Namaku Bella. Bella Swan. Inilah apa yang belum Stephanie Meyer beritahukan padamu, dan ini AMAT-SANGAT penting.
Pada pagi hari hujan turun dan aku merengut karena sepanjang pagi hujan terus menerus turun. Aku terkikik sendiri. Dasar cuaca sialan! Aku menatap ke luar, yang adalah suatu lahan kosong tanpa atap di mana hujan biasanya turun. Biasanya di Phoenix tidak pernah hujan. Aku suka Phoenix. Aku benci hujan.
Aku tersandung udara yang mengambang di atas lantai kamar tidurku dan tengkorakku menghantam tepi rak bukuku, yang punya tiga buah rak di dalamnya dan terbuat dari rangkaian tripleks kayu yang telah dipelitur bersih dan berpola serat kayu yang melingkar-lingkar. Setelah aku selesai mengompres dan menghentikan pendarahanku, aku berkendara ke sekolah, tapi mereka pasti telah memindahkan bangunan sekolahnya di ujung kota, karena sampainya lama sekali. Aku terkikik kembali, dasar tukang tata kota tidak tahu diri!
Setelah berkendara selama beberapa jam mencari tempat di mana mereka menaruh bangunan sekolah, Edward Cullen muncul di sampingku: di dalam mobil Volvo yang berkilau keperakan, yang kurasa artinya terbuat dari perak dan jenis mobilnya adalah sedan. Dadanya yang berotot sangat seksi, berada dalam kaos wol rajutan tangan berlengan panjang berwarna biru-abu-abu, dengan jins berukuran pas yang kelimannya sebaiknya dicuci secara hati-hati, dan jaket berwarna gading yang berbahan kulit bayi anjing laut yang sudah dicelup dengan warna lain. Dia berbusana dengan necis, selayaknya orang yang mengenakan baju rapi.
Si dada berotot melambai padaku layaknya seorang teman lama, tetapi Edward menggeram padaku dari arah tempat duduk pengemudi. Matanya berwarna hitam. Sepertinya ia terjangkit glaukoma.
Meskipun dia melotot dan mengacungkan jari tengahnya padaku, dia tetap tersenyum dan menyuruhku mengikutinya ke sekolah. Dia tahu tempat di mana mereka menaruhnya. Aku ingin tahu bagaimana caranya dia bisa tahu. Namun sayang, kakiku tersangkut pedal gasku dan aku pun terhempas keluar dari kaca depan mobilku. Aku kikuk sekali. Ketika kami tiba di sekolah, si dada berotot milik Edward mengantarku ke kelas Inggris.
“Jaga dirimu di dalam sana,” si dada terkekeh sementara di waktu yang sama ia memberiku lirikan tajam yang membuat darah yang ada di dalam pembuluhku yang ada di bawah kulitku yang ada di dalam tubuhku dingin membeku.
“Haha,” aku terkikik, sambil menepuk-nepuk si dada pada riak otot dadanya. “Lucu sekali,” kataku sambil menyisirkan jemariku ke putingnya yang berukuran koin Kennedy setengah dolar. “Aku akan mencoba untuk berhati-hati,” candaku, terwaspadai oleh hawa dingin tak manusiawi yang dihantarkan ekspresi tegangnya.
Semua orang menatap ke arah kami sepanjang lorong, yang merupakan ruang kosong dengan jalur jalan yang panjang yang berfungsi memberi jalan pada berbagai macam pintu yang berlainan. Murid-murid memakai baju dan berbicara dan membawa buku-buku. Melalui jendela ruang kelas, yang merupakan rongga kosong di dinding yang sengaja dibuat agar orang-orang bisa melihat ke luar ruangan, aku bisa melihat bahwa hujan masih terus turun. Kemudian otot di bawah pinggangku kram dan akhirnya aku jatuh ke atas troli makan berbahan baja berlapis seng yang punya empat roda. Tiga orang masuk UGD karenanya.
Aku terkikik dan merona merah padam. Memalukan sekali.
Pada akhir jam sekolah Edward Cullen datang untuk mengantar aku ke mobilku. Si dada tak terlihat di manapun juga. Mungkin dia lagi ke toko Banana Republic atau ke luar berburu singa gunung lagi. Aku terkikik sendiri, dasar dada yang tidak tahu cara menyenangkan wanita!
“Di mana mobilku?” kataku sambil terkikik setelah terkekeh selama beberapa menit.
“Apa kau tak ingat kau meremukkannya ketika kau menjebol rumah sakit khusus anak-anak yatim piatu pagi ini?” katanya. Dia menatap ke arahku, menggunakan kedua matanya.
Dia memberiku jaket gadingnya untuk menjagaku agar tetap kering dari hujan, yang biasanya selalu menyebabkan orang-orang yang kena jadi basah kuyub. Lalu dia menatapku lagi, tersenyum dengan bagian kanan mulutnya, cemberut di bagian kiri mulutnya, dan uniknya, bagian tengah mulutnya tidak berekspresi sama sekali.
“Kau tahu,” kataku, setelah terpeleset dari tonjolan pembatas parkiran kepada sederetan sepeda yang tengah diparkir. “Bukan cuma hujan saja yang bisa membuatku jadi basah.”
“Kita berteman saja,” desisnya, menaikkan satu alis, melengkungkan lengannya yang berotot, dan mengambangkan otot-otot cuping hidungnya yang indah.
Lalu aku menyadari bahwa dia mungkin adalah vampir. Atau homo. Atau vampir yang amat-sangat homo.
Seharusnya aku sudah sadar dari dulu. Dia punya alat penghapus kaset di dalam mobilnya.
notes for Twilight fans: yes, please, kill me for doing this, thank you.
repiu serius:
sebenarnya,
jauh lebih menarik membaca perang antara penggemar buku ini dengan para kritikus dan para pembenci buku ini. bukannya buku ini jelek. penulisannya, sebenarnya, lumayan rapi dan menarik. tapi mungkin terlalu rapi, sehingga editor atau siapapun yang membaca ulang buku ini, tidak sadar kalau setiap dua halaman sekali, sang protagonis akan mengagung-agungkan satu bagian tubuh dari love-interest-nya, hingga menjurus pada keadaan mental yang para psikologis mungkin akan sebut sebagai: "obsesif-kompulsif".
itu sudah cukup untuk membuatku berhenti baca di halaman dua ratus lima puluh sekian. sayang sekali. padahal gaya berceritanya sendiri mudah diikuti, dan aku suka hujan.(less)