Didn't like it at all! Heraaannn bukan buatan kok bisa dicetak berulang kali, apa emang seleranya pembaca muda Indonesia condong ke tulisan kayak begi...moreDidn't like it at all! Heraaannn bukan buatan kok bisa dicetak berulang kali, apa emang seleranya pembaca muda Indonesia condong ke tulisan kayak begini yah.
Gak tahan bacanya, setiap halaman saya baca dengan bertanya-tanya "sebenarnya inti buku ini apa sih???"
Menurut saya, seorang penulis yang baik harusnya menciptakan quote-quotenya sendiri yang memorable dan inspiratif, bukannya mengumpulkan quote-quote dari sumber lain dan ditumplek blekkan dalam satu buku. (kecuali kalo memang buku itu kumpulan quote). Dalam cerita fiksi, penggunaan quote dari sumber lain jangan sampai berlebihan, bisa menggerus makna dari cerita itu sendiri.
Baca sampe hal 25, krn nggak menemukan apa yang saya cari, akhirnya saya menjelajah deh, dan membaca bagian2 buku secara random sebelum menyerah secara resmi dan meletakkan buku ini.(less)
Ini cerita tentang empat sahabat, Moly si Tikus Tanah, Ratty si Tikus Air, Katak, dan Tuan Luak. Masing-masing memiliki karakter yang khas, Moly cende...moreIni cerita tentang empat sahabat, Moly si Tikus Tanah, Ratty si Tikus Air, Katak, dan Tuan Luak. Masing-masing memiliki karakter yang khas, Moly cenderung pemalu, Ratty ramah dan senang berkawan, Katak kaya dan suka menyombongkan diri, dan Tuan Luak yang pendiam dan misterius, namun bijaksana dan sangat peduli akan teman-temannya.
Cerita bergulir dari Tikus Tanah yang meninggalkan sarangnya untuk kemudian tinggal bersama Tikus Air di tepi sungai. Suatu hari di musim salju secara tidak sengaja mereka terdampar di pintu rumah Tuan Luak, yang awalnya terkesan waspada, namun kemudian mempersilakan mereka masuk dengan ramah dan menyuguhi mereka makanan yang hangat. Mereka pun bercakap-cakap tentang Katak yang ceroboh dan suka keasyikan dengan “mainan”nya, jika dulu ia tergila-gila dengan perahu, sejak mengalami kecelakaan ia memilih “bermain” dengan kereta gipsi. Suatu hari ia terpesona akan sebuah mobil balap mengilap yang dipanggil Tut-tut.
Lama-kelamaan Katak menjadi terobsesi terhadap Tut-tut si mobil balap sampai secara tidak sadar ia mencurinya! Katak pun dikejar polisi, dijebloskan ke penjara , melarikan diri dari penjara dengan bantuan anak perempuan sipir, dan melalui berbagai petualangan untuk sampai ke rumahnya yang megah, Puri Katak. Sementara itu, teman-temannya mulai kehabisan akal untuk menasihati si Katak. Mereka ingin Katak menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak hanya menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang. Bisakah mereka mengubah pribadi si Katak yang keras kepala itu?
***
Kisah yang disebut-sebut penuh petualangan dan banyak menyimpan pesan moral ini ternyata tidak banyak menyentuh hati saya. Jika dibilang penuh petualangan, saya lebih condong memilih Manxmouse karya Paul Gallico yang tokoh-tokohnya juga dari dunia hewan. Pesan moral yang bisa saya ambil dari kisah ini adalah:
1. Rumah adalah tempat terbaik di dunia. Kamu bisa bertualang ke mana saja namun pada saatnya pasti kamu akan pulang ke rumah.
Berikut sepenggal kutipan dari halaman 57:
“Malam itu, Tikus Tanah – walau kelelahan – merasa gembira karena telah kembali ke rumah. Namun sebelum dipejamkan, ia membiarkan kedua matanya menjelajahi setiap sudut kamarnya yang lama. Tindakan yang amat sederhana, tapi sangat berarti. Ia tidak ingin mengabaikan kehidupan barunya. Dunia di atas sana terlalu menarik. Tempat itu memanggil-manggil ke dalam dirinya. Namun sungguh melegakan karena dia punya tempat untuk pulang, rumahnya sendiri, hal-hal yang pasti membuatnya merasa diterima.
Sungai adalah tempat bertualang.
Di sini adalah rumahnya.”
2. Jangan abaikan nasihat dari sahabat-sahabat yang peduli akan dirimu. Dengarkan mereka, apa yang mereka katakan mungkin mencegahmu masuk dalam kesulitan.
The Wind in the Willows terjemahan Indonesia yang diterbitkan Mahda Books ini, dengan fisik hardcover, font relatif besar, banyak ilustrasi, dan penerjemahan yang bagus oleh mbak Rini Nurul Badariah rasanya cocok untuk anak-anak yang baru menginjak bangku sekolah dasar.
Seperti judulnya, membaca buku ini serasa benar2 sedang merasakan rojak, campur2 dan kacau balau. Cerita dan karakter mengalir dengan menarik, Janice y...moreSeperti judulnya, membaca buku ini serasa benar2 sedang merasakan rojak, campur2 dan kacau balau. Cerita dan karakter mengalir dengan menarik, Janice yang jatuh dalam keadaan supersulit, Setyo yang menyembunyikan penyakit menjijikkan, Ibu mertua dan Ijah yang kelakuannya membuat kita gemes dan ingin berkata "Iiiiiiihhhhh!!!" Hal yang terbaik yang bisa dipelajari dari buku ini adalah, semua yang terjadi dlm buku sangat mungkin terjadi di dunia nyata, sangat mungkin terjadi pada anda atau saya. Jadi... hati2lah sebelum menikah gaya rojak! LOL.(less)