Akhir-akhir ini biasanya kalo baca buku luamaaa banget. Tapi pengecualian buat yang satu ini. Tumben bisa baca sehari aja. Huahaha...
Setelah baca buku...moreAkhir-akhir ini biasanya kalo baca buku luamaaa banget. Tapi pengecualian buat yang satu ini. Tumben bisa baca sehari aja. Huahaha...
Setelah baca buku ini, hasil akhirnya kepikiran: Orang Korea itu ekspresif!
Dari awal ngebayangin Hae Yoon itu adalah Daniel Henney dan Se Kyoung itu adalah Yoon Eun Hye *ngasal* cuma memang kalo Daniel Henney jadi Hae Yoon dia harus ngilangin "jaim"-nya *makin ngasal*
Di banding buku karya Kim Eun Jeong sebelumnya, yaitu So, I Married the Anti-fan. Yang ini lebih 'rusuh' dan cepat alurnya. Secara gak sadar, setiap scene di dalam buku ini bener-bener gw bayangin di dalem kepala. Dan hasilnya... kepala gw selalu nyut-nyutan setiap adegan berantem. Haha... tapi itu memang ciri khas orang Korea, seperti yang gw bilang di awal. Mereka itu ekspresif.
*mulai ngelirik Cheeky Romance untuk ngelanjutin baca*(less)
Akhirnya selesai juga baca buku ini. Sempet tersendat diawal gara-gara agak membosankan. Tapi lama-lama malah dibuat penasaran sampai akhirnya selesai...moreAkhirnya selesai juga baca buku ini. Sempet tersendat diawal gara-gara agak membosankan. Tapi lama-lama malah dibuat penasaran sampai akhirnya selesai juga di halaman terakhir.
Jadi ceritanya itu berawal dari Geun Yong yang seorang wartawan tidak sengaja melihat suatu pertengkaran di salah satu toilet klub yang saat itu sedang launching dan melibatkan seorang selebriti terkenal, Hu Joon. Kesalahpahaman itu berkembang menjadi luar biasa tak terkendali, mulai dari dipecatnya Geun Yong dari kantornya, kehilangan tempat tinggal dan menjadi tuna wisma, sampai menjadi anti-fan dari Hu Joon dan dibenci oleh seluruh penggemarnya.
Makanan gratis di depan mata tentu saja tidak bisa ditolak. Istilahnya mirip dengan keadaan Geun Yong saat ditawarkan untuk bekerja sama dalam variety show bersama dengan Hu Joon. Akhirnya ia terpaksa menerima tawaran itu. Setelah itu hidup Geun Yong menjadi semakin sulit, tapi itu justru mengantarkannya untuk mengenal Hu Joon lebih jauh.
Ini adalah buku Korea kedua yang gw baca setelah Tango dan syukurlah akhirnya gw suka juga sama buku Korea *nyengir*
Ide ceritanya cocok dengan keadaan saat ini, dimana dunia entertainment Korea sedang menjadi sorotan dimana-mana. Lewat buku ini jadi tahu tentang dunia itu serta hal positif dan negatifnya.
Tentang Geun Yong: gw pikir dia itu benar-benar beruntung. Oke... dia memang dipecat dari pekerjaannya, tapi justru itu... kalau misalnya dia nggak dipecat, dia gak bakal ketemu sama cintanya dan tujuan hidupnya setelahnya.
Tentang Hu Joon: orang yang menyebalkan! Hahaha... tapi setidaknya dia jujur dihadapan Geun Yong dan gak pura-pura.
Nah sekarang soal bukunya yang tebal banget itu. Kertasnya berasa berat banget, bikin pegel bacanya *kena timpuk* Terus dua kali nemuin typo yang ganggu, mempunyai malah ditulis memunyai. Sampai-sampai buka KBBI, yang bener itu gw apa bukunya. Hahaha...
But overall, I like this book! Sekarang saatnya baca buku Kim Eun Jeong yang lain :D(less)
Kirain beneran orang Jepang yang nulis, tapi ternyata bukan. Haha...
Ide cerita dan isinya sebetulnya bagus. Lalu deskripsi tentang kehidupan, budaya,...moreKirain beneran orang Jepang yang nulis, tapi ternyata bukan. Haha...
Ide cerita dan isinya sebetulnya bagus. Lalu deskripsi tentang kehidupan, budaya, dan masyarakat Jepangnya juga keren. Suka dengan kutipan ayat Al-Quran yang disisipkan di buku. Selesai baca buku ini, entah kenapa bukan mikir kesimpulan dari bukunya malah mikir 'ini penulisnya pasti suka sama Naruto dan Bleach'.
Terlalu banyak kutipan lagu berbahasa Jepang di dalam buku ini justru menurunkan penilaian. Harusnya penulisnya buat kalimat sendiri aja lalu di terjemahkan ke dalam bahasa Jepang, jadi kutipan-kutipannya ga banjir begitu.
Satu lagi... agak terganggu dengan hubungan kakak beradiknya yang seperti kaya orang pacaran dibandingkan dengan hubungan saudara. Mana ada kakak manggil adiknya 'honey' walau sedekat apapun *garuk-garuk tembok* Terus kayanya gampang banget itu kakaknya peluk, cium, peluk, cium. Haduh... sama adik sendiri aja gak pernah begitu *ketawa guling-guling*(less)
Buku yang inspiratif. Direkomendasikan untuk yang mau baca buku yang ringan tapi berisi pesan moral. Buku kedua Orizuka yang gw baca, dan sejauh ini g...moreBuku yang inspiratif. Direkomendasikan untuk yang mau baca buku yang ringan tapi berisi pesan moral. Buku kedua Orizuka yang gw baca, dan sejauh ini gw suka dengan ide cerita serta topik yang diangkatnya :)(less)
Buku Ika Natassa keempat yang gw baca setelah Divortiare, Twivortiare, dan Antologi Rasa.
Parahnya gw, karena udah ngebaca semua bukunya ujung-ujungnya...moreBuku Ika Natassa keempat yang gw baca setelah Divortiare, Twivortiare, dan Antologi Rasa.
Parahnya gw, karena udah ngebaca semua bukunya ujung-ujungnya malah ngebanding-bandingin. Tipikalnya sama... banker lagi. Mbak Ika, gak bisa ya kalau bukan banker? Sampe gw mikir, ini jangan-jangan ketiga tokoh utama di buku-buku tersebut saling kenal *ngikik*
Gaya bahasanya santai, terus dibacanya juga enak karena kalimatnya mengalir, alur maju mundurnya engga aneh dan gampang diikuti. Setengah buku sukses bikin ketawa-ketiwi di mobil saat berangkat kerja. Tapi pas setengah buku sisanya, kepala malah dibuat pusing gara-gara dialog marah-marahnya Andrea yang manja dan egois. Tapi gw suka endingnya.
Aha... buku tentang Jepang, tapi nulis Bahasa Jepangnya salah. Seharusnya aishiteru, tapi malah ditulis ashiteru. Bukan 1 kali lagi, itu diulang 2 kal...moreAha... buku tentang Jepang, tapi nulis Bahasa Jepangnya salah. Seharusnya aishiteru, tapi malah ditulis ashiteru. Bukan 1 kali lagi, itu diulang 2 kali. Padahal waktu awal, pembaca pasti maklumin kalo itu typo. Tapi kalau sampe 2 kali, itu sih terlalu. Pas baca malah jadi geli sendiri.
Untuk keseluruhan sebenernya ide ceritanya ringan. Tentang cewek yang pernah disakiti cowok menemukan kembali jalan untuk mencintai. Penyakit polio yang diderita Shira dan muscular dystrophy Rana menjadi nilai tambah dan rasa penasaran. Tapi sayang, kalau kata gw penulisnya terlalu fokus dengan penyakit Rana. Shira polio kan? Kenapa ga terlalu detil bahasnya? Itu yang terlintas di kepala waktu membaca lembar demi lembar buku ini.
Lalu soal cover, kata temen gw sih (halo, Cizu~ :-P) penulisan kimi wo shinjiteru-nya salah. Lagi-lagi tentang bahasa... Kimi-nya gak ditulis dalam kanji, malah ditulis anata dalam hiragana. Hmm... gak ada translator ya?
Baca buku ini, lumayan agak membuat bosan juga, banyak deskripsi yang ga penting yang kadang gw skip. Dan jujur, gw sih gak suka dengan karakternya. Dibalik sifatnya yang digambarkan tegar dan mandiri, Shira itu manja dan keras kepala. Tapi well... ga menarik juga kalau tokoh utamanya sempurna.
Untuk kesimpulan, buku ini masih bisa dijadikan teman minum kopi atau teh saat santai. Juga direkomendasikan untuk yang menyukai cerita percintaan.(less)
Novelnya tentang kehidupan sehari-hari. Tidak berlebihan, porsinya cukup. Bahasanya ringan, lucu, ceplas-ceplos. Tapi kenapa ya, cetakan ke delapan ma...moreNovelnya tentang kehidupan sehari-hari. Tidak berlebihan, porsinya cukup. Bahasanya ringan, lucu, ceplas-ceplos. Tapi kenapa ya, cetakan ke delapan masih aja ada typo.
Quote favorit:
That's why you need commitment. Don't love someone because of what/how/who they are. From now on, start loving someone,
Awalnya enjoy bacanya. Melihat Lexy menceritakan kehidupan sehari-harinya secara jujur dan apa adanya dalam buku ini. Tapi setelah membaca sekitar tig...moreAwalnya enjoy bacanya. Melihat Lexy menceritakan kehidupan sehari-harinya secara jujur dan apa adanya dalam buku ini. Tapi setelah membaca sekitar tiga perempat buku, saya mulai menemukan kejenuhan. Salah satunya karena adanya repetisi tweet yang ditulis berulang juga emosi Lexy yang meledak-ledak ketika berselisih paham dengan Beno.
Tadinya saya mau memberikan tanda 4 bintang, tapi karena kekurangan tersebut diatas cukuplah memberikan 3 bintang. Novel Divortiare mempunyai dampak yang lebih kuat pada saya dibandingkan dengan Twivortiare. Tapi tetap saja, saya mengacungkan jempol untuk mbak Ika, karena tidak mudah menuangkan tweet-tweet yang terbatas hanya 140 karakter menjadi sebuah novel.(less)