quote

Quotes About Agama

Quotes tagged as "agama" (showing 1-30 of 33)
Friedrich Nietzsche
“I cannot believe in a God who wants to be praised all the time.”
Friedrich Nietzsche

Soe Hok Gie
“Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. seseorang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa

(Catatan Seorang Demonstran, h. 101)”
Soe Hok Gie

Agustinus Wibowo
“Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.”
Agustinus Wibowo, Selimut Debu
tags: agama

Goenawan Mohamad
“Agama, sebaliknya tidak mengklaim untuk jadi petunjuk praktis pengubah dunia. Semangat agama yang paling dasar menimbang hidup sebagai yang masih terdiri dari misteri, memang ada orang agama yang seperti kaum Marxis, menyombong bahwa “segala hal sudah ada jawabnya pada kami”; tapi pernyataan itu menantang makna doa—dan mematikan ruh religius itu sendiri. Sebab dalam doa, kita tahu, kita hanya debu”
Goenawan Mohamad

Hilal Asyraf
“kawal rasa cinta itu. kalau betul cinta, cinta biar ke syurga. maka apa persediaan kau untuk bawa keluarga kau ke syurga? adakah dinamakan cinta kalau kita sekadar melemparkan pasangan kita ke neraka?

: muka surat 148”
Hilal Asyraf, Sinergi
tags: agama

Norhayati Berahim
“Kalau mahu melihat kehebatan seseorang, lihatlah perlakuannya apabila dia sedang marah. Apakah dia akan membalas balik kemarahan tersebut dengan kemarahan atau sebaliknya.”
Norhayati Berahim, Roti Canai Salad Taco

Goenawan Mohamad
“Ada sesuatu yang bukan hasil "pikiran", "perasaan", dan "ajaran agama" yang membuat orang berbuat baik untuk orang lain di dunia.

(h. 29)”
Goenawan Mohamad, Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali

Goenawan Mohamad
“Kemurnian barangkali memang tak ditakdirkan untuk dunia yang tak kekal, tak tunggal, ini.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 2

Syed Muhammad Naquib al-Attas
“Seeing that he owns absolutely nothing to ‘repay’ his debt, ‘his own consciousness’ of the fact ‘that he is himself the very substance’ of debt, so must he ‘repay’ with himself, so must he ‘return’ himself to Him Who owns him absolutely.”
Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam: The Concept of Religion and The Foundation of Ethics and Morality

Hilal Asyraf
“apabila ada salah
insan sering salah menyalah
maka dengan apakah kamu mempersalahkan orang lain?
dengan firasat buta atau neraca keimanan dari jiwa?
jangan kerana kejahilanmu, wahai manusia
insan lain terhukum dalam aniaya

: muka surat 72”
Hilal Asyraf
tags: agama

Tasaro G.K.
“Artinya, Anda lebih mulai tertarik untuk mempelajari Qur’an sebagai sumber informasi yang ditinggalkan Nabi Muhammad dan menurut orang Islam masih otentik hingga sekarang dibanding menilai agama ini dari perilaku penganutnya?”
Tasaro G.K.

Khalif Muammar
“Pada prinsipnya kita bersetuju bahawa pandangan manusia, dan oleh kerananya ilmu-ilmu yang dibangunkan olehnya, dalam bidang apapun tidak boleh dikultuskan dan dianggap absolut. Hanya ilmu Tuhan yang mutlak (absolute). Menyedari keterbatasan ilmu manusia ini maka kita harus bersifat terbuka dalam menerima kepelbagaian pandangan, dan pada tahap ini kita bersetuju dengan idea pluralisme. Namun apabila kita berbicara mengenai konteks yang lebih besar iaitu tentang kebenaran dan realiti, dan bukan sebatas kebenaran dan realiti yang ditayangkan oleh akal fikiran manusia semata, tetapi suatu yang ditayangkan oleh pandangan alam Islam maka kita harus berhati-hari kerana ia melibatkan bukan hanya ilmu manusia tetapi juga ilmu Tuhan yang telah disampaikan kepada manusia melalui para nabi dan rasulNya. Oleh kerana itu dalam konteks Islam tiada pluralisme agama kerana di sini kita berbicara tentang wahyu dan makna-makna yang dibangun oleh al-Qur’an itu sendiri, dan bukan semata-mata hasil budaya dan produk sejarah manusia.”
Khalif Muammar, Islam dan Pluralisme Agama: Memperkukuh Tawhid di Zaman Kekeliruan

Soe Hok Gie
“Aku tidak percaya bentuk Tuhan apa pun, kecuali yang sesuai dengan idealku sendiri. Aku pun tak yakin (pasti malah) tentang ke-tak-ada-annya nasib. Juga tak percaya kita juga. Dewasa ini aku berpendapat bahwa kita adalah pion dari diri kita sendiri sebagai keseluruhan. Kita adalah arsitek nasib kita, tapi kita tak pernah dapat menolaknya. Kita asing, ya kita asing dari ciptaan kita sendiri. Itulah aku kira mengapa kita harus belajar sejarah dan dalam hal ini mengapa aku pesimis.”
Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Tasaro G.K.
“Kawanku yang Muslim itu menerangkan ajaran Muhammad terkait dengan hal ini. Dia mengatakan, hubungan Islam dan Kristen seharusnya didasarkan pada dua unsur penting: ketulusan dan kerendahan hati. Sementara interaksi Muslim dengan berbagai tradisi spiritual lain termasuk Kristiani didasarkan pada tiga syarat: berusaha mengenal satu sama lain, tetap bersikap tulus dan jujur selama bertemu dan berdebat, dan berusaha rendah hati menyangkut klaim kebenaran masing-masing. Aku belum tahu sejauh mana praktiknya. Hanya, seperti itulah ajaran moral nabi dari Arab itu yang kutahu.”
Tasaro G.K., Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan

“Agama itu gampang banget disisipi pesan-pesan politis dan budaya buat motong biaya propaganda.”
Sammaria, Kartini Nggak Sampai Eropa

“Agama dijadikan media provokasi termurah dan terefektif sepanjang masa, apalagi buat orang kayak gue yang nggak ngerti-ngerti banget agama.”
Sammaria, Kartini Nggak Sampai Eropa

Sujiwo Tejo
“Kamu pasti tahu dari buku-buku di perpustakaanmu bahwa orang kalau sudah beragama secara benar, menjadikan Tuhan sebagai kekasihnya, maka cintanya kepada kekasih di dunia ini hanya sekunder!!! Siang dan malam cuma ia ingin mencebur dalam Samudra Tuhan! Cintanya kepada sesama manusia cuma dalam rangka cintanya kepada Tuhan yang menciptakan manusia!”
Sujiwo Tejo

Sujiwo Tejo
“... toh jagat di luar dan jagat di dalam sama saja. Siapa yang mengenal Tuhan akan mengenal dirinya. Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhan.”
Sujiwo Tejo, Rahvayana 2: Ada yang Tiada

“Banyak orang hanya membela fanatisme terhadap agama, politik atau pribadi tertentu dan bukan terhadap kebenaran.”
Robert Siahaan

S.M. Zakir
“tuhan-tuhan liberal
turunkanlah nabi-nabi palsumu
membawa erti-erti yang hampa
tentang kebebasan yang kau
cipta daripada angan-angan
aku adalah musuh
yang akan membunuh
nabi-nabi palsumu”
S.M. Zakir, Kumpulan Puisi: Aroma

Sujiwo Tejo
“Banyak umat beragama, menurut perempuan bermonolog itu, yang tak menyembah Tuhan, tapi terjebak menyembah nama Tuhan, bahkan tak enggan berperang lantaran saling berebut nama Tuhan. Mereka seperti para pandita di Hutan Dandaka yang memuja sosok pemuda tampan karena terpesona dan memuja namanya: Rama.”
Sujiwo Tejo, Rahvayana 2: Ada yang Tiada

Nailal Fahmi
“Kebaikan dan keburukan nggak tergantung terhadap agama, kepercayaan, bukan kepercayaan, suku, bangsa dan lain sebagainya, melainkan kesadaran masing-masing orang akan kebaikan dan keburukan itu sendiri.”
Nailal Fahmi, Menulis Cinta dan Keyakinan

“bukankah manusia yang sentiasa berulang alik ke rumah Allah itu merupkan salah satu daripada enam golongan manusia yang bakal dilindungi Allah semasa di padang Mahsyar kelak? dia faham itu; kerana itulah dia bersungguh sungguh mahu merebut ganjaran itu

Page 49”
Iqbal Syarie, Dia yang Kunikahi
tags: agama

Sujiwo Tejo
“Jalan menuju Tuhan sama dengan jalan menuju Roma, Rahwana. Pada akhirnya semua jalan akan menuju Roma. Demikian pula jalan menuju Tuhan. Ada yang melalui jalur filosofis, ada yang melalui jalur cinta. Ada yang reflektif, ada yang afektif. Ada yang religius, ada yang altruis...”
Sujiwo Tejo, Rahvayana 2: Ada yang Tiada

S.M. Zakir
“kota-kota dan mukim diisi oleh kegilaan para manusia
yang mencintai akal fikiran seperti emas paling berharga
menjunjung dan menjulang hak kebebasan individu tanpa batas
dan mencipta nabi-nabi baru dari dongeng-dongeng kota
yang membawa sihir pencerahan palsu dari helang masalalu

(Perjalanan 3)”
S.M. Zakir, Perjalanan Sang Zaman

Ooi Kok Hin
“Aku rasa kalau hati betul- betul yakin dan dekat dengan Tuhan, apa- apa punboleh diharungi. Tidak perlu masjid yang besar, penganut yang ramai dan kuasa yang paranoia.”
Ooi Kok Hin, Aku Kafir, Kau Siapa

S.M. Zakir
“kita menjadi kabilah
yang diburu dan dijadikan penjahat seperti kaum Musa as
oleh agama yang kita pegang dan junjung dengan percaya
dijadikan syariat dan jalan kebenaran; cahaya dan penyuluh
sedang mereka dengan keangkuhan dan kesombongan Firaun
menjulang pedang tajam kebebasan serta tombak kenihilan
untuk merobek agama dan kebenaran Tuhan yang kita miliki
atas nama hak asasi manusia, kesamarataan dan kebebasan berfikir
maka al-Quran mereka jadikan buku dari tangan manusia
yang boleh ditafsir akal sesuka hati dan dimaknakan semahunya
suara-suara mereka lagi mengatakan bahawa nabi-nabi
hanya mitos yang dicipta oleh agama - maksum itu hanya dongeng
dan Islam adalah nama yang diberikan warna penuh kelabu
untuk dilihat dengan penuh sinis dan prasangka gelap.

(Perjalanan 2)”
S.M. Zakir, Perjalanan Sang Zaman

Nailal Fahmi
“Tapi kemudian saya merasa kerdil, naif. Saya bertanya pada diri sendiri. Seberapa tahu saya tentang agamanya? Pernahkah saya membaca segala sesuatu tentang agamanya secara objektif, secara proporsional? Lucu sekali jika saya mengharapkan dia mengerti agama saya sementara saya nggak mau tahu tentang keyakinannya —kalaupun saya membaca, buku-buku yang saya baca adalah buku tentang kesalahan agamanya. Maksud saya, bagaimana kalau dia juga berpikir seperti apa yang saya pikirkan. Dia mengharapkan saya membaca apa yang dia baca, meyakini apa yang ia yakini, masuk agama dia, dia mengasihani saya karena saya akan masuk neraka.”
Nailal Fahmi, Menulis Cinta dan Keyakinan

Mohamad Sobary
“Saya sendiri orang agamawan, tapi yang terpenting sebenarnya adalah iman. Iman itu inklusif, sedang agama harus dan selayaknya ekslusif....
Betul, banyak sekali manusia beragama, tapi tidak beriman. Sedangkan tidak sedikit yang tidak beragama, "atheis dalam praksisnya", tetapi beriman: bersikap baik pada sesama, suka menolong yang lemah dlsb.

Memang, idealnya, dua-duanya, beragama sekaligus beriman. Tapi hal ini membutuhkan pergulatan terus-menerus seumur hidup. Hal ini perlu sekali disadari karena menyangkut pandangan kita terhadap sesama manusia dan alam, ilmu pengetahuan dan yang lebih sempit lagi, sains, dan teknologi itu sendiri”
Mohamad Sobary
tags: agama, iman

S.M. Zakir
“agama tidak lagi menjadi syariat dan jalan kehidupan
sebaliknya menjadi bahan untuk dirobek dicaing-caing
oleh akal fikiran dan pisau purba zaman pencerahan
yang diasah oleh kata-kata demi kata-kata - kebebasan

(Perjalanan 2)”
S.M. Zakir, Perjalanan Sang Zaman

« previous 1
All Quotes | My Quotes | Add A Quote


Browse By Tag

More...