Woooh, covernya asyik ya! Berasa banget kegarangan si tokoh utama kita kali ini, Katsa. Gadis bermata biru dan hijau yang memiliki bakat khusus yang g...moreWoooh, covernya asyik ya! Berasa banget kegarangan si tokoh utama kita kali ini, Katsa. Gadis bermata biru dan hijau yang memiliki bakat khusus yang ga tanggung-tanggung, membunuh! Makanya doi menjadi algojo sang raja walaupun kadang hati kecilnya ingin berontak juga, Katsa sering kali merasa ia hanyalah anjing atau mesin pembunuh Raja Randa.
Di kala misi menyelamatkan kakek Lienid ia bertemu dengan laki-laki berbakat yang setara dengan kemampuan Katsa. Ternyata laki-laki itu adalah cucu sang kakek, Pangeran Po. Berdua mereka menyelidiki siapakah gerangan yang menculik kakek Po yang ternyata tidak semudah itu. Masih ada musuh lain yang juga memiliki bakat yang tak kalah gahar.
Kira-kira begitulah garis besar buku pertama serial The Seven Kingdom ini, premisnya lumayan seru. Mirip XMen walau beda jalur, bakatnya pun macam-macam yang sayangnya tidak dikupas lebih dalam oleh pengarang. 20 halaman pertama saya sangat menikmati Graceling, kita diajak untuk mengenal karakter Katsa. Independen, mandiri, tak kenal takut dan doyan berkelahi. Ah saya suka kick ass heroine macam begini.
Sayangnya saat Katsa mulai mengenal Po, getar-getar cinta yang timbul bisa dibilang merusak acara. Petualangan yang seharusnya bisa menjadi klimaks malah terasa dipanjang-panjangkan demi petualangan cinta Katsa dan Po. *tendang Katsa*
Nah, satu hal yang sangat mengganggu saya adalah pembicaraan mengenai pernikahan, kenapa Katsa tidak mau menikah, tidak ingin punya anak. Um cek umur Katsa, bukannya masih abegeh? Lah kok tiba-tiba berbicara soal feminisme seperti ini? Sepertinya ini pikiran pengarang yang dijejalkan masuk ke dalam karakter Katsa. Tidak pada tempatnya dan terlalu maksa. Review lain banyak yang menyayangkan adegan sex before married yang juga ada di buku ini, well masih masuk di akal yang itu ketimbang anak remaja menolak untuk menikah.
Karakter Po kurang membekas di benak saya, yang terbayang hanyalah sifatnya yang lemah lembut plus pendengar yang setia. Apa karena kemunculannya yang kurang banyak? Atau karena namanya Po? Duh mbok ya nama pangeran lain yang keren kan banyak walau hanya satu suku kata. Max? Patch? Hex? Rick? apalah asal jangan Po, duuuh yang kebayang kalau ga si panda gendut ya si teletubbies. Uh oh my bad, sorry *pentung diri sendiri*(less)
You know you’ve read a good book when you turn the last page and feel a little as if you have lost a friend. ~Paul Sweeney
Melinda, tokoh utama Speak k...moreYou know you’ve read a good book when you turn the last page and feel a little as if you have lost a friend. ~Paul Sweeney
Melinda, tokoh utama Speak karangan Laurie Halse Anderson seakan menjadi teman saya dan sampai sekarang tokohnya yang terasa sangat hidup itu masih ‘menghantui’. Berulang kali saat membaca saya seakan ingin memeluk dan berbicara dengannya. I’m here Melinda, just speak! Berawal dari kekacauan sebuah pesta dan Melinda menjadi tertuduh perusak acara karena ia menelpon polisi yang berlanjut dengan bubarnya pesta, akibatnya ia dijauhi oleh teman-temannya bahkan lama kelamaan tidak ada yang mau berbicara apalagi berteman dengannya. Apa sebab Melinda menghubungi polisi teman-temannya tidak mau tahu, yang jelas Melinda mengacaukan acara hura hura bergembira mereka.
Hari-harinya sebagai anak baru di SMA sama sekali tidak menyenangkan, temannya hanya satu, pindahan dari Ohio bernama Heather. Padahal teman SMA Melinda rata-rata adalah teman SMPnya dulu yang sekarang membencinya. Tindakan Melinda hanya satu diam. Ia mulai terbiasa tidak bersuara bahkan dengan orang tuanya sendiri. Mengangguk atau menggeleng. Hanya itu saja yang ia lakukan.
Sebagai pembaca saya ikut sedih, kenapa orang tuanya tidak berusaha lebih keras untuk mengetahui ada apa di balik diamnya seorang Melinda dan ketika teman satu-satunya mulai menjauh, nilai sekolahnya merosot kecuali satu, Art. Mr Freeman sebagai guru kesenian menyadari ada sesuatu yang salah dengan Melinda dan sampai akhir cerita ia berperan besar terhadap sikap Melinda yang semakin membaik. Dan tugas Mr Freemanlah yang diangkat menjadi sampul depan buku Speak,awalnya saya tidak mengerti kenapa musti gambar pohon?
Kenapa dengan gambar itu? Apa sih yang terjadi di malam saat pesta? Kenapa Melinda diam? Nah itu jawaban yang harus dibaca sendiri Speak amat sayang dilewatkan, kisahnya bisa dibilang berat sekaligus tidak berat. Inspiratif, gelap dan tak terlupakan. Terbukti dengan banyaknya penghargaan yang diperolehnya, memenangkan 8 penghargaan dan belum lagi menjadi 11 finalis book award di antaranya A Publishers Weekly Best Book of the Year, A New York Time Best Beller dan masih banyak lagi.
Speak adalah buku ketiga Lauris Halse yang saya baca selain Wintegirls dan Catalyst. Ciri khasnya masih sama mengambil tokoh remaja putri bermasalah dan masalah itu bisa saja menimpa kita ataupun teman di sekitar kita. A must read book.
Speak telah difilmkan dengan judul yang sama, diperankan oleh ‘Bella’ Kristen Stewart pada tahun 2004. Ada yang punya filmnyakah? Mau pinjam dong :D(less)
Luce, gadis muda yang sejak kecil merasa dihantui oleh bayangan-bayangan hitam. Sudah tak terhitung banyaknya menenggak obat penenang dan berganti dok...moreLuce, gadis muda yang sejak kecil merasa dihantui oleh bayangan-bayangan hitam. Sudah tak terhitung banyaknya menenggak obat penenang dan berganti dokter namun bayangan itu tak pernah hilang. Sampai suatu ketika kejadian tragis menimpa Trevor, teman dekat Luce. Trevor meninggal terbakar dengan Luce sebagai saksi tunggal, namun di sisi lain ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Orang tua Luce menyerah dan menyekolahkan Luce di Sword and Cross boarding school. Jreng jreng jreng, Luce bertemu dengan Daniel. Pria keren berwajah angkuh berambut pirang. Luce merasa seakan sudah mengenal Daniel dan tertarik untuk mengenal Daniel lebih jauh. Apa daya yang ada malah Daniel bersikap begitu angkuh, masa pertemuan pertama sudah mengacungkan jari tengah? Ngek. Agar cerita semakin seru muncul jugalah tokoh pria kharismatik dan sangat bersahabat di tengah lingkungan sekolah Luce yang aneh, Cameron.
Pertengahan sampai akhir buku mengisahkan Luce yang kebingungan menghadapi jerat cinta Cameron dan kebebalannya untuk selalu mengekor Daniel. Misteri mulai terkuak di akhir buku, siapa sebenarnya Daniel dan kenapa Luce merasa sudah begitu mengenalnya.
Huft. Sulit nih buat review Fallen, saya berusaha menyukainya. Rating Amazon dan Goodreads yang tinggi plus Gramedia sepertinya menaruh banyak harapan dengan buku ini terbukti dengan tetap memakai cover aslinya. Memang cover aslinya keren sih
Saya kurang merasakan ikatan emosi dengan tokoh utama buku ini. Luce yang seakan-akan merasa dunia bergoncang bila ia jauh dari Daniel, terus terang saya tidak habis pikir.Bentar ganti Cam, bentar lagi ganti Daniel. Ring a bell? Yes, mirip Isabella Swan di antara Jacob dan Edward. Saya bukan TW hater malahan di buku pertama saya jatuh cinta dengan Edward. Balik ke Fallen, Luce membuat saya berpikir ulang tentang Bella yang klemar klemer. Sikap Daniel yang kasarnya tidak masuk akal kenapa tetap membuat Luce malah semakin jatuh hati dengannya? Luce pas deh untuk potret remaja ababil jaman sekarang :p
Sedikit sentuhan romance berbalut fantasy, twisted ending, cinta segitiga sepertinya menjadi formula ampuh untuk membuat sebuah novel menjadi best seller. Entah saya yang selera bacanya menurun atau sudah terlalu uzur untuk membaca novel Young Adult, 2 bintang saya sematkan untuk Fallen. Oia perjalanan cinta Luce – Daniel- Cam bakal berlanjut di buku selanjutnya Torment, Passion dan Rapture buku keempat yang bakal terbit tahun depan.
Curhat sedikit padahal saya suka segala hal yang berhubungan dengan mermaid dan fallen angel tapi sampai saat ini belum pernah klik jika membaca buku yang berkisah tentang mereka. Fallen angel lain bisa kita jumpai di Hush Hush yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa via penerbit Ufuk. Mizan juga ikut menerbitkan kisah The Fallen karangan Thomas E. Sniegoski. Ada juga Awakened yang saya lupa penerbitnya siapa *pentung*(less)
Begitu hebohnya buku ini yang bisa kita lihat dari rating Goodreads (4, 37) dan amazon (rata-rata memberikan bintang 5), sepertinya saya tidak akan be...moreBegitu hebohnya buku ini yang bisa kita lihat dari rating Goodreads (4, 37) dan amazon (rata-rata memberikan bintang 5), sepertinya saya tidak akan berbicara banyak mengenai alur cerita Perfect Chemistry.
Alex Fuentez dan Brittany adalah 2 magnet dengan kubu berbeda. Brittany, ketua cheerleader, cantik, kaya, berdada indah *ehem*, berambut pirang. Sempurna! Atau bisa dibilang terlihat sempurna, karena di balik semua itu ia hanyalah seorang gadis muda biasa yang penuh dengan masalah. Ayahnya jarang di rumah, ibunya sosialita yang terlalu mengekang dan kakaknya, Shelley yang ternyata mengidap cerebral palsy.
AlexFuentez, anggota geng Latino Blood, badan tegap, kekar, berkulit gelap, rambut hitam, bengal dan bertato. Bad boy, eh? Satu kata untuk melukiskan Alejandro Fuentez, seksi. Hidup di lingkungan keras membuatnya menjadi pribadi berandalan yang tak peduli dengan masa depannya sampai akhirnya ia jatuh cinta dengan Brittany.
Klise? Bisa jadi. Kisah cinta 2 dunia berbeda memang sampai sekarang masih menjadi formula ampuh untuk kesuksesan novel. Mulai dari Romeo - Juliet sampai ke Bella - Edward. Same old, same old. Keahlian meramu cerita dan menghidupkan karakter dari Simone Elkeles menurut saya berperan penting dalam kesuksesan novel Perfect Chemistry yang berlanjut di buku 2 dan 3. Sampai buku ini berhasil saya tuntaskan dalam waktu beberapa jam saja.
Penerbit Terakota mengambil langkah jenius menerbitkan buku ini, sudah pasti laris manis dan covernya juga bagus! Saya lebih suka versi Terakota ketimbang aslinya, lebih manis terlihat, walau dari cover aslinya lebih mencerminkan kategori Romance Teens. Sexual intension sangat terasa di beberapa bagian sehingga ada baiknya buku ini dibaca oleh remaja yang sudah cukup umur :p
Satu kekurangannya, saya kurang suka dengan epilognya. Ini pendapat pribadi saya saja loh, yang seakan-akan dengan epilog, pengarang menggiring opini pembaca ke fase 'happily ever after". Sama seperti saat membaca epilog Harry Potter. Rada-rada ga penting, tapi balik lagi itu kalau menurut saya. Masalah terjemahan sih, kualitas seorang Angelic Zaizai tak perlu diragukan :) Good job, Zai!
Beberapa quote favorit saya : "Jangan menanyakan sesuatu bila kau tak siap mendengar jawabannya. Sepakat?" - 184
"Kita ini aktor dalam hidup kita, berpura-pura jadi pribadi yang kita inginkan untuk dilihat orang lain." - 190
"Tak seorang pun akan hidup selamanya. Kau harus menikmati hidup setiap saat, setiap hari...saat ini, sekarang" - 247
PS : Yang membuat buku ini lebih spesial lagi karena saya dihadiahkan langsung oleh sang penerjemah, plus lagi buku ini hasil kolaborasi Zaizai dan Mery yang keduanya saya kenal sejak bergabung di Goodreads jadi berasa ikut bangga dan senang saat membaca Perfect Chemistry , oia satu lagi di halaman ucapan terima kasih ada nama saya juga *girap-girap* Terus maju Terakota, Zai zai dan Mery! Wish you all the best!(less)
“Walls have ears. Doors have eyes. Trees have voices. Beasts tell lies. Beware the rain. Beware the snow. Beware the man You think you know. -Songs of...more“Walls have ears. Doors have eyes. Trees have voices. Beasts tell lies. Beware the rain. Beware the snow. Beware the man You think you know. -Songs of Sapphique”
Yang satu di dalam, yang lain di luar. Tapi keduanya sama-sama terpenjara.
Kalimat yang tertera di sampul depan pas untuk intisari Incarceron. Finn tahanan berusia 17 tahun yang tidak ingat dengan masa lalunya dan yakin kalau ia berasal dari luar penjara. Claudia, putri sipir penjara hidup di dunia luar, keras kepala dan bertekad menyelidiki maksud tersembunyi ayahnya yang hendak menikahkan Claudia dengan putra raja yang tidak disukainya.
Incarceron diceritakan bergantian, sudut pandang Finn di dalam penjara dan Claudia di luar. 100 halaman pertama saya cukup bingung membaca Incarceron. Seakan-akan ada di tengah hutan belantara dan saya terjebak di dalamnya, musti meraba-raba. Terlebih lagi konsep penjara yang hidup sama sekali tidak terbayangkan, untungnya setelah ditemukan kunci yang membuat Finn dan Claudia bisa kerkomunikasi saya sudah bisa menikmati alur cerita yang semakin mendekati akhir semakin tegang, satu per satu misteri terkuak. Eh, ga semua ding, karena Incarceron masih akan berlanjut di buku keduanya, Sapphique.
Catherine Fisher mampu meramu konflik dengan baik, masing-masing karakter memiliki lebih kurangnya sendiri-sendiri. Saya suka Claudia, karakternya kuat dan tak mudah menyerah. Finn di lain pihak saya kurang suka, kurang greget dan terlalu polos, teman Finn Keiro yang terkadang bersikap menyebalkan malah lebih menarik perhatian saya. Oh tentu saja karakter terakhir yang paling happening, Incarceron si penjara ini sendiri. Widih top banget dah untuk pengarang yang bisa menciptakan penjara hidup.
3 bintang untuk keseluruhan cerita tapi total dengan cover dan kehebatan Catherine Fisher meramu cerita 4 bintang!
Tidak sabar menunggu adaptasi filmnya dengan Taylor Lautner sebagai tokoh utamanya :)
PS : Buku ini dikirim langsung dari penerjemah imut Mery Momo, terima kasih banyak ya dek *peluk erat* Sukses terus yah! :) (less)
Polly Madasa, gadis kecil berusia 12 tahun mungkin bisa kita anugrahkan predikat gadis paling romantis yang ada di muka bumi. Bagaimana tidak, buku fa...morePolly Madasa, gadis kecil berusia 12 tahun mungkin bisa kita anugrahkan predikat gadis paling romantis yang ada di muka bumi. Bagaimana tidak, buku favoritnya Pride and Predudice and Anne of Green Gables yang dibaca berulang kali. Ia lebih menyukai menulis dengan lilin dibanding mengetik di internet. Bahasa sehari-hari Pollypun sama persis dengan kalimat jadul ala Anne ditambah Polly juga pengkhayal kelas berat, sering kali orang tua dan teman-temannya dibuat bingung oleh tingkah laku Polly yang seakan terjerat masa lalu.
"Pesta minum teh dengan hidangan roti isi mentimun adalah kegiatan favoritku sejak usia lima tahun. Sebagian besar pakaianku sejak mulai menghirup napas pertama di dunia ini berhias renda dan kerutan (kecuali kamping sial ketika aku dipaksa memakai celana jins yang dipotong pendek dan tank top bertuliskan whassup?" Kalimat di paragraf awal :p Sudah kelihatan kan lebaynya, hehehe.
Di halaman selanjutnya ".. Saat aku berbaring di kamarku merenungkan semua hal ini, sekonyong-konyong aku dibanjiri kecemerlangan dan keagungan musim panas. Udara pekat dan manis bagai kembang bokor yang baru mekar, serta aroma air garam yang menyeruak dalam embusan angin, bagaikan baju yang dijepit apik pada tali jemuran, terasa memabukkan." Wih, luar biasa berbunga bahasanya dan salut untuk mbak Uci yang bisa menerjemahkan kalimat Polly dengan pas!
Niat mulai Polly selama musim panas ingin menjodohkan orang-orang terdekatnya. Clementine, kakak tersayang yang menurut Polly pacarnya tidak sesuai dengan Clementine, tidak bertindak layaknya seorang laki-laki terhormat. Ada juga Mr. Nightquist yang kesepian setelah kematian istrinya. Miss Wiskerton, perawan tua kesepian yang hanya tinggal dengan anjingnya juga tak luput dari Polly. Terakhir, ayah sobat karib Polly, Mr. Fisk telah 3 tahun menduda dan tentunya Polly tak tinggal diam.
Berdasar dari kisah cinta ala Pride and Prejudice ataupun kisah cinta Anne - Gilbert di buku Anne of Green Gables, Polly mulai melancarkan aksinya menjodohkan pasangan yang menurutnya pasti menjadi pasangan serasi. Sayangnya Polly lupa, cinta tak dapat dipaksa dan benarkah cinta berbunga ala novel klasik beneran dapat terwujud di dunia jaman sekarang? Nah, Polly harus belajar dari tante Mia kalau gitu :p
Buku yang saya peroleh hasil menang kuis di facebook ini memiliki inti cerita yang menarik ditambah lagi covernya yang manis banget. Sayangnya kemanisan cerita sedikit terganggu dengan tingkah laku Polly yang terkadang sedikit di luar jalur plus kesan yang saya dapat 'duh ni anak sok tua banget sih?' Bagi pecinta romance remaja dan pengagum cover seperti saya, buku ini layak kok untuk dikoleksi :)(less)
Bagi angkatan 80’an seperti saya di mana jaman SD bacaan hanya berkisar donal bebek, komik Nina dan kumpulan dongeng tentunya nama Hans Christian Ande...moreBagi angkatan 80’an seperti saya di mana jaman SD bacaan hanya berkisar donal bebek, komik Nina dan kumpulan dongeng tentunya nama Hans Christian Andersen melekat kuat di ingatan kita. Kisah tragis gadis korek api, cinta putri duyung yang bertepuk sebelah tangan, perjalanan hidup gadis mungil Thumbelina adalah beberapa karyanya yang sangat terkenal dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.
Kali ini penerbit Atria mengemas 10 kisah H.C. Andersen dalam satu kumpulan dongeng yang diantaranya Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Sang Putri Sejati, Thumbelina, Burung Bulbul, Gadis Korek Api, Ratu Salju, Baju Baru Kaisar, Kisah Rembulan dan yang terakhir Anak Itik Buruk Rupa. Favorit saya gadis korek api,kisah singkat gadis miskin yang hidupnya berakhir karena kedinginan di malam tahun baru. Tragis, sedih tapi entah bagaimana ada nuansa kelegaan dan kegembiraan di sana saat sang gadis bersua dengan arwah neneknya di atas sana. Cerita lain yang juga saya suka adalah kisah cinta putri duyung, sayangnya bayangan Ariel yang hidup happily ever after tak mampu ditepis saat saya membaca kisah yang kisahnya berbeda 180 derajat dari cerita asli karangan Andersen. Nuansa kelam kerap membayangi dongeng-dongeng Andersen, yang mana awalnya saya merasa aneh juga. Dongeng yang identik dengan story telling dengan target pembaca anak-anak kenapa malah identik dengan nuansa suram. Mau tak mau saya menggoogling kisah hidup H.C. Andersen. Pantas saja. Ternyata perjalanan hidup Andersen yang lahir tahun 1805 bisa dibilang tidak mudah, bakkan cenderung kesepian dan penuh dengan kepahitan. Andersen lahir di keluarga miskin, sang ibu bekerja sebagai buruh dan ayahnya hanya pembuat sepatu miskin dan buta huruf. Khayalannya berkembang sedari kecil karena ibunya sering bercerita tentang dongeng rakyat dan ayahnya yang kerap membawa Andersen menonton sandiwara. Yatim piatu pada usia muda, Andersen bekerja serabutan sampai suatu kali ia bertemu raja Denmark Frederik VI yang kemudian membiayai Andersen sekolah bahasa. Happy ending? Jangan salah karena di sekolah Andersen malah menjadi korban ejekan teman-temannya, selain karena usianya yang terpaut jauh dengan teman sekelasnya, Andersen ternyata pengidap dyslexia. Tamat dari sana, Andersen mengenyam studi di Kopenhagen dan mulai meneruskan hobinya menulis. Kisah cintanya mirip dengan si putri duyung cilik, bertepuk sebelah tangan malah sampai pada akhir hidupnya Andersen tidak menikah sama sekali. Ia meninggal pada tahun 1874 karena sakit.
Every man’s life is a fairy tale, written by God’s fingers, once he said. Mungkin hanya dengan khayalannya dan dengan menulis ia bisa melupakan semua kisah sedih yang terjadi dalam hidupnya. Ia menulis dengan penuh perasaan dan bisa jadi karena itu jugalah dongeng karyanya tak lekang oleh waktu dan masih dapat saya nikmati walaupun sudah lewat ratusan tahun lewat. Luar biasa. Bahkan beberapa waktu lalu Google juga memperingati hari lahirnya dengan doodle Thumbelina selama lima hari berturut-turut.
Bintang 4 untuk keseluruhan cerita dan cover indah hasil karya @curutsalto. Saat nulis review ini saya baru memperhatikan lagi covernya, ternyata latar dari sketsa gadis korek api juga seakan-akan ada tetesan darah baik di sampul depan maupun belakang. Gothic, tragic yet so beautiful!
PS. Kenapa dongeng jaman dulu yang identik dengan anak-anak nuansanya horor bin gothic begini ya? Perasaan cerita dari Grimm bersaudara juga gelap bahkan lebih sadis. Jadi inget diskusi dongeng di thread goodreads yang ternyata serem-serem ceritanya :p
PS lagi, dongen Ratu Salju yang berkisah tentang 2 anak Kay dan Gerda entah kenapa terkesan sangat familiar, sepertinya dulu pernah dibawakan dalam kaset Sanggar Cerita kalau tidak salah. Ring a bell anyone?(less)
Fantasy Fiesta 2010, kumpulan cerita pendek dengan satu benang merah yang menyatukan mereka semua,fantasi. Menuntaskan buku setebal 280 halaman butuh...moreFantasy Fiesta 2010, kumpulan cerita pendek dengan satu benang merah yang menyatukan mereka semua,fantasi. Menuntaskan buku setebal 280 halaman butuh waktu yang cukup lama juga, mungkin karena kumpulan cerita sehingga harus menunggu mood membaca cerita selanjutnya. Namanya kumpulan cerita pasti dari sudut pandang pengarang yang berbeda pula. Ada yang dengan mudah saya ikuti, ada pula yang seolah susah dicerna otak.
Bocah Serigala dan Isyarat Api pas menjadi cerita pertama, nuansa fantasinya dapat walau saat awal baca "Serigala? Not again, puhlesss". Sepertinya saya akan berhenti sejenak membaca fantasi dengan tokoh vampire dan werewolves, bosan. Ah ya, lanjut. Hujan lumayanlah, saya suka dengan naganya. Candu aksara, kalau boleh terus terang, gara-gara kisah dari Dewi Putri Kirana inilah saya meneruskan dengan semangat Fantasi Fiesta.Paragraf awalnya menyihir saya, benar-benar nih yang disebut dengan candu aksara, kisahnya unik tak tertebak dan tidak terjerat dalam kata "fantasi". Fantasi tidak selalu identik dengan naga, dunia distopia, sekumpulan orang dengan kekuatan magis. Fantasi menurut Dewi sederhana saja, di dunia sekarang yang kita tempati ini, tapi dengan tokoh wanita pemakan kertas. Di akhir cerita baru saya tahu kalau kisah ini ternyata menjadi juara Fantasy Fiesta 2010, pantas :p
Boxinite, topiknya menarik hanya sayang, kata-kata "Dasar Yahudi!" di halaman 49 menyurutkan niat baca saya, mungkin lebih enak jika menyebut nama bukan menggeneralisasi satu bangsa tertentu.
Cerita Api dari Klaudiani serem juga! Tokohnya jadi mirip-mirip anak kecil di film The Omen, tapi dengan unsur Rangda. Idenya bagus, saya menunggu cerita lain karangan Klaudiani mudah-mudahan tidak dalam versi cerita pendek, tapi novel sehingga pendalaman karakternya lebih terasa.
Kisah lain yang saya suka, Moka si Mobil Jelaga. Bagus! Simpel, siapa sangka tokoh Moka si mobil tua bisa mengundang simpati yang cukup dalam. Suka:)
Ditunggu fantasy fiesta untuk tahun depan, maju terus penulis fantasi Indonesia!(less)
Iron King, sepertinya menjadi buku yang lumayan hangat dibicarakan di Goodreads akhir-akhir ini, selain karena covernya keren juga gara-gara penerjema...moreIron King, sepertinya menjadi buku yang lumayan hangat dibicarakan di Goodreads akhir-akhir ini, selain karena covernya keren juga gara-gara penerjemahnya dong, hail to Zaizai :)
Tapi dari pas heboh kemarin ga berani buka review temen-temen karena blom ada bukunya, takut spoiler, cuma intip intip dikit, pokoknya sih berkisah tentang peri, dunia mirip Narnia dan kucing yang mirip dengan Cheshire kucing menyebalkan nan mengerikan di buku Alice in Wonderland. Tambah penasaran. Untungnya Jumat kemarin datanglah paket dan buku ini sudah ada di tangan.
Now, let's see what the hype is all about. Meghan, seorang gadis yang biasa-biasa saja yang tengah bergumul dengan masalah keluarga, ayahnya yang sampai sekarang tidak ketahuan di mana rimbanya, ibunya yang menikah lagi dengan Luke serta memiliki adik tiri bernama Ethan. Suatu ketika menjelang ulang tahunnya yang ke enam belas berbagai keanehan mulai terjadi. Computer sekolah yang secara otomatis menuliskan pesan untuknya, berbagai bayangan mulai berkelebat tidak jelas, kecelakaan yang menimpa ibunya dan sampai Ethan, adiknya yang berubah menjadi kasar dan bertindak aneh.
Untunglah ada Robbie, teman main Meghan sejak kecil yang secara perlahan membimbing Meghan mengetahui jati dirinya yang sebenarnya. Meghan ternyata anak dari raja Oberon, raja kerajaan musim panas di negeri nevernever. Dan ternyata pantas saja Ethan bersikap aneh karena Ethan yang asli diculik dan sekarang berada di Nevernever. Panik, bingung dan cemas akan Ethan, Meghan nekat pergi ke Nevernever bersama Robbie. Dimulailah petualangan Meghan di dunia penuh intrik, ia akan berhadapan dengan berbagai jenis mahluk aneh. Troll, ogre, dryad, goblin, pixie, errr kok mahluk jelek semua ya? Tenang, we're getting close. Jreng jreng, pangeran Ash dong, pangeran ganteng nan rupawan yang kegantengannya melebihi kegantengan Irfan Bachdim :p Secara doi adalah anak dari ratu negeri musim dingin yang ditugaskan untuk membunuh Meghan. Tapi kalo sekedar bunuh aja ga seru dong, nah mereka pun jatuh cinta, tapi ga seru juga kan kalo cuma sekedar jatuh cinta, sepertinya Robbie juga menyimpan rasa dengan Meghan. Seru kan? Sepertinya review saya harus berhenti di sini, kalo ga malah jadi spoiler :p
Iron King terus terang adalah buku yang sangat menarik untuk itungan buku dunia peri, terlebih lagi karena buku ini sengaja disiapkan untuk buku trilogi jadi masih banyak pertanyaan yang tidak terjawab dan ada beberapa penyelesaian yang saya rasa cukup terburu-buru di akhir cerita. Saya penasaran dengan raja besi, Machina. Masa cuma segitu?? Mudah-mudahan di buku kedua kisahnya berlanjut lebih seru.
Tokoh favorit saya di buku ini : Robbie, entah kenapa dia mengingatkan saya akan tamani, peri hutan di buku Wings. Karakternya yang ceria, blak-blakan dan cenderung mengambil resiko menurut saya sangat identik dengan peri. Moga-moga di buku selanjutnya doi muncul lagi.
Grimalkin, kucing jenius yang terkadang licik juga tokoh yang menghidupkan suasana di buku ini. Mirip dengan Cheshire di Alice kok saya ga kebayang ya? Kan kalo Cheshire itu matanya besar trus senyunmnya itu yang nyeremin abis, beda dengan Grim yang sepertinya berhati-hati dengan tindak tanduknya dan cenderung anggun ala kucing bangsawan.
Ash, last but not least. Lumayan menarik hati tapi kurang gahar :p Jadi saya lebih suka Robbie.
Trus kesimpulannya apa nih? Ya semua harus baca dong, gabungan kisah antara Wicked lovely, Narnia (anggep aja Ben Barnes yang jadi Ash, kan mirip-mirip) dan Wings, plus tokoh dari A Midsummer Night's Dream. Ga nyesel kok bacanya,apalagi terjemahannya enak :) (less)
Selalu susah mereview buku bintang 5, apalagi untuk buku thriller macam begini takut menyebar spoiler yang jelas-jelas mengganggu kenikmatan mem...more*sigh*
Selalu susah mereview buku bintang 5, apalagi untuk buku thriller macam begini takut menyebar spoiler yang jelas-jelas mengganggu kenikmatan membaca, jadi review kali ini saya buat garis besarnya saja ya
3 tokoh utama yang membuat saya terjaga sampai tengah malam selama 3 hari berturut-turut.
1. The Industrialist.
Henrik Vanger, mantan CEO Vanger Corporation, yang selama puluhan tahun hidupnya tidak tenang karena setiap hari ulang tahunnya mendapat kiriman bunga yang hanya dilakukan oleh ponakan tercinta, Harriet Vanger. Anehnya saat Harriet berusia 16 tahun ia menghilang tanpa jejak namun kiriman bunga tetap berlanjut sampai sekarang. Harriet masih hidup? Atau pembunuh Harriet ingin menyiksa Henrik kiriman bunga misterius itu?
2. The Jornalist.
Adalah Mikael Blomkvist yang ditugaskan Henrik untuk membantu menyelidiki ambisinya tentang penyusutan kembali tragedi hilangnya Harriet. Mikael sendiri mau tak mau menerima tugas ajaib ini karena ia sendiri baru saja dituduh menulis artikel palsu tentang Wennerstrom, seorang pengusaha korup. Demi menyelamatkan perusahaan penerbitan Millenium, Mikael rela tinggal di Hedestad, pemukiman keluarga ‘kerajaan’ Vanger yang dingin dan mulai menyusuri latar belakang dan gerak gerik Vanger bersaudara yang salah satunya diyakini Henrik bertanggung jawab akan hilangnya Harriet. Ternyata memang ada yang aneh dengan kasus Harriet, perlahan namun pasti misteri mulai terkuak dan di sanalah nasib membawa Mikael bertemu dengan Lisbeth Salander.
3. The Girl with the dragon tattoo.
Lisbeth Salander, gadis unik yang menjadi tokoh favorit saya, bayangkan saja perilakunya ajaib, asosial, pengidap Asperger, hacker handal, badannya penuh dengan tindik dan tattoo. Kepiawaiannya dengan data-data mengantar nasibnya berkenalan dengan Mikael dan duet mereka dalam mengupas tragedi Harriet menjadi poros kisah pertama dari serial Millenium.
Oia satu lagi setelah membaca review dari amazon dan goodreads pembaca Millenium series terbagi menjadi 2 kelompok, yang menganggap Stieg Larsson jenius dan ada yang menyebutkan buku ini feminist yang penuh dengan kritik sosial serta adegan yang kasar. Adaptasi filmnya sendiri tidak boleh beredar di Indonesia karena R-Rated (brutal violent content including rape and torture, strong sexuality, graphic nudity, and language).
Tidak untuk pembaca yang tidak tahan dengan kekerasan, saya aja sampai kaget-kaget plus merinding, tapi ya itu dia, if it bleads, it leads! Semakin brutal semakin penasaran saya dengan endingnya, setiap ada satu titik terang pasti berlanjut ke perkara lain yang tambah seru. Pantas saja buku ini menjadi Amazon best book of the month September 2008 : Once you start The Girl with the Dragon Tattoo, there’s no turning back. Ho oh betul banget! Buku yang kaya akan plot, page turner dan akan membius pembaca sampai di akhir buku. And in the end, i want more of Lisbeth Salander!
PS : Buku aslinya yang berbahasa Swedia memiliki judul Män som hatar kvinnor atau Men who hate women. Saya dulu ga ‘nyandak’ kenapa judulnya seperti itu dan saat membacanya baru manggut-manggut setuju. Untung saja judulnya diganti, kalau masih Men who Hate Women sepertinya tidak saya lirik deh :p
Terima kasih kepada secret santa, Melisa *peluk-peluk* Berkat doi saya berhasil membaca buku yang sudah menjadi incaran saya sejak beberapa tahun yang lalu tapi bolak balik gagal terbeli. Memang diniatkan untuk baca tahun ini secara adaptasi Hollywoodnya pemainnya keren-keren. Daniel Craig sebagai Mikael dan Rooney Mara berperan sebagai Salander.(less)
Buku yang mengisahkan 2 wanita beda generasi yang bersatu karena takdir ini dimulai dengan kisah Mariam. Seorang gadis kecil, anak haram yang hidup te...moreBuku yang mengisahkan 2 wanita beda generasi yang bersatu karena takdir ini dimulai dengan kisah Mariam. Seorang gadis kecil, anak haram yang hidup terpencil bersama ibunya yang menderita epilepsi. Nana, sang ibu adalah sosok yang penuh dengan kepahitan, digosipkan sering dirasuki oleh jin sehingga batal menikah. Nana menjadi pembantu di rumah Jalil, pria kaya yang memiliki 3 istri. Nasib mulai mempermainkan hidup Nana ketika perut Nana yang membuncit. Istri-istri Jalil mengusirnya. Ayah Nana sendiri tidak mau mengakuinya sebagai anak. Dan Jalil ternyata tidak cukup memiliki keberanian untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, alih-alih Jalil mengucilkan Nana di Desa Gul Daman, bukit terjal yang jauh dari mana-mana.
Proses kelahiran Mariam adalah ringisan pertama saya saat membaca buku setebal 507 halaman ini. Duh, seram! Mariam tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua, walaupun ia rutin dikunjungi oleh Jalil, tetap saja ia merindukan kehangatan keluarga. Hal itulah yang membuatnya nekat mengunjungi ayahnya di kota. Tindakan yang mengubah seluruh hidup Miriam, ayah menolaknya, ibunya bunuh diri, belum cukup pengarang mengagetkan kita, Mariam bahkan dipaksa menikah dengan duda tua teman Jalil.
Ah, Mariam, sungguh malang nasibmu.
Pernikahan Mariam dengan bapak tua yang digambarkan ala om-om tambun adalah peristiwa kedua yang kembali membuat saya meringis dan tangan saya mulai dingin saat adegan malam pertama Mariam. Untungnya kisah bergulir cepat dan Mariam hamil. Nah, bagian ini sedikit membuat saya bernafas lega. Dan itu tidak berlangsung lama, ada kejadian yang sebaiknya tidak saya tulis karena takut akan memberikan spoiler yang jelas akan mengurangi kenikmatan membaca. Pokoknya mulai pertengahan buku Khaled Hosseini berhasil memutarbalikkan perasaan dan emosi saya seenak hatinya. Ngilu, tercabik-cabik, tidak tahu kata apa lagi yang pas untuk melukiskan bagaimana saya mengikuti jalan hidup Mariam. Jengkel, dongkol juga saya rasakan ketika Rasheed, suami Mariam marah karena masakan Mariam kurang berkenan ia menjejalkan batu untuk Mariam kunyah. Tsk, bahkan saat menulis review ini emosi saya kembali bergolak.
Bagian ketiga, di saat saya sudah mulai terikat dengan karakter Mariam yang bahkan hawa panasnyapun seakan bisa saya rasakan, pengarang seakan mempermainkan pembaca. Kita dibawa ke kehidupan Laila, remaja putri yang hidup di keluarga terpelajar walau ibunya sedikit mengalami gangguan jiwa. Khaled Hosseini seakan menunjukkan kekontrasan hidup wanita di Afganistan. Laila hidup bahagia, teman-temannya banyak, ayahnya pintar dan apalagi ada teman laki-lakinya yang menjadi favorit saya di buku ini, Tariq. Dan seperti biasa dalam sekejap nasib bisa berubah. Sampai di sini saya tidak akan bicara lebih jauh, yang jelas mulai bagian ketiga di pertengahan buku para pembaca akan diajak menaiki roller coaster Afganistan melalui bagaimana kehidupan Mariam dan Laila dipermainkan oleh takdir kehidupan yang muncul dalam bentuk perang, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana cinta dan harapanlah yang membuat mereka bisa bertahan hidup.
“Sebuah cerita tentang harapan akan kemenangan, juga kekuatan menepis ketakutan. Sungguh megah!” - New York Daily News
“A Thousand Splendid Suns, tidak hanya menyuguhkan kepada pembaca tentang realitas Afghanistan, tetapi juga menunjukkan kemampuan dan bakat Hosseini; melodrama dari setiap plot; pelukisan yang tajam; penggambaran karakter hitam-putih; dan pengolahan emosi yang memukai.” - New York Post
“… kisah yang sangat memilukan tentang perjuangan perempuan Afghan dalam mengarungi kerasnya hidup.” – Entertainment Weekly
“Prosa Hosseini begitu menghunjam. Ia tidak hanya mengungkap sisi politik, tetapi juga sisi paling personal ….” - The Guardian
Penggalan review di atas tidak cukup mewakili apa perasaan saya mengenai isi buku ini, memang bagi penggemar happy ending yang menghindari novel sedih ada baiknya saya berikan peringatan lebih dahulu. Tidak, buku ini bukan untuk pembaca berhati lemah, tapi bagi anda yang ingin membaca bacaan berkualitas tentang cinta, harapan dan perjuangan luar biasa wanita-wanita yang memang nyata adanya A Thousand Splendid Suns wajib dibaca.
Ingat bawa tissue ketika mendekati bab akhir.
You’ve been warned.
Saya baca buku terbitan Mizan Gold Edition, terjemahannya enak dan mengalir, covernya paling bagus di antara edisi lainnya. Perempuan muda yang nampak di cover termenung tapi seakan langit cerah di belakangnya mengisyaratkan ada bahagia yang menanti, ada thousand splendid suns :)
A Thousand Splendid Suns, dipilih pengarang untuk dijadikan judul berdasar puisi dari Saib Tabrizi :
Every street of Kabul is enthralling to the eye
Through the bazaars, caravans of Egypt pass
One could not count the moons that shimmer on her roofs
And the thousand splendid suns that hide behind her walls
Quote favorit saya :
“Behind every trial and sorrow that He makes us shoulder, God has a reason.”
Dan ada satu paragraf yang diucapkan Nana kepada Mariam, tajam, dalam dan mengiris hati : “Camkan ini sekarang, dan ingatlah terus, anakku: Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke Utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam.”(less)
Dikasih oleh sang penerjemah mbak Uci *peluk peluk mbak Uci* Sepertinya saya memang berjodoh dengan buku ini *lebay dikit gpp ya* dari beberapa bulan y...moreDikasih oleh sang penerjemah mbak Uci *peluk peluk mbak Uci* Sepertinya saya memang berjodoh dengan buku ini *lebay dikit gpp ya* dari beberapa bulan yang lalu saat beberapa teman di goodreads membaca buku ini saya sudah tertarik dengan cover 3 burung ungunya itu. Saat beredar buku terjemahannya malah jadi lebih tertarik untuk baca, covernya lebih indah lagi. Gara-gara sudah jatuh cinta inilah, saya tidak berani banyak-banyak baca review, takut spoiler, hehe. Hanya saja dari gambar cover sudah tersirat buku ini bernafaskan isu rasial dan dari browsing sekilas di amazon, rata-rata buku ini dapat 4-5 bintang.
Buku setebal 537 halaman ini terbagi atas 3 kisah. Aibileen Sepertinya setiap orang akan menyukai karakter Aibileen. Bagaimana tidak, sebagai seorang pekerja dan pengasuh anak, ia mencintai Mae Mobley seperti anaknya sendiri. Plus ia mengajarkan nilai kehidupan yang dilewatkan begitu saja oleh ibu si anak itu sendiri, miss Leefolt.
Minny Nah, kalau ini jagoan saya :p Dari 3 sudut pandang (Aibileen, Minny, miss Skeeter) saya paling suka dari sisi Minny. Celetukannya menyegarkan dan terkadang membuat saya tertawa. Tempramennya meledak-ledak, terlebih lagi ia bekerja di rumah miss Celia yang dongok abis, saya bayanginnya mirip Pamela Anderson gitu (yak, semuanya mirip).
Miss Skeeter, wanita kulit putih yang semakin hari semakin menyadari perbedaan dirinya dengan teman-temannya. Pintar menulis dan bertekad menjadi jurnalis. Diawali dengan kolumnis kecil yang membahas tentang bagaimana cara merawat rumah, padahal ia sama sekali tidak pernah membersihkan rumah. Sehingga ia meminta bantuan Aibileen untuk menjawab pertanyaan di koran dan menjadi dekat dengan Aibileen. Terlebih lagi ternyata Aibileen kenal dengan Constantine, pengasuh kulit hitamnya sedari kecil yang tiba-tiba menghilang dari rumah.
Seiring dengan pertemuan Aibileen dan miss Skeeter yang mulai meningkat, tens cerita mulai tambah seru. Miss Skeeter yang melihat sendiri perbedaan antara kulit putih dan kulit hitam, berpikir untuk menerbitkan buku. Bagaimana rasanya wanita warga kelas bawah bekerja dengan kulit putih? Bagaimana suara hati seseorang yang senantiasa dianggap kotor, rendah dan berbeda? Dan apa sebenarnya yang terjadi dengan Constantine? Kenapa Aibileen selalu mengelak jika ditanya mengenai Constantine?
Yak, kira-kira seperti itulah garis besar buku ini. Kenapa 5 bintang? Buku ini seakan memiliki jiwa, saya merasakan setiap emosi di sini. Cinta. Benci. Marah. Sakit hati. Lepas. Bebas. Bahagia. Saya ikut merasakan kedongkolan Minny saat majikannya mabuk dan melontarkan pernyataan tolol. Saat membaca dari sudut pandang Aibileen, seakan mama saya hadir kembali, karena aura keibuannya yang sangat kuat. Aibileen menjadi tokoh favorit dalam novel yang saya baca nih sepanjang tahun 2010 ini. Dan saat miss Skeeter berhasil membukukan wawancaranya, saya ikutan girang.
Covernya, me likey so much. *mbak Anne Mariane, top banget dah* Mbak Uci, terjemahannya mantab. Sering-sering ya kirim paket ke Bali :p (less)
Covernya cantik, sesuai dengan judulnya yang bau-bau laut dengan nuansa biru gelap. Wajah lelaki di cover rada mirip RobPatz ga sih?
Sea Change berkisa...moreCovernya cantik, sesuai dengan judulnya yang bau-bau laut dengan nuansa biru gelap. Wajah lelaki di cover rada mirip RobPatz ga sih?
Sea Change berkisah tentang Miranda Merchant seorang gadis berusia 16 tahun yang terpaksa meninggalkan liburan musim panas di New York untuk pergi ke pulau terpencil, Selkie. Pulau Selkie disebut-sebut menyimpan banyak misteri mulai dari kraken, putri duyung dan merman, duyung-duyungan yang berubah menjadi manusia dan hidup berbaur dengan warga kota.
Liburan Miranda yang membosankan berubah menjadi petualangan seru saat datangnya lelaki misterius bernama Leo. Sebagai gadis yang dikisahkan pintar dan logis dalam mengambil keputusan, Miranda malah tidak bisa menggunakan otaknya saat berhubungan dengan Leo, walaupun ditentang oleh ibu dan teman-temannya ia tetap berhubungan dengan Leo.
Penggemar romance ala young adult pasti senang dengan buku ini, ditambah lagi mitos-mitos dunia laut Sea Change berhasil saya tamatkan dalam waktu sehari saja. Sayangnya klimaksnya terlalu datar dan dibuat terburu-buru dengan ending yang menggantung.Mungkin saja Aimee Friedman menyiapkan buku ini menjadi trilogi? We'll see.(less)
Saya ga tau musti nulis review apa tentang buku ini. Huft. Sebelumnya makasih banyak buat mas Nenang atas bukunya :)
Janjian baca bareng Zai Zai, setel...moreSaya ga tau musti nulis review apa tentang buku ini. Huft. Sebelumnya makasih banyak buat mas Nenang atas bukunya :)
Janjian baca bareng Zai Zai, setelah 2 hari membaca, okeh, otak saya yang terlalu lama dicekoki fantasi jadi kagok baca buku beginian.
Bab awal : masih duduk anteng, senderan di tempat tidur. 20 halaman, masih anteng *kening mulai berkerut*
Halaman 100 : *posisi berubah, tiduran di kasur dengan kening masih berkerut*
Halaman 126 : tidur aja aah *kepala mulai pusing lagian kening berkerut tidak baik untuk wajah perempuan di usia-ntar-lagi-kepala-3*
Keesokan harinya, saya menyerah, beneran kepala kunang-kunang baca buku ini, walau semestinya sih bagus ya, karena hasil browsing di amazon maupun goodreads buku ini rata-rata bintang 4. Saya setuju dengan salah satu review di Amazon, kalau anda berhasil nyaman membaca 50 halaman buku ini, dijamin anda selamat membaca sampai akhir.
Well, i guess this book is extremely too loud for me ;D