Membaca novel ini membuat perasaan saya haru. Apalagi belum lama, sewaktu membacanya, kakek saya meninggal dunia.
Yea. Missed him.
But, I'm sure he's ha...moreMembaca novel ini membuat perasaan saya haru. Apalagi belum lama, sewaktu membacanya, kakek saya meninggal dunia.
Yea. Missed him.
But, I'm sure he's happy right now in heaven...
#ehkokmalahcurhat :))
Saya suka sekali cara Fannie Flagg menjabarkan setiap karakter di novel The Day I Die ini. Tentang Elner yang begitu dicintai tetangga, keluarga, dan orang-orang yang baru ditemuinya. Tentang pengalamannya selama di Surga, tentang kedukacitaan para tetangga, juga tentang ceritanya saat tokoh Elner membuka matanya dan membuat syock satu ruangan yang sudah menvonisnya mati! Hahahahaha!
Jadi marilah awali Goodreads ini dengan novel ini :D
Judul Novel : “Fleur” Pengarang : Rana Wijaya Soemadi ISBN : 978-602-98525-0-9 Penerbit : Ninelights...moreJadi marilah awali Goodreads ini dengan novel ini :D
Judul Novel : “Fleur” Pengarang : Rana Wijaya Soemadi ISBN : 978-602-98525-0-9 Penerbit : Ninelights Production Diterbitkan melalui : Nulisbuku.com Jumlah halaman : 282; 13 x 19 cm
Berupaya untuk menyampaikan pesan moral tentang penghentian kekerasan dan perdagangan terhadap anak, novel berjumlah 282 halaman ini dituturkan dari sudut pandang seorang anak kecil berusia delapan tahun bernama Ames dan Fleur. Gaya bahasanya terasa ringan, akan tetapi novel “Fleur” ini sama sekali tidak diperuntukkan untuk anak kecil.
Bersetting di tahun 1945 di pinggiran kota Blewedzki, dua jam perjalanan dari pusat kota Orldiland, Mosknwe, “Fleur “ bercerita tentang dua anak kecil yang sama-sama berumur delapan tahun namun mengalami cerita masa kecil yang berbeda. Tidak ada yang tahu cerita Fleur sebenarnya, sampai dia kemudian ditemukan di bawah reruntuhan bangunan oleh seorang kepala pelayan yang baik hati bernama Nyonya Pigi, di rawat di rumah sakit, diperbolehkan menginap di asrama panti asuhan dan akhirnya bertemu dengan Ames, teman sekamarnya yang cerdas, periang, dan merasa jengkel jika tidak dipercaya. Tidak ada yang tahu cerita Fleur sebenarnya, sampai Ames melibatkan dirinya secara tak sengaja ke dalamnya..
Cover yang saya baca bukan ini sebenarnya..(:seorang anak menangis dan ada gambar labirin)
Sungguh, selama beberapa hari setelah membaca buku ini saya...moreCover yang saya baca bukan ini sebenarnya..(:seorang anak menangis dan ada gambar labirin)
Sungguh, selama beberapa hari setelah membaca buku ini saya masih percaya bahwa cerita yang ada di dalamnya adalah nyata. Tentang Charlie, penyapu lantai berumur 32 tahun yang memiliki IQ hanya 68. Dan kemudian setelah dia bertemu dengan Dr. Strauss dan Prof Nemur, Charlie menjadi sangat pandai, teramat pandai sampai banyak orang yang merasa segan dan muak dengannya.
Saya sampai menangis sesenggukan ketika tahu akhir dari cerita ini, googling untuk mengetahui bagaimana nasib si Charlie selanjutnya dan merasa tertipu mentah-mentah dan merasa menangisi hal yang sia-sia waktu sadar-benar-benar sadar-kalau cerita ini hanyalah fiksi belaka! LUAR BIASA!!:)))) #cekekcekekDanielKeyes XD
Judul Buku : Charlie, Si Jenius Dungu Judul Asli : Flowers For Algernon Pengarang : Daniel Keyes Tebal : 460 halaman (less)
Kalau boleh sedikit berandai-andai, novel ini ibarat sebuah buku diary seorang kawan dekat yang tak sengaja saya temukan ketika saya sedang bersih-ber...moreKalau boleh sedikit berandai-andai, novel ini ibarat sebuah buku diary seorang kawan dekat yang tak sengaja saya temukan ketika saya sedang bersih-bersih gudang, dan lalu menarik satu diantara tumpukan buku lama yang lainnya. Xerografer (Cetak pertama 2007).
Berkisah tentang si tokoh utama bernama Budi yang memiliki teman menyebalkan bernama Doni, dan satu makhluk ajaib yang memiliki selera music retro bernama Slamet. Mereka semua adalah petugas photocopy di sebuah perpustakaan di salah satu universitas terkenal di kota Malang. Sepertiga halaman saya baca, dan saya senyam senyum sendiri. Gusti! Ini Mas Ihwan banget! :))
Si tokoh menjelaskan tentang betapa perlu tenaga, pikiran dan keahlian juga untuk menjadi seorang tukang photocopy. Saya juga setuju. Dulu saat saya masih berstatus mahasiswi, saya sering mampir di sebuah ‘warung’ fotocopy dan melihat cara kerja mereka. Karena saking seringnya bertemu, saya jadi akrab sama mereka. Sering ngobrol gak penting di warung itu hingga nongkrong nungguin temen kuliah lain juga di tempat itu. Well, kadang kalau mereka, para kawan photocopy, terlihat sibuk, dan saya punya waktu lebih banyak, saya mending ngalah pada mereka yang bawa lembaran lebih banyak daripada saya. Atau kalau lihat muka tukang fotocopynya udah berpeluhan keringat, meski tetap dengan senyumnya yang tak ketinggalan, saya mending cari yang lain saja, yang lebih lowong.
Kembali ke novel ini, si tokoh juga menjelaskan tentang resiko pekerjaan sebagai tukang fotocopy. Kegores pinggiran kertas yang baru hangat-hangat kuku keluar dari perut photocopy, mata silau karena sinar yang ditimbulkan dari fotocopy sehingga harus memakai kacamata, dan residu tinta yang bisa berbahaya buat paru-paru. Maka dari itu perlu juga minum susu tiap Jumat untuk mencegah residu tinta berendam di dalam.
Intinya, petugas photocopy itu seperti profesi lainnya yang patut dihargai. Di novel ini, saya juga menemukan kisah cinta si tokoh pada seorang perempuan bernama Freya (Mira). Dan ternyata, Ipin-sahabat Budi-dan kekasihnya, Reni, malah getol menjodohkan Budi dengan Nina, yang tak lain adalah sahabat Mira.
Kisah cinta segitiga lalu bergulir. Budi dan Mira jadian tanpa sepengetahuan Nina yang memiliki perasaan terpendam pada Budi.
Sayangnya, ending dari novel ini membuat saya kecewa. Ceritanya memang mengalir, saya akui. Jujur saya pun sedih membaca kenyataan di endingnya. Tapi saya masih memiliki harapan lebih yang belum kesampaian di novel ini. Saya berharap novel ini jangan terburu berakhir karena saya masih ingin mendengar kisah Slamet, Doni, dan usaha si tokoh utama dalam meraih cita-cita tapi terbentur dilemma dengan pekerjaannya sebagai tukang fotocopy.
Ada beberapa lembar di novel itu yang juga sukses membuat hati saya berubah galau..dan sedih. Dan saya berharap, di gudang itu, saya menemukan diarynya yang lain, yang bisa saya baca diam-diam, dan saya renungi seluruh isinya.