Saya senang membaca buku tipe begini, hampir setipe dengan The Geography of Bliss *adooh, baru inget belum review*. Narasi yang menjual, terlebih ada...moreSaya senang membaca buku tipe begini, hampir setipe dengan The Geography of Bliss *adooh, baru inget belum review*. Narasi yang menjual, terlebih ada iming-iming dua buku favorit saya The Little Prince dan The Alchemist dan didukung pula dengan cover buku yang rainbowish minimalis membuat saya tanpa pikir panjang membeli Hector and the Search for Happiness di Periplus Juanda 2 tahun lalu.
Sayangnya tidak segesit niat membeli, eh buku ini teronggok begitu saja di rak buku, sempat dibaca tapi karena bosan saya tidak melanjutkan lagi. Berhubung ‘omelan’ Goodreads yang ‘you’re 5 books behind’ senantiasa muncul ya sudahlah, waktunya mengeluarkan jurus andalan, baca buku di bawah 200 halaman! ^.^ v Akhirnya butuh waktu 2 hari untuk berkeliling dunia bersama Hector mencari makna kata bahagia.
Jadi begini, Hector sang psikiater yang tidak puas dengan hidup dan pekerjaannya berniat melakukan perjalanan menjelajah dunia untuk mencari apa sebenarnya yang membuat bahagia seseorang. Hector akan mencari rahasia kebahagiaan. Kurang lebih seratus halaman ke belakang Hector berkelana mulai dari Cina, Afrika,Paris sampai Amerika. Inti sari pengalaman dan percakapan dari penjuru dunia dirangkum dalam notes kecil yang Hector beli khusus untuk rahasia hidup bahagia.
Inspiratif semestinya, tapi penulisan Francois Lelord terlalu kaku, malah kadang beliau menempatkan kita sebagai pembaca yang kesannya tidak mengerti banyak hal, sehingga saya malah merasa sedang membaca textbook ketimbang membaca novel. Terlalu bertutur. Mungkin itulah sebabnya butuh dua kali baca ulang novel ini, saya bosan, but it was okay kok. 2 bintang di Goodreads bukan berarti tidak suka kan? :)
22 rahasia hidup bahagia menurut Hector :
Making comparisons can spoil your happiness Happiness often comes when least expected. Many people see happiness only in their future. Many people think that happiness comes from having more power or more money. Sometimes happiness is not knowing the whole story. Happiness is a long walk in beautiful, unfamiliar mountains. It’s a mistake to think that happiness is a goal. Happiness is being with the people you love. Happiness is knowing your family lacks for nothing. Happiness is doing a job you love. Happiness is having a home and a garden of your own. It’s harder to be happy in a country run by bad people. *well, hellow indonesiaaaa!* >.< Happiness is feeling useful to others. Happiness is to be loved for exactly who you are. Happiness comes when you feel truly alive. Happiness is knowing how to celebrate. Happiness is caring about the happiness of those you love. The sun and the sea make everybody happy. Happiness is a certain way of seeing things. Rivalry poisons happiness. Women care more than men about making others happy. Happiness means making sure that those around you are happy?
Bagaimana menurut kalian? Samakah?
Menurut saya sih bahagia itu tidak usah dicari-cari, ada dalam diri kita masing-masing kok. Tsaaah.
PS. Buku saya ada edisi tanda tangan pengarang loooh. *mau pamer tapi males foto, besok aja yak*
PSS. Buku ini bakal difilmkan, berdasar berita ini bakal tayang 2014 dengan judul yang sama, pemeran Hector jatuh pada Simon Pegg dan yang menjadi Clara, pacar Hector adalah Rosamund Pike. Mudah-mudahan filmnya bakal lebih bagus ketimbang bukunya. (less)
Don't judge a book by its cover. Familiar, yes? Bagaimana dengan don't judge a boy by his face?
Lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis, sebua...moreDon't judge a book by its cover. Familiar, yes? Bagaimana dengan don't judge a boy by his face?
Lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa walau sudah menjalani sepuluh kali operasi. August diperkenalkan langsung kepada pembaca melalui prolog berjudul 'biasa'.
Aku tahu aku bukan anak berumur sepuluh tahun biasa. Maksudku, memang aku melakukan hal-hal biasa. Aku makan es krim. Aku bersepeda. Aku memiliki XBox. Rasanya sih begitu. Tapi aku tahu anak-anak biasa tidak menyebabkan anak-anak biasa lainnya berlari meninggalkan taman bermain sambil menjerit-jerit. Aku tahu anak-anak biasa tidak pernah diperhatikan ke mana pun mereka pergi.
Seandainya aku menemukan sebuah lampu ajaib dan mendapatkan sebuah permohonan, aku akan memohon agar aku memiliki wajah normal yang tidak akan pernah diperhatikan siapa pun.
.....
Omong-omong, namaku August. Aku tidak akan menggambarkan seperti apa tampangku. Apa pun yang kaubayangkan, mungkin keadaannya lebih buruk.
Penutup bab pertama lumayan 'nyesek' dan seakan memberikan peringatan kepada pembaca, prepare for the worst.
Saat August lahir dengan keadaan kritis, perawat di rumah sakit membisikkan kalimat penguatan untuk ibu August, "Semua orang yang terlahir dari Tuhan bisa menghadapi dunia."
Mom bilang, saat itu mereka sudah menceritakan semuanya mengenai aku. Mom sudah mempersiapkan diri untuk melihatku. Tetapi, Mom bilang, saat menunduk dan menatap wajah kecilku yang berantakan untuk pertama kalinya, yang disadari Mom hanyalah betapa indahnya mataku.
Omong-omong, Mom cantik. Dan Dad tampan. Via juga cantik. Kalau kau penasaran.
Kenapa saya rela susah payah mengetik ulang ketimbang copy paste sinopsis dari Goodreads? Karena saya ingin menunjukkan karakter August ini begitu loveable, siapa yang tidak jatuh hati dan ingin memberikan 'puk-puk' bahkan pelukan untuknya. Apalagi caranya bercerita seakan August hadir nyata di sekitar saya. Salut untuk R. J. Palacio!
Keadaan yang bertambah buruk. Semuanya dimulai ketika August bersekolah di Beecher Prep, pandangan mata yang menusuk, August dianggap mengidap penyakit menular, banyak hal yang ia dapati selama bersekolah. Julian, laki-laki menyebalkan yang kerap kali mengejek August. Oh how i hate that guy! Anyway, banyak hal menyenangkan juga yang August lewati, ia memiliki kepala sekolah bernama aneh yang bijaksana, ia memiliki teman unik bernama Summer yang selalu menjadi teman duduknya selama di kantin. Serta ia memiliki sahabat karib bernama Jack Will.
Setiap hari adalah perjuangan, kalimat itu lupa saya pernah baca di mana, namun sepertinya pas untuk melukiskan perjalanan hidup August selama ia bersekolah. Hidupnya benar-benar perjuangan dan saya sebagai pembaca merasakan hati ini ditusuk-tusuk *halah* sekaligus persahabatan August dengan teman-temannya juga menghangatkan hati, nyesek banget-banget. Bolak balik saya meneteskan air mata saat membaca buku setebal 427 halaman terbitan Atria ini.
Hal lain yang membuat saya menyukai Wonder adalah sudut pandang yang berbeda-beda. Tidak saya sadari sejak awal karena seratus halaman pertama kita langsung digiring melalui porsi August. Bab kedua diambil dari versi Via, kakak perempuan August.
Ya,saya bisa membayangkan bagaimana perasaan Via yang tinggal di keluarga di mana salah satu anaknya adalah anak berkebutuhan khusus.
August adalah matahari. Aku, Mom dan Dad adalah planet-planet yang berputar mengelilingi matahari.
Damn, siapa bilang jadi remaja itu adalah hal yang mudah. Setiap kita memiliki masalahnya sendiri dan makanya saya sangat suka kalimat yang digunakan penulis untuk menutup Wonder :
“I think there should be a rule that everyone in the world should get a standing ovation at least once in their lives.”
Selain Via, buku ini juga menggunakan Summer dan Justin, pacar Via sebagai bagian dari narator. Lucunya, saat penulis menggunakan Justin sebagai pov, paragraf yang ada lurus,datar, tanpa huruf kapital dan tanda baca. Sampai awalnya saya pikir, aneh banget ada satu bagian yang lolos dari proofreader, ternyata setelah iseng main-main ke blog penulis, ia mengatakan demikian :
Why is Justin’s part written without uppercase letters and without proper punctuation? I played trombone for seven years through middle school and high school. And I remember thinking back then, especially when I would get into the really low notes, that notes on a musical staff looked a little like lowercase letters of the alphabet. I don’t play anything now but I can still read music, and I still think that way. Ascenders and descenders remind me of half note and quarter notes, depending on where they fall on the staff. The baseline of a letter is a bit like a ledger line. Certain serif faces even have strokes that call to mind that graceful little flag on top of the stem of a note. Maybe it’s because I’ve been a graphic designer for so many years, but I’m trained to see typefaces and fonts not just as communication devices, but as visual cues for other things. So when it came to writing from Justin’s point of view, because he’s a musician, someone who thinks in musical terms, it just seemed natural for me to use lowercase letters to represent his thoughts in a very visual way. He’s the kind of person who doesn’t talk a lot, because he’s naturally shy, but has a lot going on inside. The running monologue inside his head has no time for capital letters or punctuation: it’s like his thoughts are streaming inside his mind.
Keren ya! Dipikirkan sampai sejauh itu!
Banyak emosi dinaikturunkan di buku ini. Siapa coba yang tidak terenyuh hatinya saat August bertanya kepada ibunya, "Kenapa aku harus sejelek ini, Mommy?" >.<
Ketimbang membaca buku motivasi, coba deh baca buku ini. Sesuai dengan tema GRI baca bareng, semangat baru, membaca Wonder membuka hati kita untuk lebih melihat dengan sudut pandang yang baru.
“Courage. Kindness. Friendship. Character. These are the qualities that define us as human beings, and propel us, on occasion, to greatness.”
Beberapa sudut pandang memudahkan pembaca melihat August dari berbagai segi dan saya setuju dengan penulis yang tidak memasukkan sudut pandang sang Ibu.
I purposely left out the parents’ point of views because it would have changed the focus of the book from child-driven to something else, something darker and somewhat more cynical. This is something I didn’t want. It was my choice to end the book on a happy note in Auggie’s life, a time when he feels triumphant and well-loved. But we know that life won’t always be so kind to him, and the adults in the book know that, too. It’s one of the reasons I think adults reading the book get so emotional when reading it—far more emotional than children.
Kalimat di akhir sesuai dengan yang saya rasakan, sepertinya pembaca dewasa akan jauh lebih emosional membaca buku middle - grade. Walau endingnya sedikit Hollywood seperti kata beberapa teman, saya menutup buku ini dengan perasaan hangat dan haru, definetely one of the best book I've read.
5 dari 5 bintang.
Bagi yang sudah baca, jangan lewatkan main-main ke sini. Penjelasan-penjelasan kecil mengenai apa yang ada di buku. Mulai dari asal muasal R. J. Palacio mendapat ide menulis Wonder, yang ternyata diilhami pengalaman pribadinya saat melihat anak kelainan kraniofasial waktu membeli es krim bersama anaknya. Wonder, yang menjadi judul buku pertamanya, diambil dari lirik lagu Natalie Merchant.
Doctors have come from distant cities Just to see me Stand over my bed Disbelieving what they're seeing
They say I must be one of the wonders Of god's own creation And as far as they can see they can offer No explanation
Newspapers ask intimate questions Want confessions They reach into my head To steal the glory of my story
They say I must be one of the wonders Of god's own creation And as far as they can see they can offer No explanation
Praise for Wonder :
"You'll laugh out loud and cry joyful tears following Auggie. This is one of the most moving and purely uplifting books I've read in a long while." —Rachel Hochberg, Children's Book World
"Prepare yourself. Your eyes will open, your heart will warm and you will find yourself cheering for August." —Judy Hobbs. Third Place Books
"A gentle, totally mesmerising book written in a compelling, realistic style that invites the reader into the intimate daily life of this marvelous, genuine boy and his family and holds them there. It is a powerful story that gives us the world we live in with a clean set of eyes; one you will return to again and again, with voices that will stay with you for a very long time. It is also about being yourself, even if the odds are against you, because in the end, that’s all you can be. For ages 10 and up (through adult readers), ‘Wonder’ is a thoroughly wonderful gift and a book that you must read." —Mary Esther Judy, The Bookbag
When we meet someone and fall in love, we have a sense that the whole universe is on our side. And yet if something goes wrong, there is nothing left!...moreWhen we meet someone and fall in love, we have a sense that the whole universe is on our side. And yet if something goes wrong, there is nothing left! How is it possible for the beauty that was there only minutes before to vanish so quickly? Life moves very fast. It rushes from heaven to hell in a matter of seconds.
Once upon a time, there was a prostitute called maria. Wait a minute. "Once upon a time" is how all the best children's stories begin and "prostitute" is a word for adult. how can I start a book with tthis apparent contradiction? But since, at every moment of our lives, we all have one foot in a fairy tale and the other in the abbys, let's keep the beginning.
Paragraf pembukaan yang membius, seakan Paulo Coelho sudah memperingati pembaca bahwa apa yang akan ia kisahkan di Eleven Minutes adalah cerita dewasa. Bagaimana tidak, tokoh utamanya Maria adalah seorang pelacur.
Maria awalnya sama seperti banyak wanita kebanyakan. Ia memimpikan memiliki suami ganteng plus kaya, menikah dengan gaun yang indah, memiliki dua anak dan tinggal di rumah sederhana di pinggir pantai. Cinta pertamanya ia rasakan ketika berusia 11 tahun, tidak jauh-jauh. Pria yang menarik hati Maria adalah teman sekolahnya yang juga tinggal di kompleks yang sama. Namun baik Maria dan si pria tidak pernah bertukar sapa, hanya sering berjalan beriringan ke sekolah, Maria tidak berani memulai pembicaraan. Diam.
Suatu kali sang pria tidak lagi muncul di sekolah dan akhirnya Maria mengetahui bahwa tetangganya telah pindah ke kota lain. Cinta pertama Maria kandas begitu saja.
3 tahun berlalu sejak putus cinta. Ia belajar banyak hal : geografi, matematika, ia mulai membaca majalah dewasa, menulis diary untuk memuaskan keinginannya tentang semua yang diajarkan. Laut, salju, pria-pria dan perhiasan. Mimpi maria terus berlanjut.
Di usianya yang kelima belas tahun, ia kembali dekat dengan laki-laki baru, bertekad tidak mengulangi kesalahannya yang dulu, mereka berteman, pergi ke pesta dan bioskop. Dan tak butuh waktu lama untuk Maria merasakan ciuman pertamanya. Malam itu, Maria bertekad menulis diary karena ia merasa ada suatu hal penting yang sedang terjadi pada dirinya malam ini.
When we meet someone and fall in love, we have a sense that the whole universe in on our side. I saw this happen today as the sun went down. And yet if something goes wrong, there is nothing left! No herons, no distant music, not even the taste of his lips. How is it possible for the beauty that was there only minutes before to vanish so quickly?
Life moves very fast. It rushes us from heaven to hell in a matter of seconds. (p.9)
Maria terus beranjak dewasa dan menjadi semakin cantik. Tak hanya ciuman, ia mengeksplorasi tubuhnya, masturbasi, orgasme, dan Maria sudah bercinta dengan banyak pria. Namun kenikmatan yang ia rasakan lebih diperoleh dengan masturbasi.
Menginjak 19 tahun, Maria mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Ia meninggalkan Brazil, mengadu nasib seorang diri di Swiss.
Everything tells me that I am about to make a wrong decision, but make a wrong decision, but making mistakes is just a part of life. What does the world want of me? Does it want me to take no risks, to go back where I came because I didn't have the courage to say"yes" to life? (p.25)
Dan di minggu keduanya di Swiss, di persepsi saya Maria menjadi semakin 'mature' dan she's becoming my idol! \(^.^)/
I can choose either to be a victim of the world or an adventurer in the search of treasure. It's all a question of how I view my life. (p.37)
Maria bekerja, bekerja dan bekerja. Ia mengambil kursus bahasa Perancis dan belajar mempraktekkan langsung dengan berjalan-jalan di sekitar kota. Terpuruk dengan kesendiriannya ia pun berpikir untuk menjadi model yang sayangnya tak kunjung dipanggil agensi model. Dan tulisnya suatu malam :
At the moment, I'm far too lonely to think about love, but I have to believe that it will happen, that I will find a job and that I am here because this fate. The roller coaster is my life; life is a fast, dizzying game; life is a parachute jump; it's taking chances, falling over and getting up again; it's mountaineering; it's wanting to get to the very top of yourself and to feel angry and dissatisfied when you don't manage it.
It isn't easy being far from my family and from the language in which I can express all my feelings and emotions, but, from now on, whenever I feel depressed, I will remember that unfair. If I had fallen asleep and suddenly woken up on a roller coaster what would I feel?
Well, I would feel trapped and sick, terrified of every bend, wanting to get off. However, if I believe that the track is my destiny and that God is in charge of the machine, then the nightmare becomes something thrilling. It become exactly what it is, a roller coaster, a safe, reliable toy, which will eventually stop, but, while the journey lasts, I must look at the surrounding landscape and whoop with excitement. (p.48)
Juara!!
Nasib yang tak jelas, luntang lantung dan pertemuannya dengan seorang agensi model secara tiba-tiba mengarahkan Maria menjadi seorang pelacur.
I have discovered the reason why a man pays for a woman; he wants to be happy.
He wouldn't pay a thousand fracs jut o have an orgasm. He wants to be happy. I do too, everyone does, and yet no one is. What have I got to lose it, for a while, I decide to become . . . . . it's a ifficult word to think or even write . . . . but let's be blunt . . . . what have I got to lose if I decide to become a prostitute for a while?
Itulah awalnya, Maria terus belajar. Ia rutin mengunjungi perpustakaan untuk belajar tentang sex dan resmi menjadi pekerja seks di klub Copacabana. Setelah enam bulan ia bergelung dengan pekerjaan barunya, Maria belajar mengenai sebelas menit yang sekaligus dijadikan dasar judul buku Paulo Coelho. Sebelas menit adalah waktu rata-rata yang dipergunakan untuk berhubungan intim.
Eleven Minutes.
The world revolved around something that only took eleven minutes.
Kalau dilanjutkan bisa-bisa review ini habis dengan petikan buku, singkat cerita tak lama kemudian Maria bertemu dengan pria yang bisa memutarbalikkan hidupnya. Seorang pelukis yang ia temui di cafe, yang mengajarkan arti cinta sesungguhnya tak hanya berkisar di putaran waktu sebelas menit. Dan semakin ke belakang Paulo Coelho menyelipkan pesan bahwa keintiman adalah sesuatu yang sakral, yang lebih dari besar artinya dari sekedar sentuhan fisik.
Salah satu buku yang harus dibaca dari pengarang kaliber dunia Paulo Coelho, pesan saya satu : buka hati dan pikiran saat membaca, banyak konten dewasa :D
Eleven Minutes sudah pernah diterjemahkan ke Gramedia dengan cover yang cantik.
The road of life twists and turns and no two directions are never the same. Yet, our lessons come from the journey not the destination. – Don Williams...moreThe road of life twists and turns and no two directions are never the same. Yet, our lessons come from the journey not the destination. – Don Williams Jr.
Sedari awal The Journeys terbitan Gagas Media menarik perhatian saya, tidak hanya dari segi cover yang vintage-modern tapi juga dari rangkaian nama penulis yang terpampang di bagian bawah cover. Beberapa nama sudah saya kenal sebelumnya dari buku-buku terbitan Gagas, tapi yang lebih membuat penasaran adalah tulisan pekicau twitter yang karyanya belum pernah saya baca,di antaranya Alexander Thian, Ferdiriva Hamzah, Ve Handojo dan Valiant Budi. The Journeys mengisahkan perjalanan para penulis keroyokan di dalam maupun luar negeri. Menariknya tidak hanya spot-spot travel yang ditonjolkan, melainkan kisah di balik perjalanannya.
Beberapa kisah yang saya suka : Alexander Thian menceritakan indahnya Karimunjawa yang menjadi tempat pelarian di kala putus cinta dan hasilnya? Sunset dan sunrise yang membuatnya berkaca-kaca. Winna Efendi, menceritakan perjalanannya ke Shuili – Taiwan dalam format email. Menarik! Ve Handojo yang berhasil menginjakkan kaki di Israel dengan honornya sebagai penulis script Kuntilanak! Percakapannya dengan pendeta sempat membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Ferdiriva Hamzah yang tulisannya sama menariknya dengan celotehannya di twitter menceritakan perjalanan ke Amerika bersama mertuanya yang bergaya ‘aristokrat’ dan favorit saya perjalanan Valiant Budi ke Timur Tengah.
“Keyakinan bagi saya seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya, mencium aromanya, tapi susah untuk mendefinisikannya terutama kepada orang yang belum pernah, belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut” - hal.104.
Gaya penulisannya yang cerdas dan segar membuat saya tak sabar membaca Kedai 1001 Mimpi.
IMO, Gagas Media pintar mengambil peluang dengan tampilan cover yang menarik dan kumpulan perjalanan penulis Indonesia yang sedang naik daun di saat buku mengenai wisata murah dan travel blog menjamur. Good job
3 bintang. The Journeys, Gagas Media, cetakan kedua 2011, 243 halaman.
Bicara soal travelling beberapa tempat yang ingin saya kunjungi Gili Trawangan untuk dalam negeri dan pulau Santorini yang pemandangannya luar biasa. Jadi, siapa yang ingin mejelajah Lombok dan Yunani bareng saya? :p (less)
Books can be dangerous. The best ones should be labeled "This could change your life." ~Helen Exley
Quote yang sudah pernah saya dengar sebelumnya, kem...moreBooks can be dangerous. The best ones should be labeled "This could change your life." ~Helen Exley
Quote yang sudah pernah saya dengar sebelumnya, kemarin baca lagi dari status updatenya mbak Lita dan quote di atas sangat melukiskan perasaan saya semalam ketika begadang menyelesaikan buku Mitch Albom terbaru Have a Little Faith. Penulis bahkan menyatakan "It is... the most important thing I’ve ever written,” . Di bukunya kali ini Mitch Albom mengajak kita untuk menyelami iman, cinta, toleransi antar umat beragama dengan kalimatnya yang sederhana namun penuh dengan makna. Saya sendiri beberapa kali membaca ulang beberapa paragraf karena begitu indahnya makna yang disampaikan.
Have a Little Faith adalah buku non fiksi yang ditulis dalam kurun waktu 8 tahun, berkisah tentang perjalanan hidup 3 pria - seorang rabi tua, pendeta kulit hitam dengan masa lalu yang kelam serta Mitch Albom sendiri. Mirip dengan Tuesdays with Morrie, buku diawali dengan permintaan Rabi Mitch Albom sedari ia kecil dulu,"Maukah kau menyampaikan eulogi terakhir untukku bila aku mati?" Mitch Albom tentu saja kaget dan tak paham dengan pertanyaan sang Rabi dan balik bertanya mengapa ia yang dipilih? "Karena menurutku kaulah orang yang tepat. Dan kupikir bila tiba waktunya, kau tahu apa yang akan disampaikan."
Paragraf terakhir dari prolog di halaman awal buku :
Ini kisah tentang keyakinan terhadap sesuatu dan dua orang yang sangat berbeda mengajariku tentang cara beriman. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menuliskannya. Penulisannya membuatku mendatangi gereja dan sinagoga, daerah pinggiran dan kota, dan membawaku ke konsep "kita" versus "mereka" yang memecah belah keyakinan di seluruh dunia.
Dan akhirnya kisah ini membawaku ke rumah, ke persemayaman yang dipenuhi orang, ke peti mati dari kayu pinus, ke lubang yang masih kosong. Awalnya adalah sebuah pertanyaan yang kemudian menjadi permintaan terakhir "Maukah kau menyampaikan eulogi untukku?"
Dan sebagaimana dengan keyakinan lainnya, aku merasa sedang dimintai pertolongan, padahal akulah yang sedang ditolong.
Selesai membaca buku ini, saya juga merasa telah ditolong. :)
Mitch Albom akhirnya menyanggupi permintaan Rabi untuk menyampaikan eulogi ketika Rabi meninggal nanti, namun untuk sebuah eulogi, Mitch Albom harus mengenal Rabi lebih jauh, bukan hanya sebatas orang pilihan Tuhan yang berkotbah setiap Minggu, melainkan ia harus mengenal Rabi sebagai manusia biasa. Dan dari sinilah kisah mulai bergulir, secara berkala Mitch mengunjungi Rabi untuk sekedar bertanya dan bercerita.
Suatu kali, saat Rabi di rumah sakit ada lengkingan bayi. "Nah, anak itu mengingatkanku akan sesuatu yang diajarkan tokoh besar kita. Ketika bayi lahir ke dunia, tangannya mengepal bukan?', ujar Rabi sambil mengepalkan tangannya.
"Lalu ketika seseorang yang tua meninggal, bagaimana ia mati? Dengan tangan terbuka. Mengapa? Karena ia telah mendapatkan pelajaran itu". Kemudian ia merentangkan jemarinya lebar-lebar. "Kita tidak dapat membawa apapun."
*ah indahnya, bahkan di saat saya mengetik ulang paragraf di atas dada saya terasa sesak*
Satu lagi paragraf favorit saya di halaman 109.
"Jadi, sudahkah kita menyimpulkan rahasia kebahagiaan?"
"Menurutku begitu."
"Apakah anda akan memberitahu saya?"
"Ya. Siap?"
"Siap."
"Merasa cukup."
"Itu saja?"
"Penuh rasa syukur."
"Itu saja?"
"Atas apa yang kita miliki. Atas cinta yang kita terima. Dan, atas segala yang Tuhan berikan kepada kita."
"Hanya itu?"
Ia menatap mata Mitch Albom, menghela nafas panjang.
"Hanya itu."
Huft. Masih banyak paragraf dan kalimat yang ingin saya bagikan di sini, tapi sepertinya review ini sudah terlalu panjang. So, read it people :) A. Must. Read. Book! Apapun agama anda, buku ini tidak bercerita mengenai agama, melainkan iman dan kecintaan kita terhadap sesama. Buku ini ditutup dengan eulogi Mitch Albom di saat penguburan Rabi, sukses membuat saya mrebes mili.
5 bintang dari saya, sepuluh kalau bisa!
Cover : Cover terbitan Gramedia sama dengan cover buku aslinya. Konsep covernya diilhami oleh kumpulan kliping Rabi yang diikat dengan karet gelang. Nice :) (less)
Min Li tinggal di gubuk reyot bersama kedua orang tuanya di kaki gunung Nirbuah. Mereka keluarga yang sangat miskin, bahkan makan malam pun sangat pas...moreMin Li tinggal di gubuk reyot bersama kedua orang tuanya di kaki gunung Nirbuah. Mereka keluarga yang sangat miskin, bahkan makan malam pun sangat pas-pasan. Ma (ibu Min Li) senantiasa berkeluh kesah tentang kehidupan mereka, untungnya Pa (ayah Min Li) selalu berhasil menceriakan suasana makan mereka dengan mendongeng untuk Min Li. Dari Pa, Min Li mengetahui hakim harimau yang jahat dan kakek rembulan bijaksana yang bisa merubah takdir.
Min Li yang tidak ingin Ma senantiasa bersungut-sungut, maka di saat semua tertidur ia pun pergi dari rumah dan berniat mencari kakek rembulan di Gunung Tak Berujung. Dengan bantuan ikan mas, Min Li memulai perjalanannya yang menjadi inti cerita dari buku Where the Mountain meets the Moon. Ia berjumpa dengan naga yang tidak bisa terbang, yang ternyata juga ingin bertemu dengan kakek rembulan untuk menanyakan bagaimana caranya agar ia bisa terbang.
Grace Lin dengan indah menuturkan mitos-mitos Cina yang diselipkan dalam perjalanan Min Li bertemu dengan kakek rembulan tanpa kesan menggurui. Min Li bertemu dengan raja yang menyamar menjadi pengemis kelaparan, walaupun ia juga kelaparan namun Min Li memberikan sisa uangnya kepada raja. Dari kisah itu kita diajarkan untuk selalu berbagi untuk sesama. Di bab berikutnya pembaca diajak Min Li bertualang melawan monyet-monyet tamak yang pada akhirnya keserakahan mereka malah membawa kesialan. Di akhir perjalanan Min Li dan naga berhasil bertemu kakek rembulan yang ternyata hanya menjawab 1 pertanyaan dalam kurun waktu sembilan puluh sembilan tahun. Padahal Min Li ingin mengetahui cara mengubah peruntungan keluarga namun juga ia juga mendapat titipan pertanyaan sang naga bagaimana cara agar bisa terbang. Pertanyaan apakah yang akan ditanyakan Min Li kepada kakek rembulan? Nah untuk ini teman-teman harus membaca sendiri buku indah ini.
Buku Where the mountains Meets the Moon yang ditujukan untuk pembaca belia berhasil memikat saya yang tentu saja sudah jauh dari usia anak SD namun tetap saja saya terpesona dengan gaya penceritaan Grace Lin sehingga tanpa terasa dalam sehari buku ini saya baca habis. Terlebih lagi di dalamnya ada ilustrasi yang khas negeri Tiongkok dan ternyata dilukis sendiri oleh sang pengarang buku. Must read!(less)
Setiap ayah yang punya anak harus membaca buku ini! Sweet bahkan saat saya menceritakan inti cerita kepada ayah, sampai berkaca-kaca sendiri :p
Intinya...moreSetiap ayah yang punya anak harus membaca buku ini! Sweet bahkan saat saya menceritakan inti cerita kepada ayah, sampai berkaca-kaca sendiri :p
Intinya tentang percakapan anak kelinci yang ingin memamerkan dirinya kepada sang ayah betapa ia mencintainya. Sang anak melompat. Cintaku sebesar lompatanku! Ayah melompat lebih tinggi. Anak tidak kehilangan akal ia membentangkan tangannya, eh ternyata tangan ayah lebih panjang juga. Begitu terus sampai malam menjelang dan sang anak selalu kalah. Akhirnya ia punya akal, "Dad, i love right up to the moon!' dan ia jatuh tertidur karena kelelahan. Saat sang anak sudah tertidur, ayah kelinci menciumnya dan berkata, " I love you to the moon and back"
Ah. Indahnya. Jadi pengen peluk-peluk daddy :) I love you, dad. And yes i love you to the moon and back. (less)
Baca buku ini bawaannya pengen makan kue melulu, tidak baik untuk daerah pinggang dan perut :p Ceritanya indah, covernya bagus, mirip-mirip c...more#3. Jan/11
Baca buku ini bawaannya pengen makan kue melulu, tidak baik untuk daerah pinggang dan perut :p Ceritanya indah, covernya bagus, mirip-mirip chocolate dan biro jodoh kaum elite. (less)
Ah indahnya kalimat-kalimat Judy yang ditujukan kepada Daddy Long Legs. Seandainya saja saya membaca buku ini saat duduk di kursi SMP mungkin sata bis...moreAh indahnya kalimat-kalimat Judy yang ditujukan kepada Daddy Long Legs. Seandainya saja saya membaca buku ini saat duduk di kursi SMP mungkin sata bisa ganti haluan cita-cita menjadi seorang penulis.
"Is it snowing where you are? All the world that I see from my tower is draped in white and the flakes are coming down as big as pop-corns. It's late afternoon - the sun is just setting (a cold yellow colour) behind some colder violet hills, and I am up in my window seat using the last light to write to you." Salah satu kalimat yang saya suka dari buku ini, puitis, mengalir dengan indah dan tidak berlebihan.
Daddy Long Legs, begitulah Judy mengistilahkan pria dermawan yang membiayai seluruh kehidupannya begitu ia keluar dari asrama. Judy sendiri adalah gadis pekerja keras, berkemauan tinggi dan tentunya sangat berbakat. Apalagi bakatnya dalam bidang tulis menulis yang membuat saya iri. Gimana tidak? Buku setebal 200 halaman lebih ini sebagian besar berisi suratnya kepada Daddy Long Legs. Surat yang terkadang tidak penting, berisikan tentang kehidupannya sehari-hari. Entah bercerita tentang kambing, ujian-ujian sekolahnya dan curahan hatinya saat karyanya pertama kali diterima di percetakan namun semua suratnya sama sekali tidak membosankan.
Oia, dari beberapa review teman di GR banyak yang membandingkan Judy dengan Candy-candy. Mereka cukup beda sih menurut saya, mungkin karena sama-sama anak yatim piatu. Tapi Candy-candy kan bodor dan rada tengil sedangkan Judy di sini bersikap cukup dewasa.
Bagian terseru saat saya membaca surat terakhir Judy, lah kok gaya menulis suratnya beda? Ternyata Daddy Long legs itu si .....?? Jiahahah.
Ada yang mau kasih saya pinjeman buku keduanyakah? *wink*(less)
Stargirl. Judul yang menarik. Cover bukunya pun juga indah, simpel tapi memikat dan membekas di hati. Demikian juga Stargirl itu sendiri. Menarik, memi...moreStargirl. Judul yang menarik. Cover bukunya pun juga indah, simpel tapi memikat dan membekas di hati. Demikian juga Stargirl itu sendiri. Menarik, memikat dan membekas di hati walaupun buku ini sudah kelar saya baca seminggu yang lalu.
Stargirl, murid baru kelas 1 SMU MICA. Ia ke sekolah memakai gaun putih yang sangat panjang dan berkerut-kerut. Di punggunggnya selalu tersampir ukulele dan tikus kecil piaraannya. Setiap ada anak berulang tahun ia selalu menyanyikan lagu happy birthday padahal ia hampir tidak punya teman di sekolah. Mengapa? Karena banyak orang menganggapnya aneh.
Stargirl, di saat hujan turun dan teman-temannya bergegas masuk kelas, Stargirl masih ada di luar dan ia menari-nari dalam hujan. Perilakunya senantiasa membuat orang di sekitarnya bahkan saya sebagai pembaca terkaget-kaget.
Adalah Leo Barlock, pemuda kelas 2 SMU yang jatuh hati dengan Stargirl. Ternyata gayung bersambut. Stargirl pun menyukainya. Kisah cinta mereka pada awalnya berjalan sangat indah. Sampai saya pun ikut senang membacanya, jadi inget kisah cinta monyet jaman SMA dulu. Hakhak. Okeeeh, lanjut ke Stargirl.
Dunia seakan milik berdua. Seoalh-olah hanya Leo dan Stargirl yang menjadi penghuninya. Saling tersenyum, bergandengan tangan. Sampai suatu saat Leo tersadar. Ada yang berbeda. Teman-temannya tak lagi mengajaknya bicara. Tidak mengangguk. Tidak tersenyum. Bahkan tidak memandang.
Kenapa? Karena Leo berpacaran dengan seorang Stargirl. Stargirl yang aneh.
Leo bimbang. Di satu sisi ia sayang dengan Stargirl, di sisi yang lain ia ingin teman-temannya kembali seperti dulu.
Leo pun meminta Stargirl berubah. Berpakaianlah seperti layaknya anak SMU. Tidak dengan gaun panjang berkerut. Tidak dengan ukulele dan yang pasti tidak membawa tikus. Akankah Stargirl berubah demi Leo?
Find out yourself :) Buku ini masuk ke daftar must read menurut saya.
Terlebih lagi di saat sekarang ini. Ke mana mata memandang, segerombolan ABG entah itu di mall, di pantai, di rumah makan hampir semua gaya berpakaiannya sama. Perempuan : celana pendek, baju kaos gahool, hp qwerty ga masalah itu nexian ato blueberry yang penting eksis. Laki-laki : kemeja kotak-kotak ala Kristin Stewart di pilem twilight, sepatu putih, rambut ala Ariel peterpan dengan earphone terpasang di ipodnya.
Dare to be different. Mungkin itu yang Stargirl lakukan. Ia tidak masalah tampil beda. Dan ia tidak peduli omongan orang lain, selama ia nyaman dengan dirinya sendiri dan tidak merugikan orang lain, why not?
Membaca buku ini seperti membaca blog seorang Alif Fuadi. Campuran antara Harpot dan Laskar Pelangi. Hanya saja lebih...moreKesan pertama : Covernya bagus!
Membaca buku ini seperti membaca blog seorang Alif Fuadi. Campuran antara Harpot dan Laskar Pelangi. Hanya saja lebih datar, tidak terlalu bertele-tele seperti LP, namun kurang ada konfliknya. Ada sih beberapa bagian yang bikin saya senyum-senyum sendiri dan ada juga yang bikin saya takjub takjub. Wih aturan hidup di PM ini ketat sekaliiii...
Ingin tahu versi filmnya. Bagaimanakah penggambaran dari Atang, Baso, bahkan Tyson :p(less)