Sebenarnya gue tidak pernah tertarik membaca salah satu karya Jane Austen. Takutnya membosankan. Yah, berdasarkan buku-buku klasik yang gue baca biasa...moreSebenarnya gue tidak pernah tertarik membaca salah satu karya Jane Austen. Takutnya membosankan. Yah, berdasarkan buku-buku klasik yang gue baca biasanya sih memang narasinya bertele-tele. Apalagi buku ini cukup tebal dengan hampir enam ratus halaman. Namun, karena harus siaran membahas buku Pride, Prejudice and Zombies. Gue pikir akan lebih baik jika gue membaca aslinya saja. Kemudian membandingkan dengan versi plesetannya.
Balik lagi ke novel ini. Wah ternyata gue menikmatinya. Bertele-tele? Tentu saja. Namun, entah mengapa gue kuat menghadapinya. Gue suka sekali ketika Miss Elizabeth berdebat. begitu juga dengan karakter ayahnya, Mr Bennet yang punya perangai sarkastik. Bayangkan ini kisah dituliskan sekitar dua ratus tahun lalu dan masih memikat. Sungguh luar biasa.(less)
Bagus sih ide ceritanya. Walaupun agak 'gelap' tatapi masih pas buat anak-anak. Tapi itu lho kok ceritanya lambat banget menurut gue. Jadi agak-agak m...moreBagus sih ide ceritanya. Walaupun agak 'gelap' tatapi masih pas buat anak-anak. Tapi itu lho kok ceritanya lambat banget menurut gue. Jadi agak-agak membosankan kecuali aps bagian serunya aja. Misalnya kalau lagi Memudar. Aaakkk, gue juga mau memudar, kan seru bisa menghilang terus ngejahilin orang, hehehe..(less)
Akhirnya ada juga seri Tintin yang gue suka. Yah walaupun kebetulan-kebetulannya masih banyak tapi nggak gitu ganggu kayak seri lain yang pernah gue b...moreAkhirnya ada juga seri Tintin yang gue suka. Yah walaupun kebetulan-kebetulannya masih banyak tapi nggak gitu ganggu kayak seri lain yang pernah gue baca.(less)
Gilak! Duh serem banget deh baca buku ini. Banyak banget kengerian yang gue dapetin di buku ini. Pernikahan dini yang dipaksakan Larangan bersekolah....moreGilak! Duh serem banget deh baca buku ini. Banyak banget kengerian yang gue dapetin di buku ini. Pernikahan dini yang dipaksakan Larangan bersekolah. Biaya dan urusan pernikahan yang menyulitkan. Dan seterusnya...
Betapa merananya hidup yang mesti dilalui bayak gadis di India. Mungkin saja begitu juga di Indonesia dan negara lain. Entahlah. Yang pasti, manusia yang tak perlu merasakan penderitaan tersebut haruslah bersyukur. Karena ternyata banyak orang yang tak seberuntung dirimu..(less)
Yah, tadinya gue bakalan ngasih lima bintang buat novel ini. Mengapa? Karena tokoh utamanya bernama Harun. Ahahahaha..narsis yak? Ya gapapalah..kan ja...moreYah, tadinya gue bakalan ngasih lima bintang buat novel ini. Mengapa? Karena tokoh utamanya bernama Harun. Ahahahaha..narsis yak? Ya gapapalah..kan jarang-jarang ada penulis mau ngasih nama tokoh utamanya Harun. Ya kan..ya kan..ya kan???? Namun, akal gue masih sehat. Jadilah gue ngasih hanya tiga bintang. Yak, agak ribet ya baca dongengnya. Yang ada kalau ini dongeng dibacain pas sebelum tidur, yang ada malah mikir. Tapi ya seharusnya gue negrti sih sebelum baca novel ini. Man, ini penulisnya Salman Rushdie gitu. Ya kali tulisannya enteng dan ringan. Tapi, tapi, tapi...boleh dong gue berharap bahwa tulisannya ringan untuk dibaca. Ternyata hai ternyata, susak mak.. Padahal kan sampul bukunya lucu gitu, anak-anak banget. Jangan sampai aja anak-anak yang dibaca. Yang ada mereka malah banyak nanya. Apa jangan-jangan mereka ngerti ya. Seperti halnya anak-anak baca buku Alice in the Wonderland atau Pangeran Kecil? Hmmmm..Ah, ribet deh jadi dewasa... :)))))))(less)
Sebenarnya bingung sekali buat gue untuk memulai tulisan ini. Novel “Wonder” jelas adalah salah satu buku bagus yang akan susah untuk dibuat resensi....moreSebenarnya bingung sekali buat gue untuk memulai tulisan ini. Novel “Wonder” jelas adalah salah satu buku bagus yang akan susah untuk dibuat resensi. Namun, gue akan tetap menuliskannya karena gue sudah berjanji dengan diri sendiri sejak awal membacanya. Tadinya gue tidak mau membaca novel ini. Bayangkan, membaca sinopsis di bagian belakang novel saja sudah membuat gue sedih. Gue sedang tidak mau membaca novel yang akan bikin mewek. Namun, teman-teman GRI meyakinkan gue kalau novel ini tidak sekadar bagus melainkan istimewa. Sayang, novel ini tidak kunjung gue temukan setiap berkesempatan berkunjung ke toko buku. Sampai akhirnya akhir pekan lalu gue mendapatinya dan langsung gue baca malam itu juga.
Jujur, gue merasa kesal dan jahat. Karena ketika memulai dan terus membaca, gue tidak membayangkan August (Auggie) Pullman, tokoh dalam novel ini sesuai deskirpsi penulisnya. Gue membayangkan fisik Auggie sama persis dengan anak normal lainnya. Oke, Auggie normal tetapi tidak dengan wajahnya dan gue tidak bisa membayangkannya di wajah gue. Mungkin gue akan menjadi salah satu orang yang akan terkesiap ketika melihat wajah Auggie. Kemudian pergi meninggalkan Auggie. Bukan karena merasa jijik tetapi tidak tahan untuk tidak merasa sedih. Ya, gue jahat, gue tahu.
Gue memang tidak mempunyai seorang teman/keluarga dekat yang memiliki kelainan fisik terutama wajah. Sehingga gue tidak mengerti bagaimana perasaan mereka yang dekat dengan Auggie. Namun, akhirnya gue mencoba untuk merenung. Membayangkan bahwa mungkin saja ada saatnya gue mempunyai orang dekat seperti Auggie. Kemudian apa yang gue lakukan. Apakah gue akan bersikap seperti tidak apa-apa atau pergi menjauh. Pada akhirnya gue menyimpulkan bahwa gue pasti tidak akan sanggup untuk menjauh. Bukan karena memang itu hal baik yang harus dilakukan semua orang. Namun ternyata ini masalah yang terlalu dibesar-besarkan. Hei, dia hanya tidak normal di bagian wajah atau cacat fisik. Bukankah hati yang baik lebih penting dibandingkan fisik yang akan rapuh dengan bergulirnya waktu?
Sejak itu, gue berani membayangkan wajah Auggie dengan seharusnya. Matanya yang tidak pada posisinya. Bentuk mulutnya yang teroperasi karena sumbing. Telinganya yang tidak proporsional dan seperti daging yang mencuat dari sisi kepala. Pada akhirnya gue bisa menerima hal tersebut dan tidak masalah karenanya. Mungkin karena gue juga sudah mengenal Auggie lebih baik. Auggie yang berani berjuang untuk menjalani hidupnya. Gue tidak mau sok tahu menggambarkan perasaan Auggie tentang itu. Menerima tatapan terkejut ketika orang menatapnya. Mendengarkan desahan atau dengusan ketika berada di dekatnya. Yah, belum lagi ketika tidak ada yang mau mendekatinya. Gue bisa saja merasa kecewa dan sedih. Namun itu gue,mungkin tidak untuk Auggie. Mungkin dia merasa jauh lebih sedih daripada yang gue rasakan. Atau dia sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut.
Yang pasti, gue banyak belajar dari novel ini. Belajar dari Auggie untuk tidak mudah menyerah. Setiap hari adalah perjuangan yang harus dilalui. Dalam sebuah perjuangan, kalah dan menang itu biasa. Pada sebuah hari, sedih dan senang bergantian. Semua itu wajar dan normal. Begitu juga kalau kita memiliki kekurangan. Hei, kita manusia, tidak ada yang sempurna bukan? Apakah dengan kekurangan itu akhirnya kita kalah? Padahal gue yakin, masih banyak kelebihan yang kita miliki dan patut untuk disyukuri. Normal pula, ketika ada orang-orang brengsek di sekitar kita yang akan merusuhi kekurangan tersebut. Mereka sesungguhnya ada tetapi jangan biarkan mereka jadi penghalang kebahagiaan kita. Gue percaya setiap orang berhak atas kebahagiaannya. Lalu dari kebahagiaan personal itu akan lebih besar lagi ketika ditularkan ke orang-orang di sekelilingnya. Seperti yang dilakukan Auggie terhadap orang-orang di sekitarnya.
Memang selain Auggie, gue juga ingin mengucapkan salut untuk mereka. Kedua orang tua Auggie yang tidak sedikitpun berkurang rasa cinta terhadapnya. Selalu mendukung Auggie untuk menjalani kehidupan normal layaknya anak-anak lain. Orang tua yang dengan bangganya mengakui bahwa sebuah berkah ketika memiliki anak istimewa seperti Auggie. Untuk Via, kakak Auggie yang merelakan perhatian orang tuanya lebih tercurah kepada adiknya. Gue tidak kecewa ketika akhirnya Via merasa muak untuk selalu dikaitkan dengan Auggie. Tidak mau dikenal karena Auggie. Menurut gue, itu juga normal untuk dirasakan. Ketika remaja, bukankah kita yang pernah menjalaninya juga begitu. Kita selalu mencoba untuk mencari jati diri. Berusaha untuk tampil dalam kesan yang sempurna. Selalu merasa bisa berdiri dengan kaki sendiri tanpa bantuan siapapun.
Keluarga memang bagaikan rumah yang nyaman. Tempat kita berlindung dan menjadi diri sendiri. Gue yakin memang butuh energi yang luar biasa untuk berjuang. Ketika salah seorang anggota keluarga membutuhkan materi dan perhatian lebih. Maka salut untuk mereka yang bisa bertahan. Bahkan bisa dikatakan sukses menjalaninya.
Untuk Mr Tushman, kepala sekolah yang berani kecaman beberapa orang tua murid ketika menerima Auggie. Gue jadi menginginkan seorang kepala sekolah sepertinya. Rasanya gue bisa menghadapi pidatonya yang panjang. Asalkan punya karakter seperti beliau. Begitu juga dengan guru-guru Auggie. Walaupun jarang sekali diceritakan. Namun, gue yakin apa yang mereka lakukan sepanjang Auggie bersekolah juga tidak kalah istimewa.
Untuk teman-teman Auggie yang luar biasa. Summer, seorang gadis cantik yang hatinya seperti emas. Yang membuat semua orang mengerti apa yang dimaksud dengan jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya. Jack, lelaki kecil yang berani meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. Buat teman-teman lainnya yang selalu berada di sisinya. Membantu dan membela Auggie ketika mendapatkan masalah. Bahkan untuk Julian yang kerap mengganggu Auggie. Terima kasih atas kebrengsekanmu. Setidaknya dengan begitu, Auggie belajar bahwa hidup memang tidak selalu berjalan dengan baik.
Benar kata Auggie, setidaknya memang sekali seumur hidup, seseorang mendapatkan sorak sorai tepuk tangan bergemuruh. Gue akan melakukannya untuk Auggie, semua tokoh di dalam novel ini, RJ Palacio sang penulis. Orang-orang yang memiliki kisah hidup mirip seperti novel ini. Semua orang di dunia ini yang telah berhasil berjuang untuk hidup. Salut untuk kalian semua!!! *berdiri dan bertepuk tangan dengan semangat*
Menyenangkan membaca cerita tentang berbagai kue. Apalagi ketika mendapatkan tulisan cokelat. Rasa lapar langsung mendera.Yah walau yang gue inginkan...moreMenyenangkan membaca cerita tentang berbagai kue. Apalagi ketika mendapatkan tulisan cokelat. Rasa lapar langsung mendera.Yah walau yang gue inginkan hanyalah kue cokelat yang biasa. Tanpa sihir seperti yang ada di buku ini. Namun, karena sihirlah cerita tentang petualangan anak pemilik toko kue ini menjadi menarik.
Sebenarnya gue lebih tertarik dengan sosok Rose di keluarga Bliss. Sosok anak yang "rata-rata" di keluarganya. "Rata-rata" membuatnya jadi tidak terlihat. Tidak seperti Kakaknya, Ty yang tampan dan memesona. Adiknya Sage yang lucu atau Leigh yang cantik dan menggemaskan. Alhasil, Rose menjadi rendah diri. Lalu datanglah si bibi Liliy yang sepertinya bisa membuat Rose menjadi 'terlihat'? Akankah itu terjadi? Baca aja yuk...(less)
Jujur, gue bukan orang yang terlalu suka berbincang dengan orang yang sudah berusia senja. Entah kenapa kurang sreg saja. Bukan salah mereka tetapi gu...moreJujur, gue bukan orang yang terlalu suka berbincang dengan orang yang sudah berusia senja. Entah kenapa kurang sreg saja. Bukan salah mereka tetapi guenya yang canggung. Apalagi ketika menatap mata mereka yang diikuti dengan pertanyaan menyelidik. Mengerikan. Gue juga takut salah-salah omong, yang nantinya malahan dibilang tidak tahu sopan santun. Maka dari itu, gue menghindari mengobrol lama dengan mereka.
Membaca buku yang dipenuhi cerita tentang orag tua ini membuat gue berpikir ulang. Mungkin memang karena perbedaan zaman sehingga apa yang dibicarakan menjadi berbeda. Mungkin karena mereka mempunyai pengalaman hidup yang lebih banyak sehingga mereka lebih tau segalanya dibanding kita. Namun, yang pasti, mereka tidak mau menajdi kelihatan sok tahu atau cerewet. Kehidupannya membuatnya begitu. Mereka sepertinya hanya ingin ditemani berbincang. Mungkin...(less)
Itu yang hati gue suarakan ketika melihat gambar pertama setelah daftar isi. Dua halaman penuh gambar seorang Pak Pos bersepeda...more"Tjakeeeeppppssss!!!!"
Itu yang hati gue suarakan ketika melihat gambar pertama setelah daftar isi. Dua halaman penuh gambar seorang Pak Pos bersepeda merah di jalan tanah yang tak terlalu lebar. Di kedua sisinya terdapat hamparan rumput hijau dengan pohon-pohon di kejauhan. Langit birunya pun tampak cerah dengan gugusan awan putih.
Gambar Kim Dong Hwa memang selalu saja sedap dipandang mata. Setelah Trilogi Warna, karyanya hadir kembali di Indonesia lewat seri Sepeda Merah. Sepertinya akan ada empat buku. Awalnya gue akan menunggu keempat bukunya diterjemahkan lalu gue baca secara marathon. Karena takut gemas menunggu cerita selanjutnya kalau hanya baca dua buku. Namun apa daya tak kuasa menahan rasa ingin tahu isi bukunya. Akhirnya dibaca juga...
Selain gambarnya yang bagus, kata-kata Kim Dong Hwa juga menarik. Dia membuat ide cerita bahwa rumah-rumah yang ada di cerita tidak akan dikenali dengan nomor. Melainkan dibuat menarik dengan ciri fisiknya atau empunya rumah. Misalnya rumah putih di jalan yang dipenuhi pohon poplar atau rumah nenek yang berbicara dengan kata-kata kotor. Gue suka dengan kehidupan para opa oma di novel ini. Khususnya tentang cerita opa yang gemar menceritakan kabar baru di makam istrinya. Gue juga suka ketika Kim Dong Hwa membuat cerita tentang seorang nenek tua yang sudah keriput. Garis-garis keriput tersebut menjadi lebih bermakna. Gue paling suka komparasi antara Tukang Pos dan Kondektur Kereta. Membandingkan perjalanan fisik dan perjalanan mental, membawa tubuh dan membawa hati.
Gue yakin banyak perempuan akan jatuh cinta dengan Pak Pos yang sepertinya masih lajang. Paras rupawan, perilaku santun dan baik hati adalah karakternya. Belum lagi dia adalah seorang yang puitis dan romantis. Lelaki juga akan merasa iri dibuatnya karena semua orang jatuh hati padanya. Namun, siapa yang tidak? Gue juga iri ketika melihatnya bekerja yang seperti tidak ada beban. Walaupun sebenarnya pasti pekerjaan Pak Pos sangat melelahkan, apalagi dilakukan dengan bersepeda. Namun sekali lagi, dia membuat pekerjaannya jadi terlihat mudah dan menyenangkan,
Kim Dong Hwa dalam novel grafisnya kali ini mengambil latar belakang tempat di pedesaan. Yang kehidupannya berjalan dengan sederhana. Namun di akhir cerita, ada pengarus modernisasi kota yang masuk dari kota. Jadi penasaran, apa yang akan terjadi dengan Desa Yetdong yang asri tersebut. Akankah berubah menjadi komplek-komplek rumah besar dengan masyarakat yang menjadi individualis? Yuk mari baca buku selanjutnya..
Jujur saja, bab pertama dan kedua novel ini menguji kesabaran gue. Hingga akhirnya memasuki bab tiga, gue mulai merasa lega. Bab berjudul drama ini me...moreJujur saja, bab pertama dan kedua novel ini menguji kesabaran gue. Hingga akhirnya memasuki bab tiga, gue mulai merasa lega. Bab berjudul drama ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga terutama adiknya. Di bab inilah gue baru merasakan adanya emosi yang disertakan dalam tulisannya. Namun sayang, ternyata hal ini tidak dilanjutkan dengan bab-bab selanjutnya sampai halaman terakhir.
Penulis (ketika Klub Buku GRI) mengatakan bahwa memang pada awalnya, tulisannya berupa esai tentang geopolitik. Karena ingin memperluas pangsa pembaca, maka dibuatkanlah menjadi novel. Mungkin bagi sebagian orang langkah itu berhasil. Membuat esainya tentang geopolitik berhasil dicerna tidak untuk kalangan tertentu saja (khususnya yang menarik minat di bidang geopolitik). Namun, buat gue langkahnya membuat novel menjadi terlalu dipaksakan. Karena elemen-elemen novel seperi karakter, alur, setting dan lainnya kurang hadir dengan maksimal. Bahkan untuk dialog pun tidak ada sama sekali di novel ini. Mungkin tidak mengapa ketika novel ini bebas dialog tetapi diimbangi dengan deskripsi yang bagus oleh penulisnya. Sayang sekali itu kurang didapat di novel ini.
Sehingga gue merasakan bahwa buku ini menjadi 'nanggung'. Karena kurang memenuhi elemen-elemen untuk dibilang sebagai novel. Namun tidak bisa dibilang juga buku ini merupakan non-fiksi. Buat gue, seharusnya penulis dan editor memilih salah satunya. Benar-benar ditulis sebagai esai (non fiksi) sehingga maksud-pesan bisa tersampaikan dengan jelas tanpa bias kisah fiktif. Atau menggali dan menggunakan keahlian menulis fiksi lebih baik sehingga tidak membosankan untuk dinikmati pecinta novel.
Penulis juga mengatakan bahwa jika menginginkan novel ini berdialog dan penuh deskripsi yang mengembangkan daya imajinasi, kita lebih baik menonton film saja. Menurut gue, jawaban tersebut kurang cerdas untuk dikemukakan. Karena pertama, bukan hal yang cerdas membandingkan buku dan film yang jelas-jelas berbeda dalam medianya. Kedua, novel seharusnya membuat para pembacanya dapat menggunakan daya imajinasinya. Kalau novel tersebut ternyata membosankan dan tidak membuat pembacanya berimajinasi. Tentu saja itu bukanlah salah pembaca seorang. Ada andil penulis di dalamnya. Mungkin saja memang tulisannya benar-benar 'kering'.
Novel berujudul Jakarta! ini ternyata hanya membahas kota Jakarta dalam skala kecil di dua bab terakhir dari tujuh belas bab yang ada. Apakah karena ditaruh di bab akhir, Jakarta menjadi kesimpulan cerita dalam novel ini. Sayangnya menurut gue tidak, karena Jakarta hanya terasa sebagai latar belakang tempat di akhir cerita saja. Walaupun begitu, ide cerita dan pemikiran penulis cukuplah menarik. Usahanya untuk mengenalkan geopolitik kepada khalayak lebih luas juga patut diapresiasi. Namun kedepannya, penulis harus benar-benar fokus tulisannya mau dibuat sebagai karya fiksi atau non fiksi. Jangan berhenti menulis dan ditunggu karya berikutnya!(less)
Mungkin gue terlalu berekspektasi tinggi terhadap buku ini. Terlalu diperbincangkan kekerenannya di kalangan goodreaders. Ternyata pas gue baca, yah t...moreMungkin gue terlalu berekspektasi tinggi terhadap buku ini. Terlalu diperbincangkan kekerenannya di kalangan goodreaders. Ternyata pas gue baca, yah tidak begitu keren. Ini kisah dua remaja yang saling jatuh cinta. Bedanya dengan kebanyakan novel remaja pada umumnya, keduanya memiliki kanker di tubuhnya. Karena kankerlah mereka akhirnya bisa bertemu, bersitatapan, berbincang dan akhirnya berkata "Aku sayang kamu".
Maniskah ceritanya? Yah susah sih kalau ingin dibilang manis. Karena semanis apapun cerita mereka, tetap saja ada rasa pahit yang turut serta. Bahkan humornya pun humor gelap. Hingga terkadang lelucon itu susah gue terima sebagai sebuah humor. Karena terlalu terang-terangan dan mengenyampingkan perasaan mereka. Namun, mungkin itulah yang mereka butuhkan. Sebuah kejujuran, bukan rasa kasihan yang acap kali memuakkan buat mereka.
Dari buku ini gue jadi ingat orang-orang terdekat gue yang di tubuhnya hidup sel-sel kanker. Yang paling gue ingat adalah rekan pertama gue bekerja dan akhirnya menjadi seperti kakak sendiri. Mbak Dyan namanya, yang sekarang semoga saja hidup tanpa rasa sakit di alam kubur. Mbak Dyan adalah orang yang selalu terlihat ceria di luar. Walau gue tahu tersimpan khawatir di dalamnya. Siapa yang tidak khawatir ketika seseorang sudah dinyatakan sembuh dari kanker payudara. Tiba-tiba selang beberapa bulan, kemudian takdir berkata bahwa kanker sudah menyebar di paru-parunya. Hidup yang sudah ditatap dengan penuh harapan harus pupus begitu saja.
Mbak Dyan awalnya tidak mau menyerah. Dia mencoba untuk hidup sehat. Bahkan dia masih menjaga tubuhnya di pusat kebugaran. Gue pernah bilang, "Mbak kayaknya lo berlebihan deh, nanti kecapekan". Gue inget jawabannya, "Duh, trainernya cakep". Gue cuma tertawa menanggapi jawabannya. Sampai akhirnya kanker terus menggerogoti tubuhnya. Bahkan kemoterapi yang sakitnya minta ampun sepertinya tidak membantu lagi.
"Capek, run. Gue gak tahan lagi". Ada rasa cemas di gue ketika dia tahu memberhentikan kemonya. Namun, tubuhnya adalah haknya. Dia ingin hidup tanpa rasa sakit akibat kemoterapi. Puncak kekhawatiran gue muncul ketika dia ngomong ke gue, "Run, cariin istri buat suami gue dong". Jujur, gue kaget saat itu. Sebuah kalimat yang nggak pernah gue duga akan keluar dari mulutnya. Waktu itu gue menanggapi dengan ogah-ogahan. Gue tetap meminta dia untuk jangan berhenti menyerah. Demi suami dan anak-anaknya.
Itu apa yang gue lakukan dulu. Namun, kalau saja waktu itu gue sudah membaca buku ini sebelum dia menanyakan pertanyaannya. Gue mungkin akan dengan senang hati berdua dengan mbak Dyan, mencari dan memilih siapa yang pantas untuk menggantikan posisinya. Mendampingi suaminya yang suka kami panggil ustadz di kantor. Menjaga si abang yang selalu serius dengan sekolahnya dan adik yang penuh rasa ingin tahu. Pasti prosesnya akan begitu menyenangkan dengan penuh canda tawa. Karena sesungguhnya mereka tahu bahwa stadium empat sudah menjadi sebuah pertanda. Bahwa kematian hanya menunggu waktu. Jadi, buat apa takut dan lebih baik bersiap untuk menghadapinya. Sebenarnya, kalau dipikir lebih jauh, kematian memang hanya menunggu waktu. Bukan saja buat orang yang memiliki kanker di tubuhnya tetapi juga orang yang dinyatakan sehat seratus persen. Karena kematian sudah menjadi kodrat manusia.
Mbak Dyan, semoga kamu lebih bahagia di alam sana!(less)
Pertama, gue cuma bilang Eric Weiner memang seorang penggerutu. Bahkan bisa dibilang penggerutu yang handal dan profesional. Andaikan gue termasuk ora...morePertama, gue cuma bilang Eric Weiner memang seorang penggerutu. Bahkan bisa dibilang penggerutu yang handal dan profesional. Andaikan gue termasuk orang yang tidak sabar dengan gerutuan. Buku ini sudah tercampakkan entah di mana. Syukurnya gue seorang penggerutu amatir yang terkadang bisa mengerti perasaannya. Ide tulisannya cukup menarik, mencari negara yang paling membahagiakan. Sayang tulisannya begitu subjektif, kadang skeptis hingga gue muak membacanya. Kemudian gue punya cara membaca buku ini. Jangan terlalu peduli dengan pendapatnya tetapi cermati tanggapan orang-orang yang dia wawancarai.
Kebahagiaan? Yah, relatif. Tergantung setiap orang mendefinisikan kata kebahagiaan. Mungkin terdengar klise. Namun, menurut gue memang begitulah adanya. Nilai akan kebahagiaan tiap orang berbeda-beda. Misalnya saja, gue beranggapan kalau bahagia itu gue tidak usah pusing memikirkan biaya pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak gue kelak. Sedangkan menurut orang lain, bisa tersenyum saja sudah dikatakan bahagia.
Bahagia tidak tergantung uang yang kita miliki. Hmmmm, gue setuju dan tidak setuju akan pendapat ini. Memang uang bukan segalanya. Namun dengan uang kita bisa bahagia. Eric pergi ke Qatar, sebuah negara kaya raya. Setiap warga negara terjamin seratus persen hidupnya. Apakah mereka bahagia? Ya, bahagia. Hati mereka bahagia? Siapa yang tahu. Bahagia tidak berhenti di situ saja. Ada perasaan yang harus dipertimbangkan. Apakah merasa aman dan nyaman. Bebas menyuarakan pendapat tanpa takut dipersalahkan. Bahagia menjadi sulit untuk didefinisikan.
Namun, lihat ketika Eric pergi ke Moldova. Di mana semua orang yang ia lihat tampak murung. Alasannya begitu sederhana, uang. Tanpanya, mereka merasakan hidup mereka susah. Bisa saja orang berpendapat orang miskin bisa saja bahagia. Ya, mungkin benar dengan kondisi bahagia yang disesuaikan. Mungkin juga karena terbiasakan dengan kondisi yang mereka alami. Sehingga definisi kebahagiaan menjadi sangat sederhana. Tersenyum berarti kau bahagia.
Gue sempat berpikir, apalah maunya para peneliti kebahagiaan ini. Apakah bisa membandingkan tingkat kebahagiaan sebuah negara dengan lainnya. Karena tiap negara punya kondisi berbeda-beda, baik dari segi sosial hingga letak geografis. Namun, mereka pasti mempunyai basis data dan perhitungan yang mereka anggap handal. Yang akhirnya bisa mengurutkan negara yang paling bahagia hingga negara yang paling sengsara. Kalau gue lihat di Happy Planet Index, Indonesia mendapatkan peringkat ke 14 negara yang paling bahagia. Apakah gue percaya kan daftar itu? Ya, gue tidak terlalu memedulikannya.
Namun, Indonesia memang menjadi negara yang membahagiakan buat gue. Terlepas dari gue tidak mengetahui kebahagiaan di negara lain. Namun, di sinilah tempat gue dilahirkan dan dibesarkan. Gue mencintai keindahan alamnya. Walaupun presiden yang sekarang agak menyebalkan dan korupsi masih merajalela. Namun, dengan membencinya berarti gue masih mencintai Indonesia. Apakah ketika pergi dan tinggal ke negara bebas korupsi, gue akan lebih bahagia? Belum tentu dan tidak yakin. Karena gue memang sudah terkondisikan untuk tinggal di Indonesia. Sehingga baik dan buruknya sudah seperti makanan sehari-hari.
Lalu apakah gue bahagia? Sekarang gue tidak begitu bahagia. Banjir menguasai Jakarta dan membuat resah warganya. Namun seminggu lalu, gue bahagia ketika berarung jeram di sungai yang airnya menggelegak. Yah, kebahagiaan seorang bisa hadir dan tiada. Namun bukankah begitu kehidupan berjalan. Warna-warni tidak terduga dan mendewasakan kita.
Gue suka sekali dengan cerita bagian Bhutan, ketika seorang Karma Ura berkata "Tidak ada yang namanya kebahagiaan pribadi. Kebahagiaan seratus persen bersifat relasional." Gue sangat setuju dengan kalimat tersebut. Karena sayang sekali kalau kebahagiaan hanya milik pribadi. Kebahagiaan ada ketika dia menyentuh banyak jiwa. Kita bahagia ketika bisa membuat orang lain bahagia. Gue percaya kebahagiaan bisa disebarkan.
Okay, gue memang tidak acuh terhadap pendapat Eric Weiner. Namun, membaca buku ini gue jadi mempertanyakan diri sendiri, apakah sudah bahagia. Dari sana, gue pun mengejar kebahagiaan dengan cara membagikan kebahagiaan diri sendiri. Kemudian membuka diri untuk menerima kebahagiaan orang lain. Gue yakin jika seseorang yang bahagia menyebarkan virus bahagianya kepada orang lain. Begitu selanjutnya hingga seluruh penduduk dunia ini terjangkit virus bahagia. Maka tidak ada lagi negara yang sengsara. Melainkan yang kita miliki hanyalah DUNIA YANG BAHAGIA!(less)
Raphael, Gardo, Jun 'Tikus" Jun. Tiga anak kecil yang berprofesi sebagai pemulung. Hidup mereka berubah menjadi petualangan yang berbahaya. Semuanya d...moreRaphael, Gardo, Jun 'Tikus" Jun. Tiga anak kecil yang berprofesi sebagai pemulung. Hidup mereka berubah menjadi petualangan yang berbahaya. Semuanya dimulai ketika mereka menemukan sebuah tas di antara tumpukan sampah. Ternyata, tas itu menjadi penghubung dengan uang jutaan dollar curian seseorang. Yang dicuri dari seorang pejabat. Dimana uang pejabat itu juga didapat dari mencuri uang rakyat.
Di awal, gue bersedih dengan apa yang dialami para pemulung cilik ini. Kesehariannya harus bergumul dengan sampah yang berbahaya bagi kesehatan. Di umur mereka yang seharusnya bermain, belajar dan bersosialisasi dengan teman-teman di sekolah. Memang ada sebuah sekolah misi di daerah tempat pembuangan sampah tersebut. Namun, anak-anak tersebut lebih memilih untuk memulung demi uang untuk kehidupan sehari-hari mereka. Wajar mereka berbuat begitu, karena bertahan hidup untuk satu hari saja sudah merupakan kebahagiaan. Sedangkan masa depan masih berupa bayang-bayang semu.
Gue juga melihat betapa buruk perlakuan polisi terhadap mereka dan siapapun. Betapa mereka tidak percaya dengan kepolisian. Sebuah institusi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat. Semua orang bahkan yang tidak bersekolah pun tahu bahwa polisi tak akan berpihak pada mereka yang papa. Polisi hanya berpihak kepada yang kaya dan punya kuasa.
Kejadian ini diceritakan berlokasi di sebuah tempat di Filipina. Begitu dekat dengan negara kita, Indonesia. Karena dekatnya, hal-hal yang diceritakan pun terjadi di negara kita. Kemiskinan yang semakin sulit diatasi. Sedangkan para pejabat sibuk menumpuk uang yang seharusnya digunakan untuk membantu yang miskin. Ironis!(less)
Ah betapa kangennya gue dengan Barti. Selalu saja kalau baca bukunya Barti, pengin banget punya kemampuan memanggil dia. Yah, sebentar...moreBartiiiiiii....
Ah betapa kangennya gue dengan Barti. Selalu saja kalau baca bukunya Barti, pengin banget punya kemampuan memanggil dia. Yah, sebentar aja, cuma mau lihat dia akan muncul dengan wujud apa. Udah gitu langsung dilepasin lagi. Nggak sanggup kayaknya kalau nahan dia lama-lama. Begitu liciknya, ntar yang ada gue ditelan. Hiii, ogah...
Di buku ini, menceritakan Barti di zaman kepemimpinan Solomon. Raja yang sangat berkuasa karena punya cincin yang sakti mandraguna. Lalu peran barti di sana gimana? Ya pasti penting dong tapi tetap dengan kenarsisannya yang ruaarrr biasssaaa.. Ya baca deh kalau nggak percaya..
Namun, sebenarnya sih lebih greget di trilogi. Atau mungkin karena buku ini terlalu kelamaan dari buku terakhirnya. Tapi kalau ada buku prekuel lainnya sih gue tetep mau baca. Plis plis plis..kisah Barti dengan Ptolemy dooonggg...(less)
Membaca buku ini membuat gue bertanya-tanya, "Apakah kebenaran itu?". Bagaimana sesuatu bisa dianggap sebagai kebenaran. Di sisi lain, bagaimana denga...moreMembaca buku ini membuat gue bertanya-tanya, "Apakah kebenaran itu?". Bagaimana sesuatu bisa dianggap sebagai kebenaran. Di sisi lain, bagaimana dengan dusta. Apakah ada dusta yang indah? Dusta yang ditujukan untuk kebaikan atau apa?" Ya, semua pertanyaan itu muncul di benak sepanjang gue menikmati rangkaian kata-kata dalam buku ini.
Dikisahkan seorang anak, Bilal, berdusta pada Bapuji(ayah)nya yang sedang sekarat. Bilal berdusta akan keadaan negerinya, India. Dahulu, semua warganya hidup berdampingan. Namun ada orang sesat yang menyulut api permusuhan antara umat Islam dan Hindu. Sehingga romantisme masyarakatnya tidak lagi terlihat. Digantikan dengan prasangka dan permusuhan.
Bilal tidak mau Bapuji tahu kondisi tersebut. Hingga dia bersama sahabat-sahabat serta teman dekat Bapuji membuat rencana. Rencananya adalah menjaga ingatan Bapuji tentang India yang harmonis hingga kelak dia meninggalkan dunia. Tidak boleh ada satupun orang yang memberitahu Bapuji bahwa India sedang bergolak.Rencana-rencana pun dibuat dengan penuh tindakan keberanian dan berlatar belakang kasih sayang. Beberapa bagian akan membuat kita tersenyum bahkan tertawa. Namun di bagian lainnya juga membuat sedih ataupun miris.
Semua orang merasa tindakannya benar. Termasuk berpisah dari India dan membentuk sebuah negara baru. Semua sejarah masa lalu yang indah luluh lantak karena perbuatan mereka yang merasa benar itu. Merasa benar ketika darah 'musuh'nya tercecer di tanah atau tubuhnya terbakar dan hangus perlahan.
Seakan tidak ada kenangan yang manis atau sengaja melupakannya. Meski berat hati meninggalkan tanah air dan berpisah dengan sahabat. Namun, egoisme telah menguasai tiap jiwa, hinga 'kebenaran' pun harus ditegakkan.
Terkadang manusia ingin WAKTU berjalan lambat. Manusia tidak ingin berhenti ketika semua belum terselesaikan. Manusia takut WAK...moreBuku ini tentang WAKTU.
Terkadang manusia ingin WAKTU berjalan lambat. Manusia tidak ingin berhenti ketika semua belum terselesaikan. Manusia takut WAKTU menghilang. Manusia bersedih karenanya. Manusia ingat apa yang hilang. Manusia lupa yang dimiliki. Manusia takut kehabisan WAKTU.
Terkadang manusia ingin WAKTU berjalan cepat. Manusia ingin menyelesaikan semua secepatnya. Manusia takut WAKTU menghilang. Manusia bersedih karenanya. Manusia ingat apa yang hilang. Manusia lupa yang dimiliki. Manusia takut kehabisan WAKTU.
Lalu, apa alasan Tuhan membatasi WAKTU? Mungkin karena Tuhan ingin menjadikan WAKTU istimewa. Tanpa kehilangan dan kesedihan. Manusia tidak menghargai apa yang dimiliki. WAKTU terbatas karena dia begitu ISTIMEWA. (less)
Sudah lama gue ingin mengenal sosok Maya Angelou. Pribadi yang begitu dikagumi oleh Oprah Winfrey. Gue ingin tahu seberapa hebat wanita ini hingga wan...moreSudah lama gue ingin mengenal sosok Maya Angelou. Pribadi yang begitu dikagumi oleh Oprah Winfrey. Gue ingin tahu seberapa hebat wanita ini hingga wanita hebat lainnya begitu memujanya. Yang gue lihat di televisi, di usia tuanya dia begitu bijaksana dan rendah hati. Terima kasih Gagas Media yang menerbitkan buku ini.
Maya Angelou seorang perempuan afrika-amerika yang bangga sebagai seorang keturunan afrika. Ditambah lagi dengan bangga sebagai warga negara Amerika (Serikat). Beliau adalah salah satu orang yang mendobrak perbedaan perlakuan terhadap warga kulit hitam dan putih.
Maya Angelou tak pernah mengeluh karena dia tahu akan ada orang jahat yang akan memangsanya ketika dia mengeluh. Dia mengajak kita untuk bersyukur atas anugerah yang diberikan Tuhan. Kemudian menyalurkan anugerah itu kepada orang lain. Tak harus menyumbangkan jutaan dolar, senyumpun dapat membantu dengan orang lain.
Maya Angelou tak sempurna, ia pun sering berbuat salah. Namun, bukankah itu normal untuk manusia. Bangkit dan berusaha lebih baik, itulah yang harus dicapai agar menjadi seorang istimewa seperti Maya Angelou...(less)
Ahhhhh, ini katanya seri terakhir Suddenly Supernatural ya? Sedih bener nggak bisa ketemuan sama Kat dan Jac. Sepasang sahabat yang serasi dan konyol....moreAhhhhh, ini katanya seri terakhir Suddenly Supernatural ya? Sedih bener nggak bisa ketemuan sama Kat dan Jac. Sepasang sahabat yang serasi dan konyol. Sama dengan buku sebelumnya, kali ini Kat tetap berurusan dengan arwah yang bergentayangan di dunia manusia. Namun, spesial di buku ini Kat akhirnya punya gebetan yang kayakya suka juga sama kat. Ihiiiyyyy...prikitiw..(less)
Sudah lama rasanya tak membaca kisah si "famous amos". Yang entah mengapa selalu mengiangatkan akan sebuah toko coklat di mal-mal jakarta, hehehe.. Ta...moreSudah lama rasanya tak membaca kisah si "famous amos". Yang entah mengapa selalu mengiangatkan akan sebuah toko coklat di mal-mal jakarta, hehehe.. Tapiiiii, gue seneng banget baca buku amos ini. Seneng dengan tingkah lakunya yang ambisius, konyol tapi baik hati. Di buku yang satu ini kita bosa jadikan amos sebagai inspirasi buat anak remaja sekarang. Dia pernah di-bully tapi dia tetap tegak berdiri. Merasa malu dan kecewa itu wajar dan normal. Namun, kamu bisa lebih dari sekedar wajar dan normal. Yaitu dengan menyatakan Tidak untuk tindakan bullying. Seperti yang dilakukan amos. Ah, andai saja ada buku remaja seperti ini yang ditulis penulis lokal. Tentunya dengan bahasa yang mudah dan ilustrasi yang lucu. Salute buat amoooosssss...(less)
Okeh, akhirnya selesai juga ni buku buat bahan siaran. Mungkin lebih seru kalau narsum siarannya nanti adalah penulisnya sendiri. Berhubung doi bule d...moreOkeh, akhirnya selesai juga ni buku buat bahan siaran. Mungkin lebih seru kalau narsum siarannya nanti adalah penulisnya sendiri. Berhubung doi bule dan tinggal di luar negeri ya agak repot juga sih diundang ke studio radio. Seperti halnya buku pertama, (ruh) amber masih berada di tubuh orang lain. Kalau yang pertama ada di gadis popuelr, teman sekolahnya. Kali ini dia masuk ke dalam tubuh kakak pacarnya. Ceritanya masih seru tapi agak beda. Buku pertamanya lebih sentimentil sedangkan buku keduanya lebih intens dan dewasa. Selebihnya yuk mari kita bincangkan di radio..(less)
Jadi sabtu depan gue mesti siaran buku " Dead Girl Dancing" yang ternyata adalah buku kedua. Jadi demi paham akan jalan ceritanya, gue pun membaca buk...moreJadi sabtu depan gue mesti siaran buku " Dead Girl Dancing" yang ternyata adalah buku kedua. Jadi demi paham akan jalan ceritanya, gue pun membaca buku ini yang merupakan buku pertama. Yah kisahnya sih seru-seru ketebak gitu ceritanya. Tentang seorang arwah yang tergantung antara hidup dan mati. Kemudian tersesat pada tubuh orang lain. Endingnya gimana? Yah coba aja dipikir secara logika kalau ada buku keduanya berarti si arwah itu.....*jawab sendiri aja ya, gue mau lanjutin buku keduanya, ehehehe*(less)
Rasanya udah lama banget enggak baca buku. Entah kenapa males banget baca buku. Mau dipaksain takut ga nyaman bacanya. Namun saatnya untuk wajib baca...moreRasanya udah lama banget enggak baca buku. Entah kenapa males banget baca buku. Mau dipaksain takut ga nyaman bacanya. Namun saatnya untuk wajib baca datang juga. Gue harus baca buku ini untuk bahan siaran Ruang Literasi, Sabtu 11 Agustus 2011. Waktu pertama kali dikasih sih agak sangsi bakal selesai bacanya. Habis, ada alien-aliennya sih. Gue bukan penukmat kisah-kisah alien atau sebangsanya itu. Gue meyakinkan diri kalau pasti seru baca buku ini. Karena ini buku anak-anak, genre favorit gue. Ternyata memang seru lho mengikuti kisah petualangan si anak kecil bernama Scrub ini mengurusi Alien-alien..(less)
Ya ampunnnn..kangen banget sama si polisi gempal ini. Akhirnya dia terbit juga *peluk si Arthur sampe kurus* Masih tetap konyol dan kocak. Apalagi kal...moreYa ampunnnn..kangen banget sama si polisi gempal ini. Akhirnya dia terbit juga *peluk si Arthur sampe kurus* Masih tetap konyol dan kocak. Apalagi kalo lagi berantem sama mertuanya, paraaahhhh... *ngakak*(less)
Semakin seru petulangan Cass dan Max Ernst di buku kedua ini. Ditambah lagi kehadiran seorang anak baru bernama Yo Yoji yang keren. Gue akhirnya berke...moreSemakin seru petulangan Cass dan Max Ernst di buku kedua ini. Ditambah lagi kehadiran seorang anak baru bernama Yo Yoji yang keren. Gue akhirnya berkenalan dengan Pietro dan mengetahui siapakah ayah dari Cass. Mantabs!(less)
Membacanya di kala kantuk. Kemudian gue pun tertidur. Ternyata buku ini nggak bisa melawan kantuk gue. Lumayanlah ceritanya. Tipikal dengan banyak keb...moreMembacanya di kala kantuk. Kemudian gue pun tertidur. Ternyata buku ini nggak bisa melawan kantuk gue. Lumayanlah ceritanya. Tipikal dengan banyak kebetulan sepanjang cerita.(less)
Buku ini lucu banget cara nulisnya. Ceritanya anak-anak sekali dan ngegemesin. Pengen noyor-noyorin penulisnya gitu. Ahahahah..sssttt..ini rahasia loh...moreBuku ini lucu banget cara nulisnya. Ceritanya anak-anak sekali dan ngegemesin. Pengen noyor-noyorin penulisnya gitu. Ahahahah..sssttt..ini rahasia loh ya..(less)
Membaca kisah kucing-kucing yang ada di buku ini mengingatkan gue kalau dulu pernah punya kucing peliharaan. Namanya ya aneh-aneh. Mandra adalah kucin...moreMembaca kisah kucing-kucing yang ada di buku ini mengingatkan gue kalau dulu pernah punya kucing peliharaan. Namanya ya aneh-aneh. Mandra adalah kucing pertama gue dan dia betina dengan tiga warna. Melahirkan dua anak Jipul dan Puteleng. Jipul adalah kucing betina belang kuning dan putih yang cantik. Anehnya dia memiliki buntut yang sangat pendek hingga terlihat tak ada buntut. Puteleng juga belang kuning putih tapi dia lelaki. Gemuknya enggak kira-kira dan pemalasnya minta ampun. Setelah itu gue punya kucing jantan belang hitam putih yang bernama Panda. Sangat senang bercanda dan mengejar sesuatu. Hanya dengan dentingan piring berulang-ulang, dia bisa berlari pulang dari entah mana.
Kemudian kemanakah mereka? Ya, mereka meninggalkan dunia menuju surganya kucing.(less)
Kagak suka sama sekali dengan buku ini. Betapa banyak hewan liar yang dilindungi dibunuh oleh si tintin untuk tujuan yang konyol seperti kepentingan f...moreKagak suka sama sekali dengan buku ini. Betapa banyak hewan liar yang dilindungi dibunuh oleh si tintin untuk tujuan yang konyol seperti kepentingan foto. Yuck!(less)