Sebuah kisah masa kecil 7 orang bersahabat yang sederhana namun indah. Kisahnya memang sederhana, menceritakan hari-hari mereka dengan berbagai dongen...moreSebuah kisah masa kecil 7 orang bersahabat yang sederhana namun indah. Kisahnya memang sederhana, menceritakan hari-hari mereka dengan berbagai dongeng, permainan, dan kekonyolan khas anak-anak. Natural sekali (hanya agak lebay saat menceritakan pesona si Gadis Dongeng kala mendongeng). Aku paling suka dengan setting yang digambarkan dalam kisah Gadis Dongeng ini. Menyenangkan sekali membayangkan keindahan tempat tinggal dan tempat bermain Gadis Dongeng dan kawan-kawan di sekitar kediaman keluarga King di Carlisle di Pulau Prince Edward. Cara Lucy M. Montgomery menggambarkan setting cerita, lingkungan kediaman keluarga King yang menyimpan sejarah keluarga berpuluh tahun yang tetap terjaga, benar-benar kuat dan mengesankan. Aku seperti dapat membayangkan rumah tua keluarga King dengan lingkungan sekitar yang khas: Kebun King dengan pohon-pohon apelnya yang adalah Pohon Hari Kelahiran keluarga, Jalan Setapak Paman Stephen, tempat bermain favorit "Batu Khotbah", juga pepohonan cemara, mapple, willow, dan bunga-bunga yang beraneka dan menambah keindahan musim semi. Peternakan, hutan cemara, bukit, padang rumput... benar-benar indah. Seperti alinea penutupnya yang juga indah:
"Musim panas kami yang begitu indah sudah berakhir. Kami mengalami begitu banyak kegembiraan, keindahan pagi hari, lamunan dan kemewahan pada tengah hari, serta kedamaian pada malam-malam panjang berwarna lembayung. Kami menikmati nyanyian burung, hujan keperakan di ladang yang menghijau, badai di antara pepohonan, padang rumput dengan bunganya yang bermekaran, dan percakapan dedaunan yang berbisik-bisik. Kami bersahabat dengan angin dan bintang, buku dan dongeng, serta tungku api yang menyala pada musim gugur. Kehidupan kami diisi dengan tugas ringan sehari-hari yang menyenangkan, persahabatan yang indah, diskusi, dan petualangan. Kenangan kami akan bulan-bulan yang telah berlalu itu jauh lebih kaya daripada yang kami duga. Dan, di hadapan kami, terbentang mimpi akan musim semi. Memimpikan musim semi selalu aman karena musim semi pasti datang. Dan, jika tidak seperti yang kami bayangkan, itu akan jauh lebih indah." (less)
Kuciwa sama buku ini. Ekspektasiku meleset. Cukup bagus aku masih mau namatin buku ini. Dibandingkan dengan beberapa buku lain tentang Afganistan yang...moreKuciwa sama buku ini. Ekspektasiku meleset. Cukup bagus aku masih mau namatin buku ini. Dibandingkan dengan beberapa buku lain tentang Afganistan yang pernah kubaca, kurasa buku ini yang paling membosankan. Dikatakan bahwa cerita di buku ini berdasarkan kisah nyata sebuah keluarga saudagar buku di kabul, ok. Tapi... penulis akhirnya hanya menceritakan potret kehidupan tokoh-tokoh yang berbeda yang ada di keluarga tersebut, lalu... apa? Ga ada fokus tertentu, sampai ending pun nggak ada kesimpulan yang utuh apa yang hendak disampaikan penulis? Potret kehidupan sebuah keluarga Afganistan yang dikoyak perang itu? Hanya itu? Kurasa hanya itu. Kupikir apa menariknya? Dari novel lain bersetting Afganistan seperti The Kite Runner, a Thousand Splendid Suns, atau dari buku memoar seperti Amira and Three Cups of Tea, aku bisa mendapatkan gambaran sepotong potret kehidupan di Afganistan tanpa harus kehilangan ketertarikan akan fokus cerita. Tetapi di buku ini? Yang kudapat hanya gambaran sepotong potret kehidupan di negeri itu yang diceritakan dengan demikian acak, melebar kesana-kemari, dan akhirnya kehilangan arah cerita. Ksimpulannya: buku ini ga klop buatku :D
Anyway, aku masih harus mengucapkan selamat untuk diri sendiri yang masih mau saja meneruskan baca sampai akhir. :D(less)
Masih setia dengan 4 bintang untuk Aoyama Gosho yang setidaknya senantiasa membuatku tersenyum atau terkikik sendiri meski lagi baca kasus-kasus pembu...moreMasih setia dengan 4 bintang untuk Aoyama Gosho yang setidaknya senantiasa membuatku tersenyum atau terkikik sendiri meski lagi baca kasus-kasus pembunuhan juga. Yah, barangkali aku sudah terlanjur senang dengan karakter-karakter yang dihidupkan Gosho di serial Detective Conan-nya. Komiknya asyik dibaca buat ngilangin penat. Meskipun, seperti banyak orang lainnya, aku juga kepikiran ini komik kapan selesainyaaa.... Tapi selama itu asyik, enjoy aja lah @_@'(less)
Kurang menikmati dongeng-dongengnya :). dongengnya lumayan panjang tapi menurutku sih kurang seru. Yah, itu pun dibandingkan dengan dongeng anak-anak ...moreKurang menikmati dongeng-dongengnya :). dongengnya lumayan panjang tapi menurutku sih kurang seru. Yah, itu pun dibandingkan dengan dongeng anak-anak lainnya yang biasanya asyik-asyik aja kubaca (at this age :D).(less)