“And yet she was leaving the world as a woman who had loved and been loved back. She was leaving it as a friend, a companion, a guardian, A mother. A...more
“And yet she was leaving the world as a woman who had loved and been loved back. She was leaving it as a friend, a companion, a guardian, A mother. A person of consequence at last”
Dulu saya pikir tidak akan ada yang mengalahkan The Joy Luck Club-nya Amy Tan. Siapa yang bisa mengalahkan momen seorang gadis muda yang berjalan berpuluh-puluh kilometer dengan menggendong seekor angsa untuk melintasi benua berimigrasi ke Amerika? Tapi novel ini sudah mengunggulinya. Rasanya pantas Khaled Khosseini, sang pengarang, meninggalkan profesinya sebagai dokter penyakit dalam untuk terjun total dalam menulis. Ia punya sebuah anugerah. Anugerah untuk dapat menulis cerita yang begitu sederhana, indah, dan membumi.
“Like a compass needle that points north, a man’s accusing finger always finds a woman. Always.”
***
“A man’s heart is a wretched, wretched thing, Mariam. It isn’t like a mother’s womb. It won’t bleed, it won’t stretch to make room for you”.
Novel ini menceritakan kisah dua orang wanita berbeda generasi yang hidupnya saling bertemu dan berkaitan dalam situasi yang tidak disangka-sangka. Dua orang wanita yang disatukan oleh kata bernama poligami. Mengisahkan perjalanan hidup Mariam dilatarbelakangi sejarah bangsa Afghanistan mulai dari invasi Rusia hingga pasca jatuhnya taliban. Berkisah mengenai perjalanan hidupnya sebagai anak haram yang tidak diakui sang ayah, sebagai istri mandul yang kerap dipukul suami, dan sebagai istri pertama yang menjadi pelindung bagi madu dan anak-anak madunya. Perjalanan Mariam dalam mencari “pengakuan” akan eksistensinya. Dimana akhirnya ia mengorbankan hidupnya sendiri untuk mencapai sebuah eksistensi hakiki. Memberi tanpa harus menuntut sebuah pengembalian.
“One could not count the moons that shimmer on her roofs, or the thousand splendid suns that hide behind her walls” - Saib e-Tabrizi
Ia telah membuat saya menangis. Menangis bombay orang bilang.
Saya menemukannya di satu siang, ditengah kekesalan baru ditinggal kereta untuk menuju kot...moreIa telah membuat saya menangis. Menangis bombay orang bilang.
Saya menemukannya di satu siang, ditengah kekesalan baru ditinggal kereta untuk menuju kota sebelah. Akhirnya memutuskan untuk membunuh waktu di toko buku stasiun. Disanalah saya bertemu dengannya. Saya memutar-mutarnya untuk melihat lebih dekat, tapi kemudian meletakkannya kembali setelah melihat stiker kecil bertuliskan 10.99 Euro.
Ia menjadi buku mahal yang terlupakan.
Saya menemukannya kembali empat hari yang lalu. Setelah mengantar teman di airport Schipol,masih dalam rangka membunuh waktu menunggu kereta selanjutnya. Tapi kali ini saya melakukan kesalahan, saya membaca halaman pertama, yang berarti saya telah terkena jampi-jampi yang harus menamatkan buku ini. Saya keluar dari toko buku itu dengan plastik di tangan dan 10.99 Euro lebih miskin.
Saya membacanya di stasiun, di atas kereta api, dan di jalan menuju parkiran. Ketika saya bertemu orang pertama yang saya kenal, saya menurunkan buku ini dan mengatakan. “This is good, very good”. Saya kembali menekuri halaman-halamannya.
Ia telah membuat saya menangis. Menangis bombay orang bilang.
Ia tidak bercerita mengenai kisah cinta tragis atau perjalanan antar galaksi yang mengherankan. Ia bercerita mengenai kisah sederhana, sangat sederhana. Mengenai persahabatan antara dua orang anak manusia yang berbeda ras dan berbeda kedudukan. Antara Hassan Jan dan Amir Agha dilatarbelakangi sejarah panjang bangsa Afghan. Dimulai dari sebelum pendudukan Russia hingga terusirnya Taliban dari bumi Afghanistan.
Malam ini saya menghabiskan waktu di kamar untuk menyaksikan pertandingan layang-layang di daerah wazir akbar khan, bagian dari kota Kabul. Anak laki-laki dengan goresan-goresan berdarah di tangan dari gesekan dengan tali layangan berjejer di atas atap-atap rumah mereka yang datar. Layang-layang dengan warna-warna terang menghiasi langit biru Afghanistan.
Saya membalik halaman terakhir dari buku itu. Meneliti sampul belakangnya. Seketika saya mengelupasi stiker harga 10.99 euro. Rasanya tak pantas ia diberi harga. Karena ia mampu membuat saya menangis, dan di dalam dunia amir agha, satu tetes air mata ditukar dengan mutiara.
Ia telah membuat saya menangis. Menangis bombay orang bilang.
Seperti yang ditulis dalam buku, kalau Pahlawan itu:
Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir...moreSangat inspiratif.
Seperti yang ditulis dalam buku, kalau Pahlawan itu:
Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kamu, dan kita semua. Mereka bukan orang lain.
Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah.(less)
Sungguh fiksi yang sangat menyegarkan. Tau kan biasanya buku fiksi bule yang sering dibaca itu selalu punya pola: Dead-White-Male. Yang artinya para p...moreSungguh fiksi yang sangat menyegarkan. Tau kan biasanya buku fiksi bule yang sering dibaca itu selalu punya pola: Dead-White-Male. Yang artinya para penulisnya biasanya sudah meninggal, ras kulit putih, dan bergender laki-laki (contoh: The great gatsby, the hobbit, great expectation, memoirs of geisha, dll). Nah buku ini dengan latar belakang penulisnya memberikan warna baru: seorang wanita, keturunan imigran cina, dan she is still very much alive ;)