Sabtu. Saya batal mau pergi kondangan karena hidung terus2an membasah dan kepala jadi pening. Dan selop yang mau dipakai kok ya kurang nyaman jadinya....moreSabtu. Saya batal mau pergi kondangan karena hidung terus2an membasah dan kepala jadi pening. Dan selop yang mau dipakai kok ya kurang nyaman jadinya. Alias minta diganti.
Ternyata bapak dan ibu juga hari itu mau pergi jalan2. Sempat geje, dan sudah sempat tanya rute, mau ke Masjid Sunda Kelapa atau mau ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Akhirnya mereka mau ke Kota Tua saja. Lihat2 Museum Fatahillah katanya. Dan mau coba naik KRL commuter line yang bayar tiketnya 8 ibu itu.
Jadilah saya di rumah, meneyelesaikan buku ini sambil pilek. Oh ya, di rumah juga ada adik sih, tapi setelah selesai mencuci dia langsung internetan di kamarnya. Lagipula dia ga pernah berniat jalan2 gitu, baik di kehidupan nyata maupun lewat buku. Jadi anggap saja dia nggak eksis sebagai latar belakang kisah misteri London Eye ini.
Ahhh... jadi pengen ke London! Yuk, berangkat! *ambil paspor* ealaaah... udah lewat masa berlakunya! *mutung lagi di pojokan* (less)
Lumayan untuk penyegaran bacaan setelah belakangan ini berjodohnya untuk baca buku yang tebal2 teruss...
Penyegaran lewat buku tidak tebal ini kok ya t...moreLumayan untuk penyegaran bacaan setelah belakangan ini berjodohnya untuk baca buku yang tebal2 teruss...
Penyegaran lewat buku tidak tebal ini kok ya ternyata bisa pake cucuran air mata juga, hihi...
Ayo, para remaja sedunia, bersemangatlah! Jangan gampang galau, dunia ini luas! *sok tua, padahal emang pengin jalan kaki di Jalur Sutra juga*(less)
Mengingatkan saya pada sketsa tentang situasi Surabaya tahun 1945 pada buku Idroes. Mungkin kalau buku ini memang "selesai", bintangn...more3.5 bintang sih.
Mengingatkan saya pada sketsa tentang situasi Surabaya tahun 1945 pada buku Idroes. Mungkin kalau buku ini memang "selesai", bintangnya bisa tambah. Tapi buku ini isinya ternyata baru dua bagian dari rencana lima bagian novel ini, yang tidak akan pernah selesai karena pengarangnya keburu ditangkap Nazi.
Ttg kakak beradik yg harus bertahan dari uberan penyihir.. Latar cerita ada di "zaman sekarang", jadi jadi kalo dibaca sambil kebanyakan mikir, opini...moreTtg kakak beradik yg harus bertahan dari uberan penyihir.. Latar cerita ada di "zaman sekarang", jadi jadi kalo dibaca sambil kebanyakan mikir, opini kita bisa muncul begini: "ga masuk akal!". Tapi cara ceritanya lancar kok sehingga yah ... mungkin jadi kepikiran, jangan2 penyihir memang masih ada, hehe...(less)
Oo, kayak begini tho yang namanya novel dystopia? *manggut2 *telat banget
Ceritanya suram walau berlatar kemewahan sebuah rumah tangga, salah satu ruma...moreOo, kayak begini tho yang namanya novel dystopia? *manggut2 *telat banget
Ceritanya suram walau berlatar kemewahan sebuah rumah tangga, salah satu rumah tangga yang bisa bertahan dengan segala kesombongannya yang susah dipercaya... karena ini adalah masa setelah Perang Dunia III selesai. Kapan pun itu.
Dunia macam ini ni yang malah bikin saya teringat salah satu komik bersambung sisipan majalah Bobo saat saya masih SD dulu, judulnya "Taman Rahasia". *yg sama2 jadul tolong angkat tangan ;)
Karena -kalo ga salah- cerita komik itu ujungnya bahagia, maka saya juga jadi berharap kisah dalam novel ini pun berakhir bahagia. Eh, ternyata penerbit Kantera baru menerbitkan buku satu dari trilogi ini. Hayoo, bakal ada lanjutannya, ga ya?(less)
Kalo bukan gara2 komik Topeng Kaca, entah kapan saya mulai tertarik baca buku ini :)
Oya, ini juga karena saya nemu buku ini Oktober lalu dengan diskon...moreKalo bukan gara2 komik Topeng Kaca, entah kapan saya mulai tertarik baca buku ini :)
Oya, ini juga karena saya nemu buku ini Oktober lalu dengan diskon 40 persen.
---
Baiklah, seperti saya tulis di atas, akhirnya buku diskonan ini bisa menggoda saya setelah membaca kisah salah satu peran gemilang Maya Kitajima dalam serial Topeng Kaca yg legendaris dan kisahnya sampai sekarang belum selesai walau sudah dimulai sejak 35 tahun yang lalu. Memang tega itu Suzue Miuchi sensei, bikin cerita kok ga selesai hingga pembacanya sudah ada yg mengalami metamorfosis dari anak SMP sampai jadi ibu2 yg punya anak SMP :)
Sayang, bagian yg memukau saya pada komik Topeng Kaca itu, saat Maya sebagai Catherine menunjukkan sifat posesif yg menggebu pada Heathcliff, ternyata tidak ada di edisi novel. Jadi walau masih sebal pada Miuchi sensei yg tidak cepat2 meresmikan hubungan Maya dgn Masumi *halah, malah curcol*, saya bisa memahami kekuatan cerita "Bukit Berbadai" ini sehingga sang sensei pun menggubah lakon drama yg bikin pembaca terpana.
*saya tuh sebenarnya bikin review TK atau WH, sih? *jangan dijawab *bikin capek
Sudahlah. Saya cuma mau bilang, tokoh pertama dalam novel ini yg saya benci adalah Catherine Earnshaw. Dia manja dan egois dari ujung ke ujung. Tokoh kedua adalah Linton Heathcliff, karena dia manja dan pengecut dari ujung ke ujung. Tokoh ketiga adalah Catherine Heathcliff (d/h Linton), karena dia manja, egois, tapi bagusnya tidak pengecut.
**spoiler alert** Seru juga membaca bagaimana Theo berusaha membersihkan nama baiknya. Teknik interogasi untuk mencari tersangka remaja juga dipaparka...more**spoiler alert** Seru juga membaca bagaimana Theo berusaha membersihkan nama baiknya. Teknik interogasi untuk mencari tersangka remaja juga dipaparkan. Sayangnya, remaja cerdas dan punya kecenderungan kriminal juga bisa menggunakan taktik bungkam seperti di buku ini..
Apalagi jika guru BK, wali kelas dan kepala sekolahnya tidak pernah tertarik membaca cerita detektif :)(less)
Sepanjang buku, yang banyak saya skip saat membacanya, perasaan bosan dan bosan melanda. Bagian awal membosankan karena hanya narasi tentan...moreYa ampun...
Sepanjang buku, yang banyak saya skip saat membacanya, perasaan bosan dan bosan melanda. Bagian awal membosankan karena hanya narasi tentang Henry sang penulis galau dan kehidupannya. Bagian ini miskin dialog, miskin aksi. Bikin bosan.
Lalu mulai bagian kiriman naskah drama dari sang taksidermis untuk Henry. Ya ampun sama membosankannya. Apalagi drama itu hanya percakapan antara seekor monyet peraung dan seekor keledai. Tentu ada dialog, tapi tetap miskin aksi. Masih membosankan.
Tapi entah kenapa saya tetap bertahan hingga halaman terakhir cerita buku ini. Mungkin rasa penasaran saya mengenai siapa sesungguhnya sang taksidermis itu yang mengikat. Mungkin juga karena apa yang terjadi pada si kucing hitam Mendelssohn yang membuat saya jatuh simpati. Mungkin karena saya belum tentu bisa mulai membuka buku lain sebelum buku ini tuntas.
Dan, ya.. Ternyata akhir cerita ini memang mencekam. Boleh lah membuat saya bisa kasih bintang 3 untuk buku ini.(less)
Masih belum bisa komentar banyak, cuma, yaah... karena pesan pertama buku ini adalah sikap baik hati lebih dipentingkan daripada sikap benar, maka say...moreMasih belum bisa komentar banyak, cuma, yaah... karena pesan pertama buku ini adalah sikap baik hati lebih dipentingkan daripada sikap benar, maka saya sedang mempertimbangkan untuk mencari nama baru untuk saya manakala saya setuju dengan pesan itu :) (less)
Kalo ada pembaca buku ini yg sekarang masih SMA atau lebih muda lagi, bisa langsung ngerti terjemahan Mbak Poppy di halaman 209 ini, ga ya:
"Baiklah,"...moreKalo ada pembaca buku ini yg sekarang masih SMA atau lebih muda lagi, bisa langsung ngerti terjemahan Mbak Poppy di halaman 209 ini, ga ya:
"Baiklah," kataku. "Aku cup bagian pinggang ke bawah." ?
Saya benar ingin tau, lho, karena kok kayaknya remaja zaman sekarang udah ga main cup-cupan lagi :) (less)
Saya pernah coba baca yang volume 1, tapi ga lebih dari 10 halaman, saya kembalikan lagi ke rak. Nggak ngerti...
Buku volume 2 ini saya baca di taksi...moreSaya pernah coba baca yang volume 1, tapi ga lebih dari 10 halaman, saya kembalikan lagi ke rak. Nggak ngerti...
Buku volume 2 ini saya baca di taksi dalam perjalanan ke pernikahan sepupu saya kemarin. Sebagai buku "numpang baca" ternyata saya cukup paham isinya. Dan lumayan suka, jadi kalo ada yang mau pinjami lanjutannya, mungkin saya bersedia baca. Tapi bagaimana pun, cukup satu kali baca saja deh. Segera buku ini saya akan kembalikan kepada yang punya :p(less)
Tebasan pedang. Semburan darah. Bongkahan dengki. Samudera egoisme tak bertepi.
Mengapa Brom tau2 menyodorkan kenyataan pada kita, bahwa semua itu, dan semua yg lebih kejam, sadis, brutal, atau apa lah kata2 brengsek lain yg tak bisa saya ucap atau tulis, ternyata ada di sisi dunia yg sama dengan kelembutan cinta, keluasan maaf, kesediaan berkorban untuk sesama, atau kerinduan pada kasih Ibu?
Ini mungkin buku pertama yg membuat saya menangis di tengah lautan darah. Saya bukan menangisi korban yg darahnya menggenang. Saya menangisi mereka yg menganggap diri sudah bertempur demi nilai atau cinta bagi yg mereka bela, namun seandainya mereka masih hidup niscaya akan menyaksikan cinta tersebut diinjak2 oleh pihak yg mereka bela...
*masih nangis walau buku ini berunsur happy ending...(less)
Walau judulnya 20 perang yg mengubah dunia, ternyata porsi perang paling besar di buku ini diberikan untuk perang yg lingkupnya cukup "lokal", yaitu P...moreWalau judulnya 20 perang yg mengubah dunia, ternyata porsi perang paling besar di buku ini diberikan untuk perang yg lingkupnya cukup "lokal", yaitu Perang Goguryeo vs Sui dan Tang.
Ah ha, perang di mana gerangan itu? Ternyata di kawasan perbatasan cina dan Korea, di abad 6-7 M. Perang yang baru saya tahu ini, perlu sekali diceritakan dalam 22 halaman, paling tebal di antara perang perang lain. Pesan sponsor nya tampak jelas juga, ya? :)
Kalau gitu, sekiranya penulis buku ini adalah orang Indonesia, buku berjudul sama mungkin akan memuat Perang Bubat, ya? *iseng(less)
Selesai membaca buku ini, saya menutupnya dengan pikiran tertuju pada salah satu buku yang belum pernah saya baca: Tuhan Hal-hal yang Tidak Selesai.
E...moreSelesai membaca buku ini, saya menutupnya dengan pikiran tertuju pada salah satu buku yang belum pernah saya baca: Tuhan Hal-hal yang Tidak Selesai.
Enggak, saya belum berniat baca buku GM itu. Hanya menyampaikan perasaan saya saja bahwa buku ini kesannya belum selesai. Dan tidak akan selesai, karena duo pengarang yg dua puluh dua tahun lalu bekerjasama menerbitkan buku ini, sudah berjanji tidak akan khilaf mengulang perbuatan semacam ini lagi.
Mungkin mereka takut ya..? Takut suatu ketika langit benar2 akan runtuh di atas kepala mereka. Karena seperti Anathema Device yg merupakan keturunan Agnes Nutter, atau Newt Pulsifer yg juga keturunan Jangan-Berzina Pulsifer, ternyata Neil Gaiman adalah cicit dari cicit dari cicit Abraracourcix, dan kakek moyang Terry Pratchett adalah Tyranosaurus Rex.
Di buku nomor tiga, disebutkan kalo buku pamungkas ini bakal terbit bulan Oktober 2012. Jadilah saya tiga kali bolak balik ke toko buku sepanjang Okto...moreDi buku nomor tiga, disebutkan kalo buku pamungkas ini bakal terbit bulan Oktober 2012. Jadilah saya tiga kali bolak balik ke toko buku sepanjang Oktober untuk pulang dengan kecewa. Ternyata saya dapat juga hari ini, saat sudah bulan November.
Ah, ga usah bikin review deh. Lihat punya Mbak Threez aja :)(less)
Saya cukup yakin dulu pernah baca edisi bahasa inggris dari buku ini... Tapi kapan itu, ya?
Pokoknya bintang dua buat buku edisi ini bukan karena cerit...moreSaya cukup yakin dulu pernah baca edisi bahasa inggris dari buku ini... Tapi kapan itu, ya?
Pokoknya bintang dua buat buku edisi ini bukan karena ceritanya. Tapi karena Elex tidak menyediakan editor untuk memeriksa kehalusan penerjemahan dan kerapian penggantian paragraf. Ampuuun...
*review nostalgia terkait dengan buku ini direncanakan segera menyusul*(less)
Saya jujur ni, buku ini dibaca dengan melompat2 beberapa bagian dalam halaman2nya. Walau demikian saya telah menangkap ide dan jalan ceritanya. Al...moreDah.
Saya jujur ni, buku ini dibaca dengan melompat2 beberapa bagian dalam halaman2nya. Walau demikian saya telah menangkap ide dan jalan ceritanya. Alurnya adalah alur maju-mundur (semoga anda tahu tentang ini :p) tapi punya benang merah kok di setiap pengkolan cerita.
Seperti review banyak pembaca lain, saya sangat setuju bahwa buku ini memang memamerkan kesadisan tiada tara sang pembunuh yang membuat "every dead thing" bergelimpangan di mana2. Bukan hanya banyak, bahkan dengan detail yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Naudzubillahi min dzalik, semoga sampai kapan saja hidup kita senantiasa dijauhkan dari perilaku orang seperti ini...
Susah sekali saya memberi komentar lebih, karena masih merinding. Kekejaman kelompok Edward Molloch yang sudah membuat kuduk berdiri dalam karangan Connolly lainnya, Bad Men sepertinya tidak bisa dibandingkan dengan polah pembunuh yang disebut "Sang Pengembara" di buku ini. Pokoknya bikin kapok pembaca penakut seperti saya. Walau sambil penasaran juga, kok ya di Amerika sana, serial Charlie Parker ini sudah sampai 11 nomor, yah? Penjahat sejahat apa lagi yang masih punya gaya unik dan berkeliaran untuk dipampangkan MO-nya oleh Connolly, ya?
Saking tertekannya membaca polah si Pengembara, saya sempat ingin kabur ke TM Bookstore Detos untuk menukar buku ini! Takuuut...!!! Kan saya beli buku ini Sabtu lalu, artinya hari ini masih ada kesempatan terakhir menukarkannya. Sayang, struk pembelian buku ini ada di Jakarta, nggak keburu kalo sore ini saya terbang ke Jakarta, cari2 si struk entah di kantong belanja yang mana, lalu melesat lagi ke Depok untuk menukar si buku. Maka, ya sudahlah, tumpuk saja si buku ini di tumpukan buku terjauh dan paling bawah. Dah.
Moral cerita yang bisa ditarik dari membaca buku ini adalah seorang pembaca penakut tidak disarankan membacanya saat sedang sendirian malam2 di kamar kos. Ingat pesan Bang Napi, kejahatan selalu timbul karena ada kesempatan. Bacalah di tempat ramai, dikelilingi orang2 baik hati, saat hari terang benderang. Jika saat itu masih saja ada penjahat berani mencoba mengambil kesempatan, maka lempar saja dengan buku yang tebal jaya dan font-nya imut2 ini :)
Saya kasih 2,6 bintang buat buku ini deh. Plus ada satu misteri kecil yang muncul sebelum mulai membaca isi buku: adakah GPU punya dua versi terjemahan buku ini, karena pada buku yg saya punya, penerjemahnya adalah mamih Uci?(less)
Saya nggak pernah bercita2 jadi dokter manusia. Kalau jadi dokter hewan, iya!:) Setelah baca buku ini, kok ya agak bersyukur ya cita2 itu tidak kesamp...moreSaya nggak pernah bercita2 jadi dokter manusia. Kalau jadi dokter hewan, iya!:) Setelah baca buku ini, kok ya agak bersyukur ya cita2 itu tidak kesampaian... karena nampaknya saya ga akan pernah sanggup jadi dokter hewan yang baik, hehe...(less)
Hal yang membuat buku ini agak membosankan buat saya adalah dialog dan anekdotnya yang sangat amerika sekali. Serasa saya hanya jadi penonton sebuah f...moreHal yang membuat buku ini agak membosankan buat saya adalah dialog dan anekdotnya yang sangat amerika sekali. Serasa saya hanya jadi penonton sebuah film, tanpa ada keterlibatan emosi dengan pemeran dan jalan ceritanya.(less)
Dengan sok tahunya saya berpikir buku ini sama idenya dengan 1984-nya Orwell. Sebuah kisah mengenai pemerintahan otoriter di suatu negara yang begitu...moreDengan sok tahunya saya berpikir buku ini sama idenya dengan 1984-nya Orwell. Sebuah kisah mengenai pemerintahan otoriter di suatu negara yang begitu ketat mengatur perikehidupan rakyatnya, bahkan dengan cara yang sangat memaksa, yaitu memeriksa kumpulan mimpi dari seluruh negeri. Sampai perlu dibentuk suatu institusi resmi, Tabir Sarrail, atau Istana Mimpi, yang begitu disegani untuk menafsirkan mimpi2 berbahaya bagi pemerintah. Nanti si pemimpi subversif itu diinterogasi dan dipulangkan dalam peti mati.
Ganti saja kata "pemimpi" dengan "orang" yang bermakna netral. Mungkin Anda akan merasa terbiasa membaca kejadian di atas. Yang tidak biasa, dalam buku ini ada Istana Mimpi. Institusi penafsir mimpi memang absurd sekali, tapi biarkan sajalah. Namanya juga negara otoriter, wajar kalau punya keputusan aneh2. Lah, yang lebih absurd adalah kok ya orang2 mau2nya menyetor mimpi mereka pada petugas di tiap kampung, menceritakannya, dicatat, lalu dibawa secara berkala ke ibukota untuk disortir-disalin-ditafsir di Istana Mimpi itu. Di sinilah saya mulai merasa pengarang buku ini ngarang banget: emang di negara itu rakyatnya tidak punya kerjaan selain bermimpi? *pertanyaan pembaca usil as usual*
Belum lagi deskripsi tentang ruangan dalam Tabir Sarrail yang serba misterius, para pegawainya yang anonim -kecuali tokoh kita si Mark-Alem Quprili. Kok ya bisa semua orang tidak punya keinginan untuk sekadar tahu nama kenalan barunya. Pasti ada alasan dari pengarang, yaitu membangun imaji terkungkung dan depresi tentang istana ini. Tapi buat saya tidak masuk akal, karena tidak ada siratan penjelasan apa pun mengenai dilarangnya mengenal identitas pribadi atau keluarga seseorang. Eh, kecuali Quprili mungkin. Keluarga selebritas politik di negara itu.
Maka buku ini saya beri bintang dua saja, karena saya lumayan suka pandangan yang digambarkan umum tentang keluarga Quprili sebagai keluarga yang selalu dekat dengan puncak kekuasaan; sering dijungkal ke dasar, namun segera menyerang balik.
Jadi ingat keluarga apaaa... gitu... *mulai ikut ngarang*(less)
Tadinya bosan banget dengan buku pertama, Sang Pencuri dari Eddis, karena kebanyakan diisi dengan perjalanan mencari Hadiah Hamiathes bercampur dengan...moreTadinya bosan banget dengan buku pertama, Sang Pencuri dari Eddis, karena kebanyakan diisi dengan perjalanan mencari Hadiah Hamiathes bercampur dengan obrolan2 dengan legenda2 kuno. Lalu saya mulai kagum pada kecerdikan Eugenides dan cinta terpendamnya pada Ratu Attolia di buku kedua.
Buku ketiga penutup trilogi ini, akhirnya bisa membuat saya menghembuskan nafas lega... eh sambil ingin bilang pada pengarangnya: WE WANT MORE :)
*ternyata cerita ini memang masih ada lanjutannya*(less)
Keseluruhan seri ini saya kasih bintang 3.5. Kalau boleh membandingkan dengan Harry Potter, sihir di buku ini benar 2 jauh lebih praktis dan rasional m...moreKeseluruhan seri ini saya kasih bintang 3.5. Kalau boleh membandingkan dengan Harry Potter, sihir di buku ini benar 2 jauh lebih praktis dan rasional manfaatnya. Jadi berminat nih ikut aliran Strangite :)(less)