Inilah analogi yang paling tersirat dalam kisah ini. Keris bagi orang Jawa adalah simbol kehormatan dan kesaktian. ...morePerempuan ibarat Keris.
Inilah analogi yang paling tersirat dalam kisah ini. Keris bagi orang Jawa adalah simbol kehormatan dan kesaktian. Dirawat khusus, dibelai khusus, denganpenuh penghormatan, dan sekaligus diperalat. Begitu pulalah kondisi perempuan yang dianggap cantik di masa menjelang redupnya kekuasaan Mataram. Perempuan adalah simbol kehormatan. Karenanya, ketika perempuan milik seorang penguasa diganggu, maka sama saja dengan menghancurkan kehormatan si penguasa. Seperti keris, yang dikoleksi karena keampuhan dan kesaktiannya, perempuan juga di koleksi. Dijadikan deretan benda yang bisa digunakan kapan saja. Dipamerkan saat ingin dikagumi. Perempuan...persis seperti Keris. tanpa mampu memiliki kehendaknya sendiri.
Buku Rara Mendut adalah novel trilogi. Terdiri dari riwayat hidup Rara Mendut, Genduk duku dan Lusi Indri. Ketiganya adalah perempuan, tiga generasi dengan kondisi sosial yang sama terhadap perempuan. Rara Mendut, adalah gadis pantai yang diperistri penguasa. Berteman dengan Genduk Duku yang kemudian mengagumi keteguhannya dalam lingkungan Istana memasung kebebasan. Lusi Indri adalah anak Genduk Duku. ketiganya hidup diantara penguasa Mataram yang menjadikan mereka dan kaum perempuan ibarat Keris.
Apa yang diperjuangkan oleh ketiganya hanyalah satu hal: kebebasan berkehendak.
Dalam kisah novel ini, contoh kehendak klasik yaitu: memilih pasangan hidup. Bukan ditentukan oleh orang tua, di tundukkan oleh penguasa, ataupun pada maut sekalipun.
Setiap manusia (perempuan/laki-laki) memimiliki kehendak dan cita-cita. Apapun itu... layak diperjuangkan. Meski sesederhana apapun cita-cita itu.
Bagi Rara Mendut, Genduk Duku dan Lusi Indri... kehendak mereka memberi pengaruh bagi sekitarnya, bahwa perempuan bukanlah keris...tapi Manusia. Yang bisa memilih dan bukannya dipilih.
hmm...nasib perempuan Istana di jaman ini benar-benar bikin miriiiis. :(
(less)
Ini buku pertama yg kubaca tentang serial Anne. Setengah bagiannya aku bosan dengan datarnya cerita tentang kehidupan Anne dan hayalan akan tempa...moreIni buku pertama yg kubaca tentang serial Anne. Setengah bagiannya aku bosan dengan datarnya cerita tentang kehidupan Anne dan hayalan akan tempat tinggal barunya. Seperti setting yang diceritakan dalam buku ini ceritanya pun seperti sebuah desa. Tak banyak gejolak dan indah. Tentu saja akhir yang bahagia. Ketulusan dan ketabahan orang-orang sekitar Anne, membuat cerita ini jadi bernilai dan nikmat. Mungkin setabah aku membaca awal cerita yang belum nyambung...heeeeeee........
Yang kusuka dari buku ini adalah kritiknya yang pedas terhadap Fundamentalist.
"Kaum fanatikus Islam ini menolak prinsip sekularisme ...moreYang kusuka dari buku ini adalah kritiknya yang pedas terhadap Fundamentalist.
"Kaum fanatikus Islam ini menolak prinsip sekularisme dan produk modernitas Barat karena dianggap berlawanan dengan mainstream Islam. Meskipun sebetulnya apa yang mereka tolak itu hanya "produk-produk sosial" (demokrasi, humanisme, civil society dll). Sementara produk sains& teknologi barat tetap mereka terima, seperti handphone, mobil, komputer, TV dll. (termasuk yang sulit mereka tolak adalah USD!). Bahkan mereka memakai produk barat itu untuk meneror barat.
Tak hanya dalam Islam, Kaum fundamentalis di agama/paham apapun adalah pihak yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan yang terjadi atas nama agama. (less)
Novel ini berkisah tentang perang Salib ketiga. Perang yang hingga sampai saat ini masih menyisakan luka bagi sejarah kemanusiaan. Perang yang terjad...moreNovel ini berkisah tentang perang Salib ketiga. Perang yang hingga sampai saat ini masih menyisakan luka bagi sejarah kemanusiaan. Perang yang terjadi karena Agama. Perang yang terjadi karena kafir-mengkafirkan. Memperebutkan kota suci yang memiliki arti kedamaian, tapi selalu tertumpahkan darah, Yerusalem.
Novel ini mengisahkan tokoh legendaries Perang Salib yang masih dikenang karena kebesaran jiwanya. Yaitu perseteruan antara Raja Richard Hati Singa_ si Raja Inggris dengan Sultan Salahudin yang juga dikenal dengan Saladin, penguasa Yerusalem. Penulis menambahkan tokoh fiksi bernama Mariam_yang kemudian kuanggap hanya sebagai pemanis cerita agar tidak telalu berbau amis darah perang.
Mariam, gadis Yahudi dengan kisah suram masa kecilnya, adalah kekasih gelap Sultan Salahudin yang oleh keadaan kemudian menjadi mata-matanya dalam pasukan Richard Hati Singa. Mariam menjadi tokoh penting yang mengubungkan tokoh-tokoh perang Salib dan kemudian mengarahkan pada berakhirnya perang Salib. Peran Mariam yang kelewat penting ini…menjadi terkesan “maksa” dalam alur ceritanya. Selain itu, Kisah percintaan Saladin dan mariam, di umbar terlalu memuakkan jika dibandingkan dengan keteladan Saladin dalam sejarah yang telah tertulis. Untung saja penulis menjelaskan siapa Mariam di penutup buku, sehingga kekecewaa n tehadap kenekatan penulis mencoreng pribadi Saladin dapat sedikit terobati. Pasalnya Sultan yang satu ini dikenal sebagai tokoh yang sangat di teladani, bahkan sampai ada yang menganggap keteladanannya mendekati keteladanan Rasulullah SAW.
Dalam kisah perang, daya tariknya adalah strategi taktik perang dan bagaimana kebesaran jiwa para pemimpin perangnya. Meski kisah perang tetap saja kisah yang melukai nilai-nilai kemanusiaan.
Sayangnya, kurang banyak di uraikan bagaimana ketrampilan Saladin dalam memegang kendali pasukannya. Karena semangat perang dalam Islam adalah semangat pembebasan dari kezholiman. Bagaimana cara Saladin agar mampu menginternalisir semangat ini hingga kelapisan prajuritnya yang paling rendah?. Apakah cukup hanya sebatas mengandalkan keteladan pemimpinnya?. Dalam hal ini, kisah di pihak Saladin, kurang berimbang jika dibanding kisah Richard hati singa dalam memimpin pasukannya.
Kegalauan Richard karena celutukan jujur sahabatnya William, dan strategi beraninya yang muncul tak tertebak kemudian membuat tokoh ini menjadi menarik meski dengan deretan pembunuhan massal dan sadis yang membuatku mual. William menjadi penyampai pesan-pesan moral dalam cerita ini melalui perubahan sudut pandangnya terhadap kaum sarachen/Islam yang awalnya dianggapnya kafir kemudian perlahan berubah menjadi sahabat Sultan.
Melalui pemikiran William dan dialognya dengan Sultan, pemahaman ‘kafir‘ bertransformasi menjadi tak sebatas perbedaan agama. Kafir menjelma dalam dua bentuk. Jenis pertama adalah kafir karena berbeda agama. Islam yang menuduh Kristen kafir, demikian juga sebaliknya. Kafir jenis kedua adalah kafir dalam kelompok agama yang sama. Kafir jenis ini ada karena ketidak mampuan memahami agamanya. Agama dipahami sebagai doktrin tanpa daya kritis untuk mengkaji sumbernya. Mendengar saja, tanpa menganalisa kebenarannya. Merasa taat beragama padahal membaca kitab sucinya pun tak pernah. Fanatik. Ditangan penguasa yang licik seperti Richard Hati Singa, yang menjadikan agama hanya sebagai topeng, orang-orang jenis ini kemudian menjadi alat bagi memuluskan kepentingannya.
Maka, kafir jenis yang manakah yang perlu dikhawatirkan?
Kisah ini menjadi pembelajaran bagi kelompok2 yang gemar kafir mengkafirkan. Seperti di akhir novel yangi ditutup dengan kutipan : “Mereka yang kita cintai—dan mereka yang kita benci—hanyalah cermin dari diri kita sendiri.”. Seperti mengajak kita merefleksi diri sendiri. Sebelum terjebak pada kafir mengkafirkan yang disetir oleh penguasa-penguasa yang zalim. Marilah bertanya pada diri sendiri….. “sudahkah aku benar-benar memahami agamaku?”. Karena seperti bayangan diri di cermin itu, Bisa jadi...diri sendiri masih/kembali dalam keadaan kafir.
(less)
Akhirnya, punya buku ini...koleksi buku puisi yg pertama. Sulit jg menikmati puisinya ya...tp puisi ini yg paling kusuka... lucu...tp maknany...moreAkhirnya, punya buku ini...koleksi buku puisi yg pertama. Sulit jg menikmati puisinya ya...tp puisi ini yg paling kusuka... lucu...tp maknanya menohok..dalam. ***
Naik bus di Jakara
Sopirnya sepuluh Kernetnya sepuluh Kondekturnya sepuluh Pengawalnya sepuluh Perampoknya sepuluh Penumpangnya atu, kurus dari tadi tidur melulu; kusut matanya, kerut keingnya seperti gambar peta yang ruwet sekali. sampai di terminal, kondektur minta ongkos "Sialan, belum bayar sudah mati!"
"Masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk maju jika para wanitanya tidak berpendidikan, Laila...Tidak ada kesempatan".
*****...more "Masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk maju jika para wanitanya tidak berpendidikan, Laila...Tidak ada kesempatan".
******
Selesai membaca buku ini, aku jadi ingat sebuah dongeng teka-teki "siapa yang salah" yang kudapat di beberapa pelatihan.
Kisahnya begini... Ada sepasang kekasih harus berpisah karena tuntutan kehidupan. Sang Lelaki harus meninggalkan kampung halaman menunju negeri di seberang sungai besar. Tak tahan menahan rindu, sang perempuan berniat menyusul. Namun terjebak dalam tipu daya, dan harus menikah lebih dulu dengan Lelaki yang dapat memberikan tumpangan perahu untuk menyeberang sungai ke tempat kekasih yang dirindukannya berada. Setelah sepasang kekasih itu bertemu kembali, kira-kira apakah yang terjadi???.
Jawaban yang diberikan, dapat memperlihatkan sudut pandang seseorang tentang cinta, dan penghargaan terhadap perempuan. Buku ini, menurutku menjawab dongeng tersebut.
Khaled Hoseini di novel ini tetap menggambarkan kejamnya perang di Afganistan. Jika dalam Kite Runner bertema tentang persahabatan, maka di novel keduanya ini, memotret kehidupan perempuan.Dan kisah perang selalu saja buram, murung dan pilu.
Sebelum membaca novel ini, pernah beberapa kali membaca artikel kondisi perempuan di Afganistan. Konon, sebelum perang saudara, dan taliban berkuasa, perempuan Afganistan memiliki posisi penting. Di dunia Pendidikan, Kesehatan, hukum dan politik, perempuan Afganistan hadir memberi kiprahnya. Dan ketika Taliban berkuasa, "Syariat Islam" dikibarkan, perempuan di tutup burqa, di usir dari ranah publik. Tak berhak menikmati bebasnya udara diluar rumah kecuali dalam kawalan muhrimnya. Kondisi perang, membuat kondisi semakin tak memihak perempuan. Banyak janda, namun tak boleh bekerja mencari nafkah. Kesehatan perempuan minim fasilitas. Novel ini mengisahkannya kembali lewat kisah perih tokoh-tokoh ceritanya.
Seperti juga Kite Runner, ceritanya mengalir dan membuat enggan berhenti hingga lembar terakhir. Namun kisah Kite Runner masih lebih berbekas di hati.
Untuk orang yang sangat awam tentang ekonomi seperti saya, buku ini nyaman dibaca. Isi dari buku ini mengupas tentang Ekonomi Global dan perdagangan b...moreUntuk orang yang sangat awam tentang ekonomi seperti saya, buku ini nyaman dibaca. Isi dari buku ini mengupas tentang Ekonomi Global dan perdagangan bebas.
Metodenya sederhana. Bercerita tentang perjalanan hidup T-Shirt. Latar belakang pencarian kisah hidup T-Shirt tersebut diawali oleh kegusaran seorang profesor bisnis, Pietra Rivolli,terhadap celotehan aktifis yang menggugat perdagangan bebas. Dari mana dia(aktifis) tau?. Untuk membuktikan ocehan aktifs itu, si Prof pun menggali asal muasal T-Shirt hingga sampai mana T-Shirt benar-benar habis terpakai.
Jika disederhanakan, alur perjalanan hidup T-Shirt, dimulai dari bentuk Kapas dari Amerika Serikat, dipintal, ditenun dan dijahit menjadi T-Shirt di Cina. Dipasarkan kembali ke AS. Singgah sebentar di lemari pakaian konsumen AS, lalu ditampung, atau dibeli dengan murah oleh salvation army/lembaga sosial yang kemudian disalurkan ke negara miskin, terutama Afrika. Di Afrika, pakaian bekas ini berubah nama menjadi Mitumba.
Jika tak kandas menjadi Mitumba, T-shirt dipotong-potong untuk jadi kain lap, atau dicabik mutilator sampai menjadi shoddy yang berguna untuk pelapis bagian dalam atap mobil, bantalan karpet atau dijalin ulang menjadi benang kualitas rendah, kemudian diolah menjadi selimut murah yang dibagikan kepada para pengungsi.
Masalah yang membuat kapas mengalami perjalanan jauh hingga lintas negara itu adalah tenaga kerja. Meski kekuatan pertanian AS menurut buku ini setara dengan kekuatan Angkatan Bersenjatanya, namun AS tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang negaranya sendiri.
Jika Pertanian Kapas AS setelah berevolusi selama 200 tahun dapat dikelola secara mekanis dan membebaskan pertanian dari kejamnya perbudakan atau upah buruh yang rendah maka Industri tekstil adalah industri tetap banyak menyerap tenaga kerja. Dan tenaga kerja yang murah itu, tidak ada di AS, mereka ada di negara-negara dunia ketiga dan penguasanya adalah Cina. Dan siapakah tenaga kerja murah itu?. Mereka adalah perempuan-perempuan desa yang didiskriminasi oleh sistem Hokau pemerintah Cina. Mereka rela bekerja dengan upah rendah, dan resiko keselamatan kerja tinggi dan jaminan kesejahteraan yang nyaris tak ada. Perempuan tidak merasa buruk dengan ketertindasan itu. Bagi mereka keadaan itu masih lebih baik ketimbang hidup di desa, dimana hidup mereka di kendalikan oleh orang lain. Bekerja di pabrik tekstil, meski tertindas, setidaknya mereka punya pilihan untuk menjadi diri sendiri. Dari memilih pakaian yang disukai hingga pasang hidup yang dicintai. Yuup...sangat berharganya sebuah jati diri...
Fase industri tekstil yang terjadi di Cina, atau negara negara yang mengandalkan tenaga kerja murah adalah fase yang juga pernah dilalui oleh Negara maju seperti AS. Dan sama saja, tetap bertumpu pada kaum perempuan. Alasannya pun sama, rajin, telaten dan mudah dikendalikan.
Ada produksi, ada juga pasar. Keinginan menguasai produksi maupun pasar, keinginan tenaga kerja untuk mendapatkan haknya secara utuh, keinginan konsumen untuk dapat memuaskan kebutuhannya terhadap sandang hingga mode, bermuara dalam politik sebagai alat. Semua kekuatan tarik menarik kepentingan. Siapa yang kuat dialah yang menang.
*** Menurutku Pietra Rivoli ini orang yang putus asa terhadap ide perdagangan bebas. Seperti quote di sampul bukunya "Tak ada yang bebas dalam perdagangan bebas, kecuali slogannya", itulah benang merah setiap bagian dari kisah di buku ini. Tak ada solusi dibuku ini. Yang ada hanya kisah.
Aku sendiri berhayal, andai nih...Cina atau negara-negara yang saat ini mengobral tenaga kerja murah, sampai pada tahap memberikan hak yang sama seperti apa yang didapat oleh tenaga kerja di negara maju, apa mungkin perjalanan panjang sebuah T-Shirt akan menjadi ringkas?.
Atau mungkinkah suatu saat nanti, urusan sandang dunia_sebagai salah satu kebutuhan pokok ini, dengan kemajuan teknologi yang lebih, kemudian dapat dikelola secara mandiri. Seperti kearifan lokal Cina dimasa lalu, dimana proses dari bahan mentah, serat hingga berubah menjadi pakaian, sepenuhnya dikelola secara mandiri oleh setiap rumah tangganya...