Saya teringat sebuah quote dari Picasso, "Seni adalah kebohongan, kebohongan yang mengungkap kebenaran". Dan itu yang terasa ketika membaca ...moreSaya teringat sebuah quote dari Picasso, "Seni adalah kebohongan, kebohongan yang mengungkap kebenaran". Dan itu yang terasa ketika membaca novel yang sangat kuat menggambarkan politik kekerasan dalam sebuah institusi yang digerakkan dengan kekuasaan yang cenderung otoriter. Novel Orwell ini adalah novel pertamanya yang sempat saya baca. Novel yang sarat sindiran pada rezim totaliter di masa novel ini disusun bermula dari kisah pemberontakan hewan ternak di sebuah peternakan dipimpin oleh 2 ekor babi bernama Napoleon dan Snowball. Novel ini bicara tentang kekuasaan dan lingkaran kekuasaan yang mensejahterakan kroni-kroninya. Bicara juga tentang bagaimana praktek kekerasan dalam me-maintenance kekuasaan diterapkan, lengkap dengan propagandanya. Bagaimana sebuah kemenangan semu diraih, karena setelah kemenangan, rakyat binatang (di novel itu mereka menyebut dirinya binatang inggris) malah menemui rezim yang tidak lebih baik dari rezim manusia. Fabel politik ini layak dibaca bukan sebagai cemilan, tapi sebagai gong pengingat bila suatu saat Anda memegang kekuasaan dan duduk di kursi panas, Anda akan mendapati figur-figur yang digambarkan Orwell di sekeliling Anda, mungkin loyalis samapai mati seperti Boxer, si sinis dan penuh prasangka Benjamin, aparat anjing penegak kekuasaan atau domba pengembik dan penjilat. Kedetailannya menggambarkan suasana zaman itu sangat layak menjadikan karya ini masterpiece. Di situlah kemudian Picasso berbisik lamat-lamat di telingaku: "novel ini adalah fiksi, sebuah kebohongan, my friend... tapi lihat kebenaran yang dia ungkap sampai telanjang pada kita". Yang saya baca adalah novel yang diterbitkan dalam edisi Indonesia oleh Fresh book, Yogyakarta. This book is highly recommended(less)
Graphic Novel ini ketemu gak sengaja. Dia didisplay di antara buku-buku agama Islam. Sungguh Aneh. Buku ini menyajikan salah satu gaya bertutur yang c...moreGraphic Novel ini ketemu gak sengaja. Dia didisplay di antara buku-buku agama Islam. Sungguh Aneh. Buku ini menyajikan salah satu gaya bertutur yang cukup memukau untuk menggambarkan ketegangan dan kepolosan seorang anak kecil (penulis memerankan dirinya sendiri) dengan latar belakang revolusi Iran di era 80-an. Secara lincah, Satrapi menggambarkan 'rezim keagamaan' dan pemikiran kritis seorang anak yang sedang tumbuh, silih berganti di setiap lembar halamannya. Dia juga menggambarkan dengan baik tentang bagaimana rezim berlatarbelakang agama mulai menerapkan kebijakan-kebijakan baru setelah meruntuhkan rezim yang sekuler. Anak ini kemudian memaknai satu demi satu peristiwa yang ada di hadapannya secara jujur, terlepas dari motif-motif yang berkembang di sekelilingnya. Gambarnya khas buku cerita anak-anak, tetapi dengan cair menggambarkan tema-tema yang sensitif. Satrapi dengan sangat berani mencoba menggambarkan perkembangan pikirannya di masa kanak-kanak, Tuhan yang selalu berdiskusi dengannya menjelang tidur dan hilang darinya saat dia membutuhkan, simbol-simbol keagamaan, kekerasan dengan cara yang cerdas. Bahkan terekam pula artefak 80-an seperti poster musisi Barat yang diharamkan beredar di Iran, kucing-kucingan dari aparat ketika ingin bergaya 'kurang islami'. Belakangan, secara implisit digambarkan pula bagaimana Satrapi mendokumentasikan cerita hidupnya itu ke dalam novel grafis ini di pelarian. Yang aku baca ini adalah terbitan Resist Book, Jogjakarta. Entah bagaimana, buku ini mengingatkan aku pada Maus-nya Art Spiegelman.(less)
Buku ini sangat unik, kalau bukan ironis. Penulis dan yang memberi pengantar adalah korban. Wiji Thukul adalah aktivis demonstrasi jaman Soeharto yang...moreBuku ini sangat unik, kalau bukan ironis. Penulis dan yang memberi pengantar adalah korban. Wiji Thukul adalah aktivis demonstrasi jaman Soeharto yang tidak pernah absen bicara untuk corong kaum terinjak, masuk dalam daftar orang yang hilang di masa demo. Si pengantar, Cak Munir adalah aktivis HAM yang dihilangkan nyawanya dan kasusnya masih remang samapai sekarang. Jika masih hidup dan duduk satu meja, aku yakin keduanya akan saling melontar salut. Cak Munir nampak sangat terkesan dengan bentuk perlawanan yang mengalir dari setiap laku, ucap dan ekspresi puisi Wiji Thukul. Simak apa yang ditulis Cak Munir untuk Wiji Thukul: "Tampaknya dia sama sekali tidak peduli apakah itu dimulai dari kedahsyatan ekspresi perlawanan dalam sebuah puisi, atau dia memang memilih bergerak secara fisik dalam gelora gerakan rakyat."
Wiji Thukul sendiri tidak perlu dipertanyakan keberpihakannya pada semua aktivitas yang menuntut keadilan. Semua puisinya adalah lukisan gap sosial yang pura-pura tidak kita lihat. Seperti teriakannya pada penguasa, cumbu rayu pada istrinya atau saat mengenang ibunya, semua dialiri gelora perlawanan kelasnya. Siapa tak kenal dengan puisi berikut, yang menurut Munir lebih terkenal daripada Wiji Thukul sendiri:
PERINGATAN
jika rakyat pergi/ketika penguasa pidato/kita harus hati-hati/ barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi/dan berbisik-bisik/ketika membicarakan masalahnya sendiri/ penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh/ itu artinya sudah gawat/ dan bila omongan penguasa/ tidak boleh dibantah/ kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang/ suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan/ dituduh subversif dan mengganggu keamanan/ maka hanya ada satu kata: lawan!
Solo,1986
Larik terakhir adalah teks wajib di kaos setiap demonstran. Dan buku ini mungkin jadi satu-satunya jejak perlawanan Wiji Thukul sejak dia dihilangkan penguasa karena aksinya. Ketika membaca ini, aku adalah darah yang mengalir deras dan panas. Dan siapapun akan kembali mengucapkannya lamat-lamat: LAWAN!!!(less)
I've been reading Afrizal since 1999 because a kindness of my friend who has a passion to visualize his poems into painting media. This book, as usual...moreI've been reading Afrizal since 1999 because a kindness of my friend who has a passion to visualize his poems into painting media. This book, as usual, with the brutality of word, collage, overlapping one to each other words and meaning, and cool special effects. Sarcastic too. As his previous works, meaning always become a house with multiple doors and it let open. What I felt was something energic flew in every words.
Aku membaca sajak-sajak Afrizal sejak 1999 karena seorang teman begitu semangat menjadikan puisi-puisinya ke dalam visualisasi lukisannya. Dan buku ini, lengkap dengan kegarangan kata yang masih seperti dulu, penuh kejutan, kolase, tumpang tindih dan spesial efek yang canggih. Juga sarkastik. Seperti biasa pula, makna selalu jadi rumah berpintu jamak dan dibiarkan terbuka. Yang aku rasakan adalah sesuatu yang enerjik mengalir di setiap kata.