Lanjutan dari buku Saman, buku Ayu Utami yang kedua ini bercerita ttg kelanjutan kisah Saman, Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Dengan tambahan satu...moreLanjutan dari buku Saman, buku Ayu Utami yang kedua ini bercerita ttg kelanjutan kisah Saman, Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Dengan tambahan satu tambahan karakter utama bernama Larung, Larung Lanang.
Pada awal buku ini, cerita berjalan dengan gamang - menceritakan kisah Larung dan neneknya, dengan gaya penulisan Ayu yang kental akan puisi konseptual dibumbui dengan monolog dari sudut pandang orang pertama.
Entah mengapa, bagian ini saya merasa alur cerita berjalan sangat lambat, penulisannya seringkali berupa analogi yang menggambarkan situasi, mengalir terlalu jauh dan luas - sehingga fokus emosi yang ingin disampaikan tidak jelas.
Baru kemudian kisah berfokus pada empat wanita, saya mulai menikmati buku ini karena cara penulisannya lebih wajar, dan terus bisa nikmati hingga bagian akhir yang cukup menegangkan - akhir cerita yang menggantung sebenarnya saya tidak keberatan. Karena saya pikir Ayu memang tidak berfokus pada konsep cerita, namun pada emosi yang ada pada cerita itu. Justru dalam endingnya, Ayu seperti ingin mengatakan wajah politik di Indonesia dengan adegan terakhir itu - dan selesailah semuanya, karena tidak ada lagi yang perlu untuk diceritakan.
Terlepas dari semua itu, cerita ini sangat menarik, diceritakan pula secara cerdas dan puitis. (less)
Bagi saya, gaya penulis Ayu Utami dalam buku ini belum ada tandingannya di kolong langit. Saya belum pernah membaca suatu novel, yang mana penulis beg...moreBagi saya, gaya penulis Ayu Utami dalam buku ini belum ada tandingannya di kolong langit. Saya belum pernah membaca suatu novel, yang mana penulis begitu lepas dan bebas mengekspresikan dirinya. Dia menulis apa yang ada dalam pikirannya, serta menuangkannya pada buku ini dengan begitu jujur, berani, apa adanya, tapi juga cerdas ~
Banyak orang mengkritik gaya penulisan Ayu yang kasar dan terlalu berani (terutama perihal seks), tapi saya rasa justru itulah ciri khas serta kekuatan dari tulisan Ayu.
Oh ya, ngomong-ngomong tentang keberanian Ayu untuk menggambarkan sisi seksualitas dalam buku ini dengan begitu berani, saya jadi berpikir mungkin orang-orang memakluminya dan menganggap itu sebagai suatu sisi kejujuran justru karena ditulis oleh seorang perempuan. Andai buku ini ditulis oleh laki-laki, mungkin buku ini akan dianggap melecehkan kaum perempuan.
Dari sini, saya pikir Ayu Utami telah memanfaatkan salah satu keunggulan yang dia miliki bahwa dia adalah seorang perempuan untuk dapat menuturkan ekspresinya yang berani dlm sisi seksualitas (agar terlihat lebih elegan - ketimbang jika seorang pria yang menuturkannya) (less)
Dari segi cerita dan gaya bahasa, buku ini lebih baik dari buku pertamanya.
Unsur-unsur seperti persahabatan, impian, semangat, kenakalan, bakti pada...moreDari segi cerita dan gaya bahasa, buku ini lebih baik dari buku pertamanya.
Unsur-unsur seperti persahabatan, impian, semangat, kenakalan, bakti pada orangtua, dll.. memang telah menjadi tema klasik Andrea Hirata- dan dalam buku ini, dia berhasil menampilkannya secara wajar.
Kisah persahabatan ketiga tokoh yang menjadi point sentral dalam buku ini pun disajikan dgn unik.
Secara keseluruhan saya menikmati buku kedua dari Tetralogi Laskar Pelangi ini. Mungkin, inilah buku terbaik daripada ketiga buku lainnya. (less)
Catatan Harian Seorang Demonstran, dapat saya katakan sebagai buku sakral yang patut dibaca oleh setiap mahasiswa Indonesia.
Berisi tentang catatan har...moreCatatan Harian Seorang Demonstran, dapat saya katakan sebagai buku sakral yang patut dibaca oleh setiap mahasiswa Indonesia.
Berisi tentang catatan harian Soe Hok Gie seorang aktivist mahasiswa Indonesia yang melegenda. Catatan harian ini ditulis oleh Gie dari semasa SMP sampai Universitas- hingga beberapa hari menjelang kematiannya pada umur 27tahun kurang sehari.
Buku ini adalah potret seorang idealist yang nyata, seseorang yang teguh pada prinsipnya, sosok yang paling jujur, yang paling tidak munafik, dan paling berani yang pernah saya tahu lahir di tanah Indonesia ini.(less)
Buku ini bercerita tentang proses pembuatan cerita novel oleh sepasang gay yang bernama Dhimas dan Ruben. Mereka menulis cerita ttg kemelut cinta kehi...moreBuku ini bercerita tentang proses pembuatan cerita novel oleh sepasang gay yang bernama Dhimas dan Ruben. Mereka menulis cerita ttg kemelut cinta kehidupan seorang eksekutif muda dengan seorang jurnalis wanita yang sudah menikah serta seorang pelacur kelas atas yang intelek - dimana Ksatria, Putri, dan Bintang jatuh adalah personifikasi dari karakter-karakter yang ada dalam cerita mereka.
Penulis menyajikan 2 sudut pandang yang berbeda melalui 2 karakter tsb, dimana Dhimas yang bersudut pandang scientific serta Ruben yang imajinatif dan puitis - mereka saling berdebat dan beradu pendapat utk membuat suatu kisah ttg kehidupan cinta dan pandangan hidup.
Dalam point ini sebenarnya saya agak heran, kendati memang istilah-istilah ilmiah yang Dhimas ungkapkan cukup relevan dengan ide cerita, namun saya tidak mengerti mengapa pengarang harus menghadirkan unsur-unsur ilmiah tsb? Apakah agar buku terlihat tampil cerdas? karena saya pikir menampilkan karakter intelektual yang gila sains serta menghubung-hubungkan istilah sains sbg pertimbangan ide cerita cinta yang mereka buat - terasa sekali dipaksakan.. dan terkesan hanya utk menampilkan sisi rumit atau mungkin bahkan hanya bermaksud untuk show off pengetahuan sains dari pengarang saja.
Pada saat membaca setengah dari buku ini, terus terang saya kecewa karena tema yang diangkat sangat klise. Tidak ada yang menarik sama sekali pada eksekutif muda dan cewek jurnalis bersuami tsb - cinta buta, perselingkuhan, kecemburuan.. seperti nonton sinetron Indonesia yang tidak bermutu saja.
Namun akhirnya saya mulai menikmati saat dimana karakter Diva muncul, baik pembawaan karakter maupun kritik sosial yang kerap dia lontarkan dalam cerita - serta kedewasaan sikap Arwin ketika dihadapkan pada fakta bahwa istrinya berselingkuh.
Buku ini juga menghadirkan konsep antar dimensi seperti yang ditawarkan buku Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder atau seperti film Inception yang dibintangi Leonardo di Caprio. Namun sayangnya konsep ini tidak lagi membuat saya kagum karena sudah pernah disajikan dengan konsep yang sama sebelumnya.(less)