banyak energi yang bisa saja digunakan untuk makanan para anak kelaparan di belahan dunia sana…” Hal.181.
Au Pair adalah buku yang menawan. Icha berhasil menuliskan kegelisahan-kegelisahan hati dan impiannya yang meledak-ledak dalam bahasa yang ringan. Siapa sangka, buku dengan tampilan sederhana ini menyimpan sajian yang luar biasa. Terakhir kali aku merasakan nuansa yang sama ketika aku membaca Travellous-nya Andrei Budiman. Sama-sama ‘manis’, sama-sama ‘mencerahkan’.
Kaver buku ini sebetulnya sangat pas dan sangat menggambarkan tentang isi buku ini. Walau maaf, menurutku desainnya terkesan tua. Aku membayangkan, jika gambar kereta dorong diganti dengan ilustrasi dan warna kaver lebih berani menggunakan warna-warna ceria, pastilah Au Pair akan semakin menarik. Keberadaan foto-foto di bagian isi juga kurang kece. Saya yakin buku ini akan diterima baik. Siapa tahu akan dicetak ulang. Nah, ketika kesempatan itu datang semoga saja hal-hal itu bisa diperbaiki. Terlepas dari kaver dan tampilan buku secara fisik. Aku suka sekali buku ini. Keren! ;)(less)
Setahun lalu (tahun 2012) saya membaca buku ini disela-sela perjalanan dinas. Di tempat makan, di ruang tunggu keberangkatan, di sela-sela bertugas, d...moreSetahun lalu (tahun 2012) saya membaca buku ini disela-sela perjalanan dinas. Di tempat makan, di ruang tunggu keberangkatan, di sela-sela bertugas, di hotel... dimana ada kesempatan saya berusaha untuk membaca buku ini.
Berselang satu tahun setelahnya (tahun 2013) saya kembali membaca buku ini dari awal. Hasilnya? saya tercengang... ada banyak sekali kisah menarik yang (sepertinya) tidak saya sadari ketika tahun lalu saya membacanya.
Saya suka gaya Matatita ketika bercerita. Ringan, lugas, tidak bertele-tele dan asyik. Jelajah kisahnya pun tak sebatas hanya di Indonesia. Beberapa negara di dunia juga menjadi tokoh utama di buku bergaya antropologi ini.
Untunglah, buku ini tidak berembel-embel, "Sekian JUTA keliling INI-ITU" karena, mau dibilang bagaimanapun traveling di Eropa itu tidaklah murah. Apal...moreUntunglah, buku ini tidak berembel-embel, "Sekian JUTA keliling INI-ITU" karena, mau dibilang bagaimanapun traveling di Eropa itu tidaklah murah. Apalagi Matatita bisa ke Eropa karena diundang suatu acara sehingga tiket PP sudah tak terlalu dipikirkan.
Walau begitu, Matatita tetap mengulik hal-hal unik selama perjalanannya di 5 negara dan 9 kota. Walaupun, karena keterbatasan waktu ada satu-dua negara yang dijelajahi hanya sepintas lalu.
Kejutan muncul ketika Matatita melancong ke Venesia. Ternyata, menurut Matatita, Venesia tak seindah yang dibayangkan orang-orang. Ya ya ya... naik gondola memang asyik dan romantis (ya kalo pergi sama pasangan) tapi, harga mencicipi naik perahu itu tidaklah murah. Ya sudah, mending naik getek di Sungai Musi saja :D
Untunglah, penuturan Matatita masih seasyik Tales from the Road. Jadi, walaupun ini jenis buku 'How To' namun tetap tidak meninggalkan ciri khas Matatita.
Huiih mau banget deh trip bareng Matatita. Kayaknya, beliau lebih seru ketimbang mbak yang 'satu' itu ^_^