Sebenarnya gue tidak pernah tertarik membaca salah satu karya Jane Austen. Takutnya membosankan. Yah, berdasarkan buku-buku klasik yang gue baca biasa...moreSebenarnya gue tidak pernah tertarik membaca salah satu karya Jane Austen. Takutnya membosankan. Yah, berdasarkan buku-buku klasik yang gue baca biasanya sih memang narasinya bertele-tele. Apalagi buku ini cukup tebal dengan hampir enam ratus halaman. Namun, karena harus siaran membahas buku Pride, Prejudice and Zombies. Gue pikir akan lebih baik jika gue membaca aslinya saja. Kemudian membandingkan dengan versi plesetannya.
Balik lagi ke novel ini. Wah ternyata gue menikmatinya. Bertele-tele? Tentu saja. Namun, entah mengapa gue kuat menghadapinya. Gue suka sekali ketika Miss Elizabeth berdebat. begitu juga dengan karakter ayahnya, Mr Bennet yang punya perangai sarkastik. Bayangkan ini kisah dituliskan sekitar dua ratus tahun lalu dan masih memikat. Sungguh luar biasa.(less)
Emang ya kalau udah soal warisan. Apalagi jumlahnya banyak. Jadi rebutan semua orang yang merasa berhak. Kemudian siapa yang paling diuntungkan? Penga...moreEmang ya kalau udah soal warisan. Apalagi jumlahnya banyak. Jadi rebutan semua orang yang merasa berhak. Kemudian siapa yang paling diuntungkan? Pengacara. Duh mending jadi pengacara aja apa gue yak *berniat alih profesi*. Oh satu lagi pelajaran dari buku ini yang paling membekas. Kalau ada orang angkuh, lo mesti curiga. Ada sesuatu yang dia rahasiakan. Sikap angkuhnya merupakan cara dia bertahan terhadap kelemahannya. Begitu...(less)
Bagus sih ide ceritanya. Walaupun agak 'gelap' tatapi masih pas buat anak-anak. Tapi itu lho kok ceritanya lambat banget menurut gue. Jadi agak-agak m...moreBagus sih ide ceritanya. Walaupun agak 'gelap' tatapi masih pas buat anak-anak. Tapi itu lho kok ceritanya lambat banget menurut gue. Jadi agak-agak membosankan kecuali aps bagian serunya aja. Misalnya kalau lagi Memudar. Aaakkk, gue juga mau memudar, kan seru bisa menghilang terus ngejahilin orang, hehehe..(less)
Akhirnya ada juga seri Tintin yang gue suka. Yah walaupun kebetulan-kebetulannya masih banyak tapi nggak gitu ganggu kayak seri lain yang pernah gue b...moreAkhirnya ada juga seri Tintin yang gue suka. Yah walaupun kebetulan-kebetulannya masih banyak tapi nggak gitu ganggu kayak seri lain yang pernah gue baca.(less)
Entah apa ada yang salah dengan diri gue. Atau memang buku ini ya nggak lucu-lucu amat. Ketika membacanya, paling cuma senyum aja. Itu pun beberapa aj...moreEntah apa ada yang salah dengan diri gue. Atau memang buku ini ya nggak lucu-lucu amat. Ketika membacanya, paling cuma senyum aja. Itu pun beberapa aja, yang lainnya wajah gue bisa dikatakan datar. GUe beri 3 bintang karena beberapa da yang gue setujui. Walaupun ada juga yang tidak.(less)
Gilak! Duh serem banget deh baca buku ini. Banyak banget kengerian yang gue dapetin di buku ini. Pernikahan dini yang dipaksakan Larangan bersekolah....moreGilak! Duh serem banget deh baca buku ini. Banyak banget kengerian yang gue dapetin di buku ini. Pernikahan dini yang dipaksakan Larangan bersekolah. Biaya dan urusan pernikahan yang menyulitkan. Dan seterusnya...
Betapa merananya hidup yang mesti dilalui bayak gadis di India. Mungkin saja begitu juga di Indonesia dan negara lain. Entahlah. Yang pasti, manusia yang tak perlu merasakan penderitaan tersebut haruslah bersyukur. Karena ternyata banyak orang yang tak seberuntung dirimu..(less)
Waktu pertama kali baca buku ini, gue langsung terkesima dan ngeri. Di otak gue langsung terngiang-ngiang, "Sakit jiwa nih penulisnya...sakit bener.."...moreWaktu pertama kali baca buku ini, gue langsung terkesima dan ngeri. Di otak gue langsung terngiang-ngiang, "Sakit jiwa nih penulisnya...sakit bener..". Yah, terus lanjut dibaca sampai kalau gak tahan lagi, gue berhenti dan dilanjut lain waktu. Gue nggak ngerti ya, apakah ada 'bolong' atau 'miss' nya dari rentetan cerita pembunuhan berantai ini. Yang gue rasa cuma kengerian. Jujur, ini bukan genre yang biasanya gue baca. Sama seperti film, agak males baca buku yang ada bunuh-bunuhannya dalam setting dunia nyata dan bukan fantasi.
Setuju dengan reviewnya bang Christian. Karakter Ello dan Tara jadi terlihat sama ketika ada pergantian POV. Tapi mungkin aja ya karena emang keduanya 'sakit', jadi karakternya mirip. Setuju juga perbendaharaan kata penulis patut diacungi jempol. Yaiyalah, masa' editor perbendaharaan katanya miskin? ehehehe..(less)
Yah, tadinya gue bakalan ngasih lima bintang buat novel ini. Mengapa? Karena tokoh utamanya bernama Harun. Ahahahaha..narsis yak? Ya gapapalah..kan ja...moreYah, tadinya gue bakalan ngasih lima bintang buat novel ini. Mengapa? Karena tokoh utamanya bernama Harun. Ahahahaha..narsis yak? Ya gapapalah..kan jarang-jarang ada penulis mau ngasih nama tokoh utamanya Harun. Ya kan..ya kan..ya kan???? Namun, akal gue masih sehat. Jadilah gue ngasih hanya tiga bintang. Yak, agak ribet ya baca dongengnya. Yang ada kalau ini dongeng dibacain pas sebelum tidur, yang ada malah mikir. Tapi ya seharusnya gue negrti sih sebelum baca novel ini. Man, ini penulisnya Salman Rushdie gitu. Ya kali tulisannya enteng dan ringan. Tapi, tapi, tapi...boleh dong gue berharap bahwa tulisannya ringan untuk dibaca. Ternyata hai ternyata, susak mak.. Padahal kan sampul bukunya lucu gitu, anak-anak banget. Jangan sampai aja anak-anak yang dibaca. Yang ada mereka malah banyak nanya. Apa jangan-jangan mereka ngerti ya. Seperti halnya anak-anak baca buku Alice in the Wonderland atau Pangeran Kecil? Hmmmm..Ah, ribet deh jadi dewasa... :)))))))(less)
Sebenarnya bingung sekali buat gue untuk memulai tulisan ini. Novel “Wonder” jelas adalah salah satu buku bagus yang akan susah untuk dibuat resensi....moreSebenarnya bingung sekali buat gue untuk memulai tulisan ini. Novel “Wonder” jelas adalah salah satu buku bagus yang akan susah untuk dibuat resensi. Namun, gue akan tetap menuliskannya karena gue sudah berjanji dengan diri sendiri sejak awal membacanya. Tadinya gue tidak mau membaca novel ini. Bayangkan, membaca sinopsis di bagian belakang novel saja sudah membuat gue sedih. Gue sedang tidak mau membaca novel yang akan bikin mewek. Namun, teman-teman GRI meyakinkan gue kalau novel ini tidak sekadar bagus melainkan istimewa. Sayang, novel ini tidak kunjung gue temukan setiap berkesempatan berkunjung ke toko buku. Sampai akhirnya akhir pekan lalu gue mendapatinya dan langsung gue baca malam itu juga.
Jujur, gue merasa kesal dan jahat. Karena ketika memulai dan terus membaca, gue tidak membayangkan August (Auggie) Pullman, tokoh dalam novel ini sesuai deskirpsi penulisnya. Gue membayangkan fisik Auggie sama persis dengan anak normal lainnya. Oke, Auggie normal tetapi tidak dengan wajahnya dan gue tidak bisa membayangkannya di wajah gue. Mungkin gue akan menjadi salah satu orang yang akan terkesiap ketika melihat wajah Auggie. Kemudian pergi meninggalkan Auggie. Bukan karena merasa jijik tetapi tidak tahan untuk tidak merasa sedih. Ya, gue jahat, gue tahu.
Gue memang tidak mempunyai seorang teman/keluarga dekat yang memiliki kelainan fisik terutama wajah. Sehingga gue tidak mengerti bagaimana perasaan mereka yang dekat dengan Auggie. Namun, akhirnya gue mencoba untuk merenung. Membayangkan bahwa mungkin saja ada saatnya gue mempunyai orang dekat seperti Auggie. Kemudian apa yang gue lakukan. Apakah gue akan bersikap seperti tidak apa-apa atau pergi menjauh. Pada akhirnya gue menyimpulkan bahwa gue pasti tidak akan sanggup untuk menjauh. Bukan karena memang itu hal baik yang harus dilakukan semua orang. Namun ternyata ini masalah yang terlalu dibesar-besarkan. Hei, dia hanya tidak normal di bagian wajah atau cacat fisik. Bukankah hati yang baik lebih penting dibandingkan fisik yang akan rapuh dengan bergulirnya waktu?
Sejak itu, gue berani membayangkan wajah Auggie dengan seharusnya. Matanya yang tidak pada posisinya. Bentuk mulutnya yang teroperasi karena sumbing. Telinganya yang tidak proporsional dan seperti daging yang mencuat dari sisi kepala. Pada akhirnya gue bisa menerima hal tersebut dan tidak masalah karenanya. Mungkin karena gue juga sudah mengenal Auggie lebih baik. Auggie yang berani berjuang untuk menjalani hidupnya. Gue tidak mau sok tahu menggambarkan perasaan Auggie tentang itu. Menerima tatapan terkejut ketika orang menatapnya. Mendengarkan desahan atau dengusan ketika berada di dekatnya. Yah, belum lagi ketika tidak ada yang mau mendekatinya. Gue bisa saja merasa kecewa dan sedih. Namun itu gue,mungkin tidak untuk Auggie. Mungkin dia merasa jauh lebih sedih daripada yang gue rasakan. Atau dia sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut.
Yang pasti, gue banyak belajar dari novel ini. Belajar dari Auggie untuk tidak mudah menyerah. Setiap hari adalah perjuangan yang harus dilalui. Dalam sebuah perjuangan, kalah dan menang itu biasa. Pada sebuah hari, sedih dan senang bergantian. Semua itu wajar dan normal. Begitu juga kalau kita memiliki kekurangan. Hei, kita manusia, tidak ada yang sempurna bukan? Apakah dengan kekurangan itu akhirnya kita kalah? Padahal gue yakin, masih banyak kelebihan yang kita miliki dan patut untuk disyukuri. Normal pula, ketika ada orang-orang brengsek di sekitar kita yang akan merusuhi kekurangan tersebut. Mereka sesungguhnya ada tetapi jangan biarkan mereka jadi penghalang kebahagiaan kita. Gue percaya setiap orang berhak atas kebahagiaannya. Lalu dari kebahagiaan personal itu akan lebih besar lagi ketika ditularkan ke orang-orang di sekelilingnya. Seperti yang dilakukan Auggie terhadap orang-orang di sekitarnya.
Memang selain Auggie, gue juga ingin mengucapkan salut untuk mereka. Kedua orang tua Auggie yang tidak sedikitpun berkurang rasa cinta terhadapnya. Selalu mendukung Auggie untuk menjalani kehidupan normal layaknya anak-anak lain. Orang tua yang dengan bangganya mengakui bahwa sebuah berkah ketika memiliki anak istimewa seperti Auggie. Untuk Via, kakak Auggie yang merelakan perhatian orang tuanya lebih tercurah kepada adiknya. Gue tidak kecewa ketika akhirnya Via merasa muak untuk selalu dikaitkan dengan Auggie. Tidak mau dikenal karena Auggie. Menurut gue, itu juga normal untuk dirasakan. Ketika remaja, bukankah kita yang pernah menjalaninya juga begitu. Kita selalu mencoba untuk mencari jati diri. Berusaha untuk tampil dalam kesan yang sempurna. Selalu merasa bisa berdiri dengan kaki sendiri tanpa bantuan siapapun.
Keluarga memang bagaikan rumah yang nyaman. Tempat kita berlindung dan menjadi diri sendiri. Gue yakin memang butuh energi yang luar biasa untuk berjuang. Ketika salah seorang anggota keluarga membutuhkan materi dan perhatian lebih. Maka salut untuk mereka yang bisa bertahan. Bahkan bisa dikatakan sukses menjalaninya.
Untuk Mr Tushman, kepala sekolah yang berani kecaman beberapa orang tua murid ketika menerima Auggie. Gue jadi menginginkan seorang kepala sekolah sepertinya. Rasanya gue bisa menghadapi pidatonya yang panjang. Asalkan punya karakter seperti beliau. Begitu juga dengan guru-guru Auggie. Walaupun jarang sekali diceritakan. Namun, gue yakin apa yang mereka lakukan sepanjang Auggie bersekolah juga tidak kalah istimewa.
Untuk teman-teman Auggie yang luar biasa. Summer, seorang gadis cantik yang hatinya seperti emas. Yang membuat semua orang mengerti apa yang dimaksud dengan jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya. Jack, lelaki kecil yang berani meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. Buat teman-teman lainnya yang selalu berada di sisinya. Membantu dan membela Auggie ketika mendapatkan masalah. Bahkan untuk Julian yang kerap mengganggu Auggie. Terima kasih atas kebrengsekanmu. Setidaknya dengan begitu, Auggie belajar bahwa hidup memang tidak selalu berjalan dengan baik.
Benar kata Auggie, setidaknya memang sekali seumur hidup, seseorang mendapatkan sorak sorai tepuk tangan bergemuruh. Gue akan melakukannya untuk Auggie, semua tokoh di dalam novel ini, RJ Palacio sang penulis. Orang-orang yang memiliki kisah hidup mirip seperti novel ini. Semua orang di dunia ini yang telah berhasil berjuang untuk hidup. Salut untuk kalian semua!!! *berdiri dan bertepuk tangan dengan semangat*
Ampun dah..kocak abis. Semalem padahal udah capek dan ngantuk. Terus entah kenapa buku yang udah diincar dari kapan tau ini minta dibaca banget. Memul...moreAmpun dah..kocak abis. Semalem padahal udah capek dan ngantuk. Terus entah kenapa buku yang udah diincar dari kapan tau ini minta dibaca banget. Memulai dari halaman pertama aja udah bikin ngakak. Lanjut terus sampai halaman terakhir. Bukunya bisa dibilang detil banget untuk tahun 90-an. Tahun-tahun di mana gue menjalani kehidupan SD dan SMP. Mungkin buat yang tahun segitu ngejalanin masa SMA juga bakalan lebih ngakak lagi. Bagian mana yang gue suka dari buku ini? Semuanya, cooooyyyy... *ngakak ampe tahun depan*(less)
Tertarik membaca kumcer ini karena ada kasus plagiarisme cerpen "Kisah Muram di Restoran Cepat Saji". Tadinya gue pikir, cerpennya akan fantastis kare...moreTertarik membaca kumcer ini karena ada kasus plagiarisme cerpen "Kisah Muram di Restoran Cepat Saji". Tadinya gue pikir, cerpennya akan fantastis karena sampai diplagiasi. Ternyata, cerpennya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik dengan cerpennya. Baik isi, diksi, gaya penulisannnya biasa saja. Begitu juga dengan cerpen lain. Tidak ada yang istimewa. Biasa-biasa saja.(less)
Hmm..jujur gue suka tulisan mbak Sanie di buku-buku yang gue baca sebelumnya. Kalau di sini, rasanya mbak Sanie menuliskan kisah anak kuliahan tapi se...moreHmm..jujur gue suka tulisan mbak Sanie di buku-buku yang gue baca sebelumnya. Kalau di sini, rasanya mbak Sanie menuliskan kisah anak kuliahan tapi seperti berlangsung di dekade yang lalu. Cerita yang mengisahkan pecinta alam menurut gue terlalu kaku dibuatnya. Namun,seperti biasa gue selalu terkesima dengan pilihan katanya yang manis.
Sedangkan untuk bagian Widyawati Oktavia, gue suka hanya pada bagian awal cerita. Dari tengah hingga akhir, gue sudah merasa bosan. Karena dialog dibuat berputar-putar. Karakter tokohnya pun menurut gue tidak kuat. (less)
Alasan gue membeli buku ini karena salah satu penulisnya adalah Winna Efendi. Gue suka dengan gaya penulisannya. Untuk kemampuan teknik menulis, gue t...moreAlasan gue membeli buku ini karena salah satu penulisnya adalah Winna Efendi. Gue suka dengan gaya penulisannya. Untuk kemampuan teknik menulis, gue tidak perlu meragukannya. Bagian Winna Efendi gue baca dengan mulus dan terhenyak di bagian akhirnya. Ah, kenapa mesti begitu akhir ceritanya??? *subjektif, masalah selera*
Sehabis bagian Winna, gue tidak melanjutkan bagian selanjutnya yang ditulis oleh Yoana Dianika.Sejenak untuk menyiapkan otak gue untuk membaca sebuah tulisan baru. Buku ini mengisahkan satu cerita yang sama dengan dua sudut pandang berbeda. Lebih mudah buat gue untuk membandingkan tulisan mereka berdua. Yah, memang tulisan Winna lebih 'enak' dibaca. Namun, gue pikir tidak masalah. Mengingat jam terbang Winna pun lebih banyak. Semoga kedepannya tulisan Yoana Dianika semakin bagus.(less)
Dari sekian banyak puisi, gue suka satu puisi yang begitu sederhana. Tapi bikin jiwa ini terguncang. Hahahaha..s...moreBaca bareng puisi Goodreads Indonesia.
Dari sekian banyak puisi, gue suka satu puisi yang begitu sederhana. Tapi bikin jiwa ini terguncang. Hahahaha..sialan bangetlah..
Percakapan Ayah dan Anaknya
+ ayah, apa yang sebenernya paling hidup? - gerimis sajak di mata ibumu (less)
Gue mungkin akan memberikan lebih banyak bintang jika: 1. Ceritanya murni tentang pembunuhan. Tidak dikaitkan dengan supranatural. 2. Bolehlah ada supra...moreGue mungkin akan memberikan lebih banyak bintang jika: 1. Ceritanya murni tentang pembunuhan. Tidak dikaitkan dengan supranatural. 2. Bolehlah ada supranaturalnya. Tetapi jangan 'nanggung'. Narasinya tidak begitu nikmat dibaca. Apalagi ketika bagian seorang dukun bercerita tentang setan. Tidak pas dengan karakter dukun. 3. Penjelasan tentang emas, teknologi sosial media dan beberapa hal lainnya tidak diceritakan terlalu berlebihan. Atau mungkin cara menyusun kalimat dalam pargrafnya yang kurang apik. Sehingga antar paragraf terkesan tabrakan.
Menyenangkan membaca cerita tentang berbagai kue. Apalagi ketika mendapatkan tulisan cokelat. Rasa lapar langsung mendera.Yah walau yang gue inginkan...moreMenyenangkan membaca cerita tentang berbagai kue. Apalagi ketika mendapatkan tulisan cokelat. Rasa lapar langsung mendera.Yah walau yang gue inginkan hanyalah kue cokelat yang biasa. Tanpa sihir seperti yang ada di buku ini. Namun, karena sihirlah cerita tentang petualangan anak pemilik toko kue ini menjadi menarik.
Sebenarnya gue lebih tertarik dengan sosok Rose di keluarga Bliss. Sosok anak yang "rata-rata" di keluarganya. "Rata-rata" membuatnya jadi tidak terlihat. Tidak seperti Kakaknya, Ty yang tampan dan memesona. Adiknya Sage yang lucu atau Leigh yang cantik dan menggemaskan. Alhasil, Rose menjadi rendah diri. Lalu datanglah si bibi Liliy yang sepertinya bisa membuat Rose menjadi 'terlihat'? Akankah itu terjadi? Baca aja yuk...(less)
Ide cerita sebenarnya sederhana. Cuma memvisualisasikan komentar-komentar bola. Dan tadaaaaa..jadilah buku ini. Bagus sih gambarnya tetapi kurang di d...moreIde cerita sebenarnya sederhana. Cuma memvisualisasikan komentar-komentar bola. Dan tadaaaaa..jadilah buku ini. Bagus sih gambarnya tetapi kurang di detilnya aja. Yah, karena gue juga kurang suka sepakbola, jadi membolak-balik halaman ini dengan biasa-biasa aja. Gue lebih suka cerita Football's Coming Home. Alasannya karena lebih personal aja. Kayaknya bang Mice ini tipe melankolis yah..(less)
Jujur, gue bukan orang yang terlalu suka berbincang dengan orang yang sudah berusia senja. Entah kenapa kurang sreg saja. Bukan salah mereka tetapi gu...moreJujur, gue bukan orang yang terlalu suka berbincang dengan orang yang sudah berusia senja. Entah kenapa kurang sreg saja. Bukan salah mereka tetapi guenya yang canggung. Apalagi ketika menatap mata mereka yang diikuti dengan pertanyaan menyelidik. Mengerikan. Gue juga takut salah-salah omong, yang nantinya malahan dibilang tidak tahu sopan santun. Maka dari itu, gue menghindari mengobrol lama dengan mereka.
Membaca buku yang dipenuhi cerita tentang orag tua ini membuat gue berpikir ulang. Mungkin memang karena perbedaan zaman sehingga apa yang dibicarakan menjadi berbeda. Mungkin karena mereka mempunyai pengalaman hidup yang lebih banyak sehingga mereka lebih tau segalanya dibanding kita. Namun, yang pasti, mereka tidak mau menajdi kelihatan sok tahu atau cerewet. Kehidupannya membuatnya begitu. Mereka sepertinya hanya ingin ditemani berbincang. Mungkin...(less)
Cerita cinta yang berawal dari persahabatan? Biasa, udah banyak banget novel yang cerita itu. Okay, gue setuju. Namun, tema cinta mana lagi sih yang b...moreCerita cinta yang berawal dari persahabatan? Biasa, udah banyak banget novel yang cerita itu. Okay, gue setuju. Namun, tema cinta mana lagi sih yang belum pernah dituliskan. Jadi buat gue, bagaimana cara penulis menuturkan cerita menjadi penting. Tema boleh sama tetapi tidak dengan gaya penulisannya. Gue suka dengan cara Nilam bercerita. Begitu santai, tidak terlalu terburu-buru dan tapi tidak membosankan, pas. Dialog yang wajar dengan menyelipkan kata-kata manis di saat yang pas. Karakternya bukan orang yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Atau berupaya menjadi karakter anti-mainstream, yah lagi-lagi pas. Intinya, tidak berlebihan.
Semua serba pas. Hingga waktu di mana gue membaca buku ini pun pas. Ada seorang sahabat gue yang mempunyai cerita yang mirip dengan di buku ini. Apa gue tadi sudah bilang cerita ini memang terasa pas dengan kenyataa dan tidak berlebihan? Yah, begitulah..begitu pas dengan cerita teman gue. Seorang lelaki yang selalu ada di samping sahabat perempuannya. Seperti Adith kepada Nina. Mungkin posisi gue sebagai Danish yang sudah tahu bahwa memang Adith selalu mencintai Nina sejak lama.
Salahkah Nina yang tidak tahu kalau Adith suka sama dia? Yah, menurut gue tidak juga. Memang kadang seseorang yang terlalu dekat dan sudah terbiasa dengan seseorang. Pandangannya terhadap orang tersebut tidak lagi jernih, bias. Atau karena Nina memang kurang sensitif? Terlalu egois? Entahlah, tetapi jangan sekali-sekali memperdebatkan tentang keegoisan. Siapa lebih egois daripada siapa. Semua orang pernah berlaku egois. Yah, gue percaya itu.
Bahkan dengan mencintai seseorang terkadang merupakan tindakan egois. Lo tidak mau tahu apa seseorang yang lo cintai itu merasakan hal yang sama atau tidak. Okay, lo tidak apa-apa kalau orang yang elo cintai tidak merasakan itu. Asal lo mencintainya dan dia mau menerimanya. Menurut gue itu egois. Sama dengan seseorang yang dicintai tersebut memilih untuk pergi. Jadi masih mau menerka siapa yang paling egois di antara semuanya? Einstein benar, semuanya relatif. Tergantung bagaimana cara pandang lo.
Nilam, Cinta tak selalu tepat waktu? Kalau menurut gue cinta selalu tepat waktu. Waktu menurut cinta. Bukan menurut kita. Hanya ego kita yang menyatakan cinta tak tepat waktu. Ah, lagi-lagi ego..
Tambahan review setelah abca review orang lain: 1. Gue sih termasuk orang yang suka baca buku dengan POV lebih dari satu. Menurut gue bisa menghindari kebosanan. Lagipula gue orang yang punya cukup rasa ingin tahu tentang perasaan semua orang. 2. Di tiap awal bab memang ada potongan lagu dari band-band anti mainstream. Mugkin kalau bacanya sambil dengerin lagunya bakal oke banget. Yah, entahlah. Kalau gue sih sambil dengerin lagu-lagu mellow-nya Sara Bareilles. Enak juga, malah kadang bikin suasana tambah mellow yellow. Sigh..(less)
Seperti yang sudah gue duga dari awal. Pasti akan susah buat gue untuk menulis review buku ini. Di twitter, gue mngetakannya "persis" ketika membaca T...moreSeperti yang sudah gue duga dari awal. Pasti akan susah buat gue untuk menulis review buku ini. Di twitter, gue mngetakannya "persis" ketika membaca The Help. Gue terlalu menikmati cerita hingga lupa membuat tanda bagian yang menarik. Karena buat apa menandakannya kalau semuanya menarik.
Gue terpesona dengan diksi dan bagaimana cara penulis menyusun kalimat-kalimatnya. Pertama kali gue agak bingung bacanya. Namun seiring lembar demi lembar terbaca, akhirnya menjadi terbiasa. Buat gue, seminggu adalah waktu yang cukup lama untuk membaca sebuah buku. Walaupun setebal novel ini. Gue memang menikmati dan memahami apa yang tertulis. Karena terkadang bahasanya merupakan kiasan atau puitis.Tidak bisa membacanya selintas saja untuk mengerti.
Katanya sih ada dua cerita menyatu di novel ini. Kisah Mahabrata dan PKI. Keduanya tak begitu fasih gue pahami. Berkat novel ini setidaknya gue tahu ada cerita tentang sosok Amba dan orang-orang di sekelilingnya. Seorang perempuan yang kisah cintanya begitu memilukan. Lebih memilukan karena ini teradaptasi di tragedi PKI yang masih abu-abu menurut gue.
Jika Sitok Srengenge mengatakan "inilah novel Pulau Buru yang sebenarnya". Maka gue mengamininya. Sejak gue membaca Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya, gue jadi penasaran. Bagaimanakah gambaran sebenarnya tentang Pulau Buru. Tempat dimana para eksil 'dibuang dan diasingkan'. Dari novel ini, setidaknya tempat itu tergambarkan di kepala gue walaupun masih samar-samar.
Gue merekomendasikan novel ini untuk siapapun yang menyukai novel sejarah. Yang ingin mengetahui kisah Amba di Mahabrata atau eksil PKI di Pulau Buru. Yang mengagumi diksi yang tersusun puitis. Terakhir, yang menghargai riset sebelum menulis.
Gue tahu buku ini sejak lama tetapi tek pernah berniat membacanya. Alasannya sederhana yaitu tidak suka dengan gambar sampul depannya. Yah, walaupun a...moreGue tahu buku ini sejak lama tetapi tek pernah berniat membacanya. Alasannya sederhana yaitu tidak suka dengan gambar sampul depannya. Yah, walaupun ada yang bilang 'jangan menilai sesuatu dari sampulnya". Namun, saya memang salah satu yang tidak bisa mengikutinya. Sampul norak menyurutkan minat baca saya terhadap sebuah buku. Hanya kalau ada alasan yang penting saja, akhirnya gue membaca buku tersebut.
Untuk buku yang satu ini alasannya adalah untuk mencari tahu bagaimana isi ceritanya. Dalam rangka menyelenggarakan Klub Buku Goodreads Indonesia april nanti. Temanya adalah perempuan eksil peristiwa PKI. Gue penasaran siapakah Gitanyali? Yang ternyata gue terkecoh, karena dia adalah seorang lelaki. Namun tak mengapa, gue lanjutkan sampai akhir buku ini.
Terlalu sedikit informasi yang diceritakan tentang peristiwa PKI ataupun keluarga dari orang yang dituduhkan sebagai anggota PKI. Malahan gue lebih banyak mendapatkan kisah esek-esek seorang pemuda yang pintar menulis. Entahlah, mungkin ada pentingnya menceritakan hal-hal tersebut. Sayang gue tidak tertarik untuk mengetahuinya. Begitupun dengan buku selanjutnya, 65, gue pun tidak tertarik membacanya.(less)
Sejujurnya gue sedang tidak mood membaca buku motivasi-inspiratif seperti buku ini. Namun, karena di rak buku gue sudah tidak banyak yang menarik. Mak...moreSejujurnya gue sedang tidak mood membaca buku motivasi-inspiratif seperti buku ini. Namun, karena di rak buku gue sudah tidak banyak yang menarik. Maka gue pilihlah buku ini untuk dibaca. Buku yang sudah dipinjam beberapa orang padahal gue sendiri belum baca. Gue tidak langsung membacanya karena masih ragu dengan pendapat banyak orang yang bilang buku ini bagus. Tidak seperti buku pertamanya 9 Matahari yang menurut gue sih biasa saja.
Ternyata buku ini lanjutan dari cerita tersebut. Masih dengan tokoh Matari yang mengejar cita-citanya. Jika buku sebelumnya berakhir dengan menggantung karena terlibat banyak hutang. Di buku inilah akhirnya Matari mencoba melunasi hutang-hutangnya kepada banyak orang. Di sini, karakternya berpikiran jauh lebih dewasa. Walaupun kalau dipikir-pikir agak drastis sih perbedaan karakternya.Padahal Matari tidak melewati sebuah peristiwa yang bombastis sejak perkuliahannya hingga dia mulai bekerja.
Kisah Matari dalam melunasi utang-utangnya ini memang inspiratif. Walaupun begitu tokoh Matari tetap digambarkan sebagai seseorang yang juga bisa terpuruk dalam keadaan buruk. Namun, jiwanya yang pantang menyerah dan dukungan teman-temannya membuat dia semangat. Yang membuat cerita ini menarik juga karena memang tidak hanya tokoh Matari yang diceritakan. Namun, juga orang-orang yang bersinggungan dengan hidupnya. Yah, mereka pun punya kisah inspiratif yang bisa dibagikan kepada pembaca.
Kalau saja buku 23 Episentrum ini hanya berupa buku atdi. Kemungkinan besar gue akan memberikan tiga bintang saja. Namun karena ada tambahan satu buku, bolehlah gue menambahkan satu bintang lagi. Buku ini mengisahkan 23 pemuda-pemudi yang memang nyata keberadaannya. Tak kalah inspiratif dengan cerita fiksi yang ditulis Adenita. Mereka bisa dibilang sukses di usia yang masih muda. Walaupun begitu, Adenita tidak lupa menceritakan proses mereka menuju sukses. Karena pada saat itulah kedewasaan tumbuh ketika banyak halangan dan rintangan yang harus dihadapi. Ini menjadi pengingat untuk pembaca. Jangan lihat ujungnya saja tetapi secara keseluruhan. Nikamt sukses perlu proses perjuangan hidup.
perjalananku bukan perjalananmu perjalananku adalah perjalananmu
Mendapati tulisan ini di sampul depan buku Titik Nol membuat saya penasaran. Apakah ma...moreperjalananku bukan perjalananmu perjalananku adalah perjalananmu
Mendapati tulisan ini di sampul depan buku Titik Nol membuat saya penasaran. Apakah maksud tulisan Agustinus Wibowo di buku terbarunya ini. Lekas-lekas saya buka dan mulai membacanya. Betapa kagetnya saya ketika membaca kisah perjalanan ini tidak dimulai di negara tempatnya bertualang. Melainkan dibuka dengan kepulangannya ke tanah air, Indonesia, demi seorang Mama. Saya tidak menyangka Agustinus akan memasukkan kisah bundanya ke buku ini. Karena sepengetahuan saya, Agustinus bukanlah seseorang yang mudah menceritakan kisah keluarganya ke khalayak umum. Maka dari awal, saya sudah menyiapkan diri untuk membaca buku yang berbeda gaya tulisannya dibandingkan dengan dua buku sebelumnya, Selimut Debu dan Garis Batas .
Perjalanan dengan ranselnya dimulai di dalam kereta penuh sesak dari Beijing menuju Xinjiang. Inilah Titik Nol menuju negeri bernama Tibet. Narasi dan deskripsinya yang apik membuat saya berada di sana. Merasakan udara dingin sambil menatap langit biru yang cerah. Selain tulisan, Agustinus juga menyuguhkan hasil jepretan kameranya. Tidak usah meragukan seberapa bagus foto-foto pemandangan alamnya. Dipastikan pembaca akan terpukau dibuatnya. Namun, saya paling menyukai potret wajah dengan berbagai mimik. Dibalik senyuman, tatapan atau kerut wajah tersimpan begitu banyak cerita. Profesi wartawan foto dan kelihaian berinteraksi dengan warga lokal memudahkannya untuk mendapatkan gambar eksklusif. Meskipun Agustinus sempat khawatir pekerjaan(kemanusiaan)nya ini malah membunuh rasa kemanusiaan dalam dirinya. Karena acap kali pada peristiwa penuh ‘luka’, dia hanya memotret tanpa bisa menolong secara langsung.
Namun selama tujuannya baik, Tuhan pun memberkahi semua yang dilakukan. Dalam perjalanan yang tidak mudah, saya merasa Tuhan begitu melindungi Agustinus. Negara yang dia datangi bukanlah negara-negara maju yang semua fasilitasnya tersedia lengkap. Melainkan negara yang berjuang di dalam keterbatasan. Lokasi sulit dengan kondisi alam yang ekstrim juga tidak menyurutkan langkahnya. Perjalanannya juga tidak lepas dari bahaya, bahkan nyawa menjadi taruhannya. Entah berapa kali saya membaca cerita dia dirampok dan dilecehkan secara verbal, non verbal bahkan seksual. Atau hampir terbunuh ketika dia terseret arus sungai deras. Lagi-lagi semua hal tersebut tidak menghentikannya.
Mungkin hanya sakit fisik berupa hepatitis yang dia dapatkan di India yang akhirnya memaksa dia untuk berhenti. Tuhan seakan mengingatkan bahwa setiap orang butuh istirahat. Namun, Agustinus memang orang yang keras. Dia tetap melangkah melewati perbatasan menuju Pakistan. Di mana dia menemukan sebuah keluarga baru lagi. Yang menumbuhkan rasa optimisme terhadap perjalanannya. Agustinus pun terhenti ketika rencanannya tidak berjalan dengan mulus di Kathmandu, Nepal. Wajarlah jika seseorang tertimpa kesialan. Sebagai manusia biasa, dia juga mengeluh akan kesialan yang menimpanya. Butuh waktu untuk berdamai dan kembali menyusun rencana barunya. Yang pasti ada waktu dimana dia bangkit dan melangkah lagi. Menyusuri jalanan yang tidak beraspal dengan menumpang kendaraan tua yang sudah reyot.
Agustinus bukanlah seorang yang sibuk dengan melabeli dirinya atau orang lain dengan sebutan backpacker, traveler, explorer atau apapun itu. Baginya arah tak begitu penting dan destinasi bukanlah yang dicari. Melainkan makna dari sebuah perjalanan. Dari perjalanan itu, Agustinus belajar tentang arti perjuangan, optimisme, kehilangan ataupun kematian. Makna-makna ini didapatkan ketika ia berkontemplasi diri. Atau ketika ia berbincang dengan orang-orang yang dia temui di tengah perjalanan. Entah sesama pejalan seperti Lam Li yang dia anggap seperti guru. Seorang pandita suci dari Tibet atau India. Seorang alim ulama dari Pakistan atau Afghanistan. Ataupun orang yang ia temui sekilas dan dengan mereka berbagi kebahagiaan. Berupa makanan lokal dan obrolan penuh canda tawa. Alam pun mengajarkan banyak hal kepadanya. Bagaimana menjadi seorang yang bersyukur, melpaskan ego diri dan berani berjuang. Dari kesemunya, Agustinus belajar bagaimana menghargai kehidupan.
Namun, Agustinus yang sanggup melewati ujian dii tempat yang terisolasi akhirnya takluk pada penyakit kanker yang diidap Mama. Bahkan di awal, Agustinus sudah menuliskan "Seketika, semua jadi tanpa arti." Agustinus menyesal selama bertahun-tahun tidak pernah berkomunikasi lebih sering dengan Mama. Dia mencoba menebus waktu kebersamaan yang hilang selama mereka hidup berjauhan dengan menceritakan Safarnama (catatan perjalanan) kepada Mama. Mencoba menyusun kepingan-kepingan sosoknya dalam benak Mama. Setiap akhir fragmen kisah perjalanannya, Agustinus membawa pembaca kembali ke kamar di sebuah rumah sakit. Paragraf bercetak miring tersebut membuat Agustinus terlihat sebagai seorang manusia biasa. Yang bisa sedih, kecewa, menyesal dan menitikkan air mata. Begitu berbeda dengan sosoknya yang tangguh ketika menjalani petualangannya.
Safarnama milik Agustinus akhirnya kembali kepada Mama. Pada sosok yang dicintai itulah,dia pulang ke rumah. Setiap dari kita memang memiliki catatan perjalanan sendiri. Namun, Agustinus percaya bahwa hakikatnya sama. "Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat ke dalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berbubuh noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang.”
Terima kasih, Agustinus telah meminjamkan lagi panca inderanya untuk mengenalkan pembaca akan negeri Tibet, Nepal, India, Pakistan, Kashmir dan Afghanistan. Memaknai perjalanan lebih dari sekadar memuaskan ego. Buku ini memang terasa lebih personal dan hangat. Berat pasti rasanya membuka diri tetapi saya yakin itu mendekatkanmu dengan pembaca. Bukan hanya kisah keluargamu tetapi saya juga tidak pernah mengira akan berjumpa dengan bab khusus tentang agama. Sesuatu yang segan kau bicarakan. Saya ingat percakapan kita waktu dulu tentang agama dan kau berkata, agamaku adalah kemanusiaan.”Maka bolehlah saya mengucapkan terima kasih pula karena melalui tulisanmu, pembaca telah diperbolehkan untuk mengenalmu lebih jauh .
Akhirnya akan saya tutup resensi ini dengan menghadirkan sebuah kutipan dari buku Titik Nol. Saya hadirkan berupa paragraf utuh dengan harapan semua orang bisa melihat betapa dalam pemikiran Agustinus Wibowo yang begitu mengena di hati:
”Safarnama itu bukan melulu tentang kisah-kisah eksotis. Perjalanan itu bukan hanya soal geografi dan konstelasi, perpindahan fisik, lokasi dan lokasi. Perjalanan adalah melihat rumah sendiri layaknya pengunjung yang penuh rasa ingin tahu, adalah menemukan diri sendiri dari sudut yang selalu baru, adalah menyadari bahwa Titik Nol bukan berhenti di situ. Kita semua adalah kawan seperjalanan, rekan seperjuangan yang berangkat dari Titik Nol, kembali ke Titik Nol. Titik Nol dan titik akhir itu ternyata adalah titik yang sama. Tiada awal, tiada akhir. Yang ada hanyalah lingkaran sempurna, tanpa sudut tanpa bats. Kita jauh melanglang sesungguhnya hanya untuk kembali.”(less)
Agak lama gue memutuskan untuk membaca buku ini. Karena taut terpengaruh dengan pendapat banyak orang. Khususnya cerita-cerita Windy atas respon-respo...moreAgak lama gue memutuskan untuk membaca buku ini. Karena taut terpengaruh dengan pendapat banyak orang. Khususnya cerita-cerita Windy atas respon-respon pembacanya. Senin kemarin, akhirnya gue siap untuk membaca cerita mereka.
Gue selalu menyenangi gaya menulis mereka berdua. Vabyo dengan tulisannya yang membuat kulit muka terasa kencang karena tertawa. Atau tulisan Windy yang membuat kening berkerut, berusaha untuk memahami makna.
Sepengetahuan gue yang minim, banyak yang tidak suka dengan tulisan Vabyo di buku ini. Yah masalah selera, mungkin. Buat gue tidak berbeda dengan tulisan sebelumnya. Masih senang bermain rima dan 'twist' di akhir. Mungkin karena kesamaannya menjadi terasa biasa saja. Tidak terlalu istimewa memang. Namun, masih layak untuk dibaca. Yang pasti gue senang sudah pergi ke Sawarna sebelum membaca tulisannya. Gue bisa menikmati keindahan alam tanpa sibuk mencari sosok anak kecil di dalam cerita. Memandangi mereka dan menebak apakah dia yang diceritakan.
Menurut Windy, pembacanya terbagi ke dua kutub. Kutub yang sangat menyukainya, sedangkan tidak pada kutub lainnya. Gue? Setelah membaca tulisannya, ada di kutub pertama yang telah gue sebutkan. Sebenarnya sepanjang membaca tulisannya, ada pertanyaan yang terus menempel di benak gue. Seberapa banyak dia memasukkan fakta tentang dirinya ke dalam tulisannya. Bagian dari dirinya, misal pekerjaan dan kesukaannya. Atau pengalaman-pengalaman hidupnya. Gue memang belum mengenal Windy dengan baik tetapi beberapa kali gue seperti membaca kisahnya. Setidaknya dengan tulisan ini, gue jadi lebih mengenal sosoknya. "Jadi, cinta hanya perlu dalam kadar cukup, ya Kak? Tidak lebih, tidak kurang."(less)
Itu yang hati gue suarakan ketika melihat gambar pertama setelah daftar isi. Dua halaman penuh gambar seorang Pak Pos bersepeda...more"Tjakeeeeppppssss!!!!"
Itu yang hati gue suarakan ketika melihat gambar pertama setelah daftar isi. Dua halaman penuh gambar seorang Pak Pos bersepeda merah di jalan tanah yang tak terlalu lebar. Di kedua sisinya terdapat hamparan rumput hijau dengan pohon-pohon di kejauhan. Langit birunya pun tampak cerah dengan gugusan awan putih.
Gambar Kim Dong Hwa memang selalu saja sedap dipandang mata. Setelah Trilogi Warna, karyanya hadir kembali di Indonesia lewat seri Sepeda Merah. Sepertinya akan ada empat buku. Awalnya gue akan menunggu keempat bukunya diterjemahkan lalu gue baca secara marathon. Karena takut gemas menunggu cerita selanjutnya kalau hanya baca dua buku. Namun apa daya tak kuasa menahan rasa ingin tahu isi bukunya. Akhirnya dibaca juga...
Selain gambarnya yang bagus, kata-kata Kim Dong Hwa juga menarik. Dia membuat ide cerita bahwa rumah-rumah yang ada di cerita tidak akan dikenali dengan nomor. Melainkan dibuat menarik dengan ciri fisiknya atau empunya rumah. Misalnya rumah putih di jalan yang dipenuhi pohon poplar atau rumah nenek yang berbicara dengan kata-kata kotor. Gue suka dengan kehidupan para opa oma di novel ini. Khususnya tentang cerita opa yang gemar menceritakan kabar baru di makam istrinya. Gue juga suka ketika Kim Dong Hwa membuat cerita tentang seorang nenek tua yang sudah keriput. Garis-garis keriput tersebut menjadi lebih bermakna. Gue paling suka komparasi antara Tukang Pos dan Kondektur Kereta. Membandingkan perjalanan fisik dan perjalanan mental, membawa tubuh dan membawa hati.
Gue yakin banyak perempuan akan jatuh cinta dengan Pak Pos yang sepertinya masih lajang. Paras rupawan, perilaku santun dan baik hati adalah karakternya. Belum lagi dia adalah seorang yang puitis dan romantis. Lelaki juga akan merasa iri dibuatnya karena semua orang jatuh hati padanya. Namun, siapa yang tidak? Gue juga iri ketika melihatnya bekerja yang seperti tidak ada beban. Walaupun sebenarnya pasti pekerjaan Pak Pos sangat melelahkan, apalagi dilakukan dengan bersepeda. Namun sekali lagi, dia membuat pekerjaannya jadi terlihat mudah dan menyenangkan,
Kim Dong Hwa dalam novel grafisnya kali ini mengambil latar belakang tempat di pedesaan. Yang kehidupannya berjalan dengan sederhana. Namun di akhir cerita, ada pengarus modernisasi kota yang masuk dari kota. Jadi penasaran, apa yang akan terjadi dengan Desa Yetdong yang asri tersebut. Akankah berubah menjadi komplek-komplek rumah besar dengan masyarakat yang menjadi individualis? Yuk mari baca buku selanjutnya..
Jujur saja, bab pertama dan kedua novel ini menguji kesabaran gue. Hingga akhirnya memasuki bab tiga, gue mulai merasa lega. Bab berjudul drama ini me...moreJujur saja, bab pertama dan kedua novel ini menguji kesabaran gue. Hingga akhirnya memasuki bab tiga, gue mulai merasa lega. Bab berjudul drama ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga terutama adiknya. Di bab inilah gue baru merasakan adanya emosi yang disertakan dalam tulisannya. Namun sayang, ternyata hal ini tidak dilanjutkan dengan bab-bab selanjutnya sampai halaman terakhir.
Penulis (ketika Klub Buku GRI) mengatakan bahwa memang pada awalnya, tulisannya berupa esai tentang geopolitik. Karena ingin memperluas pangsa pembaca, maka dibuatkanlah menjadi novel. Mungkin bagi sebagian orang langkah itu berhasil. Membuat esainya tentang geopolitik berhasil dicerna tidak untuk kalangan tertentu saja (khususnya yang menarik minat di bidang geopolitik). Namun, buat gue langkahnya membuat novel menjadi terlalu dipaksakan. Karena elemen-elemen novel seperi karakter, alur, setting dan lainnya kurang hadir dengan maksimal. Bahkan untuk dialog pun tidak ada sama sekali di novel ini. Mungkin tidak mengapa ketika novel ini bebas dialog tetapi diimbangi dengan deskripsi yang bagus oleh penulisnya. Sayang sekali itu kurang didapat di novel ini.
Sehingga gue merasakan bahwa buku ini menjadi 'nanggung'. Karena kurang memenuhi elemen-elemen untuk dibilang sebagai novel. Namun tidak bisa dibilang juga buku ini merupakan non-fiksi. Buat gue, seharusnya penulis dan editor memilih salah satunya. Benar-benar ditulis sebagai esai (non fiksi) sehingga maksud-pesan bisa tersampaikan dengan jelas tanpa bias kisah fiktif. Atau menggali dan menggunakan keahlian menulis fiksi lebih baik sehingga tidak membosankan untuk dinikmati pecinta novel.
Penulis juga mengatakan bahwa jika menginginkan novel ini berdialog dan penuh deskripsi yang mengembangkan daya imajinasi, kita lebih baik menonton film saja. Menurut gue, jawaban tersebut kurang cerdas untuk dikemukakan. Karena pertama, bukan hal yang cerdas membandingkan buku dan film yang jelas-jelas berbeda dalam medianya. Kedua, novel seharusnya membuat para pembacanya dapat menggunakan daya imajinasinya. Kalau novel tersebut ternyata membosankan dan tidak membuat pembacanya berimajinasi. Tentu saja itu bukanlah salah pembaca seorang. Ada andil penulis di dalamnya. Mungkin saja memang tulisannya benar-benar 'kering'.
Novel berujudul Jakarta! ini ternyata hanya membahas kota Jakarta dalam skala kecil di dua bab terakhir dari tujuh belas bab yang ada. Apakah karena ditaruh di bab akhir, Jakarta menjadi kesimpulan cerita dalam novel ini. Sayangnya menurut gue tidak, karena Jakarta hanya terasa sebagai latar belakang tempat di akhir cerita saja. Walaupun begitu, ide cerita dan pemikiran penulis cukuplah menarik. Usahanya untuk mengenalkan geopolitik kepada khalayak lebih luas juga patut diapresiasi. Namun kedepannya, penulis harus benar-benar fokus tulisannya mau dibuat sebagai karya fiksi atau non fiksi. Jangan berhenti menulis dan ditunggu karya berikutnya!(less)