Kalau tiap komik ini dilihat satu-satu, pada waktunya masing2, terasa deh "pedas"nya. Walau demikian, bisa jadi pihak yang disindir "secara santun" sa...moreKalau tiap komik ini dilihat satu-satu, pada waktunya masing2, terasa deh "pedas"nya. Walau demikian, bisa jadi pihak yang disindir "secara santun" sama sekali tidak tersentuh, hehe...
Tapi semua komik ini saat sudah disatukan begini, apalagi saat isi di dalamnya sudah tidak aktual, bagi saya yang terasa adalah "Ah... penulis buku ini nyinyir aja... Benar2 tidak ada nih kebaikan yang bisa kita temui di negeri ini?" :)
Memang sih mengurus negara sebesar Indonesia tidak mudah. Mengurus partai sendiri atau keluarga sendiri pun masih ada repotnya. Maka sebaiknya kita mulai memperbaiki semua kekurangan yang ada di dalam diri kita sendiri.
Bagaimanapun, beberapa komik di dalamnya bisa membantu saya memberi gambaran pada siswa saya di kelas, jenakanya keadaan amburadul negeri kita... :)
Walau judulnya 20 perang yg mengubah dunia, ternyata porsi perang paling besar di buku ini diberikan untuk perang yg lingkupnya cukup "lokal", yaitu P...moreWalau judulnya 20 perang yg mengubah dunia, ternyata porsi perang paling besar di buku ini diberikan untuk perang yg lingkupnya cukup "lokal", yaitu Perang Goguryeo vs Sui dan Tang.
Ah ha, perang di mana gerangan itu? Ternyata di kawasan perbatasan cina dan Korea, di abad 6-7 M. Perang yang baru saya tahu ini, perlu sekali diceritakan dalam 22 halaman, paling tebal di antara perang perang lain. Pesan sponsor nya tampak jelas juga, ya? :)
Kalau gitu, sekiranya penulis buku ini adalah orang Indonesia, buku berjudul sama mungkin akan memuat Perang Bubat, ya? *iseng(less)
Setting: London, zaman sekarang. Garis besar cerita: seorang anak perempuan hilang dari rumahnya dan setelah tiga tahun berlalu, datang permintaan teb...moreSetting: London, zaman sekarang. Garis besar cerita: seorang anak perempuan hilang dari rumahnya dan setelah tiga tahun berlalu, datang permintaan tebusan berupa berlian. Polisi ikut campur, mafia Rusia ikut campur, lalu tembak2an terjadi. Akhir cerita: happy ending.
Saya agak mengalami deja vu setelah mengikuti sepak terjang Detektif Inspektur Vincent Ruiz dalam cerita ini. Seperti melihat lagi salah satu kisah petualangan detektif Amerika yang telah sering muncul dalam buku/film. Pertanyaan saya: Kenapa ya, dalam cerita2 detektif kota besar modern, jarang sekali tokoh detektif protagonisnya punya keluarga bahagia?
Hipotesis saya para detektif itu: 1. terlalu sering ketemu penjahat dengan berbagai latar belakang, jadi curiga kalo perempuan2 menawan yang ditemuinya adalah penjahat juga :p 2. terlalu serius menghadapi kejahatan masyarakat, sehingga kurang serius menghadapi masalah yang berhubungan dengan rumahtangga 3. terlalu banyak dimusuhi oleh penjahat, sehingga keluarganya selalu rawan ancaman tindak kejahatan
Buku sastra klasik Indonesia yang dibaca dengan semangat, karena menceritakan tentang penentangan rakyat di wilayah Minangkabau atas kekuasaan Kompeni...moreBuku sastra klasik Indonesia yang dibaca dengan semangat, karena menceritakan tentang penentangan rakyat di wilayah Minangkabau atas kekuasaan Kompeni di abad ke-17. Seru dan banyak tindakan kepahlawanan, walau dilatarbelakangi oleh berbagai sebab, termasuk yang gara2 urusan cemburu suami istri belaka. Tapi kok akhir ceritanya antiklimaks begini! Huh!
*masih mangkel dengan akhir cerita dan tokoh2nya, walau buku ini masih sangat bisa dapat bintang 3*
Beberapa hal dalam buku ini yang membuat saya ingat pada ketertarikan saya pada Rusia sejak zaman dulu kala:
1. Waktu SD, gara2 baca sisipan komik bers...moreBeberapa hal dalam buku ini yang membuat saya ingat pada ketertarikan saya pada Rusia sejak zaman dulu kala:
1. Waktu SD, gara2 baca sisipan komik bersambung di majalah Bobo (bukan serial Pak Janggut, ya!), saya ingin jadi penari balet. Segala hal tentang balet yang yang saya baca, sampai saya sempat bercita2 di masa depan kelak saya bergabung sebagai pebalet teater Bolshoi. Kalo ga salah, Margot Fonteyn dan Rudolf Nureyev juga "alumni" Bolshoi. Tapi di komik ini, barulah saya tahu, kelompok balet Bolshoi yang di Moskwa itu punya pesaing yang tidak kalah kuat, yaitu teater Mariinsky yang berpangkalan di St Petersburg.
2. Bicara tentang St Petersburg, masih ketika saya SD kelas 2 atau 3 gitu deh, rasanya seperti jadi jagoan saja, karena teman2 di kelas saya tidak tahu bahwa itulah nama asli untuk kota yang saat itu di peta dunia ditulis sebagai Leningrad :) Komik ini memberi saya latar belakang, siapakah gerangan orang yang membangun kota ini, dan betapa kerennya peninggalan besar yang masih ada di sana sekarang. Oh ya, orang itu adalah si Peter ya, bukan si Lenin.
3. Di SMA, saya pernah dipinjami komik oleh ibu dosen Anop, lupa judul dan nama tokohnya, pokoknya tentang sepasang petualang yang agak konyol dari Belanda. Dalam satu adegan, tokoh2nya menyelundup naik kereta, lalu tiba di stasiun "BLADIBOSTOK", yang ternyata dalam aksara Latin ditulis "Vladivostok". Mulai saat itu saya tertark pada aksara Cyrillic, dan bisa menulis nama saya dalam huruf kapitalnya sebagai "BEPA". Dan ternyata, di komik ini diberitahu juga tentang asal-usul aksara Cyrillic ini.
4. Sempat ingin memilih Sastra Rusia sebagai jurusan di PTN selepas SMA. Kan keren tuh mempelajari bahasa yang jarang dikuasai banyak orang. Tapi dilarang oleh ibu saya. "Nanti kamu disangka komunis, gimana?" Maklum, Orde Baru yang sedang goyang saat itu telah sukses menanamkan perasaan antikomunis bagi sebagian masyarakat Indonesia.
5. Saat kuliah, saat mulai mengambil mata kuliah pilihan, saya lebih memilih mengambil Sistem Politik Rusia dan Eropa Timur, ketimbang Sistem Politik Negara Berkembang yang diambil berjamaah oleh 80 persen kawan2 seangkatan saya. Alasan saya sebagai warga negara berkembang, ngapain kita mempelajari negara berkembang lagi? Mending belajar tentang negara lain saja, yang jarang2 dilihat orang. Hikmah dari "pembelotan" ini adalah saya mendapat nilai "A" untuk SPRET, sedangkan mayoritas teman2 saya yang mengambil SPNB diganjar nilai "B" saja *pamer*
Mengejar materi perubahan sosial budaya di kelas IX, buku yang saya selesaikan satu malam saat insomnia ini, saya pakai untuk contoh materi mengenai p...moreMengejar materi perubahan sosial budaya di kelas IX, buku yang saya selesaikan satu malam saat insomnia ini, saya pakai untuk contoh materi mengenai perubahan yang terjadi secara lambat. Dasar murid2 saya kebanyakan pembelajar auditori, mereka tidak puas saya cuplik bagian mengenai sepak terjang Kara Mustafa Pasha saat hendak menaklukkan Wina. Mereka ingin mendengar juga kisah mengenai Cordoba. Sambil saya bicara dan menunjukkan foto2nya, mereka terpekur, lalu...
"Ustadzah Vera jadi guru PAI aja," celetuk dua siswa. "Ih, mana bisa. Nanti ustadz PAI ngajar IPS, gitu?" "Iya," sahut mereka ramai2. "Nanti saat belajar IPS, beliau malah minta kamu mengerjakan tugas menghitung zakat, lho, bukan menghitung pajak," saya ngeles. "Haaa... iya juga ya," mereka manggut2.
**spoiler alert** [bukan review, hanya curhat seperti biasa]
21nov2011: Buku ini koleksi terbaru perpustakaan sekolah. Ia sudah diberi nomor induk, tapi...more**spoiler alert** [bukan review, hanya curhat seperti biasa]
21nov2011: Buku ini koleksi terbaru perpustakaan sekolah. Ia sudah diberi nomor induk, tapi labelnya belum dipasang. Sampul putih depannya sudah sedikit kotor. Saya ambil untuk diberi sampul, lalu saya sodorkan ke pustakawan untuk saya pinjam. Agak maksa sih, tapi dikasih kok, hehehe...
Mulai baca nanti malam aaah... :)
16des2011: Ternyata memang perlu waktu sekian lama untuk menamatkan buku ini. Bukan karena buku ini termasuk tebal dengan ukuran hurufnya yang kecil2. Buat saya ini bukan jenis buku membosankan yang membikin ngantuk lalu ditinggal dan entah kapan bakal dibaca ulang.
Buku ini membuat saya rela menyediakan waktu yang benar2 "berkualitas" untuk membacanya. Nggak bisa kalau dibaca iseng2 untuk menunggu kantuk. Makanya tiap kali saya mengambil buku ini dan membuka halamannya, saat itu saya siap berkonsentrasi pada isinya, tidak sedang galau jemuran belum kering atau sedang memikirkan jawaban ulangan harian yang belum dikoreksi.
Biografi ini, setelah saya selesaikan, membuat saya kagum pada satu orang: Walter Isaacson. Dua tahun mengumpulkan bahan dari sana-sini, wawancara dengan sekian banyak orang, kisah kehidupan Steve Jobs akhirnya terkumpul menjadi kesatuan gambar yang bisa dilihat banyak orang di manapun, yang selama ini sering mendengar nama si Jobs, atau hanya pernah mendengarnya, atau sama sekali tidak punya bayangan tentang siapa itu Jobs. Memang bukan buku yang sempurna atau akan memenuhi harapan semua pembaca, tapi hasil pencapaian Isaacson atas tokoh yang sudah dianggap legenda bahkan saat tokoh ini masih hidup.
Kalau sempat kapan2 saya tuliskan review sungguhan saya atas ISI buku ini, termasuk kenapa saya begitu ingin menjadi pembaca pertama buku ini dari perpustakaan sekolah (hihihi...kapankah itu gerangan? :p). Karena buku ini sudah akan saya kembalikan ke perpustakaan, saya catat dulu beberapa kutipan yang hingga kira2 sepertiga buku, cukup rajin saya tandai :)
Hal. 101 "Dia (Mike Markkula) menekankan bahwa kau seharusnya jangan pernah mendirikan sebuah perusahaan dengan tujuan menjadi kaya. Tujuanmu seharusnya memproduksi sesuatu yang kau yakini dan mendirikan sebuah perusahaan yang akan bertahan lama".
Hal. 138 (kutipan yang membuat saya mengangguk setuju, dan anehnya, saat bersamaan membuat saya merasa takjub, "Apakah dengan demikian saya yang angkatan 2000 ini memang masih satu generasi dengan Jobs"? :p) "Sekarang, mahasiswa bahkan tidak berpikir idealis, atau setidaknya, hampir tidak memikirkannya... Sikap idealis pada tahun Enam Puluhan masih melekat pada diri kami, dan sebagian besar orang yang kukenal, yang seusia denganku, selalu menanamkan sikap tersebut dalam diri mereka selamanya".
Hal. 152 "Dia (Jobs) bisa menipu dirinya sendiri," kata Bill Atkinson. "Dia selalu bisa menipu orang agar mepercayai visinya karena dia sendiri melakukan dan memercayainya."
"Hal (distorsi realitas lapangan) yang dilakukan Steve itu adalah distorsi yang memuaskan diri sendiri," kata Debi Coleman. "Kau bisa melakukan hal yang mustahil karena kau tak menyadari bahwa hal itu mustahil."
Hal. 165 "Seni besar menciptakan selera, bukannya mengikuti selera."
Hal. 243 "Jika kau ingin menjalani hidupmu dengan cara yang kreatif, sebagai seorang seniman, kau tidak boleh terlalu sering menoleh ke belakang. Kau harus bersedia menerima apa pun yang telah kau lakukan dan siapa pun dirimu yang dahulu, kemudian melupakannya."
Sebenarnya masih ada dan ada lagi kutipan2 yang membuat saya sejenak terhenti membaca dan merenungi maknanya. Tapi saat itu saya sudah kurang rajin mencari penanda, jadi lanjut saja saya baca hingga ada satu kutipan lagi yang terkait dengan pengalaman saya sehari2 di tempat kerja.
Hal 617. "Proses yang melibatkan negara dalam hal meresmikan buku teks adalah sesuatu yang bersifat korup."
Tendesius yah? ;p Walau saya tebak, saat Jobs mengatakan ini, acuannya buat Apple sih kayaknya bisnis, hehe... Biar iPad-nya makin laku :p
Dan sudahlah... curhat saya sampai sini saja. Senin depan sudah mulai UAS. Padahal sekolah2 lain sudah akan terima rapor dan liburan ya. Nasib, oh... nasib..(less)
Mmm... saya belum baca "5 Cm", jadi buku yang ini lumayanlah buat saya. OK, gitu.
Bahasa yang tidak kaku, lumayan mengalir dan mudah dipahami oleh rema...moreMmm... saya belum baca "5 Cm", jadi buku yang ini lumayanlah buat saya. OK, gitu.
Bahasa yang tidak kaku, lumayan mengalir dan mudah dipahami oleh remaja yang sudah terlebih dahulu ngefans pada "5 cm", bisa jadi menjadikan pesan buku ini sampai ke pembaca, yaitu berusalah sekuat tenaga mewujudkan impian, kalau benar2 ingin berhasil. Tidak usah peduli pada pandangan orang yang meremehkan keterbatasan kita.
Eh, tapi di sisi lain saya sendiri setuju dengan pendapat rhe a.k.a na tentang ke-lebay-an bahasa yang dipakai pengarang. Mungkin kami yang tidak cocok, memang bukan remaja lagi. Ga papa kan?
Kalau pun ada ganjalan yang bikin saya ga bisa jadikan buku ini berbintang 3 adalah... lubang tentang penyakit Gusni dan para kerabat pendahulunya yang sama2 bertubuh ekstrabesar dan tidak berusia panjang.
Kalo ga salah sih, para penderita gigantisme yang memang tidak berumur panjang. Tapi penyakit Gusni ini bukan gigantisme, tapi kelebihan bobot badan. Mungkin ada juga penyakit seperti itu, sayangnya pengarang novel ini tidak menyebutkannya, sedangkan saya malas googling. Alhasil, dalam bayangan saya, pengarang novel ini memang mengada2 saja tentang penyakit ini.
Juga, lubang tentang "siapa" orangtua Gita dan Gusni, wa bil khusus ibunya. Tidak banyak yang diceritakan pengarang, sehingga kesan saya, si Mama ini hanya ibu rumahtangga biasa, dengan latar belakang yang biasa pula. Namun filosofinya saat mengajarkan Gusni dan gengnya berdandan menggunakan alat2 bantu kecantikan... wah, berat juga. Seharusnya ada yang tidak biasa. Mungkin pengarang yang lupa memberitahu pembaca siapa si Mama ini dulunya.
Demikianlah.
Ayo para atlet Indonesia! Raih juara umum SEA Games 2011! Ayo bangsa Indonesia, dukung perjuangan para patriot bangsa!!! *heboh sendiri*
Cerita sederhana dengan bahasa yang sederhana juga. Jadinya bisa diselesaikan dalam waktu satu jam saja. Pesan moralnya pun sudah sering terdengar di...moreCerita sederhana dengan bahasa yang sederhana juga. Jadinya bisa diselesaikan dalam waktu satu jam saja. Pesan moralnya pun sudah sering terdengar di mana2: berusahalah sebaik mungkin dari dalam hatimu untuk mencapai sesuatu yang benar2 kauinginkan, dan percaya bahwa segenap alam semesta akan membantu meraihnya!
Mungkin yang belum biasa adalah latar belakang cerita yang menghubungkan antara olimpiade fisika dengan seorang pekerja migran ilegal asal Madura di Singapura :)
Buat pembaca yang gemar fisika, ada dua kemungkinan setelah membaca buku ini: makin terinspirasi untuk belajar atau mengajar fisika dengan lebih menarik, atau menganggap penulis buku ini agak lebay dan tidak paham saat menceritakan peluncuran roket air-nya Arif, tokoh protagonis cerita ini, hehe...(less)
Baca buku ini kayak nonton film. Film perang, dan ada Winnie the Pooh-nya :) Tapi walau agak tidak cocok kalau sontrek yang mengiringi membaca buku ini...moreBaca buku ini kayak nonton film. Film perang, dan ada Winnie the Pooh-nya :) Tapi walau agak tidak cocok kalau sontrek yang mengiringi membaca buku ini adalah "Return to Pooh Corner" dari Kenny Loggins, bolehlah diputar untuk mengurangi kesan muram dari sebuah Perang Besar.(less)
Membaca buku ini sejak kemarin sore, kok serasa pulang kampung... :) Napak tilas dari Bukittinggi, ke Halaban, mampir ke Yogya, jalan2 di Fort de Kock...moreMembaca buku ini sejak kemarin sore, kok serasa pulang kampung... :) Napak tilas dari Bukittinggi, ke Halaban, mampir ke Yogya, jalan2 di Fort de Kock, Padangpanjang, trus ke Sumpur Kudus... eh, saya belum pernah ke Sumpur Kudus ding :p.
Karena itu buku ini bisa cepat saya selesaikan. Tidak peduli bahwa perjalanan copet insyaf Kamil Koto lebih banyak diceritakan daripada tokoh2 lain yang lebih nyata. Karenanya, buku ini memang kurang membantu saya untuk melihat lebih manusiawi para tokoh nasional kita, namun dinamika politik negeri ini di masa Revolusi Fisik itu membuat saya makin insyaf bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan bisa jadi lebih berat daripada perjuangan memperolehnya...
Haduuuuh... jadi pengen baliak kampuang lagi... (less)
Sudah lama saya tertarik mau baca buku ini karena menceritakan tentang kehidupan orang Indonesia di Sambu, salah satu...moreSebenarnya gak segitu "like"-nya.
Sudah lama saya tertarik mau baca buku ini karena menceritakan tentang kehidupan orang Indonesia di Sambu, salah satu pulau terdepan negeri ini di Kepulauan Riau, di mana masyarakatnya dimudahkan secara geografis kalau mau ke Singapura. Akibatnya rasa cinta Indonesia bakal tererosi. Ternyata di buku ini, masyarakat Sambu memang agak2 asing dengan Indonesia (di antaranya diceritakan lewat fragmen orang2 tua karyawan PT. Shell tidak bisa lagu "Indonesia Raya" dan lagu2 nasional lain, yang bisa hanya anak2 yang masih sekolah), namun di sisi lain mereka masih merasa sebagai turunan orang Jawa :).
Tapi awal cerita yang tidak jelas latar waktunya, juga bagian penutupnya yang menurut saya dibuat terburu2 agar cerita segera selesai, membuat saya mengurangi penilaian saya. Mmm... akhirnya saya kasih buku ini 2,75 bintang, sih, karena saya bisa memahami betapa terpencilnya masyarakat di pulau2 terdepan kita yang jarang ditengok oleh pemerintah dan kita semua yang tanpa sadar tinggal nyaman di dalam lindungan keterasingan mereka...(less)
Buku ini saya beri bintang 3,5, dengan banyaknya hal yang membuat saya jadi terkenang2 masa kecil kembali. Masa yang indah saat bersama teman2 kami be...moreBuku ini saya beri bintang 3,5, dengan banyaknya hal yang membuat saya jadi terkenang2 masa kecil kembali. Masa yang indah saat bersama teman2 kami begitu bebas berlarian di tanah lapang, berbalap adu cepat di jalan dengan becak, memanjati pohon rambutan dan jamblang, bermain di pinggir empang; baik kala panas maupun hujan. Masa ketika di malam hari kami sering membuat panggung menyanyi di pinggir kompleks; bergantian menyanyikan "Berita Kepada Kawan"-nya Ebiet G. Ade atau "Anak Gembala"-nya AT. Mahmud. Kalau sedang bosan menyanyi, kami bertukar cerita hantu dan maling di kompleks sebelah.
Masa2 di atas, seperti masa yang dijalani dengan ceria oleh anak2 Blythe, anak2 Meredith plus Mary Vance ini, tidak akan kembali lagi buat saya, dan sepertinya juga bukan buat anak2 masa depan di mana tanah lapang sulit ditemukan dan jalan2 sudah dipenuhi kendaraan bermotor dan segala polusinya.
Apa boleh buat, yang sesuai konteks saya saat ini adalah curhat Mrs. Dr. Anne Blythe kepada Susan Baker berikut ini: "...Apakah kau tahu, Susan, aku sepertinya harus mengakui bahwa aku sangat menggemari gosip." "Yah, tentu saja, Mrs. Dr., Sayang, semua perempuan sejati senang mendengar kabar berita."
Yaah... akhirnya selesai juga ya, serial Anne ini... :)
Inti cerita yang ngasal: makan sayur terlalu banyak itu tidak baik :). Inti cerita yang boleh aja ditiru: makanlah sarsaparila sebagai hidangan penutup...moreInti cerita yang ngasal: makan sayur terlalu banyak itu tidak baik :). Inti cerita yang boleh aja ditiru: makanlah sarsaparila sebagai hidangan penutup...
*langsung terbirit2 meletakkan buku yang belum boleh dipinjam dari perpus ini ke bawah meja pustakawan baru yang itu... *(less)