Catatan perjalanannya tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang di...moreCatatan perjalanannya tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. Tulisan-tulisannya lebih memberi penghormatan pada kenangan-kenangan tentang mereka yang telah menyentuh, memperkaya, mencerahkan hidupnya. Merekalah yang menjadi alasan kenapa Agustinus bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikit pun, melewati wilayah-wilayah sulit dengan mudah, dan melakukan perjalanan panjang dengan dana amat terbatas.
Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan.
Lam Li, Oktober 2012.
Kalimat pembuka oleh sahabat Agustinus Wibowo sangat pas menggambarkan buku setebal 552 halaman dan sekaligus menjadi penyebab ia mendapat rating 4 lebih di Goodreads. Berbeda dengan Selimut Debu, atau pun buku-buku perjalanan lainnya yang semakin banyak saja kita jumpai di toko buku. Titik Nol terasa sangat hangat. Personal. Menyentuh. Bahkan di beberapa bagian terasa sangat menyesakkan dan bolak balik saya menitikkan air mata. Tidak heran baru rilis beberapa minggu dan sekarang sudah dicetak ulang lagi.
Sampul depan Titik Nol begitu mengundang. Biru cerah dengan anak melompat dari pohon. Bebas. Berani. Nekat. Sebagaimana penulis yang juga pengembara, musafir, you named it. Menurut saya Agustinus Wibowo adalah laki-laki pejalan yang nekat. Perjalannya penuh dengan bahaya, dirampok, sakit keras di negeri orang. Buset dah! Titik Nol menjadi buku bacaan saya saat liburan di Lombok. Malu sendiri sudah heboh kepanasan dan stress ketika merasakan ‘keramahan’ penduduk lokal di pelabuhan Bangsal.
Makna sebuah perjalanan.
Tibet. India. Nepal. Afganistan.
Surga. Khailash. Shangri La.
Titik Nol berpusat pada Agustinus Wibowo yang menggabungkan makna perjalanan dan sang Mama yang berjuang menghadapi kanker. Bagaimana kedua hal itu bisa menjadi korelasi yang pas, itulah magnet kuat dan kekuatan penulis merangkai kata sehingga Titik Nol lebih menyerupai buku kehidupan seperti yang ditulis Qaris Tajudin. Justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, ia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini ia abaikan.
Dibedakan dari tulisan tegak yang mengisahkan perjalanan demi perjalanan dan tulisan bercetak miring, pembaca seakan melihat penulis dari dua sisi. Sebagai seorang pejalan yang mencari arti hidup, berpetualang dengan gagah berani dan sekaligus kita melihat Agustinus yang ternyata adalah manusia biasa. Tak lepas dari kecemasan, ketakutan, kesedihan.
Membaca Titik Nol, saya merasa ikut didongengi oleh Agustinus, sebagaimana bab demi bab ia menceritakan kisah Safarnama kepada sang Mama.
Jarak dan waktu memang sempat menjadikan hubungan ibu dan anak ini seperti tuan rumah dan tamu yang saling dipenuhi rasa sungkan. Tapi penyakit ini telah mengubah kami, yang kini tak segan mengucap kata ‘cinta’, berbagi ciuman dan belaian sayang. Penyakit ini membuatku menemukan Mama, mengalami keluarga, memberi makna baru pada rumah. Perjumpaan dan perpisahan, kegembiraan dan penderitaan, semua adalah anugerah. hal 334.
Pramoedya pernah berkata, hidup ini bukan pasar malam. Di tengah pesta kehidupan, kita tidak berbondong-bondong datang. Satu per satu kita datang, satu per satu kita berjalan dan menjelajah, satu per satu kita menciptakan kisah kita masing-masing, hingga tiba saatnya nanti satu per satu kita mengakhiri jalan ini-pulang. (hal 526).
Terima kasih Agustinus, untuk kesediannya berbagi kisah perjalananmu kepada kami. Membaca Titik Nol adalah suatu pengalaman berharga, menelusuri negeri yang mungkin tidak akan pernah saya pijak, terutama lagi mengingatkan saya akan mami di nirwana sana.
Setiap kisah, perjalanan, penantian, perjuangan, pengharapan dan kekuatan, tentu ada batas akhirnya. Dan selama masih ada waktu yang diberikan sang Pencipta, mari bersama kita buat kisah hidup kita berarti.
There was a crooked man, and he walked a crooked mile. He found a crooked sixpence against a crooked stile. He bought a crooked cat, which caught a cr...moreThere was a crooked man, and he walked a crooked mile. He found a crooked sixpence against a crooked stile. He bought a crooked cat, which caught a crooked mouse. And they all lived together in a little crooked house.
Nursery rhymes yang misterius, gaya khas Agatha Christie. Crooked House telah diterjemahkan dengan judul Catatan Harian Josephine, beda makna namun tetap memiliki korelasi yang pas.
Review di bawah saya ambil dari halaman belakang Crooked House :
The Leonidas are one big happy family living in a sprawling, ramshackle mansion. That is until the head of the household, Aristide, is murdered with a fatal barbiturate injection.
Suspicion naturally falls on the young widow, fifty years his junior. But the murderer has reckoned without the tenacity of Charles Hayward, fiance of the late millionare’s granddaughter…
My opinion :
Sejak awal Januari ketika akun Twitter @SelSelKelabu mengadakan event baca bareng Agatha Christie saya sudah sibuk berkeliling toko buku di Denpasar dan sekitarnya mencari 3 buku Agatha terfavorit. Dan tetap tidak nemu dong >.<
Alhasil setelah tanya sana sini, buku yang paling direkomendasikan adalah Crooked House. Setelah menuntaskan buku ini selama beberapa hari akhirnya saya mengerti mengapa banyak yang menyarankan saya membaca Crooked House. Malahan saya baru tahu kalau Crooked House adalah buku favorit pengarang sendiri. Well, this is something! Dan memang, buku ini ‘sesuatu!’ *tolongjangandibacaalaSyahrini*.
Kenapa demikian?
1. Saya membayangkan Oma Agatha di atas sana tertawa puas saat beliau berhasil mengecoh saya beberapa kali saat menebak siapa pembunuh kakek Aristide. Padahal saya sudah berusaha menyimpan clue-clue dan ikut menyelidiki bersama Charles, tokoh di mana dari dialah sudut pandang Crooked House.
2. Tiap anggota keluarga memiliki kans yang sama menjadi pembunuh Aristide. Istri mudanya. Guru privat cucunya, lelaki muda yang sekaligus dianggap cem-ceman istri muda Aristide. Anak-anak lelakinya yang terbelit masalah keuangan. Menantunya yang tingkat drama queennya level kelas kakap. Tidak terkecuali cucu-cucunya apalagi Sophia yang sekaligus menjadi kekasih Charles. Nah, loh. Selamat menebak!!
3. Josephine.
Josephine. Josephine. Engkau jelas telah masuk list karakter paling happening dari buku yang saya baca tahun 2013.
Kepiawaian Agatha Christie menulis cerita misteri rasanya sudah tidak patut dipertanyakan apalagi dibantah, namun satu hal yang tidak saya sangka adalah kejeniusannya menciptakan karakter Josephine. Gadis remaja yang misterius, aneh dan kemunculannya pertama di pertengahan buku cukup membuat saya bergidik. Tahu tokoh Hannibal di Silence of the Lambs kan? Nah, perasaan yang sama saya dapatkan saat Josephine muncul. Padahal ini di buku lho!
Grandfather’s been murdered. Did you know?
He was poisoned. With es-er-ine. She pronounced the word very carefully. It’s interesting, isn’t it?
Saya membayangkan saat Josephine mengucapkan kata er-er-ine sambil berbisik dan tersenyum misterius. Hih, seram!
4. Endingnya. OMG endingnyaa >.< Just prepare yourself, everybody!
5. Saat saya membaca sempat terlintas di otak, kalau Crooked House difilmkan seru juga nih! Ehh, detik-detik terakhir saat membuat review saya baru tahu kalau Crooked House beneran akan dibawa ke layar lebar! *girapgirap*
It’s been far too long since we’ve seen Agatha Christie’s work on the big screen,” LaBute said. “Crooked House is one of her best and most surprising murder mysteries. It’s the perfect title with which to bring a whole new audience to Christie, while at the same time delivering a wonderfully suspenseful experience to her legions of existing fans.”
Julie Andrews, Gemma Aterton, Matthew Goode, Gabriel Bryne sudah resmi menjadi pemeran dalam Crooked House. Woohoo!
4 bintang untuk Josephine dan buku hariannya. Bagi yang belum baca? Tunggu apa lagi! Walau tanpa kehadiran Poirot, buku ini wajib baca bagi penggemar misteri!
PS : Postingan ini dibuat untuk meramaikan event dari Sel – sel kelabu. Kategori And There Were None.(less)
Mata bengkak, eye liner luntur. How could you, Will? How could you?
-apdet review-
Sigh. Susahnya mereview bintang 5, apalagi macam Me Before You tanpa...moreMata bengkak, eye liner luntur. How could you, Will? How could you?
-apdet review-
Sigh. Susahnya mereview bintang 5, apalagi macam Me Before You tanpa spoiler. Jadi begini, saya percaya yang namanya buku itu kadang ‘memanggil’ pembacanya. Buku juga memiliki jiwa untuk mengetahui siapa pembaca yang tepat untuknya. Bentar, bentar, kok jadi horror? Ah, tapi teman-teman mengerti maksud saya kan? Saya lupa asal muasal bisa tertarik dengan buku ini, one click leads to another sepertinya, dan ketika adik saya pergi ke luar, saya dengan pedenya nitip dibelikan Me Before You. Covernya cantik, rating lumayan, dan siapa itu Jojo Moyes saya juga ga kenal. *sok kenal dengab penulis, padahal baru kenal dengan Agustinus Wibowo doang*
Yuk lanjut, Me Before You berhasil saya lalap dalam waktu 2 hari, pertengahan menitikkan air mata sedikit, 2/3 ke belakang mulai tes-tes-tes, bagian belakang mewek sampai mata bengkak dan merah. Memang saya lebay, gampang menangis, dan yang saya tekankan di sini bukan buku ini sedemikian sedihnya hingga perlu tissue saat membacanya tapi bagaimana kehebatan Jojo Moyes menciptakan karakter-karakter yang hidup. Sangat hidup. Buku ini sudah saya beberapa bulan lalu, namun sampai sekarang saat saya menulis review masih terbayang-bayang. Jarang-jarang saya ingin baca ulang buku, tapi Me Before You yang jelas menjadi kandidat buku favorit tahun 2013 adalah satu di antaranya.
Bukan dalam rangka ikut-ikutan Uni bicara soal takdir *disepak*, takdir menemukan Lou dan Will dalam suatu kejadian tak terduga. Will yang dulunya petualang, playboy, businessman sukses bukanMrGrey, siapa sangka nasibnya berubah drastis ketika kecelakaan sepeda motor. Will menjadi lumpuh (quadriplegic), ia tak lagi bisa melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain, sudah 2 tahun Will bertahan. Kesabaran orang ada batasnya, begitu kata pepatah. Will lelah dan ketika Will menghubungi Dignitas (a group that helps those with terminal illness and severe physical and mental illnesses to die assisted by qualified doctors and nurses), pembaca sudah bisa membaca ke mana arah cerita ini. Lou, gadis eksentrik, gemar berbusana antik dipecat dari kerjaannya dan seperti saya bilang tadi, takdir menyatukan mereka berdua, Lou butuh uang dan ibu Will melihat sesuatu yang tak biasa dalam diri Lou sehingga beliau menggaji Lou sebagai asisten Will, walau ada niat yang lebih besar di balik itu.
Bagaikan dua kutub magnet *tsaahbahasagueeeh* chemistry Will yang pesimis dengan hidup dan Lou yang begitu polos namun sesekali meledak-ledak menjadi kekuatan novel Me Before You. Lou mengajak Will melihat dunianya dari sisi seorang gadis lugu yang tidak pernah bermimpi muluk-muluk sedangkan Will yang hari lepas hari menyadari ada potensi yang besar dari Lou.
Saya ikut bangga dan senang ketika perlahan tapi pasti Will yang lelah dengan hidup mulai membuka diri dan Lou yang slebor, mudah dibully mulai berani bermimpi. Banyak adegan mengharukan yang muncul terlebih lagi saat ulang tahun Lou. Dan ketika semua berjalan baik-baik saja, kita tahu yang ada di halaman berikutnya pastilah ada sesuatu. Lou dan Will jatuh cinta, mampukah cinta Lou membangkitkan nafsu hidup Will?
“I kissed him, trying to bring him back. I kissed him and let my lips rest against his so that our breath mingled and the tears from my eyes became salt on his skin, and I told myself that, somewhere, tiny particles of him would become tiny particles of me, ingested, swallowed, alive, perpetual. I wanted to press every bit of me against him. I wanted to will something into him. I wanted to give him every bit of life I felt and force him to live.”
Sesuatu yang lebih dari sekadar apakah buku ini akan berakhir bahagia atau tidak. Pembaca akan diajak berpikir lebih jauh tentang hidup oleh Jojo Moyes tanpa terkesan menggurui. Seberapa berarti hidupmu? Masih berarti ketika kamu tidak lagi bisa mengerjakan apa pun? Boleh jadi kita berpikir betapa bodohnya Will, tapi Jojo Moyes juga menunjukkan bagaimana berat hidup yang sepenuhnya dan seumur hidupnya bergantung dari orang lain. Tidak ada yang benar dan yang salah. Dan saya menutup buku ini dengan hati sesak namun saya juga merasakan gelenyar hangat di dada.
“You only get one life. It’s actually your duty to live it as fully as possible.”
Petuah Will di bawah ini sangat menggetarkan hati saya.
“Push yourself. Don’t settle. Wear those stripy legs with pride. And if you insist on settling down with some ridiculous bloke, make sure some of this is squirreled away somewhere. Knowing you still have possibilities is a luxury. Knowing I might have given them to you has alleviated something for me.”
Me Before You sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia juga lho, saya belum cek tapi dari beberapa teman saya dengar bahwa harganya lumayan. Oh well, untuk mengenal Will dan Lou dan merasakan rollercoaster emosi saat membacanya saya pikir harga yang ditawarkan pasti sesuai. Wajib baca. You’ll gonna love this book, bagi yang ga nangis, uang kembali! #lah
Oia, satu quote lagi yang ingin saya bagikan, ketika Lou dan Will pulang berkencan.
“I turned in my seat. Will’s face was in shadow and I couldn’t quite make it out. ‘Just hold on. Just for a minute.’ ‘Are you all right?’ I found my gaze dropping towards his chair, afraid some part of him was pinched, or trapped, that I had got something wrong.
‘I’m fine. I just . . . ’ I could see his pale collar, his dark suit jacket a contrast against it. ‘I don’t want to go in just yet. I just want to sit and not have to think about . . . ’ He swallowed. Even in the half-dark it seemed effortful. ‘I just . . . want to be a man who has been to a concert with a girl in a red dress. Just for a few minutes more.’ I released the door handle. ‘Sure.’ I closed my eyes and lay my head against the headrest, and we sat there together for a while longer, two people lost in remembered music, half hidden in the shadow of a castle on a moonlit hill.”
OMG. :’)
Udah deh, pokoknya harus baca buku me Before You, ya ya ya? Tidak akan menyesal, saya bahkan saat menulis review ini hati bagaikan ditujes-tujes dan ingin mengulang. Huks.
Sudah ah, pamit semuanya, jangan lupa kabari saya kalau sudah baca #teteplho #mustinyangelamarjadimarketinggramed #plak(less)
Don't judge a book by its cover. Familiar, yes? Bagaimana dengan don't judge a boy by his face?
Lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis, sebua...moreDon't judge a book by its cover. Familiar, yes? Bagaimana dengan don't judge a boy by his face?
Lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis, sebuah kondisi rumit yang membuat wajahnya tampak tidak biasa walau sudah menjalani sepuluh kali operasi. August diperkenalkan langsung kepada pembaca melalui prolog berjudul 'biasa'.
Aku tahu aku bukan anak berumur sepuluh tahun biasa. Maksudku, memang aku melakukan hal-hal biasa. Aku makan es krim. Aku bersepeda. Aku memiliki XBox. Rasanya sih begitu. Tapi aku tahu anak-anak biasa tidak menyebabkan anak-anak biasa lainnya berlari meninggalkan taman bermain sambil menjerit-jerit. Aku tahu anak-anak biasa tidak pernah diperhatikan ke mana pun mereka pergi.
Seandainya aku menemukan sebuah lampu ajaib dan mendapatkan sebuah permohonan, aku akan memohon agar aku memiliki wajah normal yang tidak akan pernah diperhatikan siapa pun.
.....
Omong-omong, namaku August. Aku tidak akan menggambarkan seperti apa tampangku. Apa pun yang kaubayangkan, mungkin keadaannya lebih buruk.
Penutup bab pertama lumayan 'nyesek' dan seakan memberikan peringatan kepada pembaca, prepare for the worst.
Saat August lahir dengan keadaan kritis, perawat di rumah sakit membisikkan kalimat penguatan untuk ibu August, "Semua orang yang terlahir dari Tuhan bisa menghadapi dunia."
Mom bilang, saat itu mereka sudah menceritakan semuanya mengenai aku. Mom sudah mempersiapkan diri untuk melihatku. Tetapi, Mom bilang, saat menunduk dan menatap wajah kecilku yang berantakan untuk pertama kalinya, yang disadari Mom hanyalah betapa indahnya mataku.
Omong-omong, Mom cantik. Dan Dad tampan. Via juga cantik. Kalau kau penasaran.
Kenapa saya rela susah payah mengetik ulang ketimbang copy paste sinopsis dari Goodreads? Karena saya ingin menunjukkan karakter August ini begitu loveable, siapa yang tidak jatuh hati dan ingin memberikan 'puk-puk' bahkan pelukan untuknya. Apalagi caranya bercerita seakan August hadir nyata di sekitar saya. Salut untuk R. J. Palacio!
Keadaan yang bertambah buruk. Semuanya dimulai ketika August bersekolah di Beecher Prep, pandangan mata yang menusuk, August dianggap mengidap penyakit menular, banyak hal yang ia dapati selama bersekolah. Julian, laki-laki menyebalkan yang kerap kali mengejek August. Oh how i hate that guy! Anyway, banyak hal menyenangkan juga yang August lewati, ia memiliki kepala sekolah bernama aneh yang bijaksana, ia memiliki teman unik bernama Summer yang selalu menjadi teman duduknya selama di kantin. Serta ia memiliki sahabat karib bernama Jack Will.
Setiap hari adalah perjuangan, kalimat itu lupa saya pernah baca di mana, namun sepertinya pas untuk melukiskan perjalanan hidup August selama ia bersekolah. Hidupnya benar-benar perjuangan dan saya sebagai pembaca merasakan hati ini ditusuk-tusuk *halah* sekaligus persahabatan August dengan teman-temannya juga menghangatkan hati, nyesek banget-banget. Bolak balik saya meneteskan air mata saat membaca buku setebal 427 halaman terbitan Atria ini.
Hal lain yang membuat saya menyukai Wonder adalah sudut pandang yang berbeda-beda. Tidak saya sadari sejak awal karena seratus halaman pertama kita langsung digiring melalui porsi August. Bab kedua diambil dari versi Via, kakak perempuan August.
Ya,saya bisa membayangkan bagaimana perasaan Via yang tinggal di keluarga di mana salah satu anaknya adalah anak berkebutuhan khusus.
August adalah matahari. Aku, Mom dan Dad adalah planet-planet yang berputar mengelilingi matahari.
Damn, siapa bilang jadi remaja itu adalah hal yang mudah. Setiap kita memiliki masalahnya sendiri dan makanya saya sangat suka kalimat yang digunakan penulis untuk menutup Wonder :
“I think there should be a rule that everyone in the world should get a standing ovation at least once in their lives.”
Selain Via, buku ini juga menggunakan Summer dan Justin, pacar Via sebagai bagian dari narator. Lucunya, saat penulis menggunakan Justin sebagai pov, paragraf yang ada lurus,datar, tanpa huruf kapital dan tanda baca. Sampai awalnya saya pikir, aneh banget ada satu bagian yang lolos dari proofreader, ternyata setelah iseng main-main ke blog penulis, ia mengatakan demikian :
Why is Justin’s part written without uppercase letters and without proper punctuation? I played trombone for seven years through middle school and high school. And I remember thinking back then, especially when I would get into the really low notes, that notes on a musical staff looked a little like lowercase letters of the alphabet. I don’t play anything now but I can still read music, and I still think that way. Ascenders and descenders remind me of half note and quarter notes, depending on where they fall on the staff. The baseline of a letter is a bit like a ledger line. Certain serif faces even have strokes that call to mind that graceful little flag on top of the stem of a note. Maybe it’s because I’ve been a graphic designer for so many years, but I’m trained to see typefaces and fonts not just as communication devices, but as visual cues for other things. So when it came to writing from Justin’s point of view, because he’s a musician, someone who thinks in musical terms, it just seemed natural for me to use lowercase letters to represent his thoughts in a very visual way. He’s the kind of person who doesn’t talk a lot, because he’s naturally shy, but has a lot going on inside. The running monologue inside his head has no time for capital letters or punctuation: it’s like his thoughts are streaming inside his mind.
Keren ya! Dipikirkan sampai sejauh itu!
Banyak emosi dinaikturunkan di buku ini. Siapa coba yang tidak terenyuh hatinya saat August bertanya kepada ibunya, "Kenapa aku harus sejelek ini, Mommy?" >.<
Ketimbang membaca buku motivasi, coba deh baca buku ini. Sesuai dengan tema GRI baca bareng, semangat baru, membaca Wonder membuka hati kita untuk lebih melihat dengan sudut pandang yang baru.
“Courage. Kindness. Friendship. Character. These are the qualities that define us as human beings, and propel us, on occasion, to greatness.”
Beberapa sudut pandang memudahkan pembaca melihat August dari berbagai segi dan saya setuju dengan penulis yang tidak memasukkan sudut pandang sang Ibu.
I purposely left out the parents’ point of views because it would have changed the focus of the book from child-driven to something else, something darker and somewhat more cynical. This is something I didn’t want. It was my choice to end the book on a happy note in Auggie’s life, a time when he feels triumphant and well-loved. But we know that life won’t always be so kind to him, and the adults in the book know that, too. It’s one of the reasons I think adults reading the book get so emotional when reading it—far more emotional than children.
Kalimat di akhir sesuai dengan yang saya rasakan, sepertinya pembaca dewasa akan jauh lebih emosional membaca buku middle - grade. Walau endingnya sedikit Hollywood seperti kata beberapa teman, saya menutup buku ini dengan perasaan hangat dan haru, definetely one of the best book I've read.
5 dari 5 bintang.
Bagi yang sudah baca, jangan lewatkan main-main ke sini. Penjelasan-penjelasan kecil mengenai apa yang ada di buku. Mulai dari asal muasal R. J. Palacio mendapat ide menulis Wonder, yang ternyata diilhami pengalaman pribadinya saat melihat anak kelainan kraniofasial waktu membeli es krim bersama anaknya. Wonder, yang menjadi judul buku pertamanya, diambil dari lirik lagu Natalie Merchant.
Doctors have come from distant cities Just to see me Stand over my bed Disbelieving what they're seeing
They say I must be one of the wonders Of god's own creation And as far as they can see they can offer No explanation
Newspapers ask intimate questions Want confessions They reach into my head To steal the glory of my story
They say I must be one of the wonders Of god's own creation And as far as they can see they can offer No explanation
Praise for Wonder :
"You'll laugh out loud and cry joyful tears following Auggie. This is one of the most moving and purely uplifting books I've read in a long while." —Rachel Hochberg, Children's Book World
"Prepare yourself. Your eyes will open, your heart will warm and you will find yourself cheering for August." —Judy Hobbs. Third Place Books
"A gentle, totally mesmerising book written in a compelling, realistic style that invites the reader into the intimate daily life of this marvelous, genuine boy and his family and holds them there. It is a powerful story that gives us the world we live in with a clean set of eyes; one you will return to again and again, with voices that will stay with you for a very long time. It is also about being yourself, even if the odds are against you, because in the end, that’s all you can be. For ages 10 and up (through adult readers), ‘Wonder’ is a thoroughly wonderful gift and a book that you must read." —Mary Esther Judy, The Bookbag
Di bawah ini saya comot dari blog penulis yang akan memperjelas hubungan Tara dengan 3 pria : Tora, Junot dan Alexander
Sebagai Tara,
aku ingin sekali m...moreDi bawah ini saya comot dari blog penulis yang akan memperjelas hubungan Tara dengan 3 pria : Tora, Junot dan Alexander
Sebagai Tara,
aku ingin sekali membunuh Tora, sebab dia adalah b4jingan. aku ingin sekali mengejar Junot, sebab aku selalu mencintainya. aku ingin sekali mengatakan pada Alexander untuk berhentilah melukis duniaku, sebab aku tak lagi layak.
Aku ingin sekali, kembali pada masa dimana bunga daisy mekar sehari lebih lama dari biasanya.
~ Daisyflo, Yennie Hardiwidjaja.
*speechless*
Couldn’t put the book down until the last page. Jarang saya menemukan buku macam begini yang memutarbalikkan emosi dan bagian menjelang ending sukses menitikkan air mata. Cinta, ah, tak cukup kata untuk melukiskan makna kekuatan cinta seseorang.
Daisyflo dibuka dengan kejadian tanggal 22 April 2011, malam eksekusi. Hari di mana Tara menunggu detik-detik kedatangan Tora, saat mendebarkan yang siap menjadikan Tara seorang pembunuh. Tara tidak tahan lagi, malam ini Tora harus mati!
Wets! Tumben-tumbenan nih pembuka alur yang tidak biasa, tapi yang begini ini yang membuat saya penasaran. Emang siapa Tara? Tora apalagi? Heboh amat sampai niat ngebunuh. *wah, ini memang bukan Metropop biasa nih*
Ada lagi Alexander, pria yang sekarang dekat dengan Tara. Ia sudah curiga dengan perilaku Tara yang mengintai kantor tempat Tora bekerja, Tara yang sibuk dengan olahraga berat yang membuat tubuhnya berotot dan yang terakhir ia bahkan memotong rambutnya. Siapa sangka Tara akhirnya benar-benar mewujudkan niatan untuk membunuh Tora.
Alexander memacu mobil. Tak ada waktu lagi. Dia takkan membiarkan Tara membunuh Tora. Gadis itu sudah cukup sakit. Apa jadinya dia kalau sampai dipenjara?
Belum selesai penasaran kita, cerita bergulir flash back. Tahun 2008. Saat di mana Tara masih ceria walau sudah sedikit terkontaminasi dengan perilaku Tora yang menyebalkan. Tora masuk dalam kategori good looking guy, berwibawa, alis lebat, hidung mancung, rajin basket. Di sisi lain ia adalah tipe pengekang posesif yang menyebalkan, belum lagi gengsi tinggi padahal modal dengkul, wong hampir semua biaya hidupnya ditanggung Tara. Iiissh kalau saya jadi Tara baru pacaran 2 bulan sudah pasti saya depak pria macam begini! Gemes sendiri dibuatnya, bolak balik pas baca saya seakan pengen ngejambak rambut Tora! Apalagi kerap kali dia mengakhiri pertengkaran dengan kalimat, ” Aku cuma mau jaga kamu. Kamu cewek yang harus dilindungi.” Atau “Kamu sudah aku anggap kayak istri sendiri. Kenapa kamu nggak jadi istri yang baik saja sih?” Errh, plis deh Tora.
Adalah Junot, kakak kelas Tara yang pendiam, misterius dan sederhana. Selain jago kumputer ia juga pintar piano dan super baik! Padahal awalnya Junot dan Tara lebih dulu saling mengenal dan menyukai satu dengan yang lain, tapi Tara keburu silau dengan Tora. Dan misteri cinta mulai mempermainkan hidup Tara, Tora dan Junot. Tora adalah mimpi buruk Tara. Tara adalah mimpi buruk Junot.
Kenapa Tara tidak langsung saja memutuskan Tora? Kenapa ia masih bertahan? Bagaimana kelanjutan cinta Junot kepada Tara? Apakah arti bunga daisy yang ada di sampul buku? Silahkan baca sendiri, ingat bawa tissue dan siapkan emosi anda untuk Daisyflo.
Cinta tidak seharusnya dimulai dari keinginan seseorang demi mencapai kebahagiaan, tetapi keinginan untuk tetap bahagia walau dia nggak bisa berubah.
Alur flash back dan misteri yang terungkap perlahan membuat saya agak ragu meneruskan review Daisyflo tanpa menebar spoiler di mana-mana. Konflik satu berlanjut dengan konflik lainnya sehingga novel ini habis dalam satu kali duduk. Tidak seperti Metropop yang merk-merk terkenal bersliweran, Daisyflo mengangkat lebih dari itu. Penjiwaan tokoh! Betapa hati saya ‘lelah’ membaca Daisyflo, ingin hati memeluk Tara dan berkata you are not alone in this world, lady. Dan pria-pria ciptaan Yenni, duh bikin meleleh. Junot dan Alexander terutama.
Junot :
“Dari dulu sampai sekarang kamu adalah peri. No matter what you are, I won’t let you go anymore, Tara” – hal 131.
“Tara, knowing you is a gift. Holding you now is a miracle”- hal 150
Aaaaak.
Dan endingnya duh endingnya >.<
Cuma satu pesan saya baca deh buku ini, ga bakal nyesel! Apalagi ketika mengetahui ilustrasi bunga daisynya Junot. *meleleeeh*
Total opinion :
+ : karakter novel yang melekat bahkan sampai selesai membacanya, alur flash back yang membuat pembaca semakin penasaran, twist endingnya pas.
- : terus terang awalnya saya membeli buku ini karena twit dari Mbak @Hetih karena sampulnya kurang catchy, nama karakternya kurang pas tapi mau tak mau membayangkan Junot mirip dengan Herjunot jadi it’s not that bad afterall ;p
4/5.
Bunga daisy : manis, simpel persis seperti Tara. Ia tidak seharum melati dan tidak seanggun mawar. Menurut theflowerexpert.com, A Daisy symbolizes innocence and purity. It can also symbolize new beginnings. The flower meaning of daisy is “loyal love”and “I will never tell”.
Daisyflo adalah novel ke14 dari Yenni Hardiwidjaya, di blognya akan anda temui bagaimana behind the scene Daisyflo dan keseharian dari seorang Yenni. Ditunggu novel berikutnya ya :)(less)
In nineteen minutes, you can mow the front lawn, color your hair, watch a third of a kockey game. In nineteen minutes, you can bake scones or get a to...moreIn nineteen minutes, you can mow the front lawn, color your hair, watch a third of a kockey game. In nineteen minutes, you can bake scones or get a tooth filled by a dentist, you can fold laundry for a family of five.
In nineteen minutes, you can order a pizza and get it delivered. You can read a story to a child or have your oil changed. You can walk a mile. You can sew a hem.
In nineteen minutes, you can stop the world, or you can just jump off it.
In nineteen minutes, you can get revenge.
-Nineteen minutes – page 1-
19 menit waktu yang dibutuhkan Peter Houghton menembak teman-temannya di Sterling High School. 10 meninggal, 9 murid dan 1 guru. 19 lainnya luka-luka. Kenapa? Seorang psikopatkah? Apa yang menyebabkan remaja laki-laki berusia 17 tahun berani melakukan hal itu? Jodi Picoult mengulas latar belakang seorang Peter, anak korban bullying temannya semenjak hari pertamanya masuk TK.
19 minutes ditulis dengan alur maju mundur, bagaikan mengupas bawang, selapis demi selapis kita menyelami Peter Houghton dan beberapa tokoh lain di antaranya Josie Cormier, teman Peter sejak kecil yang sekarang sudah menjadi gadis populer di ssekolah; Alex Cormier, seorang juri pengadilan dan ibu dari Josie; serta Lacy Houghton teman Alex sekaligus ibu dari Peter; Patrick Ducharme seorang detektif lokal dan Jordan McAfee, pengacara muda ambisius yang membela Peter di pengadilan.
Cerita dimulai per tanggal 6 Maret 2007 saat penembakan terjadi. Salah satu korban adalah Matt, pacar Josie yang juga adalah satu-satunya korban yang tertembak 2 kali, badan dan kepala.
Nobody wants to admit to this, but bad things will keep on happening. Maybe that’s because it’s all a chain and a long time ago someone did the first bad thing, and that led someone else to do another bad thing, and soon. You know, like that game where you whisper a sentence into someone’s ear, and that person whispers it to someone else,and it all comes out wrong in the end.
But then again, maybe bad things happen because it’s the only way we can keep remembering what good is supposed to look like. – 61-
Hinaan terhadap Peter terus berlanjut, suatu ketika saat Peter mulai tidak bisa membedakan angka 3 dan 8 dan akhirnya ia harus memakai kacamata. Kacamata ringan yang membuat matanya terlihat besar seperti burung hantu namun ia juga dibuat terpana. Tulisan yang dulunya kabur kini terlihat jelas, mirip dengan pelengkap superhero! Sabuk Batman, Gua Superman dan kalau Peter adalah kacamata, ia begitu bersemangat ingin segera masuk sekolah.
Dan yang didapat keesokan harinya yang saya ambil dari halaman 110, As the world came into focus, Peter realized how people looked when they glanced at him. As if he were the punch line to a joke. And Peter, with his 20/20 vision, cast his eyes downward, so that he wouldn’t see.
Bagaimana hati saya tidak hancur saat membaca paragraf itu. Huks.
When you don’t fit in, you become superhuman. You can feel everyone else’s eyes on you, stuck like Velcro. You can hear a whisper about youfrom a mile away. You can dissapear, even when it looks like you’re still standing right there. You can scream, and nobody hears a sound.
You become the mutant who fell into the vat of acid, the joker who can’t remove his mask, the bionic man who’s missing his limbs and none of his heart.
You are the thing that used to be normal, but that was so long ago, you can’t even remember what it was like.
Josie adalah satu-satunya teman Peter, bahkan ia pernah berkelahi dengan teman lelakinya gara-gara anak itu menghina Peter. Sayangnya begitu masuk SMA, Josie berubah. Josie mulai bergabung dengan kalangan abg ala kumpulan remaja putri di serial Gossip Girls dan berpacaran dengan Matt Royston, seorang pemain hockey populer yang kebetulan juga salah satu dari teman yang sering membully Peter. Matt bahkan sering menyebut Peter sebagai homo atau queer.
Tidak seperti membaca buku drama lainnya, beberapa hari selama saya membaca nineteen minutes perasaan saya nyesek. Sedih, kalut dan yang jelas buku ini menghantui saya sampai sekarang. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya ada di posisi Peter, bahkan sampai di suatu kejadian (tidak akan saya sebutkan karena bisa jadi itu sebuah spoiler yang akan mengganggu kenikmatan membaca) yang mempermalukan Peter, saya menjadi maklum kenapa ia sampai mengambil keputusan membawa pistol ke sekolah untuk membunuh teman-temannya.
Nineteen Minutes tidak hanya terfokus pada penembakan di sekolah dan juga bullying, tapi seberapa dalam kita mengenal seseorang?
If you spent you life concentrating on what everyone else thought of you, would you forget who you really were? What if the face you showed the world turned out to be a mask…with nothing beneath it?
Buku yang kaya dengan nilai psikologis, cerita yang kompleks. Bagi pembaca yang belum pernah menikmati karangan Jodi Picoult, sungguh, buku ini amat sayang dilewatkan. Cover versi Atria cukup mewakilkan isi buku, menggambarkan sepasang tangan yang bergenggaman.
Nineteen minutes adalah buku Jodi Picoult pertama saya dan mulai sekarang bakal mengoleksi buku-buku lainnya :p
Beberapa penghargaan Nineteen Minutes : Pemenang 2010 Iowa HS book award, 2009 New Hampshire Flume Award dan finlis dari 2010 Abraham Lincoln Illinois HS Book Award.
“(Nineteen Minutes is) absorbing and expertly made. On one level, it’s a thriller, complete with dismaying carnage, urgent discoveries and 11th-hour revelations, but it also asks serious moral questions about the relationship between the weak and the strong, questions that provide what school people call ‘teachable moments.’ If compassion can be taught, Picoult may be just the one to teach it. ”
You know you’ve read a good book when you turn the last page and feel a little as if you have lost a friend. ~Paul Sweeney
Melinda, tokoh utama Speak k...moreYou know you’ve read a good book when you turn the last page and feel a little as if you have lost a friend. ~Paul Sweeney
Melinda, tokoh utama Speak karangan Laurie Halse Anderson seakan menjadi teman saya dan sampai sekarang tokohnya yang terasa sangat hidup itu masih ‘menghantui’. Berulang kali saat membaca saya seakan ingin memeluk dan berbicara dengannya. I’m here Melinda, just speak! Berawal dari kekacauan sebuah pesta dan Melinda menjadi tertuduh perusak acara karena ia menelpon polisi yang berlanjut dengan bubarnya pesta, akibatnya ia dijauhi oleh teman-temannya bahkan lama kelamaan tidak ada yang mau berbicara apalagi berteman dengannya. Apa sebab Melinda menghubungi polisi teman-temannya tidak mau tahu, yang jelas Melinda mengacaukan acara hura hura bergembira mereka.
Hari-harinya sebagai anak baru di SMA sama sekali tidak menyenangkan, temannya hanya satu, pindahan dari Ohio bernama Heather. Padahal teman SMA Melinda rata-rata adalah teman SMPnya dulu yang sekarang membencinya. Tindakan Melinda hanya satu diam. Ia mulai terbiasa tidak bersuara bahkan dengan orang tuanya sendiri. Mengangguk atau menggeleng. Hanya itu saja yang ia lakukan.
Sebagai pembaca saya ikut sedih, kenapa orang tuanya tidak berusaha lebih keras untuk mengetahui ada apa di balik diamnya seorang Melinda dan ketika teman satu-satunya mulai menjauh, nilai sekolahnya merosot kecuali satu, Art. Mr Freeman sebagai guru kesenian menyadari ada sesuatu yang salah dengan Melinda dan sampai akhir cerita ia berperan besar terhadap sikap Melinda yang semakin membaik. Dan tugas Mr Freemanlah yang diangkat menjadi sampul depan buku Speak,awalnya saya tidak mengerti kenapa musti gambar pohon?
Kenapa dengan gambar itu? Apa sih yang terjadi di malam saat pesta? Kenapa Melinda diam? Nah itu jawaban yang harus dibaca sendiri Speak amat sayang dilewatkan, kisahnya bisa dibilang berat sekaligus tidak berat. Inspiratif, gelap dan tak terlupakan. Terbukti dengan banyaknya penghargaan yang diperolehnya, memenangkan 8 penghargaan dan belum lagi menjadi 11 finalis book award di antaranya A Publishers Weekly Best Book of the Year, A New York Time Best Beller dan masih banyak lagi.
Speak adalah buku ketiga Lauris Halse yang saya baca selain Wintegirls dan Catalyst. Ciri khasnya masih sama mengambil tokoh remaja putri bermasalah dan masalah itu bisa saja menimpa kita ataupun teman di sekitar kita. A must read book.
Speak telah difilmkan dengan judul yang sama, diperankan oleh ‘Bella’ Kristen Stewart pada tahun 2004. Ada yang punya filmnyakah? Mau pinjam dong :D(less)
Mungkin dad sudah tahu semua ini, atau mungkin dad sedang membaca surat ini juga dari belakangku....moreDaddy,
Tahukah kau kalau aku paling merindukanmu.
.
.
.
Mungkin dad sudah tahu semua ini, atau mungkin dad sedang membaca surat ini juga dari belakangku. Berpikir seperti itu juga membuatku bahagia. Atau mungkin setelah kumasukkan surat ini ke amplop dan kubawa keluar, lalu kubiarkan terbawa angin, maka dad akan tahu isinya.
Itulah yang aku ingin dad tahu : bahwa aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Kuharap meskipun aku tumbuh besar, Dad masih bisa mengenaliku kalau melihatku nanti. Aku akan terus menjadi Aubreymu. Dan, Dad akan selalu jadi ayah terbaik bagiku. Aku berharap Dad tak harus pergi.
Aku pamit dulu
Love, Aubrey.
Sekelumit surat Aubrey yang ditujukan kepada ayahnya yang telah meninggal sukses membuat saya menitikkan air mata. Aubrey, gadis berusia 11 tahun yang hidupnya berubah 180 derajat setelah kematian ayah dan adiknya. Tidak hanya itu, ibunya yang menyetir mobil saat kecelakaan terjadi malah menyalahkan dirinya sendiri dan pergi meninggalkan Aubrey entah ke mana.
Aubrey hidup sendirian, spaghetti dan keju menjadi santapannya setiap hari seolah tidak terjadi apa-apa dalam kesehariannya. Aubrey dipaksa menjadi mandiri, berusaha terlihat tegar walau hatinya hancur. Sampai akhirnya ia tinggal bersama sang nenek, hari lepas hari adalah perjuangan. Perjuangan menata hati, mengingkari pikirannya bahwa semua baik-baik saja. Lelah dengan kepura-puraan, satu-satunya hiburan selain ikan hias kesayangannya adalah menulis surat. Mungkin itu sebabnya dijadikan judul buku, karena setiap akhir suratnya pasti diakhiri dengan Love, Aubrey.
Perlahan-lahan Aubrey mulai menikmati hidup bersama nenek dan memiliki teman-teman baru di sekolahnya. Konflik cerita mulai meningkat saat ibu Aubrey kembali hadir dalam kehidupannya, akankah Aubrey kembali bersama ibunya atau tetap tinggal bersama nenek yang baru saja ia kenal dekat?
Beberapa kali mata saya berkaca-kaca saat membaca suray Aubrey, terlebih surat Aubrey untuk ayahnya yang saya tuliskan di awal review. Walaupun Love, Aubrey adalah kisah drama remaja, kisah ini ditulis dengan indah. Tragic, honest, brave and a real tear jerker. Patut dibaca bagi penggemar Young Adult yang suka dengan alur cerita yang kuat.
Saya yang kurang lebih memiliki pengalaman serupa dengan Aubrey, kehilangan mama di saat usia 10 tahun tahu persis perasaan Aubrey. Betapa bencinya saat mama-mama teman sekolah saya yang memeluk dan berkata, “aduh, kasihan”. Atau betapa frustasinya ketika teman sekelas bergantian datang untuk sekedar bertanya, “Kamu ga papa kan Mi?”. Cara mudah menghindari semua itu gampang, ya sudah bersikap saja seolah-olah kematian mama saya tidak terjadi. Peristiwa masa lalu hadir bagaikan slideshow di otak saya tadi ketika membaca Love, Aubrey. Dan memang benar, keluarga, teman, cinta kasih dan waktu akan memulihkan segalanya.
Bagi penyuka If I Stay, buku drama remaja yang berkisah tentang kematian dan harapan untuk bangkit kembali, Love, Aubrey is a must read. Malah menurut saya buku ini jauh lebih bagus. 5 bintang! Sayang cover bukunya kurang indah dipandang, padahal biasanya buku terbitan Matahati covernya bagus-bagus. Saya lebih suka cover luar yang sangat mencerminkan Aubrey.
PS : Pas browsing-browsing tentang pengarang kaget juga kalau umurnya baru 27 tahun, buku keduanya bakal terbit tahun ini dengan tema yang tak jauh beda. Kematian dan remaja, resmi bertengger di rak wishlist :p(less)
Wuthering Heights mengisahkan cinta yang tak sampai antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw. Sayangnya status anak pungut dan tanpa gelar yang jelas...moreWuthering Heights mengisahkan cinta yang tak sampai antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw. Sayangnya status anak pungut dan tanpa gelar yang jelas menyurutkan niat Catherine untuk menikahinya, bahkan akhirnya Catherine menikah dengan Edgar Linton yang tak lain musuh bebuyutan Heathcliff sedari kecil. Putus asa, dengki, dendam mengakar dalam diri Heathcliff sehingga ia bertekad melarikan diri dan menyusun rencana besar dalam hidupnya. Suatu saat, ia akan kembali. Bukan sekedar untuk menunjukkan ia akan menjadi orang yang besar dan berhasil, Heathcliff datang untuk balas dendam dan menghancurkan hidup orang-orang yang sebelumnya telah menghancurkan hidupnya sendiri.
Kisah cinta Catherine – Heathcliff serta runutan cerita Wuthering Heights pastinya akan lebih jelas direview oleh teman-teman blogger yang lain, saya tidak bakat menulis sinopsis kisah panjang-panjang ;p namun ijinkan saya bercerita tentang kesan dan pesan saya selama membaca Wuthering Heights. Satu kata : capek! Terus terang saya lelah sekali membaca buku ini dan tergolong lambat dalam menyelesaikannya. Dari bab awal nuansa gelap dan kelam sangat terasa, terlebih lagi alur kisah yang flash back dan lumayan banyak tokoh yang diceritakan sejak awal sempat membuat saya bingung. Untungnya mulai sepertiga buku saya mulai bisa menghafal nama-nama tokoh plus lagi gambar family tree Earnshaw – Heathcliff lumayan membantu. *thx to Qui*
Tokoh utama Heathcliff bukanlah pria dewasa gahar seperti yang ada di novel-novel romance ataupun pria pendiam menghanyutkan ala Edward Cullen. Heathcliff adalah tokoh pria kasar, dingin, bengis, gelap, cemberut senantiasa bahkan cenderung sakit mental (in my opinion). Terus terang saya tidak habis pikir bagaimana ada orang bisa hidup dalam kebencian yang berakar dalam hatinya? Berkali-kali saat saya membaca buku ini, ingin sekali saya menendang Heathcliff dan berkata kepadanya, “hello mister! mbok ya senyum po’o sekali-sekali, masih banyak perempuan cantik yang mau dengan anda lho kalo anda berubah” . Meh.
Buku klasik yang terbit tahun 1847 adalah satu-satunya karangan Emily Bronte yang tak lain adalah saudara Charlotte Bronte penulis buku klasik Jane Eyre yang digadang-gadang sebagai cikal bakal novel Historical Romance. Wuthering Heights termasuk dalam list 1001 buku yang harus dibaca. Walaupun pikiran tokoh utamanya susah diselami, penokohan karakternya juara! Setiap tokoh yang ikut ambil bagian dalam cerita mendapat porsinya masing-masing dengan pas, hebatnya lagi karakternya seakan-akan berjiwa dan hidup, tak heran rating di amazon maupun goodreads cukup tinggi. Bahkan sampai selesai membaca WH, beberapa adegan masih terbayang-bayang di otak, hal yang jarang terjadi jika saya membaca novel.
Wuthering Heights berkali-kali diadaptasikan ke dalam film, list jelasnya bisa dibuka di imdb.com namun yang ingin saya tonton adalah adaptasi tahun 1992 yang dibintangi oleh Ralph Fiennes dan Juliet Binoche. Penasaran seperti apakah tokoh Heathcliff jika difilmkan :p
Kalimat penutup untuk review saya copy dari blogcritics.org : In its own way, Wuthering Heights is a perfect read for a long weekend. It is a novel about what happens when the guy doesn’t get the girl and how the universe can be set right again. In between, there is melodrama, tragedy, madness and, possibly, ghosts. It’s a quick read, a fun one, and the kind of book that gives you a little bit of insight into the stew of popular culture. Plus, it’ll make you feel good about yourself, since you’re almost certainly wiser, more humble, and less shallow than any of Bronte’s classic characters.
Happy weekend goodreaders! Selamat beraktivitas dan berikan peluk cium untuk saudara terkasih di sekeliling anda dan jangan biarkan cinta membunuhmu, yuk nyanyi bareng Queen.
I’m just the pieces of the man I used to be Too many bitter tears are raining down on me I’m far away from home And Ive been facing this alone For much too long
I feel like no-one ever told the truth to me About growing up and what a struggle it would be In my tangled state of mind I’ve been looking back to find Where I went wrong
Too much love will kill you If you can’t make up your mind Torn between the lover And the love you leave behind You’re headed for disaster Cos’ you never read the signs Too much love will kill you Every time
I’m just the shadow of the man I used to be And it seems like there’s no way out of this for me I used to bring you sunshine Now all I ever do is bring you down How would it be if you were standing in my shoes Cant you see that it’s impossible to choose No there’s no making sense of it Every way I go I’m bound to lose
Too much love will kill you Just as sure as none at all It’ll drain the power that’s in you Make you plead and scream and crawl And the pain will make you crazy You’re the victim of your crime Too much love will kill you Every time
Too much love will kill you It’ll make your life a lie Yes, too much love will kill you And you wont understand why You’d give your life, you’d sell your soul But here it comes again Too much love will kill you In the end… In the end.(less)
Endingnyaaaah endingnyaaah oh tidaaak. Sini sini Adrian, sama tante Mia ajah *plaaaak*
PS. Review serius menyusul, masih kehabisan kata-kata setelah se...moreEndingnyaaaah endingnyaaah oh tidaaak. Sini sini Adrian, sama tante Mia ajah *plaaaak*
PS. Review serius menyusul, masih kehabisan kata-kata setelah seharian tegang baca 200 halaman terakhir :D(less)
“I am nothing special, of this I am sure. I am a common man with common thoughts and I’ve led a common life. There are no monuments dedicated to me an...more“I am nothing special, of this I am sure. I am a common man with common thoughts and I’ve led a common life. There are no monuments dedicated to me and my name will soon be forgotten, but I’ve loved another with all my heart and soul, and to me, this has always been enough..”
Terima kasih kepada Nicholas Sparks yang berhasil menghidupkan karakter Noah Calhoun, pemuda 31 tahun. Noah yang membuat saya percaya dengan yang namanya keajaiban cinta. Hati saya seakan dihangatkan, dada saya terasa sesak setelah membaca buku The Notebook yang berhasil saya tuntaskan dalam sehari. Tak lupa juga, beberapa helai tissue untuk mengusap air mata saya yang jatuh tak henti di akhir kisah. Mungkin lebay, mungkin drama queen, tapi bagi yang hendak mengingat lagi betapa dahsyat arti kata ‘cinta’, sisihkan waktu anda sejenak untuk membaca novel pertama karya Nicholas Sparks.
The Notebook dibuka dengan Miracles.
Who am I? And how, I wonder, will this story end?
Penasaran? Yuk lanjut, bergulirlah kisah seorang laki-laki tua di rumah sakit. Laki-laki itu tak henti memandang seorang perempuan yang tersenyum kepadanya. Mulailah laki-laki membaca sebuah buku yang akan menjadi kisah di bab selanjutnya. Bab 1 ditutup dengan paragraf yang menurut saya kalimat-kalimatnya sangat indah: I realize the odds, and science, are against me. But science is not the total answer, this I know, this I have learned in my lifetime. And that leaves me with the belief of miracles, no matter how inexplicable or unbeliavable, are real and can occur without regard to the natural order of things. So once again, just as i do every day, I begin to read the notebook aloud, so that she can hear it, in the hope that the miracle that has come to dominate my life will once again prevail. And maybe, just maybe, it will.
True love
Bab kedua dimulai dengan alur flashback, kita diajak untuk mengenal tokoh utama lebih jauh, Noah Calhoun, lelaki biasa-biasa saja yang gemar membaca puisi. Musim panas tahun 1946, ia jatuh cinta. Adalah Allison Nelson atau yang biasa dipanggil Allie merebut hatinya sejak pandangan pertama. Gayung bersambut dan semenjak mereka berkencan di mana ada Allie di sana Noah berada. Sayangnya Noah bukan laki-laki yang kalau Syahrini bilang ‘sesuatu banget’, uangnya pas-pasan dan status sosial ekonomi Noah bisa dibilang ‘jomplang’ kalau dibanding keluarga Allie. 3 minggu saja kisah cinta mereka bertahan, Allie kembali ke kota dengan membawa separuh hati Noah.
Puluhan surat tak berbalas dari Allie, perang dunia kedua usai, tahun berlalu, tetap Noah tidak mampu melupakan Allie. Dan di suatu sore, Allie, hantu masa lalunya datang ke hadapan Noah memberi kabar bahwa 3 minggu lagi ia akan menikah.
Klise banget ya? Status sosial, percintaan musim panas, cinta ala Romeo – Juliet. Jangan salah, di tangan maestro buku romance kisah klise biasa bisa menjadi tidak biasa. Nicholas Sparks berhasil mengembangkan karakter buku The Notebook dengan sempurna, tidak hanya itu ia berhasil meyakinkan saya cinta mampu bertahan di antara semua halangan dan rintangan. Ingin bacaan ringan tapi berbobot? Ingin kembali merasakan hangatnya hati saat pijaran cinta membara? *apaan sih Mi, jayus * Coba deh baca The Notebook, jangan lupa sediakan tissue saat membaca. *wink*
Curhat sedikit ya, saya hampir selalu merasakan kedekatan emosional mendalam dengan tokoh ciptaan Nicholas Sparks. Terlebih lagi Noah dan Callie, mereka berdua seakan mengingatkan saya akan betapa indahnya perasaan dicinta dan mencinta.
“So it’s not gonna be easy. It’s going to be really hard; we’re gonna have to work at this everyday, but I want to do that because I want you. I want all of you, forever, everyday. You and me… everyday.”
“I love you. I am who I am because of you. You are every reason, every hope, and every dream I’ve ever had, and no matter what happens to us in the future, everyday we are together is the greatest day of my life. I will always be yours. ”
Aaaaak, meleleh ga sih?
Dan ending kisah ini, haaaauuuh, gimana caranya saya bercerita tanpa menebar spoiler? Satu saja yang saya sayangkan, saya menonton film ini jauh lebih dulu ketimbang membaca bukunya. Jadi bagi yang belum menonton maupun membaca The Notebook saya sarankan anda baca bukunya saja dulu dan nikmati karya luar biasa seorang Nicholas Sparks.
The Notebook diadaptasi ke layar lebar tahun 2004, Ryan Gosling berperan sebagai Noah dan Rachel McAdams sebagai Allie, cocok! (less)
**spoiler alert** Sempet bosan di bagian awal, sedih saat Rose ketemu keluarga Dimitri, doh-oh-this-is-not-so-Rose moment di pertengahan buku, sedih l...more**spoiler alert** Sempet bosan di bagian awal, sedih saat Rose ketemu keluarga Dimitri, doh-oh-this-is-not-so-Rose moment di pertengahan buku, sedih lagi pas adegan Rose mau bunuh Dimitri, kaget saat tau kalo Abe Mazur itu siapa dan terkesiap saat Rose dapat paket dari Dimitri.
Arrrgh berasa naik rollercoaster baca buku ini, tante Mead ini memang jempolan deh!!!(less)
Mustinya 4 bintang karena ga suka...more**spoiler alert** S.P.O.I.L.E.R!!! Jangan baca kalau belom baca bukunya. Kalau masih baca, jangan salahkan saya yaak.
Mustinya 4 bintang karena ga suka endingnya! Ugh. Tapiiii berhubung selama 3 tahun terakhir atau mungkin tidak ada buku yang sanggup membuat saya lemah jantung saat membacanya selain mockingjay ini.
Heart wrenching, frustating, depresing apalah itu namanya. Semua ada di buku ini.
Katniss berubah. Ia bukan lagi gadis tegar seperti di hunger games atau catching fire. ya iyalah ya, setelah p=apa yang dialaminya, masih untung dia tidak gila :p Katniss seakan menjadi zombie. Hidup hanya untuk distrik 13. Demi mockingjay.
Yang saya sayangkan chemistry antara Katniss dan Gale langsung hilang. lenyap tak berbekas. Seakan-akan kita digiring untuk menyadari bahwa Gale bukan untuk Katniss. Walau memang sedari awal sih sudah tersirat, porsi Gale tidak pernah terlalu banyak diceritakan. Saking saya memang lebih suka dengan Gale, kalau Peeta terlalu 'manis'.
Finnick, Cinna, Gobbs! Arrrggghhhh bring em back. Hukshukshuks.
Dari review-review yang saya baca, penikmat Mockingkay terbagi 2.Yang suka banget dan yang bete banget dengan endingnya.
- Sampai akhir 3/4 bagian saya suka banget buku ini. Sampai finnick tiba-tiba meninggal dan Annie koq ga sedih sama sekali ya? Seakan-akan lewat begitu saja, atau memang fokusnya bukan di sanakah?
- Katniss - Peeta - Gale Seperti yang saya bilang tadi, Gale jadi menyebalkan! Ugh. Padahal saya suka percakapan awal awal antara Gale dan Peeta. Saya pribadi lebih suka Katniss tidak jadi dengan keduanya. Seakan-akan jadian dengan Peeta itu bakal menyenangkan semua orang. Okeh, lanjut. Punya anak? hadeeeh koq ga kebayang ya?
Yak, hal itu adalah sebagian sisi menyebalkan buku ini. Lainnya TOP deh! Kalimat-kalimatnya puitis, indah walaupun menyayat hati.
Tokoh favorit saya di Mockingjay : Haymitch dan Finnick. Tokoh yang paling ga suka : Coin!! *kasih gerombolan Mutt ke Coin*
Masuk rak sesek nafas kenapa? karena nunggunya amit amittt lamanya, dan pementasan bidadari merahnya blom mulai juga. Ampun deh :p
5 bintang deh, sapa...moreMasuk rak sesek nafas kenapa? karena nunggunya amit amittt lamanya, dan pementasan bidadari merahnya blom mulai juga. Ampun deh :p
5 bintang deh, sapa tau gara2 bintangnya bagus semua jadi ada alasan no 12nya segera terbit.. hihi.(less)
Satu kata untuk buku ini. MIRIS!!! Ya miris, ya gemes, ya eneg, tapi ya itu dia bikin penasaran. Sama seperti kalimat dalam film Robert De Niro pas jam...moreSatu kata untuk buku ini. MIRIS!!! Ya miris, ya gemes, ya eneg, tapi ya itu dia bikin penasaran. Sama seperti kalimat dalam film Robert De Niro pas jaman saya kuliah 15 minutes, if it bleeds, it leads!
Fiuh, beneran deh. Mood saya naik turun baca buku ini. Ga tega liat Katniss, melihat nasib orang dipermainkan seenak udelnya, ajang bunuh-bunuhan kembali berlanjut. Bleh.
Gale. Peeta. Cinna. May. dan semua orang lainnya. Huks *peluk-peluk semua karakter di buku ini* kecuali presiden Snow yang jelas!! *nyodorin tabung gas 3kg*
Selalu susah mereview buku bintang 5, apalagi untuk buku thriller macam begini takut menyebar spoiler yang jelas-jelas mengganggu kenikmatan mem...more*sigh*
Selalu susah mereview buku bintang 5, apalagi untuk buku thriller macam begini takut menyebar spoiler yang jelas-jelas mengganggu kenikmatan membaca, jadi review kali ini saya buat garis besarnya saja ya
3 tokoh utama yang membuat saya terjaga sampai tengah malam selama 3 hari berturut-turut.
1. The Industrialist.
Henrik Vanger, mantan CEO Vanger Corporation, yang selama puluhan tahun hidupnya tidak tenang karena setiap hari ulang tahunnya mendapat kiriman bunga yang hanya dilakukan oleh ponakan tercinta, Harriet Vanger. Anehnya saat Harriet berusia 16 tahun ia menghilang tanpa jejak namun kiriman bunga tetap berlanjut sampai sekarang. Harriet masih hidup? Atau pembunuh Harriet ingin menyiksa Henrik kiriman bunga misterius itu?
2. The Jornalist.
Adalah Mikael Blomkvist yang ditugaskan Henrik untuk membantu menyelidiki ambisinya tentang penyusutan kembali tragedi hilangnya Harriet. Mikael sendiri mau tak mau menerima tugas ajaib ini karena ia sendiri baru saja dituduh menulis artikel palsu tentang Wennerstrom, seorang pengusaha korup. Demi menyelamatkan perusahaan penerbitan Millenium, Mikael rela tinggal di Hedestad, pemukiman keluarga ‘kerajaan’ Vanger yang dingin dan mulai menyusuri latar belakang dan gerak gerik Vanger bersaudara yang salah satunya diyakini Henrik bertanggung jawab akan hilangnya Harriet. Ternyata memang ada yang aneh dengan kasus Harriet, perlahan namun pasti misteri mulai terkuak dan di sanalah nasib membawa Mikael bertemu dengan Lisbeth Salander.
3. The Girl with the dragon tattoo.
Lisbeth Salander, gadis unik yang menjadi tokoh favorit saya, bayangkan saja perilakunya ajaib, asosial, pengidap Asperger, hacker handal, badannya penuh dengan tindik dan tattoo. Kepiawaiannya dengan data-data mengantar nasibnya berkenalan dengan Mikael dan duet mereka dalam mengupas tragedi Harriet menjadi poros kisah pertama dari serial Millenium.
Oia satu lagi setelah membaca review dari amazon dan goodreads pembaca Millenium series terbagi menjadi 2 kelompok, yang menganggap Stieg Larsson jenius dan ada yang menyebutkan buku ini feminist yang penuh dengan kritik sosial serta adegan yang kasar. Adaptasi filmnya sendiri tidak boleh beredar di Indonesia karena R-Rated (brutal violent content including rape and torture, strong sexuality, graphic nudity, and language).
Tidak untuk pembaca yang tidak tahan dengan kekerasan, saya aja sampai kaget-kaget plus merinding, tapi ya itu dia, if it bleads, it leads! Semakin brutal semakin penasaran saya dengan endingnya, setiap ada satu titik terang pasti berlanjut ke perkara lain yang tambah seru. Pantas saja buku ini menjadi Amazon best book of the month September 2008 : Once you start The Girl with the Dragon Tattoo, there’s no turning back. Ho oh betul banget! Buku yang kaya akan plot, page turner dan akan membius pembaca sampai di akhir buku. And in the end, i want more of Lisbeth Salander!
PS : Buku aslinya yang berbahasa Swedia memiliki judul Män som hatar kvinnor atau Men who hate women. Saya dulu ga ‘nyandak’ kenapa judulnya seperti itu dan saat membacanya baru manggut-manggut setuju. Untung saja judulnya diganti, kalau masih Men who Hate Women sepertinya tidak saya lirik deh :p
Terima kasih kepada secret santa, Melisa *peluk-peluk* Berkat doi saya berhasil membaca buku yang sudah menjadi incaran saya sejak beberapa tahun yang lalu tapi bolak balik gagal terbeli. Memang diniatkan untuk baca tahun ini secara adaptasi Hollywoodnya pemainnya keren-keren. Daniel Craig sebagai Mikael dan Rooney Mara berperan sebagai Salander.(less)
Buku yang mengisahkan 2 wanita beda generasi yang bersatu karena takdir ini dimulai dengan kisah Mariam. Seorang gadis kecil, anak haram yang hidup te...moreBuku yang mengisahkan 2 wanita beda generasi yang bersatu karena takdir ini dimulai dengan kisah Mariam. Seorang gadis kecil, anak haram yang hidup terpencil bersama ibunya yang menderita epilepsi. Nana, sang ibu adalah sosok yang penuh dengan kepahitan, digosipkan sering dirasuki oleh jin sehingga batal menikah. Nana menjadi pembantu di rumah Jalil, pria kaya yang memiliki 3 istri. Nasib mulai mempermainkan hidup Nana ketika perut Nana yang membuncit. Istri-istri Jalil mengusirnya. Ayah Nana sendiri tidak mau mengakuinya sebagai anak. Dan Jalil ternyata tidak cukup memiliki keberanian untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, alih-alih Jalil mengucilkan Nana di Desa Gul Daman, bukit terjal yang jauh dari mana-mana.
Proses kelahiran Mariam adalah ringisan pertama saya saat membaca buku setebal 507 halaman ini. Duh, seram! Mariam tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua, walaupun ia rutin dikunjungi oleh Jalil, tetap saja ia merindukan kehangatan keluarga. Hal itulah yang membuatnya nekat mengunjungi ayahnya di kota. Tindakan yang mengubah seluruh hidup Miriam, ayah menolaknya, ibunya bunuh diri, belum cukup pengarang mengagetkan kita, Mariam bahkan dipaksa menikah dengan duda tua teman Jalil.
Ah, Mariam, sungguh malang nasibmu.
Pernikahan Mariam dengan bapak tua yang digambarkan ala om-om tambun adalah peristiwa kedua yang kembali membuat saya meringis dan tangan saya mulai dingin saat adegan malam pertama Mariam. Untungnya kisah bergulir cepat dan Mariam hamil. Nah, bagian ini sedikit membuat saya bernafas lega. Dan itu tidak berlangsung lama, ada kejadian yang sebaiknya tidak saya tulis karena takut akan memberikan spoiler yang jelas akan mengurangi kenikmatan membaca. Pokoknya mulai pertengahan buku Khaled Hosseini berhasil memutarbalikkan perasaan dan emosi saya seenak hatinya. Ngilu, tercabik-cabik, tidak tahu kata apa lagi yang pas untuk melukiskan bagaimana saya mengikuti jalan hidup Mariam. Jengkel, dongkol juga saya rasakan ketika Rasheed, suami Mariam marah karena masakan Mariam kurang berkenan ia menjejalkan batu untuk Mariam kunyah. Tsk, bahkan saat menulis review ini emosi saya kembali bergolak.
Bagian ketiga, di saat saya sudah mulai terikat dengan karakter Mariam yang bahkan hawa panasnyapun seakan bisa saya rasakan, pengarang seakan mempermainkan pembaca. Kita dibawa ke kehidupan Laila, remaja putri yang hidup di keluarga terpelajar walau ibunya sedikit mengalami gangguan jiwa. Khaled Hosseini seakan menunjukkan kekontrasan hidup wanita di Afganistan. Laila hidup bahagia, teman-temannya banyak, ayahnya pintar dan apalagi ada teman laki-lakinya yang menjadi favorit saya di buku ini, Tariq. Dan seperti biasa dalam sekejap nasib bisa berubah. Sampai di sini saya tidak akan bicara lebih jauh, yang jelas mulai bagian ketiga di pertengahan buku para pembaca akan diajak menaiki roller coaster Afganistan melalui bagaimana kehidupan Mariam dan Laila dipermainkan oleh takdir kehidupan yang muncul dalam bentuk perang, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana cinta dan harapanlah yang membuat mereka bisa bertahan hidup.
“Sebuah cerita tentang harapan akan kemenangan, juga kekuatan menepis ketakutan. Sungguh megah!” - New York Daily News
“A Thousand Splendid Suns, tidak hanya menyuguhkan kepada pembaca tentang realitas Afghanistan, tetapi juga menunjukkan kemampuan dan bakat Hosseini; melodrama dari setiap plot; pelukisan yang tajam; penggambaran karakter hitam-putih; dan pengolahan emosi yang memukai.” - New York Post
“… kisah yang sangat memilukan tentang perjuangan perempuan Afghan dalam mengarungi kerasnya hidup.” – Entertainment Weekly
“Prosa Hosseini begitu menghunjam. Ia tidak hanya mengungkap sisi politik, tetapi juga sisi paling personal ….” - The Guardian
Penggalan review di atas tidak cukup mewakili apa perasaan saya mengenai isi buku ini, memang bagi penggemar happy ending yang menghindari novel sedih ada baiknya saya berikan peringatan lebih dahulu. Tidak, buku ini bukan untuk pembaca berhati lemah, tapi bagi anda yang ingin membaca bacaan berkualitas tentang cinta, harapan dan perjuangan luar biasa wanita-wanita yang memang nyata adanya A Thousand Splendid Suns wajib dibaca.
Ingat bawa tissue ketika mendekati bab akhir.
You’ve been warned.
Saya baca buku terbitan Mizan Gold Edition, terjemahannya enak dan mengalir, covernya paling bagus di antara edisi lainnya. Perempuan muda yang nampak di cover termenung tapi seakan langit cerah di belakangnya mengisyaratkan ada bahagia yang menanti, ada thousand splendid suns :)
A Thousand Splendid Suns, dipilih pengarang untuk dijadikan judul berdasar puisi dari Saib Tabrizi :
Every street of Kabul is enthralling to the eye
Through the bazaars, caravans of Egypt pass
One could not count the moons that shimmer on her roofs
And the thousand splendid suns that hide behind her walls
Quote favorit saya :
“Behind every trial and sorrow that He makes us shoulder, God has a reason.”
Dan ada satu paragraf yang diucapkan Nana kepada Mariam, tajam, dalam dan mengiris hati : “Camkan ini sekarang, dan ingatlah terus, anakku: Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke Utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam.”(less)