Mengapa oh mengapa... darah dari korban yang mengalir tiap pertempuran dalam buku ini seakan terhenti sebagai statistik? Apakah menunggu hingga Anthra...moreMengapa oh mengapa... darah dari korban yang mengalir tiap pertempuran dalam buku ini seakan terhenti sebagai statistik? Apakah menunggu hingga Anthravai berhadapan dengan Vyndassi setelah sebelumnya Thorsti dibantai oleh entah siapa?
*sok jadi peramal sebelum melirik tumpukan buku untuk mencari keberadaan si bocah dan penyihir*(less)
Lumayan untuk penyegaran bacaan setelah belakangan ini berjodohnya untuk baca buku yang tebal2 teruss...
Penyegaran lewat buku tidak tebal ini kok ya t...moreLumayan untuk penyegaran bacaan setelah belakangan ini berjodohnya untuk baca buku yang tebal2 teruss...
Penyegaran lewat buku tidak tebal ini kok ya ternyata bisa pake cucuran air mata juga, hihi...
Ayo, para remaja sedunia, bersemangatlah! Jangan gampang galau, dunia ini luas! *sok tua, padahal emang pengin jalan kaki di Jalur Sutra juga*(less)
Mengingatkan saya pada sketsa tentang situasi Surabaya tahun 1945 pada buku Idroes. Mungkin kalau buku ini memang "selesai", bintangn...more3.5 bintang sih.
Mengingatkan saya pada sketsa tentang situasi Surabaya tahun 1945 pada buku Idroes. Mungkin kalau buku ini memang "selesai", bintangnya bisa tambah. Tapi buku ini isinya ternyata baru dua bagian dari rencana lima bagian novel ini, yang tidak akan pernah selesai karena pengarangnya keburu ditangkap Nazi.
Oo, kayak begini tho yang namanya novel dystopia? *manggut2 *telat banget
Ceritanya suram walau berlatar kemewahan sebuah rumah tangga, salah satu ruma...moreOo, kayak begini tho yang namanya novel dystopia? *manggut2 *telat banget
Ceritanya suram walau berlatar kemewahan sebuah rumah tangga, salah satu rumah tangga yang bisa bertahan dengan segala kesombongannya yang susah dipercaya... karena ini adalah masa setelah Perang Dunia III selesai. Kapan pun itu.
Dunia macam ini ni yang malah bikin saya teringat salah satu komik bersambung sisipan majalah Bobo saat saya masih SD dulu, judulnya "Taman Rahasia". *yg sama2 jadul tolong angkat tangan ;)
Karena -kalo ga salah- cerita komik itu ujungnya bahagia, maka saya juga jadi berharap kisah dalam novel ini pun berakhir bahagia. Eh, ternyata penerbit Kantera baru menerbitkan buku satu dari trilogi ini. Hayoo, bakal ada lanjutannya, ga ya?(less)
Buku perjalanan yg asyik karena begitu murah hati memasukkan banyak gambar lokasi yg dikunjungi dalam perjalanan ini. Apalagi buku ttg Amerika Selatan...moreBuku perjalanan yg asyik karena begitu murah hati memasukkan banyak gambar lokasi yg dikunjungi dalam perjalanan ini. Apalagi buku ttg Amerika Selatan berbahasa Indonesia kan masih jarang.
Memang hanya ttg perjalanan di empat negara: Cili (Chile), Peru, Argentina, dan Uruguay. Tempat yg didatwangi penulis pun sebatas lokasi wisata semata. Tapi buat saya, turis internasional wannabe yg tidak gaul ini, lumayanlah buat berandai2. :)
Kalo ada pembaca buku ini yg sekarang masih SMA atau lebih muda lagi, bisa langsung ngerti terjemahan Mbak Poppy di halaman 209 ini, ga ya:
"Baiklah,"...moreKalo ada pembaca buku ini yg sekarang masih SMA atau lebih muda lagi, bisa langsung ngerti terjemahan Mbak Poppy di halaman 209 ini, ga ya:
"Baiklah," kataku. "Aku cup bagian pinggang ke bawah." ?
Saya benar ingin tau, lho, karena kok kayaknya remaja zaman sekarang udah ga main cup-cupan lagi :) (less)
Membaca buku ini tidak memakan waktu satu jam, saat saya dalam perjalanan satu Parung menuju Depok kemarin siang. Isi buku ini jadi lebih bermakna kar...moreMembaca buku ini tidak memakan waktu satu jam, saat saya dalam perjalanan satu Parung menuju Depok kemarin siang. Isi buku ini jadi lebih bermakna karenanya, karena potongan demi potongan kecil kisah Kato,san saat tinggal di Indonesia memang berlatar belakang Indonesia "jalanan".
Dilanjutkan dengan membaca status teman2 di media sosial hari ini seputar belum berhasilnya timnas sepakbola kita, saya jadi manggut2 paham, mengapa Kato--san sampai mencatat khusus filosofi "tidak apa2" dari bangsa kita yg bikin dia kangen :)(less)
Tebasan pedang. Semburan darah. Bongkahan dengki. Samudera egoisme tak bertepi.
Mengapa Brom tau2 menyodorkan kenyataan pada kita, bahwa semua itu, dan semua yg lebih kejam, sadis, brutal, atau apa lah kata2 brengsek lain yg tak bisa saya ucap atau tulis, ternyata ada di sisi dunia yg sama dengan kelembutan cinta, keluasan maaf, kesediaan berkorban untuk sesama, atau kerinduan pada kasih Ibu?
Ini mungkin buku pertama yg membuat saya menangis di tengah lautan darah. Saya bukan menangisi korban yg darahnya menggenang. Saya menangisi mereka yg menganggap diri sudah bertempur demi nilai atau cinta bagi yg mereka bela, namun seandainya mereka masih hidup niscaya akan menyaksikan cinta tersebut diinjak2 oleh pihak yg mereka bela...
*masih nangis walau buku ini berunsur happy ending...(less)
Selesai membaca buku ini, saya menutupnya dengan pikiran tertuju pada salah satu buku yang belum pernah saya baca: Tuhan Hal-hal yang Tidak Selesai.
E...moreSelesai membaca buku ini, saya menutupnya dengan pikiran tertuju pada salah satu buku yang belum pernah saya baca: Tuhan Hal-hal yang Tidak Selesai.
Enggak, saya belum berniat baca buku GM itu. Hanya menyampaikan perasaan saya saja bahwa buku ini kesannya belum selesai. Dan tidak akan selesai, karena duo pengarang yg dua puluh dua tahun lalu bekerjasama menerbitkan buku ini, sudah berjanji tidak akan khilaf mengulang perbuatan semacam ini lagi.
Mungkin mereka takut ya..? Takut suatu ketika langit benar2 akan runtuh di atas kepala mereka. Karena seperti Anathema Device yg merupakan keturunan Agnes Nutter, atau Newt Pulsifer yg juga keturunan Jangan-Berzina Pulsifer, ternyata Neil Gaiman adalah cicit dari cicit dari cicit Abraracourcix, dan kakek moyang Terry Pratchett adalah Tyranosaurus Rex.
Mengapa si kubah baru muncul sangat jauh di pengujung cerita? Membuat saya jadi menebak dengan sok tau: buku ini tidak diniatkan hanya setebal ini, at...moreMengapa si kubah baru muncul sangat jauh di pengujung cerita? Membuat saya jadi menebak dengan sok tau: buku ini tidak diniatkan hanya setebal ini, atau si kubah dipaksakan muncul karena cerita sudah akan berakhir.. :)(less)
Di buku nomor tiga, disebutkan kalo buku pamungkas ini bakal terbit bulan Oktober 2012. Jadilah saya tiga kali bolak balik ke toko buku sepanjang Okto...moreDi buku nomor tiga, disebutkan kalo buku pamungkas ini bakal terbit bulan Oktober 2012. Jadilah saya tiga kali bolak balik ke toko buku sepanjang Oktober untuk pulang dengan kecewa. Ternyata saya dapat juga hari ini, saat sudah bulan November.
Ah, ga usah bikin review deh. Lihat punya Mbak Threez aja :)(less)
Jadi begitu ya, kerjaan orang2 utara kalo di tepi sungai? Kalo ga menyerang desa lain, mereka menyusuri sungai untuk mengejar kelompok ber...moreCk..ck..ck..
Jadi begitu ya, kerjaan orang2 utara kalo di tepi sungai? Kalo ga menyerang desa lain, mereka menyusuri sungai untuk mengejar kelompok berperahu lain.. Kok ga ada yg sepertinya menemukan bahwa dalam sungai itu ada ikan, sumber protein dan lemak hewani yg lebih sehat daripada beruang? Lagipula terus menerus berburu beruang itu menjadikan spesies ini mendekati kepunahan kan?
Atau jangan2 di sungai Ordelahr itu memang tidak ada ikannya?
Saya dibikin penasaran dgn sungai ini, jgn2 tidak panjang, ya, sehingga kisah di tepiannya begitu pendek, singkat, berdarah2, dan.. Bisa diselesaikan satu jam saja. Sekali duduk
Saya belum ingin duduk di tepi Sungai Ordelahr karena saya belum tahu mau apa di sana. Tersedu? Tersipu? Berdarah2 (seperti kata babeh petrik). Lagipu...moreSaya belum ingin duduk di tepi Sungai Ordelahr karena saya belum tahu mau apa di sana. Tersedu? Tersipu? Berdarah2 (seperti kata babeh petrik). Lagipula saya ga tau di mana gerangan sungai itu. Saya takut nyasar. Besok kelas saya ada ulangan. Siapa yg mau koreksi jawaban kalau saya hilang?
Dan saya juga belum berniat ketemu penakluk dari selatan sekarang. Omong2, Bogor ini kan di selatan Jakarta, jgn2 justru saya malah Tersipu karena bertemu diri saya sendiri yg disamarkan sebagai penakluk dari selatan itu *blushing pura2
Apalagi ketemu bocah dan penyihir. Beuh, kemarin udah ketemu banyak di aula.. Kalau masih ada yg kemarin belum dapat tandatangan dan foto bareng saya, masukin nama dulu di daftar antrian *sok ngartis, bukan pura2
Jadi, kita ketemu anak2 dunia mangkuk saja! Di bagian awal agak ga sabar dgn anak2 yg cerewet dan ngomongin hal sepele, sekaligus juga saya kagum pada kesabaran pengarang menghadapi anak2 ini sendirian. Ga ada ortu di sana, rupanya. How come? Ga semudah itu dikasitau. Jadi kita harus tabah mengikuti bocah2 cerewet itu bertualang, hingga nanti kita dapat balasan, eh jawabannya
Mungkin karena saya tidak langsung bisa menangkap deskripsi ttg fisik anak2 dunia mangkuk ini, saya agak heran, di mana unsur fantasinya? Karena sampai setengah buku lebih, cerita hampir sama seperti petualangan a la Enid Blyton, sekadar aksi anak hilang di negara lain yg belum pernah dikunjungi. Eh, ternyata, bagian fantasinya digelar di belakang. Hmm, udah kebaca ni niat sang pengarang. Pasti biar ada sekuelnya deh. *menatap lurus ke depan sambil siul2 *padahal ga bisa siul
Menutup buku ini, saya jadi iri pada Yara dkk.. Dan tetap berharap bisa bertemu Doraemon suatu hari kelak. Biar saya juga bisa merasa menyentuh awan..(less)
Saya cukup yakin dulu pernah baca edisi bahasa inggris dari buku ini... Tapi kapan itu, ya?
Pokoknya bintang dua buat buku edisi ini bukan karena cerit...moreSaya cukup yakin dulu pernah baca edisi bahasa inggris dari buku ini... Tapi kapan itu, ya?
Pokoknya bintang dua buat buku edisi ini bukan karena ceritanya. Tapi karena Elex tidak menyediakan editor untuk memeriksa kehalusan penerjemahan dan kerapian penggantian paragraf. Ampuuun...
*review nostalgia terkait dengan buku ini direncanakan segera menyusul*(less)
Saya jujur ni, buku ini dibaca dengan melompat2 beberapa bagian dalam halaman2nya. Walau demikian saya telah menangkap ide dan jalan ceritanya. Al...moreDah.
Saya jujur ni, buku ini dibaca dengan melompat2 beberapa bagian dalam halaman2nya. Walau demikian saya telah menangkap ide dan jalan ceritanya. Alurnya adalah alur maju-mundur (semoga anda tahu tentang ini :p) tapi punya benang merah kok di setiap pengkolan cerita.
Seperti review banyak pembaca lain, saya sangat setuju bahwa buku ini memang memamerkan kesadisan tiada tara sang pembunuh yang membuat "every dead thing" bergelimpangan di mana2. Bukan hanya banyak, bahkan dengan detail yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Naudzubillahi min dzalik, semoga sampai kapan saja hidup kita senantiasa dijauhkan dari perilaku orang seperti ini...
Susah sekali saya memberi komentar lebih, karena masih merinding. Kekejaman kelompok Edward Molloch yang sudah membuat kuduk berdiri dalam karangan Connolly lainnya, Bad Men sepertinya tidak bisa dibandingkan dengan polah pembunuh yang disebut "Sang Pengembara" di buku ini. Pokoknya bikin kapok pembaca penakut seperti saya. Walau sambil penasaran juga, kok ya di Amerika sana, serial Charlie Parker ini sudah sampai 11 nomor, yah? Penjahat sejahat apa lagi yang masih punya gaya unik dan berkeliaran untuk dipampangkan MO-nya oleh Connolly, ya?
Saking tertekannya membaca polah si Pengembara, saya sempat ingin kabur ke TM Bookstore Detos untuk menukar buku ini! Takuuut...!!! Kan saya beli buku ini Sabtu lalu, artinya hari ini masih ada kesempatan terakhir menukarkannya. Sayang, struk pembelian buku ini ada di Jakarta, nggak keburu kalo sore ini saya terbang ke Jakarta, cari2 si struk entah di kantong belanja yang mana, lalu melesat lagi ke Depok untuk menukar si buku. Maka, ya sudahlah, tumpuk saja si buku ini di tumpukan buku terjauh dan paling bawah. Dah.
Moral cerita yang bisa ditarik dari membaca buku ini adalah seorang pembaca penakut tidak disarankan membacanya saat sedang sendirian malam2 di kamar kos. Ingat pesan Bang Napi, kejahatan selalu timbul karena ada kesempatan. Bacalah di tempat ramai, dikelilingi orang2 baik hati, saat hari terang benderang. Jika saat itu masih saja ada penjahat berani mencoba mengambil kesempatan, maka lempar saja dengan buku yang tebal jaya dan font-nya imut2 ini :)
Saya kasih 2,6 bintang buat buku ini deh. Plus ada satu misteri kecil yang muncul sebelum mulai membaca isi buku: adakah GPU punya dua versi terjemahan buku ini, karena pada buku yg saya punya, penerjemahnya adalah mamih Uci?(less)
Saya nggak pernah bercita2 jadi dokter manusia. Kalau jadi dokter hewan, iya!:) Setelah baca buku ini, kok ya agak bersyukur ya cita2 itu tidak kesamp...moreSaya nggak pernah bercita2 jadi dokter manusia. Kalau jadi dokter hewan, iya!:) Setelah baca buku ini, kok ya agak bersyukur ya cita2 itu tidak kesampaian... karena nampaknya saya ga akan pernah sanggup jadi dokter hewan yang baik, hehe...(less)
Hal yang membuat buku ini agak membosankan buat saya adalah dialog dan anekdotnya yang sangat amerika sekali. Serasa saya hanya jadi penonton sebuah f...moreHal yang membuat buku ini agak membosankan buat saya adalah dialog dan anekdotnya yang sangat amerika sekali. Serasa saya hanya jadi penonton sebuah film, tanpa ada keterlibatan emosi dengan pemeran dan jalan ceritanya.(less)
Dengan sok tahunya saya berpikir buku ini sama idenya dengan 1984-nya Orwell. Sebuah kisah mengenai pemerintahan otoriter di suatu negara yang begitu...moreDengan sok tahunya saya berpikir buku ini sama idenya dengan 1984-nya Orwell. Sebuah kisah mengenai pemerintahan otoriter di suatu negara yang begitu ketat mengatur perikehidupan rakyatnya, bahkan dengan cara yang sangat memaksa, yaitu memeriksa kumpulan mimpi dari seluruh negeri. Sampai perlu dibentuk suatu institusi resmi, Tabir Sarrail, atau Istana Mimpi, yang begitu disegani untuk menafsirkan mimpi2 berbahaya bagi pemerintah. Nanti si pemimpi subversif itu diinterogasi dan dipulangkan dalam peti mati.
Ganti saja kata "pemimpi" dengan "orang" yang bermakna netral. Mungkin Anda akan merasa terbiasa membaca kejadian di atas. Yang tidak biasa, dalam buku ini ada Istana Mimpi. Institusi penafsir mimpi memang absurd sekali, tapi biarkan sajalah. Namanya juga negara otoriter, wajar kalau punya keputusan aneh2. Lah, yang lebih absurd adalah kok ya orang2 mau2nya menyetor mimpi mereka pada petugas di tiap kampung, menceritakannya, dicatat, lalu dibawa secara berkala ke ibukota untuk disortir-disalin-ditafsir di Istana Mimpi itu. Di sinilah saya mulai merasa pengarang buku ini ngarang banget: emang di negara itu rakyatnya tidak punya kerjaan selain bermimpi? *pertanyaan pembaca usil as usual*
Belum lagi deskripsi tentang ruangan dalam Tabir Sarrail yang serba misterius, para pegawainya yang anonim -kecuali tokoh kita si Mark-Alem Quprili. Kok ya bisa semua orang tidak punya keinginan untuk sekadar tahu nama kenalan barunya. Pasti ada alasan dari pengarang, yaitu membangun imaji terkungkung dan depresi tentang istana ini. Tapi buat saya tidak masuk akal, karena tidak ada siratan penjelasan apa pun mengenai dilarangnya mengenal identitas pribadi atau keluarga seseorang. Eh, kecuali Quprili mungkin. Keluarga selebritas politik di negara itu.
Maka buku ini saya beri bintang dua saja, karena saya lumayan suka pandangan yang digambarkan umum tentang keluarga Quprili sebagai keluarga yang selalu dekat dengan puncak kekuasaan; sering dijungkal ke dasar, namun segera menyerang balik.
Jadi ingat keluarga apaaa... gitu... *mulai ikut ngarang*(less)
Tadinya bosan banget dengan buku pertama, Sang Pencuri dari Eddis, karena kebanyakan diisi dengan perjalanan mencari Hadiah Hamiathes bercampur dengan...moreTadinya bosan banget dengan buku pertama, Sang Pencuri dari Eddis, karena kebanyakan diisi dengan perjalanan mencari Hadiah Hamiathes bercampur dengan obrolan2 dengan legenda2 kuno. Lalu saya mulai kagum pada kecerdikan Eugenides dan cinta terpendamnya pada Ratu Attolia di buku kedua.
Buku ketiga penutup trilogi ini, akhirnya bisa membuat saya menghembuskan nafas lega... eh sambil ingin bilang pada pengarangnya: WE WANT MORE :)
*ternyata cerita ini memang masih ada lanjutannya*(less)
Keseluruhan seri ini saya kasih bintang 3.5. Kalau boleh membandingkan dengan Harry Potter, sihir di buku ini benar 2 jauh lebih praktis dan rasional m...moreKeseluruhan seri ini saya kasih bintang 3.5. Kalau boleh membandingkan dengan Harry Potter, sihir di buku ini benar 2 jauh lebih praktis dan rasional manfaatnya. Jadi berminat nih ikut aliran Strangite :)(less)
... makin ke belakang, kok suasana ceritanya makin seram, ya? Bisa bikin merinding juga. Padahal saya membacanya di KRL tujuan Depok kemarin, sore2 pu...more... makin ke belakang, kok suasana ceritanya makin seram, ya? Bisa bikin merinding juga. Padahal saya membacanya di KRL tujuan Depok kemarin, sore2 pula...(less)