Aduh, kangen deh gue sama novel Entrok nya mbak Okky. Tiga karya setelahnya belum ada yang bisa bikin gue kasih bintang lebih dari tiga. Termasuk buku...moreAduh, kangen deh gue sama novel Entrok nya mbak Okky. Tiga karya setelahnya belum ada yang bisa bikin gue kasih bintang lebih dari tiga. Termasuk buku ini. Gue ga bilang buku ini jelek. Buku ini bagus. Tapi menurut gue terlalu banyak topik yang ingin disampaikan. Jadinya semua tidak fokus bahasannya.Tidak mendalam.(less)
Dalam novel remaja ini, ada seorang tokoh yang bernama Tiny Cooper. Berperawakan tinggi besar. dari caranya melangkahkan kaki, orang tahu dia menjalan...moreDalam novel remaja ini, ada seorang tokoh yang bernama Tiny Cooper. Berperawakan tinggi besar. dari caranya melangkahkan kaki, orang tahu dia menjalani waktu dengan ceria. Tutur katanya positif dan jujur apa adanya. Karena itulah, dengan mudah dia dekat dengan orang lain. Di kehidupan nyata, gue juga punya teman yang mirip sekali Tiny Cooper.
Jadi, pada sebuah sore yang mendung. Tidak, rintik-rintik. Tiny Cooper mengajak gue pergi ke sebuah toko buku. Agak males sih. Namun, dia mulai bertingkah aneh dengan meniru suara-suara binatang di telepon. Daripada makin parah kondisi kejiwaannya. Maka lebih baik buat gue untuk menemaninya. Sampailah sore itu, kita ubek-ubek toko buku di dalam sebuah mal eksis di Jakarta. Eh, dia malah hanya mendapatkan satu buku saja. Sedangkan gue dapat 4 buku karya John Green. Memang gue lagi kepengin baca novel-novelnya setelah The Fault In Our Stars. Dari keempat buku yang gue beli, Looking For Alaska adalah yang pertama kali dibaca karena diajak baca bareng sama Momo dan Zaizai. Eh gue malah selesai duluan.
Tadinya gue tidak mau lanjut lagi baca novel John Green yang lain. Tiny Cooper juga bilang kalau akan membosankan kalau gue melakukannya. Gue pun mengiyakannya pada pertama kali. Namun, pada akhirnya gue tidak tertarik dengan buku-buku lainnya yang belum dibaca. Akhirnya gue pilihlah buku ini, setidaknya ditulisnya duet dengan David Levithan.
Gue suka dengan novel ini karena sering banget buat gue tertawa. Dari dua novel John Green sebelumnya, ini paling lucu dan menyenangkan. Mungkin juga karena tidak ada tokoh yang mati di novel ini. Gue malah jadi tertarik untuk membaca novel dari David Levithan.
Oh iya. Novel ini bercerita tentang dua orang yang bernama sama, Will Grayson. Tanpa sengaja mereka berdua bertemu di sebuah tempat pada suatu malam yang payah bagi keduanya. Yang satu straight, lainnya gay. Namun, keduanya punya karakter yang hampir mirip. Mereka tidak mau terlalu terlibat percakapan dengan orang lain atau malah pada kehidupan.
Walaupun begitu, tokoh Tiny Cooper jadi tokoh yang paling menarik buat gue. Bahkan bisa dibilang, kedua tokoh Will Grayson terhubung oleh Tiny Cooper. Gue paling suka dua bab terakhir. Sukanya suka banget. Kenapa? Baca sendiri aja...(less)
Baca bareng Momo dan Zaizai. Sepertinya mereka belum selesai atau entahlah. Ehehehe..gue gak tahan untuk terus membacanya. Pengin tahu kenapa tiap cer...moreBaca bareng Momo dan Zaizai. Sepertinya mereka belum selesai atau entahlah. Ehehehe..gue gak tahan untuk terus membacanya. Pengin tahu kenapa tiap ceritanya selalu diawali dengan hitungan mundur menuju Hari H.Apa yang terjadi pada Hari H tersebut. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada Pudge, Colonel, Alaska, Takumi atau Lara? Semakin dekat dengan bagian Hari H, semakin deg-degan pengin tahu. Dan ketika selesai membaca bagian Hari H. Gue kemudian berhenti membaca. Gue...terpuruk.. Ah udah ah males menceritakannya. Baca sendiri aja yah.. *makan es krim membangkitkan mood*(less)
Tertarik membaca buku ini karena label pemenang DKJ 2012. Penasaran dengan gaya menulisnya. Dan setelah dibaca ternyata menarik. Melompat-lompat tapi...moreTertarik membaca buku ini karena label pemenang DKJ 2012. Penasaran dengan gaya menulisnya. Dan setelah dibaca ternyata menarik. Melompat-lompat tapi tidak membuat gue kelelahan. Ocehan-ocehan yang terkesan ngawur ketika diperhatikan ternyata "berisi". Di bagian tengah dari buku ini cerita mulai intens. Logika dipermainkan dengan sosok ikan mas koki hadir ke dalam cerita. Menelaah mana yang riil mana yang tidak. Mana yang patut direnungi mana yang tidak perlu diacuhkan. Namun, buat gue yang kurang dari buku ini adalah bagian akhirnya. Terlalu biasa dan kurang menghentak. Tidak bisa dikatakan antiklimaks karena memang mungkin penulisnya menginginkan klimaksnya begitu. Namun, tak usah khawatir, banyak klimaks yang didapatkan sepanjang membaca buku ini. Kurang satu hal saja tidak membuat kepiawaian menulis sang penulis menjadi diragukan. Siapa pula yang meragukan pilihan dewan juri DKJ untuk memilih sang jawara?(less)
1. Lo jangan ragu-ragu menolong orang lain. Bahkan ketika orang itu adalah buronan. Lo ga bakal tau di kemudian hari...morePelajaran moral yang bisa diambil:
1. Lo jangan ragu-ragu menolong orang lain. Bahkan ketika orang itu adalah buronan. Lo ga bakal tau di kemudian hari bisa hip hip hura hura pakai uang orang tersebut. Ya kalau uang itu halal atau haram ya terserah situ deh ya.
2. Ga usah sok ngehits sana sini dengan uang yang lo ga tau darimana asalnya. Udah gitu menimbun hutang. Mending uangnya dibikin usaha. Investasi apalah gitu. Emas kek, lagi naik tuh harganya.
3. Move ooooonnnnn... Kalau lo ditinggal kawin atau diputusin. Plis, move on. Jangan malah bikin sengsara hidup orang lain dengan kegalauan lo. Dan akhirnya lo mati dalam kegalauan. Pedih mak, pedih...
4. Jadi orang jangan sombong. Pas lagi seneng aja nggak inget sodara. Pas lagi susah, baru deh inget sodara. Cih...(less)
Tertarik membaca buku ini karena Echa bilang banyak sentuhan budaya Kalimantannya. Awalnya sih iya. Cerita tentang Balian di Dayak Meratus. Namun, lam...moreTertarik membaca buku ini karena Echa bilang banyak sentuhan budaya Kalimantannya. Awalnya sih iya. Cerita tentang Balian di Dayak Meratus. Namun, lama-lama ceritanya kok setipe dengan Laskar Pelangi. Kemudian pindah lagi ke kota dan bertualang, semakin saja hilang pesona kalimantannya. Baru di akhir-akhir saja sedikit kembali ada. Namun, ekspektasi gue tidak terpuaskan. Cukup tiga bintang saja.(less)
Sebenarnya gue tidak pernah tertarik membaca salah satu karya Jane Austen. Takutnya membosankan. Yah, berdasarkan buku-buku klasik yang gue baca biasa...moreSebenarnya gue tidak pernah tertarik membaca salah satu karya Jane Austen. Takutnya membosankan. Yah, berdasarkan buku-buku klasik yang gue baca biasanya sih memang narasinya bertele-tele. Apalagi buku ini cukup tebal dengan hampir enam ratus halaman. Namun, karena harus siaran membahas buku Pride, Prejudice and Zombies. Gue pikir akan lebih baik jika gue membaca aslinya saja. Kemudian membandingkan dengan versi plesetannya.
Balik lagi ke novel ini. Wah ternyata gue menikmatinya. Bertele-tele? Tentu saja. Namun, entah mengapa gue kuat menghadapinya. Gue suka sekali ketika Miss Elizabeth berdebat. begitu juga dengan karakter ayahnya, Mr Bennet yang punya perangai sarkastik. Bayangkan ini kisah dituliskan sekitar dua ratus tahun lalu dan masih memikat. Sungguh luar biasa.(less)
Emang ya kalau udah soal warisan. Apalagi jumlahnya banyak. Jadi rebutan semua orang yang merasa berhak. Kemudian siapa yang paling diuntungkan? Penga...moreEmang ya kalau udah soal warisan. Apalagi jumlahnya banyak. Jadi rebutan semua orang yang merasa berhak. Kemudian siapa yang paling diuntungkan? Pengacara. Duh mending jadi pengacara aja apa gue yak *berniat alih profesi*. Oh satu lagi pelajaran dari buku ini yang paling membekas. Kalau ada orang angkuh, lo mesti curiga. Ada sesuatu yang dia rahasiakan. Sikap angkuhnya merupakan cara dia bertahan terhadap kelemahannya. Begitu...(less)
Bagus sih ide ceritanya. Walaupun agak 'gelap' tatapi masih pas buat anak-anak. Tapi itu lho kok ceritanya lambat banget menurut gue. Jadi agak-agak m...moreBagus sih ide ceritanya. Walaupun agak 'gelap' tatapi masih pas buat anak-anak. Tapi itu lho kok ceritanya lambat banget menurut gue. Jadi agak-agak membosankan kecuali aps bagian serunya aja. Misalnya kalau lagi Memudar. Aaakkk, gue juga mau memudar, kan seru bisa menghilang terus ngejahilin orang, hehehe..(less)
Gilak! Duh serem banget deh baca buku ini. Banyak banget kengerian yang gue dapetin di buku ini. Pernikahan dini yang dipaksakan Larangan bersekolah....moreGilak! Duh serem banget deh baca buku ini. Banyak banget kengerian yang gue dapetin di buku ini. Pernikahan dini yang dipaksakan Larangan bersekolah. Biaya dan urusan pernikahan yang menyulitkan. Dan seterusnya...
Betapa merananya hidup yang mesti dilalui bayak gadis di India. Mungkin saja begitu juga di Indonesia dan negara lain. Entahlah. Yang pasti, manusia yang tak perlu merasakan penderitaan tersebut haruslah bersyukur. Karena ternyata banyak orang yang tak seberuntung dirimu..(less)
Waktu pertama kali baca buku ini, gue langsung terkesima dan ngeri. Di otak gue langsung terngiang-ngiang, "Sakit jiwa nih penulisnya...sakit bener.."...moreWaktu pertama kali baca buku ini, gue langsung terkesima dan ngeri. Di otak gue langsung terngiang-ngiang, "Sakit jiwa nih penulisnya...sakit bener..". Yah, terus lanjut dibaca sampai kalau gak tahan lagi, gue berhenti dan dilanjut lain waktu. Gue nggak ngerti ya, apakah ada 'bolong' atau 'miss' nya dari rentetan cerita pembunuhan berantai ini. Yang gue rasa cuma kengerian. Jujur, ini bukan genre yang biasanya gue baca. Sama seperti film, agak males baca buku yang ada bunuh-bunuhannya dalam setting dunia nyata dan bukan fantasi.
Setuju dengan reviewnya bang Christian. Karakter Ello dan Tara jadi terlihat sama ketika ada pergantian POV. Tapi mungkin aja ya karena emang keduanya 'sakit', jadi karakternya mirip. Setuju juga perbendaharaan kata penulis patut diacungi jempol. Yaiyalah, masa' editor perbendaharaan katanya miskin? ehehehe..(less)
Yah, tadinya gue bakalan ngasih lima bintang buat novel ini. Mengapa? Karena tokoh utamanya bernama Harun. Ahahahaha..narsis yak? Ya gapapalah..kan ja...moreYah, tadinya gue bakalan ngasih lima bintang buat novel ini. Mengapa? Karena tokoh utamanya bernama Harun. Ahahahaha..narsis yak? Ya gapapalah..kan jarang-jarang ada penulis mau ngasih nama tokoh utamanya Harun. Ya kan..ya kan..ya kan???? Namun, akal gue masih sehat. Jadilah gue ngasih hanya tiga bintang. Yak, agak ribet ya baca dongengnya. Yang ada kalau ini dongeng dibacain pas sebelum tidur, yang ada malah mikir. Tapi ya seharusnya gue negrti sih sebelum baca novel ini. Man, ini penulisnya Salman Rushdie gitu. Ya kali tulisannya enteng dan ringan. Tapi, tapi, tapi...boleh dong gue berharap bahwa tulisannya ringan untuk dibaca. Ternyata hai ternyata, susak mak.. Padahal kan sampul bukunya lucu gitu, anak-anak banget. Jangan sampai aja anak-anak yang dibaca. Yang ada mereka malah banyak nanya. Apa jangan-jangan mereka ngerti ya. Seperti halnya anak-anak baca buku Alice in the Wonderland atau Pangeran Kecil? Hmmmm..Ah, ribet deh jadi dewasa... :)))))))(less)
Sebenarnya bingung sekali buat gue untuk memulai tulisan ini. Novel “Wonder” jelas adalah salah satu buku bagus yang akan susah untuk dibuat resensi....moreSebenarnya bingung sekali buat gue untuk memulai tulisan ini. Novel “Wonder” jelas adalah salah satu buku bagus yang akan susah untuk dibuat resensi. Namun, gue akan tetap menuliskannya karena gue sudah berjanji dengan diri sendiri sejak awal membacanya. Tadinya gue tidak mau membaca novel ini. Bayangkan, membaca sinopsis di bagian belakang novel saja sudah membuat gue sedih. Gue sedang tidak mau membaca novel yang akan bikin mewek. Namun, teman-teman GRI meyakinkan gue kalau novel ini tidak sekadar bagus melainkan istimewa. Sayang, novel ini tidak kunjung gue temukan setiap berkesempatan berkunjung ke toko buku. Sampai akhirnya akhir pekan lalu gue mendapatinya dan langsung gue baca malam itu juga.
Jujur, gue merasa kesal dan jahat. Karena ketika memulai dan terus membaca, gue tidak membayangkan August (Auggie) Pullman, tokoh dalam novel ini sesuai deskirpsi penulisnya. Gue membayangkan fisik Auggie sama persis dengan anak normal lainnya. Oke, Auggie normal tetapi tidak dengan wajahnya dan gue tidak bisa membayangkannya di wajah gue. Mungkin gue akan menjadi salah satu orang yang akan terkesiap ketika melihat wajah Auggie. Kemudian pergi meninggalkan Auggie. Bukan karena merasa jijik tetapi tidak tahan untuk tidak merasa sedih. Ya, gue jahat, gue tahu.
Gue memang tidak mempunyai seorang teman/keluarga dekat yang memiliki kelainan fisik terutama wajah. Sehingga gue tidak mengerti bagaimana perasaan mereka yang dekat dengan Auggie. Namun, akhirnya gue mencoba untuk merenung. Membayangkan bahwa mungkin saja ada saatnya gue mempunyai orang dekat seperti Auggie. Kemudian apa yang gue lakukan. Apakah gue akan bersikap seperti tidak apa-apa atau pergi menjauh. Pada akhirnya gue menyimpulkan bahwa gue pasti tidak akan sanggup untuk menjauh. Bukan karena memang itu hal baik yang harus dilakukan semua orang. Namun ternyata ini masalah yang terlalu dibesar-besarkan. Hei, dia hanya tidak normal di bagian wajah atau cacat fisik. Bukankah hati yang baik lebih penting dibandingkan fisik yang akan rapuh dengan bergulirnya waktu?
Sejak itu, gue berani membayangkan wajah Auggie dengan seharusnya. Matanya yang tidak pada posisinya. Bentuk mulutnya yang teroperasi karena sumbing. Telinganya yang tidak proporsional dan seperti daging yang mencuat dari sisi kepala. Pada akhirnya gue bisa menerima hal tersebut dan tidak masalah karenanya. Mungkin karena gue juga sudah mengenal Auggie lebih baik. Auggie yang berani berjuang untuk menjalani hidupnya. Gue tidak mau sok tahu menggambarkan perasaan Auggie tentang itu. Menerima tatapan terkejut ketika orang menatapnya. Mendengarkan desahan atau dengusan ketika berada di dekatnya. Yah, belum lagi ketika tidak ada yang mau mendekatinya. Gue bisa saja merasa kecewa dan sedih. Namun itu gue,mungkin tidak untuk Auggie. Mungkin dia merasa jauh lebih sedih daripada yang gue rasakan. Atau dia sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut.
Yang pasti, gue banyak belajar dari novel ini. Belajar dari Auggie untuk tidak mudah menyerah. Setiap hari adalah perjuangan yang harus dilalui. Dalam sebuah perjuangan, kalah dan menang itu biasa. Pada sebuah hari, sedih dan senang bergantian. Semua itu wajar dan normal. Begitu juga kalau kita memiliki kekurangan. Hei, kita manusia, tidak ada yang sempurna bukan? Apakah dengan kekurangan itu akhirnya kita kalah? Padahal gue yakin, masih banyak kelebihan yang kita miliki dan patut untuk disyukuri. Normal pula, ketika ada orang-orang brengsek di sekitar kita yang akan merusuhi kekurangan tersebut. Mereka sesungguhnya ada tetapi jangan biarkan mereka jadi penghalang kebahagiaan kita. Gue percaya setiap orang berhak atas kebahagiaannya. Lalu dari kebahagiaan personal itu akan lebih besar lagi ketika ditularkan ke orang-orang di sekelilingnya. Seperti yang dilakukan Auggie terhadap orang-orang di sekitarnya.
Memang selain Auggie, gue juga ingin mengucapkan salut untuk mereka. Kedua orang tua Auggie yang tidak sedikitpun berkurang rasa cinta terhadapnya. Selalu mendukung Auggie untuk menjalani kehidupan normal layaknya anak-anak lain. Orang tua yang dengan bangganya mengakui bahwa sebuah berkah ketika memiliki anak istimewa seperti Auggie. Untuk Via, kakak Auggie yang merelakan perhatian orang tuanya lebih tercurah kepada adiknya. Gue tidak kecewa ketika akhirnya Via merasa muak untuk selalu dikaitkan dengan Auggie. Tidak mau dikenal karena Auggie. Menurut gue, itu juga normal untuk dirasakan. Ketika remaja, bukankah kita yang pernah menjalaninya juga begitu. Kita selalu mencoba untuk mencari jati diri. Berusaha untuk tampil dalam kesan yang sempurna. Selalu merasa bisa berdiri dengan kaki sendiri tanpa bantuan siapapun.
Keluarga memang bagaikan rumah yang nyaman. Tempat kita berlindung dan menjadi diri sendiri. Gue yakin memang butuh energi yang luar biasa untuk berjuang. Ketika salah seorang anggota keluarga membutuhkan materi dan perhatian lebih. Maka salut untuk mereka yang bisa bertahan. Bahkan bisa dikatakan sukses menjalaninya.
Untuk Mr Tushman, kepala sekolah yang berani kecaman beberapa orang tua murid ketika menerima Auggie. Gue jadi menginginkan seorang kepala sekolah sepertinya. Rasanya gue bisa menghadapi pidatonya yang panjang. Asalkan punya karakter seperti beliau. Begitu juga dengan guru-guru Auggie. Walaupun jarang sekali diceritakan. Namun, gue yakin apa yang mereka lakukan sepanjang Auggie bersekolah juga tidak kalah istimewa.
Untuk teman-teman Auggie yang luar biasa. Summer, seorang gadis cantik yang hatinya seperti emas. Yang membuat semua orang mengerti apa yang dimaksud dengan jangan menilai sesuatu dari tampak luarnya. Jack, lelaki kecil yang berani meminta maaf atas kesalahan yang ia lakukan. Buat teman-teman lainnya yang selalu berada di sisinya. Membantu dan membela Auggie ketika mendapatkan masalah. Bahkan untuk Julian yang kerap mengganggu Auggie. Terima kasih atas kebrengsekanmu. Setidaknya dengan begitu, Auggie belajar bahwa hidup memang tidak selalu berjalan dengan baik.
Benar kata Auggie, setidaknya memang sekali seumur hidup, seseorang mendapatkan sorak sorai tepuk tangan bergemuruh. Gue akan melakukannya untuk Auggie, semua tokoh di dalam novel ini, RJ Palacio sang penulis. Orang-orang yang memiliki kisah hidup mirip seperti novel ini. Semua orang di dunia ini yang telah berhasil berjuang untuk hidup. Salut untuk kalian semua!!! *berdiri dan bertepuk tangan dengan semangat*
Tertarik membaca kumcer ini karena ada kasus plagiarisme cerpen "Kisah Muram di Restoran Cepat Saji". Tadinya gue pikir, cerpennya akan fantastis kare...moreTertarik membaca kumcer ini karena ada kasus plagiarisme cerpen "Kisah Muram di Restoran Cepat Saji". Tadinya gue pikir, cerpennya akan fantastis karena sampai diplagiasi. Ternyata, cerpennya biasa-biasa saja. Tidak ada yang menarik dengan cerpennya. Baik isi, diksi, gaya penulisannnya biasa saja. Begitu juga dengan cerpen lain. Tidak ada yang istimewa. Biasa-biasa saja.(less)
Hmm..jujur gue suka tulisan mbak Sanie di buku-buku yang gue baca sebelumnya. Kalau di sini, rasanya mbak Sanie menuliskan kisah anak kuliahan tapi se...moreHmm..jujur gue suka tulisan mbak Sanie di buku-buku yang gue baca sebelumnya. Kalau di sini, rasanya mbak Sanie menuliskan kisah anak kuliahan tapi seperti berlangsung di dekade yang lalu. Cerita yang mengisahkan pecinta alam menurut gue terlalu kaku dibuatnya. Namun,seperti biasa gue selalu terkesima dengan pilihan katanya yang manis.
Sedangkan untuk bagian Widyawati Oktavia, gue suka hanya pada bagian awal cerita. Dari tengah hingga akhir, gue sudah merasa bosan. Karena dialog dibuat berputar-putar. Karakter tokohnya pun menurut gue tidak kuat. (less)
Alasan gue membeli buku ini karena salah satu penulisnya adalah Winna Efendi. Gue suka dengan gaya penulisannya. Untuk kemampuan teknik menulis, gue t...moreAlasan gue membeli buku ini karena salah satu penulisnya adalah Winna Efendi. Gue suka dengan gaya penulisannya. Untuk kemampuan teknik menulis, gue tidak perlu meragukannya. Bagian Winna Efendi gue baca dengan mulus dan terhenyak di bagian akhirnya. Ah, kenapa mesti begitu akhir ceritanya??? *subjektif, masalah selera*
Sehabis bagian Winna, gue tidak melanjutkan bagian selanjutnya yang ditulis oleh Yoana Dianika.Sejenak untuk menyiapkan otak gue untuk membaca sebuah tulisan baru. Buku ini mengisahkan satu cerita yang sama dengan dua sudut pandang berbeda. Lebih mudah buat gue untuk membandingkan tulisan mereka berdua. Yah, memang tulisan Winna lebih 'enak' dibaca. Namun, gue pikir tidak masalah. Mengingat jam terbang Winna pun lebih banyak. Semoga kedepannya tulisan Yoana Dianika semakin bagus.(less)
Gue mungkin akan memberikan lebih banyak bintang jika: 1. Ceritanya murni tentang pembunuhan. Tidak dikaitkan dengan supranatural. 2. Bolehlah ada supra...moreGue mungkin akan memberikan lebih banyak bintang jika: 1. Ceritanya murni tentang pembunuhan. Tidak dikaitkan dengan supranatural. 2. Bolehlah ada supranaturalnya. Tetapi jangan 'nanggung'. Narasinya tidak begitu nikmat dibaca. Apalagi ketika bagian seorang dukun bercerita tentang setan. Tidak pas dengan karakter dukun. 3. Penjelasan tentang emas, teknologi sosial media dan beberapa hal lainnya tidak diceritakan terlalu berlebihan. Atau mungkin cara menyusun kalimat dalam pargrafnya yang kurang apik. Sehingga antar paragraf terkesan tabrakan.
Menyenangkan membaca cerita tentang berbagai kue. Apalagi ketika mendapatkan tulisan cokelat. Rasa lapar langsung mendera.Yah walau yang gue inginkan...moreMenyenangkan membaca cerita tentang berbagai kue. Apalagi ketika mendapatkan tulisan cokelat. Rasa lapar langsung mendera.Yah walau yang gue inginkan hanyalah kue cokelat yang biasa. Tanpa sihir seperti yang ada di buku ini. Namun, karena sihirlah cerita tentang petualangan anak pemilik toko kue ini menjadi menarik.
Sebenarnya gue lebih tertarik dengan sosok Rose di keluarga Bliss. Sosok anak yang "rata-rata" di keluarganya. "Rata-rata" membuatnya jadi tidak terlihat. Tidak seperti Kakaknya, Ty yang tampan dan memesona. Adiknya Sage yang lucu atau Leigh yang cantik dan menggemaskan. Alhasil, Rose menjadi rendah diri. Lalu datanglah si bibi Liliy yang sepertinya bisa membuat Rose menjadi 'terlihat'? Akankah itu terjadi? Baca aja yuk...(less)
Cerita cinta yang berawal dari persahabatan? Biasa, udah banyak banget novel yang cerita itu. Okay, gue setuju. Namun, tema cinta mana lagi sih yang b...moreCerita cinta yang berawal dari persahabatan? Biasa, udah banyak banget novel yang cerita itu. Okay, gue setuju. Namun, tema cinta mana lagi sih yang belum pernah dituliskan. Jadi buat gue, bagaimana cara penulis menuturkan cerita menjadi penting. Tema boleh sama tetapi tidak dengan gaya penulisannya. Gue suka dengan cara Nilam bercerita. Begitu santai, tidak terlalu terburu-buru dan tapi tidak membosankan, pas. Dialog yang wajar dengan menyelipkan kata-kata manis di saat yang pas. Karakternya bukan orang yang terlalu sempurna untuk menjadi nyata. Atau berupaya menjadi karakter anti-mainstream, yah lagi-lagi pas. Intinya, tidak berlebihan.
Semua serba pas. Hingga waktu di mana gue membaca buku ini pun pas. Ada seorang sahabat gue yang mempunyai cerita yang mirip dengan di buku ini. Apa gue tadi sudah bilang cerita ini memang terasa pas dengan kenyataa dan tidak berlebihan? Yah, begitulah..begitu pas dengan cerita teman gue. Seorang lelaki yang selalu ada di samping sahabat perempuannya. Seperti Adith kepada Nina. Mungkin posisi gue sebagai Danish yang sudah tahu bahwa memang Adith selalu mencintai Nina sejak lama.
Salahkah Nina yang tidak tahu kalau Adith suka sama dia? Yah, menurut gue tidak juga. Memang kadang seseorang yang terlalu dekat dan sudah terbiasa dengan seseorang. Pandangannya terhadap orang tersebut tidak lagi jernih, bias. Atau karena Nina memang kurang sensitif? Terlalu egois? Entahlah, tetapi jangan sekali-sekali memperdebatkan tentang keegoisan. Siapa lebih egois daripada siapa. Semua orang pernah berlaku egois. Yah, gue percaya itu.
Bahkan dengan mencintai seseorang terkadang merupakan tindakan egois. Lo tidak mau tahu apa seseorang yang lo cintai itu merasakan hal yang sama atau tidak. Okay, lo tidak apa-apa kalau orang yang elo cintai tidak merasakan itu. Asal lo mencintainya dan dia mau menerimanya. Menurut gue itu egois. Sama dengan seseorang yang dicintai tersebut memilih untuk pergi. Jadi masih mau menerka siapa yang paling egois di antara semuanya? Einstein benar, semuanya relatif. Tergantung bagaimana cara pandang lo.
Nilam, Cinta tak selalu tepat waktu? Kalau menurut gue cinta selalu tepat waktu. Waktu menurut cinta. Bukan menurut kita. Hanya ego kita yang menyatakan cinta tak tepat waktu. Ah, lagi-lagi ego..
Tambahan review setelah abca review orang lain: 1. Gue sih termasuk orang yang suka baca buku dengan POV lebih dari satu. Menurut gue bisa menghindari kebosanan. Lagipula gue orang yang punya cukup rasa ingin tahu tentang perasaan semua orang. 2. Di tiap awal bab memang ada potongan lagu dari band-band anti mainstream. Mugkin kalau bacanya sambil dengerin lagunya bakal oke banget. Yah, entahlah. Kalau gue sih sambil dengerin lagu-lagu mellow-nya Sara Bareilles. Enak juga, malah kadang bikin suasana tambah mellow yellow. Sigh..(less)
Gue tahu buku ini sejak lama tetapi tek pernah berniat membacanya. Alasannya sederhana yaitu tidak suka dengan gambar sampul depannya. Yah, walaupun a...moreGue tahu buku ini sejak lama tetapi tek pernah berniat membacanya. Alasannya sederhana yaitu tidak suka dengan gambar sampul depannya. Yah, walaupun ada yang bilang 'jangan menilai sesuatu dari sampulnya". Namun, saya memang salah satu yang tidak bisa mengikutinya. Sampul norak menyurutkan minat baca saya terhadap sebuah buku. Hanya kalau ada alasan yang penting saja, akhirnya gue membaca buku tersebut.
Untuk buku yang satu ini alasannya adalah untuk mencari tahu bagaimana isi ceritanya. Dalam rangka menyelenggarakan Klub Buku Goodreads Indonesia april nanti. Temanya adalah perempuan eksil peristiwa PKI. Gue penasaran siapakah Gitanyali? Yang ternyata gue terkecoh, karena dia adalah seorang lelaki. Namun tak mengapa, gue lanjutkan sampai akhir buku ini.
Terlalu sedikit informasi yang diceritakan tentang peristiwa PKI ataupun keluarga dari orang yang dituduhkan sebagai anggota PKI. Malahan gue lebih banyak mendapatkan kisah esek-esek seorang pemuda yang pintar menulis. Entahlah, mungkin ada pentingnya menceritakan hal-hal tersebut. Sayang gue tidak tertarik untuk mengetahuinya. Begitupun dengan buku selanjutnya, 65, gue pun tidak tertarik membacanya.(less)
Sejujurnya gue sedang tidak mood membaca buku motivasi-inspiratif seperti buku ini. Namun, karena di rak buku gue sudah tidak banyak yang menarik. Mak...moreSejujurnya gue sedang tidak mood membaca buku motivasi-inspiratif seperti buku ini. Namun, karena di rak buku gue sudah tidak banyak yang menarik. Maka gue pilihlah buku ini untuk dibaca. Buku yang sudah dipinjam beberapa orang padahal gue sendiri belum baca. Gue tidak langsung membacanya karena masih ragu dengan pendapat banyak orang yang bilang buku ini bagus. Tidak seperti buku pertamanya 9 Matahari yang menurut gue sih biasa saja.
Ternyata buku ini lanjutan dari cerita tersebut. Masih dengan tokoh Matari yang mengejar cita-citanya. Jika buku sebelumnya berakhir dengan menggantung karena terlibat banyak hutang. Di buku inilah akhirnya Matari mencoba melunasi hutang-hutangnya kepada banyak orang. Di sini, karakternya berpikiran jauh lebih dewasa. Walaupun kalau dipikir-pikir agak drastis sih perbedaan karakternya.Padahal Matari tidak melewati sebuah peristiwa yang bombastis sejak perkuliahannya hingga dia mulai bekerja.
Kisah Matari dalam melunasi utang-utangnya ini memang inspiratif. Walaupun begitu tokoh Matari tetap digambarkan sebagai seseorang yang juga bisa terpuruk dalam keadaan buruk. Namun, jiwanya yang pantang menyerah dan dukungan teman-temannya membuat dia semangat. Yang membuat cerita ini menarik juga karena memang tidak hanya tokoh Matari yang diceritakan. Namun, juga orang-orang yang bersinggungan dengan hidupnya. Yah, mereka pun punya kisah inspiratif yang bisa dibagikan kepada pembaca.
Kalau saja buku 23 Episentrum ini hanya berupa buku atdi. Kemungkinan besar gue akan memberikan tiga bintang saja. Namun karena ada tambahan satu buku, bolehlah gue menambahkan satu bintang lagi. Buku ini mengisahkan 23 pemuda-pemudi yang memang nyata keberadaannya. Tak kalah inspiratif dengan cerita fiksi yang ditulis Adenita. Mereka bisa dibilang sukses di usia yang masih muda. Walaupun begitu, Adenita tidak lupa menceritakan proses mereka menuju sukses. Karena pada saat itulah kedewasaan tumbuh ketika banyak halangan dan rintangan yang harus dihadapi. Ini menjadi pengingat untuk pembaca. Jangan lihat ujungnya saja tetapi secara keseluruhan. Nikamt sukses perlu proses perjuangan hidup.
Agak lama gue memutuskan untuk membaca buku ini. Karena taut terpengaruh dengan pendapat banyak orang. Khususnya cerita-cerita Windy atas respon-respo...moreAgak lama gue memutuskan untuk membaca buku ini. Karena taut terpengaruh dengan pendapat banyak orang. Khususnya cerita-cerita Windy atas respon-respon pembacanya. Senin kemarin, akhirnya gue siap untuk membaca cerita mereka.
Gue selalu menyenangi gaya menulis mereka berdua. Vabyo dengan tulisannya yang membuat kulit muka terasa kencang karena tertawa. Atau tulisan Windy yang membuat kening berkerut, berusaha untuk memahami makna.
Sepengetahuan gue yang minim, banyak yang tidak suka dengan tulisan Vabyo di buku ini. Yah masalah selera, mungkin. Buat gue tidak berbeda dengan tulisan sebelumnya. Masih senang bermain rima dan 'twist' di akhir. Mungkin karena kesamaannya menjadi terasa biasa saja. Tidak terlalu istimewa memang. Namun, masih layak untuk dibaca. Yang pasti gue senang sudah pergi ke Sawarna sebelum membaca tulisannya. Gue bisa menikmati keindahan alam tanpa sibuk mencari sosok anak kecil di dalam cerita. Memandangi mereka dan menebak apakah dia yang diceritakan.
Menurut Windy, pembacanya terbagi ke dua kutub. Kutub yang sangat menyukainya, sedangkan tidak pada kutub lainnya. Gue? Setelah membaca tulisannya, ada di kutub pertama yang telah gue sebutkan. Sebenarnya sepanjang membaca tulisannya, ada pertanyaan yang terus menempel di benak gue. Seberapa banyak dia memasukkan fakta tentang dirinya ke dalam tulisannya. Bagian dari dirinya, misal pekerjaan dan kesukaannya. Atau pengalaman-pengalaman hidupnya. Gue memang belum mengenal Windy dengan baik tetapi beberapa kali gue seperti membaca kisahnya. Setidaknya dengan tulisan ini, gue jadi lebih mengenal sosoknya. "Jadi, cinta hanya perlu dalam kadar cukup, ya Kak? Tidak lebih, tidak kurang."(less)
Jujur saja, bab pertama dan kedua novel ini menguji kesabaran gue. Hingga akhirnya memasuki bab tiga, gue mulai merasa lega. Bab berjudul drama ini me...moreJujur saja, bab pertama dan kedua novel ini menguji kesabaran gue. Hingga akhirnya memasuki bab tiga, gue mulai merasa lega. Bab berjudul drama ini mengisahkan tentang kehidupan keluarga terutama adiknya. Di bab inilah gue baru merasakan adanya emosi yang disertakan dalam tulisannya. Namun sayang, ternyata hal ini tidak dilanjutkan dengan bab-bab selanjutnya sampai halaman terakhir.
Penulis (ketika Klub Buku GRI) mengatakan bahwa memang pada awalnya, tulisannya berupa esai tentang geopolitik. Karena ingin memperluas pangsa pembaca, maka dibuatkanlah menjadi novel. Mungkin bagi sebagian orang langkah itu berhasil. Membuat esainya tentang geopolitik berhasil dicerna tidak untuk kalangan tertentu saja (khususnya yang menarik minat di bidang geopolitik). Namun, buat gue langkahnya membuat novel menjadi terlalu dipaksakan. Karena elemen-elemen novel seperi karakter, alur, setting dan lainnya kurang hadir dengan maksimal. Bahkan untuk dialog pun tidak ada sama sekali di novel ini. Mungkin tidak mengapa ketika novel ini bebas dialog tetapi diimbangi dengan deskripsi yang bagus oleh penulisnya. Sayang sekali itu kurang didapat di novel ini.
Sehingga gue merasakan bahwa buku ini menjadi 'nanggung'. Karena kurang memenuhi elemen-elemen untuk dibilang sebagai novel. Namun tidak bisa dibilang juga buku ini merupakan non-fiksi. Buat gue, seharusnya penulis dan editor memilih salah satunya. Benar-benar ditulis sebagai esai (non fiksi) sehingga maksud-pesan bisa tersampaikan dengan jelas tanpa bias kisah fiktif. Atau menggali dan menggunakan keahlian menulis fiksi lebih baik sehingga tidak membosankan untuk dinikmati pecinta novel.
Penulis juga mengatakan bahwa jika menginginkan novel ini berdialog dan penuh deskripsi yang mengembangkan daya imajinasi, kita lebih baik menonton film saja. Menurut gue, jawaban tersebut kurang cerdas untuk dikemukakan. Karena pertama, bukan hal yang cerdas membandingkan buku dan film yang jelas-jelas berbeda dalam medianya. Kedua, novel seharusnya membuat para pembacanya dapat menggunakan daya imajinasinya. Kalau novel tersebut ternyata membosankan dan tidak membuat pembacanya berimajinasi. Tentu saja itu bukanlah salah pembaca seorang. Ada andil penulis di dalamnya. Mungkin saja memang tulisannya benar-benar 'kering'.
Novel berujudul Jakarta! ini ternyata hanya membahas kota Jakarta dalam skala kecil di dua bab terakhir dari tujuh belas bab yang ada. Apakah karena ditaruh di bab akhir, Jakarta menjadi kesimpulan cerita dalam novel ini. Sayangnya menurut gue tidak, karena Jakarta hanya terasa sebagai latar belakang tempat di akhir cerita saja. Walaupun begitu, ide cerita dan pemikiran penulis cukuplah menarik. Usahanya untuk mengenalkan geopolitik kepada khalayak lebih luas juga patut diapresiasi. Namun kedepannya, penulis harus benar-benar fokus tulisannya mau dibuat sebagai karya fiksi atau non fiksi. Jangan berhenti menulis dan ditunggu karya berikutnya!(less)
Mungkin gue terlalu berekspektasi tinggi terhadap buku ini. Terlalu diperbincangkan kekerenannya di kalangan goodreaders. Ternyata pas gue baca, yah t...moreMungkin gue terlalu berekspektasi tinggi terhadap buku ini. Terlalu diperbincangkan kekerenannya di kalangan goodreaders. Ternyata pas gue baca, yah tidak begitu keren. Ini kisah dua remaja yang saling jatuh cinta. Bedanya dengan kebanyakan novel remaja pada umumnya, keduanya memiliki kanker di tubuhnya. Karena kankerlah mereka akhirnya bisa bertemu, bersitatapan, berbincang dan akhirnya berkata "Aku sayang kamu".
Maniskah ceritanya? Yah susah sih kalau ingin dibilang manis. Karena semanis apapun cerita mereka, tetap saja ada rasa pahit yang turut serta. Bahkan humornya pun humor gelap. Hingga terkadang lelucon itu susah gue terima sebagai sebuah humor. Karena terlalu terang-terangan dan mengenyampingkan perasaan mereka. Namun, mungkin itulah yang mereka butuhkan. Sebuah kejujuran, bukan rasa kasihan yang acap kali memuakkan buat mereka.
Dari buku ini gue jadi ingat orang-orang terdekat gue yang di tubuhnya hidup sel-sel kanker. Yang paling gue ingat adalah rekan pertama gue bekerja dan akhirnya menjadi seperti kakak sendiri. Mbak Dyan namanya, yang sekarang semoga saja hidup tanpa rasa sakit di alam kubur. Mbak Dyan adalah orang yang selalu terlihat ceria di luar. Walau gue tahu tersimpan khawatir di dalamnya. Siapa yang tidak khawatir ketika seseorang sudah dinyatakan sembuh dari kanker payudara. Tiba-tiba selang beberapa bulan, kemudian takdir berkata bahwa kanker sudah menyebar di paru-parunya. Hidup yang sudah ditatap dengan penuh harapan harus pupus begitu saja.
Mbak Dyan awalnya tidak mau menyerah. Dia mencoba untuk hidup sehat. Bahkan dia masih menjaga tubuhnya di pusat kebugaran. Gue pernah bilang, "Mbak kayaknya lo berlebihan deh, nanti kecapekan". Gue inget jawabannya, "Duh, trainernya cakep". Gue cuma tertawa menanggapi jawabannya. Sampai akhirnya kanker terus menggerogoti tubuhnya. Bahkan kemoterapi yang sakitnya minta ampun sepertinya tidak membantu lagi.
"Capek, run. Gue gak tahan lagi". Ada rasa cemas di gue ketika dia tahu memberhentikan kemonya. Namun, tubuhnya adalah haknya. Dia ingin hidup tanpa rasa sakit akibat kemoterapi. Puncak kekhawatiran gue muncul ketika dia ngomong ke gue, "Run, cariin istri buat suami gue dong". Jujur, gue kaget saat itu. Sebuah kalimat yang nggak pernah gue duga akan keluar dari mulutnya. Waktu itu gue menanggapi dengan ogah-ogahan. Gue tetap meminta dia untuk jangan berhenti menyerah. Demi suami dan anak-anaknya.
Itu apa yang gue lakukan dulu. Namun, kalau saja waktu itu gue sudah membaca buku ini sebelum dia menanyakan pertanyaannya. Gue mungkin akan dengan senang hati berdua dengan mbak Dyan, mencari dan memilih siapa yang pantas untuk menggantikan posisinya. Mendampingi suaminya yang suka kami panggil ustadz di kantor. Menjaga si abang yang selalu serius dengan sekolahnya dan adik yang penuh rasa ingin tahu. Pasti prosesnya akan begitu menyenangkan dengan penuh canda tawa. Karena sesungguhnya mereka tahu bahwa stadium empat sudah menjadi sebuah pertanda. Bahwa kematian hanya menunggu waktu. Jadi, buat apa takut dan lebih baik bersiap untuk menghadapinya. Sebenarnya, kalau dipikir lebih jauh, kematian memang hanya menunggu waktu. Bukan saja buat orang yang memiliki kanker di tubuhnya tetapi juga orang yang dinyatakan sehat seratus persen. Karena kematian sudah menjadi kodrat manusia.
Mbak Dyan, semoga kamu lebih bahagia di alam sana!(less)
Temanya menarik. Sangat menarik malah. Membahas tentang hari-hari. Namun, entah mengapa buat gue, cerpen-cerpen di buku ini terasa biasa saja. Bukan j...moreTemanya menarik. Sangat menarik malah. Membahas tentang hari-hari. Namun, entah mengapa buat gue, cerpen-cerpen di buku ini terasa biasa saja. Bukan jelek. Bagus kok tapi biasa saja, tidak istimewa. Dari kesemuanya, gue paling suka karya Sundea, "Ke mana Sabtu Pergi?". Subjektif memang, karena gue memang pengagum tulisan Sundea sejak membaca Dunia Adin. Tulisannya absurd tapi nikmat dibaca. Tidak seperti cerpen absurd Theo yang tidak mulus rangkaian kalimatnya.
Entah mengapa mereka berpikiran untuk membuat dua cerpen setiap penulisnya. Gue juga tidak mengerti alasannya mengapa kedua cerpen itu harus berkaitan. Namun ekspektasi gue sebagai pembaca, cerpen kedua harus lebih mengena daripada yang pertama. Namun ternyata dari kesemuanya. Tidak ada yang begitu. Semua malah melempem. Bahkan beberapa cerpen hanya pengulangan cerita tanpa menambah informasi yang bermakna.(less)
Raphael, Gardo, Jun 'Tikus" Jun. Tiga anak kecil yang berprofesi sebagai pemulung. Hidup mereka berubah menjadi petualangan yang berbahaya. Semuanya d...moreRaphael, Gardo, Jun 'Tikus" Jun. Tiga anak kecil yang berprofesi sebagai pemulung. Hidup mereka berubah menjadi petualangan yang berbahaya. Semuanya dimulai ketika mereka menemukan sebuah tas di antara tumpukan sampah. Ternyata, tas itu menjadi penghubung dengan uang jutaan dollar curian seseorang. Yang dicuri dari seorang pejabat. Dimana uang pejabat itu juga didapat dari mencuri uang rakyat.
Di awal, gue bersedih dengan apa yang dialami para pemulung cilik ini. Kesehariannya harus bergumul dengan sampah yang berbahaya bagi kesehatan. Di umur mereka yang seharusnya bermain, belajar dan bersosialisasi dengan teman-teman di sekolah. Memang ada sebuah sekolah misi di daerah tempat pembuangan sampah tersebut. Namun, anak-anak tersebut lebih memilih untuk memulung demi uang untuk kehidupan sehari-hari mereka. Wajar mereka berbuat begitu, karena bertahan hidup untuk satu hari saja sudah merupakan kebahagiaan. Sedangkan masa depan masih berupa bayang-bayang semu.
Gue juga melihat betapa buruk perlakuan polisi terhadap mereka dan siapapun. Betapa mereka tidak percaya dengan kepolisian. Sebuah institusi yang seharusnya menjadi pengayom masyarakat. Semua orang bahkan yang tidak bersekolah pun tahu bahwa polisi tak akan berpihak pada mereka yang papa. Polisi hanya berpihak kepada yang kaya dan punya kuasa.
Kejadian ini diceritakan berlokasi di sebuah tempat di Filipina. Begitu dekat dengan negara kita, Indonesia. Karena dekatnya, hal-hal yang diceritakan pun terjadi di negara kita. Kemiskinan yang semakin sulit diatasi. Sedangkan para pejabat sibuk menumpuk uang yang seharusnya digunakan untuk membantu yang miskin. Ironis!(less)
Ah betapa kangennya gue dengan Barti. Selalu saja kalau baca bukunya Barti, pengin banget punya kemampuan memanggil dia. Yah, sebentar...moreBartiiiiiii....
Ah betapa kangennya gue dengan Barti. Selalu saja kalau baca bukunya Barti, pengin banget punya kemampuan memanggil dia. Yah, sebentar aja, cuma mau lihat dia akan muncul dengan wujud apa. Udah gitu langsung dilepasin lagi. Nggak sanggup kayaknya kalau nahan dia lama-lama. Begitu liciknya, ntar yang ada gue ditelan. Hiii, ogah...
Di buku ini, menceritakan Barti di zaman kepemimpinan Solomon. Raja yang sangat berkuasa karena punya cincin yang sakti mandraguna. Lalu peran barti di sana gimana? Ya pasti penting dong tapi tetap dengan kenarsisannya yang ruaarrr biasssaaa.. Ya baca deh kalau nggak percaya..
Namun, sebenarnya sih lebih greget di trilogi. Atau mungkin karena buku ini terlalu kelamaan dari buku terakhirnya. Tapi kalau ada buku prekuel lainnya sih gue tetep mau baca. Plis plis plis..kisah Barti dengan Ptolemy dooonggg...(less)
Yah, mungkin otak gue yang nggak nyampe ya di sebagian besar cerpen mbak linda. Mungkin gue lebih cocok dengan tulisan non fiksinya mbak Linda. Semoga...moreYah, mungkin otak gue yang nggak nyampe ya di sebagian besar cerpen mbak linda. Mungkin gue lebih cocok dengan tulisan non fiksinya mbak Linda. Semoga masih bisa menikmati karya mbak Linda yang lain..(less)
Rekomendasi dari sang pacar. Saya setujui karena dua hal. Sampul depan bukunya bagus. Juga saya suka dengan salah satu cerpennya di Perkara Mengirim S...moreRekomendasi dari sang pacar. Saya setujui karena dua hal. Sampul depan bukunya bagus. Juga saya suka dengan salah satu cerpennya di Perkara Mengirim Senja.Diksinya bagus. Namun saya lebih suka dengan cara penulis meramu kata menjadi kalimat yang nikmat dibaca. (less)
Terkadang manusia ingin WAKTU berjalan lambat. Manusia tidak ingin berhenti ketika semua belum terselesaikan. Manusia takut WAK...moreBuku ini tentang WAKTU.
Terkadang manusia ingin WAKTU berjalan lambat. Manusia tidak ingin berhenti ketika semua belum terselesaikan. Manusia takut WAKTU menghilang. Manusia bersedih karenanya. Manusia ingat apa yang hilang. Manusia lupa yang dimiliki. Manusia takut kehabisan WAKTU.
Terkadang manusia ingin WAKTU berjalan cepat. Manusia ingin menyelesaikan semua secepatnya. Manusia takut WAKTU menghilang. Manusia bersedih karenanya. Manusia ingat apa yang hilang. Manusia lupa yang dimiliki. Manusia takut kehabisan WAKTU.
Lalu, apa alasan Tuhan membatasi WAKTU? Mungkin karena Tuhan ingin menjadikan WAKTU istimewa. Tanpa kehilangan dan kesedihan. Manusia tidak menghargai apa yang dimiliki. WAKTU terbatas karena dia begitu ISTIMEWA. (less)